Al Kahfi Land - Dua Sisi

Al Kahfi Land - Dua Sisi
Banjir Darah di Blok 3 Part 5


__ADS_3

Walau lantai 8 gelap, tetapi sedikit pendar cahaya dari lampu yang masih menyala di lantai 9 cukup untuk membuat Jonas mengenali wajah Fahri, ia kaget melihat orang yang dipesan Rizal Salman untuk dibunuh telah berada di gedung ini.


Jonas langsung menindih Fahri untuk memukulinya, tetapi kaki Fahri langsung mengunci leher Jonas sehingga tidak bisa bergerak. Jonas tahu cara melepaskan diri dari teknik kuncian ini, ia memutar badannya hingga kuncian kaki Fahri terlepas, Fahri pun langsung melepaskan diri dari tindihan Jonas yang berbadan sangat besar dan kekar.


Kini keduanya berdiri, mata mereka sama-sama mencari keberadaan senjata Fahri yang terlempar, ternyata cukup jauh.


Jonas maju melayangkan pukulan, tapi Fahri cepat menghindar sambil memukul, ternyata gerakan Jonas juga tak kalah cepat, ia malah berhasil memasukkan tangan Fahri ke dalam kempitan ketiaknya, lalu menguncinya. Fahri terkunci dengan posisi bersebelahan, ia langsung memutar badan melawan arah dari sendi yang terkunci, tapi tenaga Jonas sangat kuat, sehingga sudut putaran Fahri tidak cukup untuk dapat melepaskan diri.


Fahri mengayunkan kedua kakinya bertumpu pada kaki Jonas untuk mendapat tambahan kekuatan, tapi sama sekali tidak bergerak. Tangan Fahri yang bebas berusaha meraih kepala Jonas, tapi Jonas segera menjauhkan kepalanya dan membetulkan posisi Fahri dengan tenaganya yang kuat, agar tetap dalam posisi terkunci.


Fahri tidak menyerah, ia kembali mengayunkan kedua kakinya dan bertumpu pada kaki Jonas, kali ini sambil membenturkan kepala belakangnya sekuat-kuatnya ke hidung Jonas, ternyata berhasil, Fahri terlepas.


Jonas terlihat sedikit kesakitan, tetapi tidak ada darah di hidungnya, manusia ini memang bagai badak yang sangat kuat.


Keduanya kembali berhadapan, Fahri dengan gesit melakukan gerakan tipuan, ia seolah mau menendang dada Jonas, tetapi saat tangan Jonas melindungi dadanya, Fahri mengayun kakinya kakinya yang telah setinggi arah dada Jonas ke arah kepala Jonas, Buk! Terdengar suara keras, tapi sama sekali tidak melukai Jonas.


Kemudian Fahri sedikit mundur, lalu ia melompat dengan sebelah kaki naik menapaki paha Jonas, lalu kakinya yang satu lagi menapaki pundak Jonas, setelah mencapai ketinggian yang sempurna satu kaki Fahri langsung menghantam ujung kepala Jonas, lagi-lagi Jonas tak juga roboh.


Fahri mengambil ancang-ancang untuk memukul, tetapi Jonas malah berdiri santai sambil meninju pelan wajahnya sendiri seperti menyuruh Fahri untuk memukulnya dengan gratis.


Fahri tidak mau membuang kesempatan, ia langsung memberikan pukulan sekuat-kuatnya ke wajah Jonas, Jonas hanya sedikit membuang wajahnya agar tak terkena hidungnya lagi, ternyata pukulan itu cuma membuat kepala Jonas menoleh ke samping sebentar, sama sekali tidak melukainya, apalagi membuat jatuh, Jonas tertawa.


"Hahaha, dari kecil aku sudah biasa dipukul orang besar. Ayo kau pukul lagi! Kita lihat seberapa kuat kau punya tenaga," tantang Jonas.


