Al Kahfi Land - Dua Sisi

Al Kahfi Land - Dua Sisi
Tangan-tangan Kotor Dunia Politik Part 2


__ADS_3

“Halo, Jonas!” sapa Rizal Salman.


“Halo Bos! Wah kalo Bos Rizal telepon, pasti mau ngasih rezeki,” sahut Jonas.


“Pasti lah! Kau pun pasti udah tau kan?” tanya Rizal.


“Hahaha, tau Bos! Tetangga ku kan?” tanya Jonas memastikan.


“Ya, ini baru rekan bisnis professional namanya, tapi kali ini harus lebih senyap dari yang kemarin, media sialan itu suka bikin gaduh,” keluh Rizal.


“Perlu kita bikin kaku juga anak gadis konglomerat itu, Bos?” tanya Jonas.


“Jangan lah! Cantik itu, lebih bagus jadi bini muda aku aja, hahaha,” canda Rizal.


“Oh, itu juga bisa dikondisikan, Bos Rizal! Kapan mau aku karungin dia?” tawar Jonas.


“Hahaha, ngeri kali kau! Nantilah itu, tunggu bapaknya jatuh dulu. Sekarang kita sedang bicara tentang tetangga kau,” ujar Rizal.


“Siap Bos! Kasih aja daftar nama, foto, waktu, cara eksekusi, sama uang muka. Seperti biasa lah Bos, macam baru berbisnis sama aku aja,” ujar Jonas.


“Beres itu! Dengar dulu Jonas, kali ini harus benar-benar senatural mungkin! Kau paham lah, mulai musim demo sekarang, kalau kau salah langkah, habis aku!” keluh Rizal.


“Paham Bos!”sahut Jonas.


“Oh iya, kapan kau bisa ngenalin aku sama Big Kong, penguasa Blok 3 itu? Kok urusan yang lebih sepele, kau malah enggak bisa bantu kawan? Kalo harus pakai angka, bilang aja!” kata Rizal.


“Wah, bukan soal angka. Kalo urusan ini semua pemain di blok 3 pun enggak ada yang bisa bantu. Coba aja Bos Rizal cek toko sebelah,” tantang Jonas.


“Ngapain? Kalau mafia terbaik di Blok 3 aja enggak bisa bantu, apalagi mafia lain? Nah, ini yang aku enggak paham, kenapa enggak kau kuasai aja Blok 3, mungkin ada yang bisa aku bantu,” tawar Rizal.


“Oke, aku cerita ya biar Bos Rizal paham. 2 tahun yang lalu, sebelum Big Kong datang, di Blok 3 enggak ada penguasa tunggal, semuanya saling bunuh berebut bisnis. Tiba-tiba, entah dari mana asalnya, Big Kong muncul dan ternyata dia bukan orang sembarangan, sebagian besar orang Blok 3 ****** dibikinnya. Nah ini anehnya, Bos Rizal! Setelah jadi penguasa tunggal Blok 3, dia ternyata enggak tertarik mengambil alih bisnis hitam kami, dia cuma ambil uang sewa kalo kami tetap mau berbisnis di Blok 3, di tangannya Blok 3 jadi tempat bisnis hitam paling aman, buat apa kami saling bunuh lagi? Yang macam-macam biar dia yang urus,“ ujar Jonas.


“Mafia gaya baru rupanya, macam pengusaha mall aja! Hahaha, teruskan Jonas!” pinta Rizal yang tertarik dengan cerita Jonas.


“Big Kong membangun kelompok sendiri dan membuat aturan. Pertama, siapa pun penghuni yang membunuh sesama penghuni di Blok 3 akan dibunuhnya. Kedua, siapa pun orang luar yang berani masuk ke gedung akan dibunuhnya, kecuali tamu penghuni Blok 3. Ketiga, setiap tamu harus didaftarkan dan semua tamu yang terdaftar dilarang dibunuh. Makanya tidak ada yang berani mencolek Bos Rizal tiap datang ke sini, penjahat di sini punya kode etik, hahaha,” ujar Jonas.


“Aku suka gayanya Big Kong. Pernah ada aparat yang coba-coba sama kalian?” tanya Rizal Salman.


