Al Kahfi Land - Dua Sisi

Al Kahfi Land - Dua Sisi
Lubang Waktu - Part 7


__ADS_3

Motor Bebek butut Ali Tanjung yang membonceng Fahri berhenti di sebuah warung Indomie Mang Tatang di Jagakarsa. Ali memenuhi permintaan Fahri untuk bicara di tempat lain karena ia bilang sesuatu yang akan disampaikannya akan terdengar tidak masuk akal.


"Makasih Mang Tatang," ujar Ali saat Mang Tatang mengantar kopi pesanan Ali.


"Ini tahun berapa sih?" tanya Fahri.


"Tahun? Hehe. Lu siapa sih? Hal penting apa yang lu mau sampein? Sori, gue enggak bisa lama-lama ya, ini jam kerja," ujar Ali sambil menghisap rokoknya.


Karena Ali Tanjung tak menjawab pertanyaaannya, Fahri melirik plat nomor motor bebek Ali Tanjung. Fahri kaget melihat angka tahun yang sangat jauh, 2004! kalau ini nyata, maka seharusnya ia belum lahir.


"Saya Fahri, saya berasal dari tahun 2040," kata Fahri.


Ali menyembur kopi yang hampir diminumnya. Apes banget, pagi-pagi ketemu beginian.


Ali meletakkan uang Rp. 50.000 di meja untuk Fahri. "Oke, gue percaya lu manusia dari masa depan. Hmm lu mungkin lapar, pesen aja! Gue tinggalin duit, nih! Sori, gue balik ke kantor lagi, ya."


"Bapak kenal dengan Erlangga Yusuf dan Andi Permana?" tanya Fahri.


Ali tertegun, nama Erlangga mungkin sempat didengar orang aneh ini di kantor tadi, tapi nama Andi Permana? Siapa yang kenal dengan nama sahabat Angga di Bandung? Siapa sih nih orang? tanya Ali dalam hati.


"Gini deh, jujur aja, lu mau apa sih sebenarnya?" tanya Ali.


Fahri bingung mencari cara agar Ali percaya padanya, ia sendiri masih sulit menerima kejadian aneh yang sedang dialaminya.


"Saya bisa buktikan datang dari masa depan," pinta Fahri.


Ali semakin iba pada Fahri, orang gila ini mungkin butuh bantuan, kalo gue baikin, mungkin dia mau nyebutin alamat rumahnya, jadi bisa gue antar pulang.


"Enggak usah, gue percaya kok. Lu tinggal dimana sih, mas?" tanya Ali.


"Pak Ali, kasih saya waktu untuk menjelaskan siapa diri saya dan kenapa saya menemui bapak," pinta Fahri.


"Eh, elu jangan manggil gue pak lah, kayaknya kita seumuran kok. Ya udah, ceritain aja," ujar Ali.


"Di tahun 2040. Saya bekerja di perusahaan besar milik anda, dan..."


"Perusahaan gue?" potong Ali. "Hahaha. Mas, terus terang ya, selain duit 50 ribu ini, di dompet gue udah enggak ada uang lagi. Sesama gembel, enggak usah ngomong masa depan deh. Langsung aja, lu butuh bantuan apa? Kecuali duit!" tanya Ali.

__ADS_1


"Boleh pertemukan saya dengan Pak Erlangga atau Pak Andi?" pinta Fahri. Ia berharap mungkin 2 sahabat Ali Tanjung lebih mudah diyakinkan.


Ali tertawa. "Fahri! Erlangga itu ada di langit, sang pemilik Al Kahfi Land. Gue itu ada di bumi, sang kacung Al Kahfi Land," ungkap Ali.


"Anda bukannya salah satu pemilik perusahaan?" tanya Ali.


Ali tertawa terpingkal-pingkal. "Hahaha, elu doang nih yang yakin gue punya masa depan cerah, gue aja udah enggak. Elu orang gila atau mau nipu, sih?"


Sebenarnya Ali mulai kesal, tetapi ia tetap tidak tega meninggalkan Fahri yang dianggapnya punya masalah lebih besar, sakit jiwa.


"Pak Ali! Jangan pernah nyerah sama keadaan," ujar Fahri.


