
Fahri segera membuka serangan, dengan cepat ia berusaha menendang perut Bong sekeras-kerasnya agar tubuh yang tinggi itu menunduk dan ia bisa memukul kepala Bong, tetapi Bong juga melakukan hal yang sama, karena jangkuan kakinya lebih panjang, tendangan Bong menghantam wajah Fahri. Fahri cepat mundur untuk menghindari serangan susulan.
Fahri tampak terhuyung, darah mengucur dari pelipisnya. Para narapidana dan sipir langsung bersorak kegirangan membela jagoan mereka yang tak pernah kalah ini.
Tanpa mau membuang waktu, Bong yang telah meyalurkan tenaga dalamnya, maju untuk melayangkan tinjunya yang lebih berbahaya ke wajah Fahri, untungnya Fahri cepat menutupnya dengan kursi besi yang berada di dekatnya, kursi itu pun hancur. Fahri segera mengambil kursi lain dan menghantamkannya berkali-kali ke tubuh Bong, kursi itu rusak tetapi tak sedikitpun menggoyahkan Bong.
Bong kembali maju, Fahri segera melompat ke atas meja agar lebih tinggi dari Bong, tendangan keas Fahri akhirnya masuk ke wajah Bong, ia mengulangi lagi tendangan kerasnya berkali-kali, sayangnya Bong tetap kokoh berdiri. Bong ternyata lebih kuat dari Jonas, badak blok 3 yang pernah dihadapi Fahri. Kini pukulan Bong menghantam meja yang dinaiki Fahri hingga terbelah, Fahri pun terjatuh kehilangan keseimbangan.
Kini gantian Bong yang mengambil kursi dan menghantamkannya berkali-kali ke tubuh Fahri. Fahri hanya mampu melindungi kepalanya dengan kedua tangannya, setelah kursi hancur Fahri punya kesempatan untuk berguling mundur untuk menjauh.
Fahri berusaha berdiri walau tampak semakin terhuyung. Diam-diam Bong dan Fahri sama-sama mengatur nafas untuk menyalurkan tenaga dalam.
Setelah cukup waktu keduanya kembali mendekat. Fahri memancing Bong seolah-olah ingin memukul, Bong yang merasa jangkauan pukulannya lebih jauh terpancing jebakan, ia melepaskan sekers-kerasnya pukulan yang telah berisi tenaga dalam menuju tempat kosong dan malah menempatkan wajahnya di posisi yang diinginkan Fahri. Tanpa ampun pukulan keras Fahri yang berisi tenaga dalam telak mengenai wajah Bong.
Bong berteriak kesakitan, ia jatuh dengan wajah berlumuran darah, pelipisnya sobek sangat lebar. Bong jatuh-bangun dan mundur menjauhi Fahri sebelum pukulan berisi tenaga dalam kembali menghampirinya. Semua penonton terkesima melihat jagoannya yang tak pernah terkalahkan akhirnya bisa terluka parah.
Sialan! Anak ini punya mainan juga ternyata, maki Bong sambil berusaha berdiri tegak. Di seberangnya Fahri ternyata juga masih menunggu, staminanya sendiri sudah terkuras akibat menerima banyak pukulan.
Setelah memiliki cukup tenaga Bong dan Fahri kembali saling mendekat. Kali ini Bong ingin menghemat staminanya, ia tidak mau lagi boros dengan tenaga dalamnya, ia harus menempatkannya di saat yang tepat untuk memenangkan pertarungan. Sebaliknya, Fahri malah kembali menyalurkan tenaga dalamnya, karena menurutnya serangan biasa tidak akan bisa melukai Bong, tapi Fahri tahu pukulan tenaga dalamnya tidak boleh meleset, jika luput maka ia tidak akan punya stamina lagi untuk bertarung dengan Bong.
Bong memulai serangan dengan staminanya yang telah terkuras, karena menghemat tenaga, gerakan Bong jadi tidak secepat sebelumnya sehingga mudah terbaca Fahri, dengan mudah Fahri mengelak pukulan Bong sambil memanjat tubuh besar itu.
Bong kaget, Fahri telah berhasil mengaitkan kakinya dan duduk di pundaknya. Kedua tangan Fahri yang telah berisi tenaga dalam langsung menghantam kepala Bong.