“Kapolsek baru kita pernah sok jagoan, dia kirim pasukan masuk Blok 3. Hahaha, enggak ada satu pun anak buahnya yang pulang! Lumayan, organ tubuh kan bisa dijual! Hahaha. Sejak itu dia enggak berani lagi kirim orang ke sini. Bukan cuma polisi aja, mafia dari tempat lain, orang media, bahkan tetangga pun udah pernah kita potong-potong, hahaha,“ ujar Jonas enteng.


“Pantas aja kalian ditakuti, cuma yang bawa duit banyak untuk kalian yang boleh keluar hidup-hidup. Nah, jadi apa masalahnya ngenalin aku ke Big Kong? Jonas, kau ini kawan bisnisku sejak lama, tak mungkin ku tinggal gara-gara kenal Big Kong! Dengar Jonas, bisnisku semakin besar, aku butuh kawan lebih banyak, kalau kau bantu, tentu kau pun nanti ku beri bisnis yang tinggal duduk-duduk aja pake dasi, kau mau potong-potong orang terus di sana sampai ubanan, heh? Hahaha,” tanya Rizal.


“Hahaha, memang ngeri-ngeri sedap berkawan dengan Bos Rizal. Gini Bos, bukannya aku enggak mau. Big Kong itu enggak mau kenal apalagi ketemu orang asing. Kami aja enggak bisa sembarangan ketemu dia, kecuali dia yang panggil. Itu pun, kalo dia udah panggil kami, urusannya cuma 2, ngasih perintah atau di tembak. Sudahlah Bos Rizal, nanti kalo dia sering dengar dari orang lain, ada orang asing yang nyari dia, malah Bos Rizal jadi incarannya, kalo sudah begitu, aku pun tak bisa melindungi kawan lamaku ini,” ujar Jonas.


“Memangnya siapa Si Monyet Kingkong itu? Hebat kali dia bikin negara kecil di dalam negaraku! Dengar Jonas! Sebentar lagi semua rusun, termasuk Blok 3 aku buat rata dengan tanah, kalo perlu aku bawa pasukan tentara untuk memotong-motong Si Monyet Kingkong yang sombong itu. Mulai sekarang kau siap-siap, kumpulkan orang-orang Blok 3 yang mendukung kau. Nanti kita cari tempat baru dan bikin macam Blok 3, kalian semua jadi anak buah ku, dan kau pimpin bisnis baruku, paham kau Jonas?”


“Paham, segera laksanakan! Bos Rizal dilawan! Hahaha,” puji Jonas. Ia tak menyangka Rizal Salman ternyata lebih menakutkan dibanding Big Kong.


*****


 


 


 


 


 


 


Di Al Kahfi Land sekitar 20 orang cendikiawan muslim sore ini berkumpul, Kang Andi mengundang mereka untuk membahas soal rusun.

__ADS_1


“Saya sudah bicara dengan presiden, intinya masalah pemindahan warga rusun akan ditinjau ulang,” kata Ali Tanjung di depan peserta pertemuan cendikiawan muslim,.


“Maaf Pak Ali, istana mau bicara, sangat penting katanya,” ujar staff  Ali Tanjung.


“Maaf kawan-kawan, saya dihubungi istana, sebentar ya.” kata Ali Tanjung, ia mengambil ponsel dari asistennya dan meninggalkan meja rapat ke luar ruangan.


Kang Andi membesarkan volume TV. “Ada press conference dari juru bicara presiden, kita dengar dulu sambil nunggu Pak Ali.”


Saudara-saudara rakyat Indonesia, sore ini tanggal 20 Maret 2040, Presiden Anggito Suryo telah mereshuffle kembali Kabinet Indonesia Makmur agar pemerintahan berjalan lebih efektif, sehingga percepatan pelaksanaan pemerataan pembangunan ke seluruh wilayah Indonesia dan stabilitas keamanan dapat terlaksana. Untuk itu kami sampaikan pesan dari Presiden Anggito Suryo bahwa beliau akan mengganti 3 menterinya. Pertama, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Prof. DR. Adi Siregar akan diganti dengan Prof. DR. Daud Haris M.H. Kedua, Menteri Dalam Negeri, Sucipto akan diganti dengan DR. Rizal Salman M.H. Ketiga, Menteri Kordinator Ekonomi, Ali Tanjung akan diganti dengan Prof. DR Eka Reza M.E. ………


Suasana di ruang meeting Al Kahfi langsung ramai mendengar berita tersebut. Saat Ali Tanjung kembali masuk ke ruangan, teman-temannya langsung mengerumuninya.


