Al Kahfi Land - Dua Sisi

Al Kahfi Land - Dua Sisi
Penjara Karakas - Part 5


__ADS_3

4 Mobil yang sedang melaju kencang di atas jembatan langsung menghentikan  kendaraan agar tidak menabrak mobil yang melintang di depan mereka. Dion, anggota pasukan T7,  langsung keluar dari mobilnya, begitu pula 23 tentara yang datang bersamanya untuk membunuh Fahri.


“Kami dapat perintah dari Panglima! Kalau kalian menghalangi, kalian akan kami tembak!” Teriak Dion sekeras-kerasnya dari jauh agar terdengar.


“Kami juga dapat perintah dari Menteri! Kalau kalian tidak kembali ke Pulau Bantar, kalian lah yang akan kami tembak!” Balas teriak salah seorang pengawal Daud Haris.


Kedua kubu telah siap saling menembak di belakang mobil-mobil mereka.


“Tahan tembakan!” Perintah Dion pada anak buahnya.


Dion segera masuk ke dalam salah satu kendaraan yang berada di paling depan, ia menstarter mobil lalu menginjak gas sedalam-dalamnya sambil menunduk. Para pengawal Daud Haris langsung menyambut mobil yang melaju kencang ke arah mereka dengan peluru-peluru sehingga semua kaca mobil itu pecah, Dion semakin menunduk, kemudian ia membuka pintu dan berguling keluar. Mobil itu bergerak sendiri kencang menabrak mobil yang menghalanginya.


DUARRR!!! Asap hitam dan api membumbung tinggi. Dion tak mau buang waktu, ia menembak membabi-buta walau tak bisa melihat sasarannya dengan jelas.


Setelah asap mulai menghilang Dion mengamati situasi di sekitar bangkai mobil yang hangus, ternyata semua penghadangnya telah tewas.


“Ayo, setelah api padam, geser bangkai-bangkai mobil yang menghalangi dengan mobil kita dan lanjutkan perjalanan!” Teriak Dion keras pada anak buahnya.


*****


 


 


“Itu Dion! Anggota Pasukan T7,” ujar Fahri yang sedang memperbesar tampilan monitor CCTV di jembatan panjang melalui laptopnya.


Fahri sedang berada di kamar sel Budi Raharjo, bersama Dean, Zul dan seorang sipir teman lama Zul, Didan.


“Kenapa aparat-aparat itu saling menembak?” Tanya Dean.


“Ada 2 kemungkinan, mereka ingin mengincar rombongan mobil di depannya atau bisa juga datang untuk mengincar gue dan Pak Budi. Sayangnya kita enggak bisa ngelihat siapa yang berada di dalam mobil yang sedang mereka kejar,” jawab fahri.


“Kalo gitu kita udah kepojok. Kita enggak bisa lari dari tempat ini dan enggak pegang senjata pula buat ngadepin mereka,” ujar Zul.


“Coba cek berita dulu, siapa tahu ada info tentang mobil-mobil yang lagi bertamu itu,” usul Dean.


Fahri segera membuka MNews, rupanya akan ada pers conference dari Presiden.


Presiden Anggito Suryo tampak sedang dipersiapkan untuk menyampaikan informasi penting. Di belakangnya ada Menhankam Jendral Priyono, Pasukan T7 dan beberapa orang berseragam tentara dan polisi.


“Saya Presiden Indonesia Anggito Suryo menyatakan bahwa hampir terjadi kudeta di hari ini. Saat ini saya sudah dalam kondisi aman bersama Panglima TNI Jendral Priyono dan Pasukan T7. Untuk selanjutnya saya perintahkan Panglima untuk mengambil langkah-langkah apapun yang dirasakan perlu agar masalah keamanan negara kembali pulih. Terimakasih.”


Pidato Presiden Anggito sangat singkat, kemudian ia langsung meninggalkan tempat dengan kawalan salah seorang anggota Pasukan T7 walaupun para wartawan berteriak-teriak karena belum jelas dengan pernyataan singkatnya.