Fahri tak punya waktu banyak untuk meladeni badak ini, para polisi di atas butuh bantuannya, Fahri terlihat diam sejenak sehingga Jonas mengira Fahri sudah frustasi, ia tak tahu jeda waktu yang cukup akan membuat Fahri dapat mengatur pernafasan, ia sedang memberi jalan pada tenaga lain yang kini mengaliri tubuhnya.


Fahri kembali maju, Jonas kembali memberikan wajahnya dengan tangan terbuka sambil tertawa.


Bukkk!!!! Fatal! Bobot pukulan Fahri yang telah berisi tenaga dalam diterima Jonas tanpa perlindungan apa pun, tubuh Jonas terpental jauh, wajahnya bersimbah darah seperti baru dihantam batu kali yang besar.


Kini separuh tenaga dan stamina Jonas langsung berkurang, ia berusaha berdiri dengan susah payah, tetapi belum sempat ia berdiri dengan benar pukulan kedua dengan bobot yang sama kembali menghampirinya, Jonas roboh.


Hebatnya walau wajah Jonas sudah hancur dan tidak mampu melawan lagi tetapi kesadaran manusia badak ini masih utuh. Stamina Fahri sendiri juga sudah terkuras akibat menyalurkan dua kali pukulan tenaga dalam, tapi ia harus cepat menghabisi Jonas agar bisa segera membantu para polisi.


Fahri menekan tubuh Jonas dengan lututnya sambil mengatur nafasnya lagi, ia butuh waktu yang lebih lama untuk mengalirkan tenaga dalam untuk ketiga kalinya.


Dalam keadaan tidak berdaya wajah Jonas berubah kecut, rasa takut bertemu ajal kini menghampirinya, biasanya dia yang jadi sosok pencabut nyawa, rupanya seperti ini perasaan orang-orang yang pernah ku bunuh tanpa ampun, batin Jonas.


DORRR!!!


Fahri dan Jonas terkejut mendengar suara letusan senjata di dekat mereka, keduanya melirik ke arah tembakan. Si Brewok dan pasukannya datang, Jonas terlihat sangat senang.


"Hahaha, mati kau pahlawan kesiangan dari blok 7, si pembela orang-orang miskin! Tembak orang ini, cepat! Besok kita bawa kepalanya ke meja Rizal Salman, mahal harga orang ini," perintah Jonas pada anak-anak buahnya.


Fahri tak mau melepaskan tindihannya pada Jonas, ia berharap masih diberi waktu oleh Si Brewok untuk mengalirkan tenaga dalam yang bisa membunuh Jonas, sehingga walaupun ia ditembak mati, setidaknya polisi tidak berhadapan dengan manusia badak ini.


Ternyata Si Brewok tak memberinya cukup waktu, sebuah benda dingin kini menempel di kepala Fahri.


"Oh, elu yang namanya Fahri?" tanya Si Brewok.


"Ya, gue Fahri Hussein dari Blok 7!" jawab Fahri.


"Tembak sekarang!" perintah Jonas.


DORRR!!!


Tubuh dan wajah Fahri bersimbah darah.


"Mati lu, *******!" maki Si Brewok.


*****


 


 


 


 


 


 


 


Kompol Jono telah pasrah, tapi Big Kong tidak jadi membunuhnya, ia malah membuat pisau kaca lain.


“Gue enggak suka melawan orang tak berdaya. Tenang! Gue akan bikin satu pisau lagi untuk Pak Komandan, supaya kita seimbang,” ujar penjahat aneh ini.


BRAKK!!! Tiba-tiba pintu toilet ditendang oleh 3 polisi. “Angkat tangan!” perintah salah satu polisi.

__ADS_1


Big Kong menoleh ke para polisi yang menodongkan senjata. Melihat anak buahnya datang, Kompol Jono tak mau menyia-nyiakan kesempatan, ia mengumpulkan tenaga dan segera menjauh dari jangkauan Big Kong.


Big Kong tetap santai, sebelah tanganya telah masuk ke dalam saku.