“Alhamdulillah, tenang aja kawan-kawan, kita masih bisa berjuang, walau saya sudah tidak berada dalam kekuasaan, lagi pula kan masih ada, Daud Haris,” ujar Ali Tanjung.


“Bukan gitu Bang Ali, masalah terbesar negeri ini adalah krisis ekonomi, memang masih ada kawan kita Daud Haris, tapi dia kan orang hukum. Terus kita kan tahu, pengganti kamu, Eka Reza itu bandit, calo proyek internasional. Kasihan rakyat,” keluh Kang Andi.


“Betul Kang Andi, tapi aneh juga, Daud Haris kan berseberangan, kok bisa mereka pilih?” tanya Kang Angga.


“Saya juga tidak paham. Menurut teman-teman dari partainya, Daud Haris senang berjuang sendiri. Dia selalu bicara keras menentang rezim, tapi komunikasinya dengan partai malah kurang. Mudah-mudahan Daud Haris tetap istiqomah berjuang untuk rakyat kecil,” sahut Kang Andi.


*****


 


Munculnya nama Daud Haris di kabinet, membuat tokoh garis keras pejuang rakyat kecil itu menjadi manusia paling dicari wartawan.


“Bang Daud, apa pertimbangan presiden sehingga anda diangkat menjadi menteri di Kabinet Indonesia Makmur?” teriak seorang wartawan di tengah kerumunan orang yang menyemuti Daud Haris.


“Ya, kalo itu tanya ke presiden dong, bukan ke saya, kalo saya yang jawab ge-er namanya, tadinya pengen saya jawab karena genteng,” sahut Daud Haris, ia memang selalu menyuarakan kalimat pedas dengan gaya santai.


“Apa langkah Bang Daud setelah menjadi menteri?” tanya wartawan lain.


“Pertama nanya ke presiden, bapak becanda?” sahut Daud Haris membuat para wartawan tertawa.


“Saya enggak pernah berseberangan dengan penguasa kok, saya selama ini cuma menyampaikan dengan bahasa yang tidak dipahami pemerintah, mungkin mereka ingin belajar memahami bahasa saya, doain aja,” sahut Daud.


“Bagaimana kalo sebaliknya, Bang Daud yang jadi lebih mudah memahami bahasa penguasa?” tanya wartawan lain.


“Hehe, nah yang nanya berarti juga belum paham tentang saya. Oke cukup dulu ya, nanti lah kita ngobrol lagi kalo anda dan saya sudah sama-sama paham,” sahut Daud Haris sambil masuk ke dalam mobilnya.


Setelah berada di dalam mobil Daud menelpon Dini.


“Assalamu’alaikum, Dini,” salam Daud.


“Wa’alaikumussalam, wah selamat ya Pak Menteri, bisa mampir ke kantor untuk menyampaikan visi Pak Menteri?” tanya Dini.


“Maaf Dini, belum bisa, nantilah kalo luang saya kabarin. Ngomong-ngomong saya jadi enggak enak nih sama Pak Ali,” ujar Daud.


“Kenapa enggak enak? Abi mah santai, dia memang kurang suka terjun ke politik, tapi karena didorong teman-temannya untuk memperjuangkan rakyat kecil, Abi jadi terpaksa mau,” ujar Dini.


“Nah itu dia, karena Pak Ali pejuang, makanya saya jadi enggak enak,” sahut Daud.


“Tenang, kan ada Daud Haris, harapan baru rakyat Indonesia!” ujar Dini menyemangati.


“Haha, keren banget gelarnya! Oh iya, Dini, nanti makan malam berdua yuk, bisa enggak?” tanya Daud.


“Makan malam berdua? Katanya enggak bisa mampir ke kantor?” tanya Dini.


“Sebenarnya belum siap wawancara, takut salah jawab, saya aja kaget mendadak jadi menteri. Tapi kalo cuma makan malam, kan kita bisa ngobrol yang enteng-enteng aja, ada waktu enggak?” tanya Daud.