Jendral Priyono naik ke podium, ia memandangi para wartawan dengan wajah yang tegang, lalu mulai bicara, “Selamat siang saudara-saudara, sebagaimana pernyataan Bapak Presiden, bahwa hari ini hampir terjadi peristiwa kudeta yang dilakukan oleh mantan pejabat negara kita, yaitu Letjen Purnawirawan Ben Jani, beberapa nama lagi masih kami selidiki.”


Di tempat pers conference, wartawan langsung menjadi gaduh sehingga pihak protokoler harus menenangkan situasi agar keterangan pers dapat dilanjutkan.


“Ben Jani hampir berhasil membunuh Presiden Anggito Suryo tetapi dapat digagalkan oleh Pasukan T7. Rakyat Indonesia khususnya saya pribadi tentunya sangat berterimakasih pada Pasukan T7, pasukan kebanggaan kita mampu membongkar rencana kudeta ini!” ujar Jendral Priyono mulai bersemangat.


Para wartawan di tempat pers conference langsung bertepuk tangan. Sebaliknya di Penjara Karakas, Budi Rahajo tampak mengeleng-gelengkan kepala, ia takjub dengan kebohongan Jendral Priyono yang mampu menghabisi bekas atasannya sekaligus kawan politik yang telah membesarkan dirinya.


Samuel yang sejak tadi berdiri di belakang Jendral Priyo menghampiri podium dan membisikkan sesuatu. Jendral Priyo tampak menangguk-anggukkan kepalanya.


“Kami juga telah mendapat informasi bahwa hari ini Ben Jani meminta Daud Haris bersama Dini Tanjung dari MNews mengunjungi Penjara Karakas. Ternyata Ben Jani juga sengaja memasukkan Fahri Hussein ke penjara untuk membunuh Daud Haris, Dini Tanjung dan Budi Raharjo di sana. Semoga seorang anggota Pasukan T7 yang memimpin pasukan lain, yang kita kirim dapat menyelamatkan nyawa mereka. Kami berharap rakyat ikut berdoa agar mereka semua selamat. Baik, untuk sementara saya tidak melayani tanya jawab tentang masalah ini, terimakasih!”  Ujar Jendral Priyo.

__ADS_1


Jendral Priyo meninggalkan podium dengan sambutan tepuk tangan wartawan, wajahnya tampak telah menikmati peran yang sedang dimainkannya.


Orang-orang di seluruh Indonesia yang sedang menonton tayangan pers confrence, sebagian besar langsung bersorak, mereka mulai menyukai sosok Jendral Priyo. Sebaliknya Budi Raharjo, ia bukan hanya kesal namanya dijadikan bahan penggiringan opini tetapi ia juga yakin kali ini ia akan dibunuh oleh orang-orang Jendral Priyo.


Fahri pun tak menyangka, ia harus mempersiapkan perang melawan teman-temanya sendiri yang pernah bertempur bersama sebagai anggota Pasukan T7.


*****


 


Mr Liem terkejut menyaksikan tayangan pers conference dan ia lebih terkejut lagi saat mendengar penjelasan sipir bahwa komandannya yang bersama Daud Haris justru malah menahan pasukan yang ingin memasuki Penjara Karakas.


Para sipir bingung menghadapi situasi yang tak jelas, salah dari mereka ingin menghubungi komandannya yang berada di mobil Daud Haris, tapi Mr Liem langsung mencegahnya.


“Komandan kalian sedang bersama pihak yang sekarang berseberangan dengan pemerintah. Sebenarnya Jendral Priyo yang kudeta. Sebaiknya kita mengambil alih situasi untuk berpihak pada pemerintah agar bisnis kita tidak terganggu. Segera tangkap Fahri, Budi Raharjo, Daud Haris, Dini Tanjung dan rombongannya, kita serahkan pada anak buah Jendral Priyo,” perintah Mr Liem.


*****


 


 


Di mobil Daud Haris suasana lebih rumit lagi, mereka juga menonton tayangan pers conference tadi. Dini bilang Jendral Priyo telah melakukan kudeta, justru pasukan yang mengejar mereka itu memang ditugaskan untuk membunuh nama-nama yang mereka sebut, termasuk membunuh Fahri. Para pengawal Daud dan sipir merasa bingung apakah harus tetap melindungi Daud Haris atau membantu pemerintah menangkapnya.


