Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
10. Restu Brian Part II


__ADS_3

Hari itu, sebelum Brian pulang ke rumahnya. Seseorang menghampirinya atas undangannya di lantai 12 kantor Organisasi Ranita. Keduanya duduk, berbicara 4 mata tanpa orang lain di ruangan tersebut.


"Alando Miller. Jadi kau pemilik jaket ini"


Brian melempar jaket kulit yang di kenali Alando


"Apa yang di inginkan gadis angkuh itu?"


"Gadis angkuh? Kau sebut Silvi gadis angkuh?" Suara Brian sedikit meninggi.


"Apa ada yang salah?"


"Ya, jika di pikir-pikir Silvi memang sedikit angkuh". Brian diam-diam membenarkan ucapan Alando. Brian kemudian menatap Alando dingin. "Apa kau mengkhianatinya?"


Alando terbahak. Brian kebingungan melihat tingkah Alando.


"Dia bilang aku mengkhianatinya?" Alando mengusap kedua sudut matanya. Tawa yang berlebihan membuatnya mengeluarkan air mata.


"Lalu kenapa dia begitu membencimu?"


"Itu karena dia mencintaiku dan belum menyadari perasaan cintanya"


Brian membulatkan matanya mendengar penuturan Alando. Namun jika Brian pikirkan lagi, tidak ada alasan yang tepat untuk membantah pernyataan Alando. Brian mulai berpikir dan mengingat beberapa respon Silvi yang begitu berbeda ketika membahas Alando. Hanya membahas jaket Alando saja Silvi kehilangan keahlian merangkai kata.


Lagi-lagi Brian hanya menyetujui pernyataan Alando dalam hati. Namun sebagai ayah yang baik untuk Silvi, Brian berusaha mengelak pernyataan Alando untuk membuktikan bahwa Silvi bukan gadis yang mudah jatuh cinta.


"Apa kau bisa membuktikan ucapanmu?"


Alando menunjukkan ponselnya. Brian membulatkan matanya tak percaya melihat isi chat yang terdapat di dalamnya. Brian memastikan nomor ponsel yang mengirim pesan pada Alando dan menemukan memang benar nomor ponsel itu adalah milik Silvi. Brianpun menjadi sangat yakin bahwa Silvi sungguh jatuh cinta pada Alando namun Silvi tak menyadari perasaannya.


"Anda tahu, dia sedikit aneh dalam menunjukkan rasa cintanya. Untung saja aku memahaminya"


"Hm. Apa kau mencintainya?"


"Aku tidak tahu. Aku hanya menyukai setiap hal yang ada padanya. Aku tidak bisa menjamin yang ku rasakan adalah cinta" Alando tersenyum malu.


"Aku mengerti" Brian tersenyum bahagia. Tentu saja, hanya cinta yang membuat seseorang menyukai setiap hal pada diri orang lain. Brian pikir Alando sama halnya dengan Silvi. Mereka salaing mencintai tapi tak saling memahami perasaan masing-masing.

__ADS_1


"Ini berkas yang perlu kau baca. Pekerjaan ini sangat cocok untukmu. Jika kau tak keberatan, kau bisa melakukannya". Brian memberikan sebuah map pada Alando dan Alando menerimanya. "Untuk pertemuan di hotel, Aku akan menahan Silvi untuk tidak ke sana"


Alando tersenyum. "Ah, sayang sekali aku tidak bisa menemuinya di hotel karena pekerjaan menggiurkan ini" Ucap Alando setelah membaca berkas di tangannya sekilas.


"Jangan bertemu dengannya di hotel. Temui dia di rumahnya. Aku mewakili ayah Silvi merestuimu".


***


Silvi keluar dari kamarnya dan mendapati ayahnya yang sedang memasak di dapur. Ya, seperti itulah Brian. Pria sangar yang begitu menyayangi putrinya. Jika ada waktu luang, Brian selalu berusaha membuat masakan kesukaan Silvi. Padahal dia mampu membayar koki termahal untuk membuatkan Silvi makanan kesukaannya. Hanya saja Silvi pernah mengatakan jika dia lebih suka ayahnya yang memasaknya dari pada koki yang di bayar Brian. Itulah alasan yang membuat Brian bangga terhadap masakannya.


"Ayah"


"Ada apa?"