Kesabaran Ali pun habis. "Emang lu siapa nasehatin gue? Tahu apa lu tentang perjuangan hidup? Udah berapa kali lu nemuin kegagalan?"


"Kegagalan itu cuma istilah buat yang berhenti mencoba," sahut Fahri.


"*** kucing!" maki Ali.


Ali Tanjung meneguk kopinya, lalu menghisap rokoknya dalam-dalam dan membuang asap rokok itu jauh-jauh bersama keresahannya.


"Mungkin Tuhan sengaja membuat anda sesusah ini agar anda benar-benar sangat peduli dan sayang pada orang susah, saat nanti anda sudah berhasil," ujar Fahri.


Ali Tanjung malas menanggapi, ia kembali menikmati rokoknya.


Fahri merenung sejenak. "Pak Ali, Pak Erlangga dan Pak Andi, kalian bertiga punya sesuatu yang jika digabungkan akan menjadi kekuatan yang luar biasa."


"Erlangga mau gabung sama gue? *** kucing!" maki Ali lagi.


"Semangat lu yang kaya *** kucing! Lemah!" maki Fahri.


Ali jadi tertawa mendengar makian Fahri. "Hahaha, nah gitu dong. Enggak usah Pak Ali, Pak Ali segala."


Fahri membuka dompetnya dan menyerahkan sebuah kartu elektronik bertuliskan MindPay pada Ali. Ali tertegun, ia pun meneliti kartu tersebut.


"Alat pembayaran non banking berbasis chip?" tanya Ali, ia jadi penasaran.


"Salah satu fungsinya itu," jawab Fahri sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ah, ini cuma konsep yang lu cetak jadi kartu. Teknologi kita belum sampe, tapi... sialan! Ini mirip dengan ide gue. Oh, gue ngerti! Lu mau ketemu Erlangga, karena cari investor?" tanya Ali sambil memulangkan kartu Fahri.


"Betul, lu bisa bantu?" tanya Fahri.


"Hahaha, sialan lu! Ngapain ngaku orang masa depan segala,? Gue kira orang gila. Gini, Erlangga enggak bakal mau nemuin gembel-gembel kaya kita, apalagi baju lu kaya orang gila, cara nyari perhatian lu hebat, tapi ******, hahaha" sahut Ali.


"Ini kreativitas, buktinya lu jadi mau dengerin gue. Yah elu, tempe banget! Pebisnis tulen itu ngeliat potensi! Kalo lu punya nyali ngadepin orang besar, kita maju bareng, tawarin ide bisnis kita ini ke Erlangga," ajak Fahri.


"Lu kira gue enggak pernah ngemis cari investor? Cuma buang waktu!" ujar Ali.


"Ke Erlangga, pernah enggak?" tanya Fahri.


"Bakal sama aja, cuma buang waktu." ujar Ali.


"Ternyata gue salah nemuin orang. Seharusnya kalo mau majuin konsep ke investor, gue cari partner yang paham, lu mana bisa baca potensi bisnis teknologi online, " pancing Fahri.


Ali tertawa. "Gini, ide lu bagus. Gue juga punya ide yang kurang lebih sama, tapi gue lebih realistis ketimbang elu, karena teknologi kita belum sampe untuk ini, butuh biaya yang gede banget dan waktu lama untuk develop ide e-commerce financial. Ada yang lebih masuk akal, lebih murah dan lebih cepat, mendingan lu maju bikin e-commerce marketplace, kalo lu mau, gue udah bikin, silakan lu ambil, gratis, tawarin deh ke investor-investor, semoga lu enggak buang waktu."


"Ya, udah kita maju bareng tawarin ide itu ke Erlangga. Kalo lu takut ngadepin orang gede, mungkin karena elu enggak punya kemampuan ngomong, ngeyakini orang atau negosisasi, lu diem aja di sebelah gue atau ngumpet di belakang gue. Serahin sama ahlinya, tugas elu cuma nemenin, tapi kalo berhasil ini jadi milik berdua. Apa ruginya lu antar gue ke Erlangga? Takut?" tanya Fahri.


Ali merasa nyalinya diinjak-injak Fahri. "Hmm... Oke deh," sahut Ali.


.*****


 


 


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W


 


 

__ADS_1


__ADS_2