Daud dan Dini tampak sibuk dengan ponselnya masing-masing berusaha menghubungi orang-orang yang mereka anggap bisa memberi kejelasan.


“Akses telepon dan internet sepertinya sudah di blokir!” Ujar Dini.


“Keliatannya karena mereka takut kamu ngasih keterangan pers tentang kebohongan Priyo,” sahut Daud.


Kepala sipir, Wanto terlihat sangat cemas, keringat dingin membahasi dahinya walau ia tidak kepanasan, tiba-tiba ia menodongkan pistolnya pada kepala Daud Haris, “Hentikan mobil!” perintah Wanto pada sipir yang mengemudikan mobil.


Bram, pengawal Daud, segera mengeluarkan pistolnya juga dan mengarahkannya kepada Wanto, “turunkan pistol kamu!”


Daud Haris langsung menenangkan, “semua tenang! Silahkan tangkap saya, tapi jangan ada yang menembak!” Kemudian Daud memegang tangan Bram, “Santai, Bram. Sarungkan lagi senjata kamu, sekarang saya sudah jadi incaran panglima, bukan lagi menteri yang harus kamu lindungi.”


Bram sangat gusar, ia membentak Wanto, “Goblok! Kita yang ada di mobil ini adalah para saksi kunci! Orang-orang dibelakang sana tidak akan membiarkan satupun orang-orang di rombongan ini selamat! Turunkan senjata kamu! Musuh kita ada di belakang!”


“Tapi jumlah mereka banyak, bahkan ada anggota Pasukan T7 di sana, apa bisa kita lawan?” Tanya Kepala Sipir, ia tetap menodongkan pistolnya pada kepala Daud Haris.


“Lu emang *****! Ngapain kita hadapi orang dibelakang sana? Cepat lanjutin perjalanan ini! Lu kan Kepala Sipir, selama lu tetap terlihat berpihak pada pemerintah semua orang di pulau ini tunduk sama perintah lu. Yang penting kita menjauh dulu dari kejaran mereka, nanti di dalam kita cari cara supaya selamat,” ujar Bram.


Akhirnya Wanto mau menurunkan pistolnya, “Kebut mobil ini!”


*****


 


 


Fahri telah merubah sistem keamanan penjara, ia mengunci semua pintu-pintu otomatis sehingga hanya bisa terbuka saat dilewati seragamnya. Para napi dan sipir terkurung di ruang atau tempat terakhir kali mereka berada. Fahri juga membuat kamera CCTV hanya bisa di monitor dari laptopnya. Sayangnya Fahri hanya bisa mengendalikan sistem jaringan internal di penjara karena akses internet dan telekomunikasi di Indonesia hari ini mendadak diputus pemerintah, sehingga ia tidak bisa menghubungi ponsel Daud Haris dan Dini.


Suasana Penjara Karakas menjadi gaduh saat para napi melihat Fahri dan teman-temannya berjalan bebas melewati kamar-kamar sel Blok B.


Fahri dan teman-temannya telah berada ruangan penyimpanan barang-barang pribadi napi yang disimpan para sipir. Setelah bersalin dan mengambil barang-barang pribadinya,  Fahri menggunting barcode dari seragam napinya, ia menyuruh napi lain mengikutinya dan mendaftarkannya di sistem agar bebas melewati pintu-pintu otomatis.

__ADS_1


Dengan bantuan Didan, Fahri membawa rombongannya menuju tempat penyimpanan senjata. Para sipir memang biasanya hanya membawa senjata saat melalui koridor yang menuju kamar-kamar para napi, sehingga rombongan Fahri tidak terlalu sulit melumpuhkan para sipir yang tidak bersenjata. Fahri menemukan berbagai jenis senjata, salah satunya remote untuk senjata drone. Fahri kembali memperhatikan CCTV dari laptopnya, ia melihat mobil rombongan Daud Haris telah sampai di depan gerbang Penjara Karakas, tetapi mobil-mobil itu tidak bisa masuk karena barcode selain miliknya sudah di blok.