Bong kembali berteriak keras. Ia roboh dan pingsan, darah mengalir deras dari kedua telinga, hidung dan mulutnya. Untungnya Fahri masih menahan tenaga dalamnya agar kepala Bong tidak hancur.
Semua orang terperanjat, suasana langsung menjadi sangat hening. Fahri memandang para sipir di atas, ia kuatir ada sipir yang tidak setuju dengan tindakannya ini, ternyata tidak ada sipir yang sedang membidik senjata ke arahnya, Fahri yakin dirinya aman.
“Sekarang gue yang pimpin tempat ini! Siapa yang enggak setuju?” Teriak Fahri sambil mengelilingi lingkaran kerumunan, ia mencari lawan lain yang mau berkelahi dengannya, tetapi orang-orang di lingkaran yang didekatinya langsung menjauh, “Yang tadi ngeroyok teman gue, bawa badak ini ke selnya! Yang lain semuanya bubar, lanjutkan makan kalian!” Perintah Fahri.
Lingkaran kerumunan itu langsung bubar untuk meneruskan makan malam, anak-anak buah Bong langsung menggotong bekas bosnya. Fahri mengajak Dean kembali melanjutkan makannya di meja zul.
“Makasih Fahri. Zul bener, gue hampir aja mati konyol,” ujar Dean.
“Yah untung aja ada jagoan kita. Ck ck ck, gila! Belum sehari, lu udah pegang Blok B, untung tadi gue enggak mau ngasih tontonan buat sipir!” ujar Zul kagum.
“Kita dipertemankan oleh sholat maghrib, hahaha. Ngomong-ngomong, itu kan ...” ujar Fahri sambil berusaha melihat Budi Raharjo yang berada di ruang makan terpisah.
“Itu emang Budi Raharjo, bekas calon presiden harapan mahasiswa. Kasihan dia, gue yakin pasti dulu dia dipaksa ngaku korupsi. Mana mungkin lah!” ujar Zul.
__ADS_1
“Lu pernah ketemu dia?” Tanya Fahri.
“Tiap Jumat, masjid terbuka untuk napi. Budi Raharjo biasa jadi khotib dan imam tiap jum’atan,” kata Zul.
Tiba-tiba suara alarm dari jam digital berbunyi, pertanda waktu makan malam telah selesai.
“Nanti kita lanjutin obrolan ini di kamar sel, ada banyak hal yang mau gue tanya” ujar Fahri.
“Siap, kawan!” Sahut Zul.
Para napi membubarkan diri, mereka berdiri di depan pintu besi koridor masing-masing menunggu pintu terbuka, Fahri melihat para petugas sipir mengecek orang-orang di bawah sambil mengarahkan senjata api mereka.
*****
Gue butuh ketemu Budi Raharjo secepatnya, ada cara?” tanya Fahri setelah ia dan Zul bicara banyak tentang kondisi negeri yang menyedihkan.
“Ya, lu terobos aja keamanan penjara ini, Bos, hahaha,” jawab Zul.
“Kalo enggak ada cara lain, apa boleh buat? Barusan lu bilang kalo punya kekuatan mutan lu bakal keluarin Budi Raharjo, karena dia enggak layak ada di sini,” tagih Fahri.
“Nah, menurut lu gue mutan? Hahaha. Bro, jangankan nyebrang blok, keluar kamar sel aja enggak mungkin. Sistem keamanan di sini serba teknologi,” sahut Zul.
“Hmm. Oke, anggap aja lu bisa dapat seragam. CCTV itu mungkin rabun, tapi napi di Blok B kan ngenalin muka lu walau pakai baju sipir,” sahut Zul.
“Pasti! Makanya gue bergerak saat jam makan, koridor dan kamar sel kan kosong dari napi,” sahut Fahri.
“Ya, anggap bisa! Lu punya waktu satu jam untuk wisata, mau ketemu siapa? Budi Raharjo juga ada di tempat makan. Kecuali sipir dan napi sakit, enggak ada yang dibolehin berkeliaran di koridor maupun kamar sel pas jam makan,” ujar Zul.
“Oke rencana berubah. Zul, posisi ruang server ada di deket tempat napi baru dapat seragam, tempat itu pasti cuma rame saat jadwal penyerahan napi baru setiap sore. Kalo gue berhasil masuk ke ruang server pas jam makan, setelah itu kita bisa wisata keliling penjara kapan aja,” ujar Fahri.