“Angkat tangan!” teriak salah seorang polisi.


“Oke! Oke!” jawab Big Kong sambil mengeluarkan granat dari sakunya.


Klik! Kunci granat telah terbuka.


Kompol Jono dan anak-anak buahnya langsung lari sejauh-jauhnya meninggalkan toilet. Setelah cukup jauh ternyata tidak ada suara ledakan, itu memang granat palsu.


Kompol Jono melihat mayat-mayat anak buahnya tergeletak di mana-mana, ia merasa sangat bersalah. Kompol Jono tidak ingin membawa anak buahnya kembali menghampiri Big Kong, ia malah mengajaknya lari ke tempat yang lebih aman.


Kompol Jomo tidak ingin sisa pasukannya bertempur lagi, ia tahu Big Kong dan pasukannya terlalu kuat, ia juga menyesal meremehkan peringatan Fahri. Dengan perasaan sedih Kompol Jono bicara menggunakan alat komunikasinya, “Pasukan! Semuanya kembali ke markas, nanti saya menyusul. Saya sudah menangkap pimpinan Blok 3. Ingat! Rahasiakan misi kita malam ini pada siapa pun, agar tidak ada lagi yang menyuruh kalian melakukan pertempuran konyol ini, teman-teman kita sudah banyak yang gugur, saya minta maaf!”


Kompol Jono terpaksa berbohong agar sisa anak buahnya selamat mau pulang, para polisi yang mendengar segera menuruti perintah komandannya.


“Komandan, saya tetap di sini bersama anda!” ucap salah satu anak buah yang bersamanya, mereka tahu Kompol Jono sedang mengorbankan diri untuk meneruskan misi sendirian.


Kompol Jono mengambil pistol dari pinggang anak buahnya lalu menempelkan ke kepalanya sendiri, “kalau kalian tidak pulang, peluru ini akan masuk ke kepala saya dengan tangan saya sendiri, pulang sekarang!” bentak Kompol Jono.


3 anak buah Kompol Jono ini tidak punya pilihan, ia memeluk komandannya sambil berpamitan dan meninggalkan komandan mereka dengan rasa sedih.


Kini Kompol Jono sendirian, tak lama kemudian para anak buah Big Kong menemukannya, mereka langsung mengerumuninya sambil menodongkan senjata.


“Lempar pistolnya, cepat!” perintah anak buah Big Kong.


Kompol Jono memandangi mayat-mayat anak buahnya, lalu ia bicara sendiri, “semoga kita semua menjadi syuhada, Laa illaha illaallah, Muhammadurasulullah!” Setelah itu ia menembaki musuhnya.


Satu peluru Kompol Jono menewaskan seorang anak buah Big Kong, tetapi sekian banyak peluru anak buah Big Kong juga bersarang di tubuhnya. Kompol Jono tewas tertembak.


Tak lama kemudian Big Kong datang,  ia telah memakai topengnya kembali, di Blok 3 memang hanya anak buahnya yang terdekat yang boleh melihat wajahnya, ia tak mau dikenali.


Big Kong kaget melihat mayat Kompol Jono dikerubungi anak buahnya yang seolah sedang merayakan kemenangan.


Wajah Big Kong terlihat tidak senang, ”Kalian beramai-ramai menembak satu orang? Pengecut! *******!” Teriak Big Kong sambil mendorong badan para anak buahnya yang mengelilingi mayat Kompol Jono.


Tiba-tiba salah seorang anak Big Kong menodongkan senjata ke Big Kong, “Gue capek dipimpin orang gila, ayo kita bunuh Big Kong!”


Situasi jadi rumit, sebagian menodongkan senjata ke Big Kong, sebagian yang lain menodongkan senjata ke temannya yang ingin membunuh Big Kong.


Para anak buah Big Kong ingin berpamitan memeluk Big Kong, tapi Big Kong menolaknya.