“Gue harus menghadang mobil-mobil tentara yang mengejar Daud dengan drone-drone senjata yang parkir di dekat gerbang penjara. Didan! Tolong jemput Daud Haris dan Dini di depan. Zul! Tolong kawal Didan dari jauh dengan senjata khusus sniper! Dean! Di halaman samping penjara ada truk besar, tolong bawa truk itu ke belakang dan tabrakan ke dinding penjara di belakang supaya kita punya lubang untuk kabur. Pak Budi! Anda ikut Dean. Teman-teman, pakai HT untuk komunikasi! Kita ketemu di belakang, di dinding penjara belakang yang akan dilubangi Dean. Waktu kita paling lama 10 menit, semua harus sudah berada di sana. Seluruh pintu penjara akan gue set agar terbuka dalam waktu 15 menit dari sekarang, supaya saat para tentara datang, mereka akan bertemu dengan penjara yang gaduh. Setelah itu kita akan menembus hutan dibelakang sana, gue belum tahu medan yang akan kita hadapi, katanya bukit-bukit itu penuh kandungan magnet. Kita bergerak, sekarang!” perintah Fahri.


*****


 


 


Di depan pintu gerbang penjara, Wanto trelihat panic karena tidak bisa membuka akses pintu masuk gerbang. Saat melihat drone-drone terbang di atas mobilnya, ia semakin panik.


“Habis kita! Habis!” teriak Wanto ketakutan.


“Drone-drone itu sudah pergi dan pintu gerbang sudah terbuka!” ujar Dini.


Wanto lega, ia langsung memerintahkan pengemudi untuk cepat masuk. 2 Mobil rombongan Daud Haris akhirnya bisa masuk ke halaman Penjara Karakas, pintu gerbang kembali tertutup.


Para sipir di halaman segera menyambut mobil Daud Haris. Wanto keluar dari mobil.


“Pak Wanto, semua pintu-pintu di penjara ini terkunci, kita enggak bisa ke dalam,” ujar salah seorang sipir.


Tiba-tiba dari salah satu pintu Didan muncul, ia berlari menghampiri Wanto. Para sipir heran karena Didan bisa membuka pintu gedung.


“Kenapa kamu bisa membuka pintu itu?” tanya Wanto.


“Saat ini Penjara Karakas berada dalam kendali saya, atas nama negara, serahkan Daud Haris dan Dini Tanjung untuk saya amankan!” Perintah Didan sambil menodongkan senjatanya ke Wanto.


“Mundur!” Teriak Bram pada Didan sambil menodongkan senjata pada Didan.


Dari jauh Zul telah siap membidik kepala Bram.


Suasana kembali menjadi rumit, para sipir ikut menodongkan senjata, sebagian ke Didan, sebagian ke Bram.


Dini segera mengambil alih situasi, “Sebaiknya kita cepat ikut dia ke dalam, saya yakin anda pasti paham” ujar Dini pada Bram.


Dini menduga Fahri telah menguasai Penjara Karakas, buktinya drone-drone yang terbang tidak menembak mereka dan pintu gerbang dapat terbuka, padahal kata sipir, semua pintu terkunci. Pelakunya pasti orang luar dan menguasai teknologi.


“Oke paham!” ujar Bram sambil menurunkan senjatanya, “silahkan bawa Daud, tapi kami harus ikut mengawal ke dalam untuk mengawal!”


“Hanya Dini Tanjung dan Daud Haris!” ujar Didan, ia kini menodongkan senjata pada Bram.


“Tanpa mereka saya tidak akan masuk. Tenang, mereka orang-orang saya,” ujar Dini meyakinkan Didan.


“Baiklah, rombongan kalian boleh masuk,” ujar Didan.


Kemudian Didan memanggil para anak buah Wanto yang bertugas di halaman, “Hati-hati, sebentar lagi ada pasukan tentara yang ingin menyerang. Sebaiknya kalian menjauh atau cari tempat sembunyi,” ujar Didan lalu ikut berlari menyusul rombongan Daud Haris.


*****


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W

__ADS_1


 


 


__ADS_2