“Hmm, gila! Oke, lu ngaku sakit, anggaplah lu juga mampu ngelabuin teknologi, kebetulan sipir-sipir di sini emang cuma ngandelin teknologi, mereka cuma bersentuhan langsung dengan napi pas nganter atau kalo ada masalah keamanan. Tapi tadi kan gue bilang napi-napi lain enggak buta, walau sakit,” ujar Zul.
“Nah itu poinnya! Sipir-sipir di sini enggak bersentuhan langsung dengan kita kecuali ada masalah keamanan, artinya selama enggak ada masalah keamanan yang muncul di kamera, penjara ini milik kita! Gue harap napi-napi di sini emang enggak buta dan enggak amnesia bahwa penguasa Blok B ini sekarang adalah orang yang barusan bikin Bong babak belur! Siapa yang berani ganggu acara wisata penguasa Blok B? Ada blok lain yang lebih menakutkan dari Blok B?” tanya Fahri.
“Hahaha. Gue curiga, lu aparat yang lagi nyamar ya?” tanya Zul.
“Bekas aparat, sama kayak lu!” sahut Fahri.
“Hah? Kok lu tau?” tanya Zul.
__ADS_1
“tattoo lu itu belum cukup untuk nutupin jejak-jejak lu saat kita ngomongin masalah negara, terutama koleksi buku-buku politik itu. Kenapa sih lu ditahan?” tanya Fahri.
“Oke kita buka-bukaan, gue pernah jadi jaksa, gara-gara punya bukti kuat dan ngotot mau nangkap Rizal Salman malah gue yang dijeblosin ke sini, dengan tuduhan pembunuhan pula. Tattoo ini memang topeng yang harus gue pakai sebelum polisi berhasil nangkap gue, lu tahu lah, kerjaan gue dulu nangkepin para ********, bayangin kalo ********-******** di sini tahu gue pernah jeblosin mereka! Nah, elu siapa?” Tanya Zul.
“Gue mantan tentara yang pernah di tahan di penjara militer gara-gara nolak tugas, setelah keluar penjara gue juga berurusan sama orang-orang ormasnya Rizal Salman yang mau evakuasi rusun, gue juga di fitnah,” ujar Fahri.
“Oh!!! Lu... Fahri... Fahri Hussein dari Rusun Ciawi, mantan Pasukan T7? Tanya Zul kaget.
Fahri mengangguk.
“Hahaha, gila! Pantes Bong roboh. Oke, gue enggak mau nunggu ngabisin masa tua di sini dan akhirnya dibunuh juga setelah tua enggak berdaya. Sesama sampah masyarakat, apa yang bisa gue bantu?” tanya Zul.
“Ya itu tadi, seragam sipir saat jam makan. Kita harus cari bukti bahwa gue, lu, Budi Raharjo dan mungkin korban-korban fitnah lain, itu enggak bersalah. Kalo Budi Raharjo mau membantu, InsyaAllah rezim ini kita runtuhkan sekalian,” ujar Fahri.
“Sebenarnya di penjara ini, bukan sipir yang pegang kendali,” ujar Zul.
“O ya? Jadi siapa?” tanya Fahri.
Zul meminta Fahri berhenti bicara, ia mendengar suara langkah kaki orang mendekati kamar sel mereka.
*****
Dalam kegelapan malam 4 orang turun dari perahu karet di pantai Pulau Karakas yang posisinya sangat jauh dari Penjara Karakas dan dipisahkan oleh bukit-bukit tinggi, mereka baru saja menyebrangi laut dari pulau kecil, setelah helikopter menurunkan mereka dan barang-barang bawaannya di pulau kecil tersebut.
Salah seorang dari mereka mengeluarkan peralatan semacam komputer dan memerintahkan 3 orang yang bersamanya untuk mendekat. “Lihat anak-anak! Bagian tengah Pulau Karakas enggak muncul sama sekali pemetaannya. Ternyata betul, kandungan magnetnya sangat tinggi dan pasti bisa merusak peralatan, sesuai dugaanku, kita harus nyebrangin hamparan hutan lebat di bukit-bukit itu tanpa dukungan teknologi. Pasang tenda di tempat yang tersembunyi! Kita bermalam di sini, sangat bahaya menembus hutan yang belum kita ketahui medannya di malam hari.
*****
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1