“Hmm, bukannya soal waktu. Kalo makan malam berdua, saya yang belum siap menghadapi pertanyaan orang-orang. Pak Menteri kan pasti sedang dikejar bayak orang, maaf ya,” jawab Dini.


“Santai! Oke deh kalo gitu, Dini, assalamualaikum,” ujar Daud menutup pembicaraan.

__ADS_1


Usai bicara dengan Daud, Dini kembali teringat Fahri, seharian ini ia terus memikirkan pernyataan Fahri kemarin malam. Jika hanya mengikuti perasaan, rasanya Dini bersedia mengabulkan keinginan Fahri, ia juga menyukai Fahri, tetapi sebagai perempuan yang telah matang, ia harus menggunakan akal sehat juga, Fahri terlalu misterius untuk disimpulkan dalam waktu yang cepat. Sayangnya saat Dini masih ingin mengenal Fahri lebih jauh, tiba-tiba Daud Haris menawarkan diri mengantarnya pulang dengan alasan yang seolah penting tapi ternyata cuma dibuat-buat. Tiba-tiba Dini terpikir sesuatu, jangan-jangan Fahri salah sangka?


Fahri memang salah sangka, ucapan Daud Haris tentang undangan saat menjemput Dini itu, membuatnya mengira Dini dan Daud akan segera menikah, padahal itu hanya harapan Daud, tidak ada hubungan istimewa di antara mereka. Dini segera menghubungi Fahri, sayangnya laki-laki itu tampaknya sedang tidak mau dihubungi Dini. Fahri sibuk menyiapkan strategi baru menghadapi mafia Blok 3.


*****


 


Malam ini Fahri mengadakan pertemuan rahasia dengan Pak Ruslan, Dul, Rizki dan Ahmad di ruang kontrol CCTV gedung Blok 7. Fahri berencana untuk masuk sendirian ke gedung Blok 3 sebelum Rizal Salman mengirim pembunuh bayaran.


“Perhatikan, yang muncul di monitor kita ini adalah gambar dari  kamera CCTV gedung Blok 3, saya akan ke sana membawa HT. Melalui layar-layar ini, Pak Ruslan dan teman-teman akan menjadi mata saya,” ujar Fahri.


Pak Ruslan dan 3 pemuda asuhan Fahri terheran-heran melihat isi monitor yang bukan dari gedung Blok 7.


“Sepi ya, cuma ada beberapa orang mondar-mandir, mungkin mereka ada di dalam ruang. Wah serem banget suasananya, kamu yakin mau ke sana sendiri?” tanya Pak Ruslan.


“Harus saya sendiri Pak Ruslan, mereka bukan ormas Barisan Macan Ompong. Mereka punya senjata api dan tidak segan membunuh. Ingat baik-baik pesan saya! Kalau saya gagal, jangan coba melawan musuh yang ini! Pak Ruslan, Ahmad, Dul dan Rizki harus langsung segera meninggalkan tempat ini sejauh-jauhnya, pindah ke tempat yang tidak diketahui mereka. Foto-foto kita berlima saat bertempur sudah dikantongi, kita sudah masuk dalam daftar pencarian orang untuk dibunuh, mereka tinggal menunggu waktu eksekusi yang diminta oleh Rizal Salman. InsyaAllah warga yang lain bisa saya pastikan aman, ternyata yang dianggap penyakit cuma kita berlima saja,” pesan Fahri.


Wajah Pak Ruslan dan 3 pemuda ini sama sekali tidak menunjukkan rasa takut, yang terlihat justru sedih. Para pemuda asuhan Fahri malah memaksa ikut masuk ke gedung Blok 3.


“Apa enggak sebaiknya kamu juga ikut pergi saja, Fahri?” tanya Pak Ruslan kuatir.


“Saya harus ke sana karena kita masih punya sedikit harapan, saya ingin bicara dengan penguasanya, bukankah kita dan mereka punya kepentingan yang sama, ingin bertahan di Rusun Ciawi? Tetapi saya tentu harus siap untuk kemungkinan terburuk. Nah, Ahmad, Dul dan Rizki jangan ikut! Justru keberadaan kalian di ruang kontrol sangat membantu Bang Fahri,” ujar Fahri.