"Temani aku menemui si brengsek Alando"


"Kau ini. Kenapa selalu menyebut nama Alando dengan awalan brengsek?"


"Dia memang pria brengsek ayah"


Brian tersenyum dan tak lama terkekeh. Brian berpikir bahwa Silvi mungkin kesal karena Alando menyita hampir seluruh pikirannya.


"Apa? Kau pikir ayah akan mengizinkanmu bertemu pria di hotel?"


"Ayah akan menemaniku. Aku hanya akan membalas perbuatannya dan tidak akan bertemu dengannya lagi"


"Kau pikir semudah itu, tak bertemu dengannya lagi?" Silvi mengerutkan dahinya tak mengerti namun ayahnya masih saja tersenyum. "Lupakan hotel. Ayah akan membawanya ke rumah kita dan kau bisa memukulnya sepuas hatimu"


"Benarkah?" Silvi berbinar senang


"Lihat wajahmu. Kau selalu terlihat berbeda dari biasanya jika menyangkut Alando"


Silvi tersenyum miris. Ayahnya sangat aneh. Tapi tidak masalah, yang penting ayahnya bisa membawa Alando di hadapan Silvi dan Silvi bisa membalas perbuatan Alando. "Ayah akan membawanya ke sini kan?" Silvi memastikan pertanyaannya yang belum mendapat jawaban.


"Ya. Ya ya." Brian sekarang tertawa terpingkal-pingkal.


Silvi hanya kebingungan melihat ekspresi yang di tunjukkan ayahnya. Gadis itu kemudian duduk dan mulai menyantap makanan buatan ayahnya yang baru saja di sajikan Brian dengan lahap.

__ADS_1


"Rasa yang sama. Sangat lezat". Ucap Silvi memuji masakan ayahnya dengan mengangkat dua jempolnya.


"Bayar itu dengan menghabiskannya"


"Tentu ketua" Silvi tertawa dan di balas serupa oleh Brian.


"Jadi putriku sudah jatuh cinta untuk kedua kalinya?"


"Apa maksud ayah? Aku hanya jatuh cinta sekali dan itu pada ayah".


"Ya, Ayah cinta pertamamu. Tapi itu cuma cinta seorang gadis kecil. Sekarang Kau tumbuh menjadi gadis dewasa dan jatuh cinta seperti gadis dewasa lainnya?"


"Aku tidak... Aku belum memasuki tahap itu". Silvi memasang wajah cemberut yang menggemaskan. "Aku ini hanya gadis kecil Ayah dan selamanya begitu."


"Ya. Selamanya kau adalah gadis kecil Ayah" Brian mencubit kecil pipi Silvi yang mengembung. "Makanlah gadis kecilku. Setelah ini, kembali beroperasi seperti biasa. Ayah akan menjaga lilin dengan baik".


"Aku bukan **** ngepet. Aku tuyul. Apa ayah lupa?"


"Hahaha. Maaf ayah melupakannya. Apa pertumbuhanmu sudah terhenti? Dari SMP tinggimu tidak bertambah".


Silvi mengangkat sebelah bibir atasnya dengan mata yang memutar malas.


"Kau persis seperti ibumu." Brian tersenyum membayangkan kebiasaan Ranita saat melakukan hal serupa dengan yang dilakukan Silvi barusan. "Sangat mirip".


"Ayah merindukan Ibu?"


"Sangat merundukannya"


"Ayah ingat pesan Ibu pada Silvi?"


"Tentu"


"Ketika kau merindukan Ibu. Kirimkan ibu doa" Ucap Silvi dan Brian bersamaan.


Itu adalah pesan Ranita yang ditulis besar di halaman terakhir pada buku hariannya. Silvi memisahkan halaman itu dari buku harian Ranita dan membingkainya pada kamar Silvi.


Tak terasa, Makan malam penuh canda dan haru telah berakhir. Brian kembali ke ruang kerjanya dan Silvi kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Silvi berbaring nyaman pada ranjangnya setelah selesai menggosok gigi. Gadis itu kemudian tersenyum smirk melihat ponselnya.


"Si brengsek Alando pasti sudah lelah menungguku di hotel. Aku tak sabar melihatnya di rumahku. Apa dia masih berani kurang ajar padaku?" Silvi mulai tertawa membayangkan Alando bersujud meminta ampun di kakinya.


__ADS_2