“Cepat, gue mau ledakin sebelum polisi lain datang ke sini. Gue kasih waktu setengah jam”


*****


 


Wajah dan tubuh Fahri bersimbahdarah, ia segera menjauh dari mayat Jonas yang berada di bawah badannya. Si


Brewok baru saja menembak Jonas, Fahri tak menyangka ia memilih menembak Jonas.


“Kenapa lu tembak dia, bukan gue?” tanya Fahri sambil


membersihkan darah Jonas yang membasahi wajahnya.


“Jonas itu sadis, teman-teman yang gagal jalanin tugas


selalu di bawa keluar gedung Blok 3 untuk dia habisi. Gue juga sebenarnya gak tega mampusin orang, cuma


kalo nolak tugas, Gue yang dimampusin Jonas. Dan


siapa sih yang belum dengar cerita pejuang Rusun Ciawi? Sayangnya kita belum


pernah ngeliat muka Bang Fahri langsung,” ujar Si Brewok


“Terimakasih ya, lu pilih gue


untuk selamat, sori tadi bohongin lu semua,” ujar Fahri.


“Kita juga sori Bang Fahri, kita pasti sering bikin


takut warga rusun. Sebenernya kita juga kalo ada kerjaan yang bener, ngapain


jadi bandit? Resikonya nyawa!” ujar Si Brewok.


“Bang Fahri tau lah cari kerjaan jaman sekarang


semakin susah, orang-orang kayak kita mau jadi kacung aja gak ada perusahaan

__ADS_1


yang mau terima. Blok 3 satu-satunya tempat yang paling gampang cari duit untuk


orang-orang kaya kita,” sambung si baju buntung.


Fahri tidak punya jawaban untuk keresahan mereka


tentang masalah kesulitan hidup, lagi pula untuk urusan perut, orang-orang ini


pasti butuh pekerjaan bukan nasihat. Tapi Fahri terharu mendengar pengakuan


mereka dari hati yang paling dalam yang ingin jadi orang baik, Fahri harus


mendorong semangat itu.


“Teman-teman, mulai malam ini pasang niat aja dulu


jadi orang baik, mudah-mudahan setelah niat, kita dikasih kemudahan dan jalan


oleh Tuhan. Urusan perut memang susah untuk ditawar, tapi kalian liat kan


mayat-mayat di gedung ini? Gue yakin mereka iri dengan nasib kita yang masih boleh


bernafas, kalau mereka dikasih kesempatan hidup lagi, pasti urusan perut akan


jadi nomor dua setelah tobat,” ujar Fahri.


Tiba-tiba gerombolan anak buah Big Kong melewati


mereka, Si Brewok dan teman-temannya langsung mengarahkan senjata mereka.


“Jangan tembak! Perang udah selesai, Big


Kong kasih kita harta untuk pensiun di gudang brankas berisi balok


emas di lantai 1. Buang senjata kalian, kalo mau! Dia kasih waktu setengah


jam, gedung ini mau dia ledakin, lu mau kita ****** sia-sia?” tanyaseorang anak buah Big Kong.


Fahri langsung mengambil alih situasi, ia


mengambil senjata-senjata pasukan Si Brewok, “cepat kalian pergi sebelum gedung


meledak, gue masih punya urusan.”


“Jaga diri lu, Bang. Makasih,


Bang. Niat gue kayaknya di denger Allah. Doain


gue supaya bisa jadi orang baik-baik.” ujar Si


Brewok lalu mengajak pasukannya, “yuk, cepetan!”


Dua kubu pasukan itu langsung beramai-ramai turun


ke bawah meninggalkan Fahri seorang diri.


*****


Fahri mengambil satu senjata dan naik ke lantai 9. Ternyata di


sana Big Kong telah menunggunya.


Big Kong membuang senjatanya sambil mendekat, Fahri


ikut membuang senjatanya.


“Oh, jadi ini orangnya yang menghancurkan istanaku?”


tanya Big Kong.


 


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W


 


 

__ADS_1


__ADS_2