Kali ini anak-anak asuhan Fahri tidak yakin dengan Fahri, Dul angkat bicara, “ Bang Fahri, saya tahu abang jago berkelahi, tapi Abang bukan Pasukan T7! Abang sendiri yang bilang lawan punya senjata api,” ujar Dul, matanya berkaca-kaca, begitu pula para pemuda asuhan Fahri lainnya.


Fahri tersenyum, ia mengambil sesuatu dari dompetnya, rupanya ia harus mengangkat kepercayaan diri orang-orang ini, ia menunjukkan sebuah kartu pada anak-anak asuhannya. Mata mereka langsung melotot


“Hah, abang Komandan Pasukan T7? MasyaAllah!” teriak Dul, para pemuda di situ langsung berebutan melihat kartu milik Fahri. Mereka tampak takjub.


“Sekarang sudah mantan, tapi kalian enggak punya alasan menahan saya lagi, dan biarkan saya ke sana sendirian, kecuali kalo teman-teman punya kartu ini! Sekarang semuanya perhatikan denah ini!” perintah Fahri.


Benar saja, rasa percaya diri mereka langsung bangkit, mereka segera memperhatikan instruksi Fahri.


“Semua gedung di rusun ciawi punya denah yang sama, di dalamnya setiap lantai memiliki koridor yang mengelilingi 2 atrium, setiap ujung dan bagian tengah gedung memiliki tangga, punya 2 Lift yang bersebelahan di tengah gedung, punya banyak lorong dan area lapang di sekitar tangga. Coba perhatikan coret-coretan saya di denah ini, saya sudah petakan dan menamakan masing-masing unit, jadi kalian perhatikan posisi mereka, lalu kasih tahu, saat saya bertanya melalui HT, saya akan langsung mengincar gudang senjata terdekat untuk mengambil rompi anti peluru dan senjata api. O iya saya sudah mengeset HT digital ini agar kalian cuma bisa bicara saat saya minta, kalo ada hal penting untuk disampaikan, kalian cukup pencet tombol icon segitiga, nanti sinyal lampu hijau akan menyala. Kalo ada yang belum jelas silahkan tanya, semuanya paham?” ujar Fahri.


“Paham!”


“Wah asik nih bisa nonton aksi Pasukan T7. Bang Fahri emang keren! Lanjut, Bang!” ujar Dul bangga.


“Keren kan? Haha. Nah, teman-teman juga keren, soalnya kalian jadi anggota pasukan saya sekarang,” ujar Fahri membakar mental pasukannya.


“Pasukan digital T7,” sahut Rizki bangga.


“Tepat sekali! Nah, setiap perang punya strategi yang berbeda, kalian kan kemarin sudah belajar, jumlah enggak selalu jadi penentu, bagian terpenting dari perang adalah strategi. Sekarang dengarkan baik-baik penjelasan strategi perang digital saya! Blok 3 memiliki CCTV, lift, lampu koridor, speaker dan perangkat elektronik lainnya, semuanya telah menggunakan teknologi digital yang terkoneksi dengan komputer, artinya semua itu bisa dikendalikan dari sini,” ujar Fahri.


Para remaja manggut-manggut, mereka sudah tidak asing  dengan hal ini, karena sering diajari Fahri mengoprek komputer dan perlatan elektronik.


“Lihat benda ini! Walau bentuknya kurang meyakinkan, board ini adalah semacam remote control buatan saya, nanti kalian tinggal pencet sesuai perintah saya,” sambung Fahri.


Pasukan digital Fahri mengamati tulisan-tulisan diatas lakban putih di perangkat elektronik digital buatan Fahri. “Wah keren! Ini beneran Bang? Kok ada tulisan bom?” ujar Ahmad melongo.


“Ya emang buat ledakin bom, di sana mereka menjual bom yang bisa di remote, mudah-mudahan saya punya waktu untuk mensetting frekuensinya supaya bisa di kendalikan dari sini. Ingat! Hanya kalian yang boleh berada di sini dan selama saya masih bernafas tidak ada yang boleh keluar masuk dari tempat ini, di dalam peti itu ada senjata tajam dan sisa bom Molotov untuk jaga-jaga. Oke, Bang Fahri jalan sekarang, doain ya! Supaya kita semua selamat, titip anak-anak, Pak Ruslan,” ujar Fahri.


*****


 


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W

__ADS_1


__ADS_2