Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
Menukar Diri


__ADS_3

Silvi keluar dari kelasnya. Matanya mencari Rihana, namun tak menemukan yang dicarinya. Biasanya Rihana akan menyambutnya ketika Silvi keluar kelas karena kelas Rihana lebih dulu berakhir dari kelas Silvi.


Silvi mencari dan bertanya kepada teman sekelas Rihana yang masih duduk di dalam kelas Rihana. Jawaban yang didapat adalah Rihana sudah keluar dari tadi dan entah kemana.


Silvi kemudian melangkah ke tempat biasa dia dan Rihana menghabiskan waktu di kampus, namun hasilnya tetap sama. Nihil.


Panggilan telpon Silvi dari tadi juga tidak mendapatkan jawaban. Silvi pulang mengecek Rihana pada kamar mereka dan teman-teman yang bertetangga dengan kamar keduanya mengatakan Rihana tidak terlihat di asrama.


Silvi menyesal tidak mengambil nomor ponsel ibu Rihana. Silvi membuka buku kecil Rihana, berharap ada nomor ponsel ibu atau alamat rumah Rihana di sana.


Ponsel Silvi berdering dan Silvi segera mengangkatnya hanya dengan melihat nama Rihana di sana.


"Kau pergi kemana? Kenapa tidak memberitahuku? Apa yang kau lakukan? Dari tadi aku menelfonmu berkali-kali." ucap Silvi kesal.


Terdengar suara tawa pria di sebrang sana. Silvi menyipitkan matanya, mencoba mengingat pemilik tawa ini.


"Kau ternyata bisa bicara panjang lebar." Ucap pria itu di sela-sela tawanya.


Ya. Ini adalah suara Aldric. Silvi akhirnya bisa mengenalinya.


"Dimana Rihana? Apa yang kau lakukan padanya?" Ucap Silvi dengan tangan terkepal.


"Datanglah di apartemenku sendiri. Aku ingin kau menukar dirimu dengan Sahabat yang kau khawatirkan ini."


"Baikalah." Silvi mengepalkan tangannya semakin erat. Wajahnya terlihat begitu marah.


"Catat ini."


"Sebutkan saja, aku akan mengingatnya dengan baik."


***


Silvi membunyikan bel pintu apartemen presidential suite di depannya dan Aldric membuka pintunya dengan wajah cerah serta senyum yang tak hilang dari wajahnya.


"Masuklah."


Silvi menurut

__ADS_1


Silvi langsung berlari ketika melihat Rihana diikat pada kursi. Silvi membuka tali yang mengikat Rihana dan memeluknya erat.


"Kenapa kau datang sendirian? Bagaimana bisa kau datang untuk menukar dirimu denganku. Hikss" Rihana menangis dalam pelukan Silvi.


Silvi menghapus air mata Rihana. "Tenanglah. Semua akan baik-baik saja."


"Kalian baru tidak bertemu beberapa jam. Jangan berlebihan." Ucap Aldric.


Aldric kemudian bersiul satu kali dan seorang pria berbadan kekar dan berotot datang. Dari tampilannya, dia terlihat seperti seorang pengawal. Pria itu menarik Rihana dari pelukan Silvi.


"Layani aku. Maka kau boleh pergi bersama Rihana." ucap Aldric dengan senyum yang begitu menjijikkan di mata Silvi.


Rihana membulatkan matanya. Namun, sebelum gadis itu sempat berbicara, pengawal Aldric sudah menyeretnya keluar dari apartemen Aldric.


Setelah pintu apartemennya tertutup, Aldric menatap Silvi dengan tatapan penuh nafsu. Namun wajah tenang Silvi membuat harga dirinya terinjak.


"Dia selalu tenang seperti ini. Padahal situasi ini harusnya bisa membuatnya gemetar ketakutan."


"Kenapa masih diam di situ. Hahahaaha. Kau pasti malu, mengingat ini mungkin hal pertama untukmu." Aldric masih terus menatap Silvi.


"Sekarang jangan berharap seseorang akan menyelamatkanmu. Jangan melawan agar kau tidak merasa kesakitan." Aldric membuka kancing kemejanya dan kini telah bertelanjang dada.


Aldric berjalan ke arah Silvi sambil sesekali menjilati bibirnya.


Jarak keduanya tinggal beberapa langkah. Senyum Aldric semakin merekah melihat Silvi ikut berjalan menuju ke arahnya.


"Aku tidak tahu. Ternyata kau juga mengi.."


Brugh


Tendangan keras Silvi berhasil menjatuhkan Aldric dari posisi berdirinya.


Darah segar mengalir dari hidung Aldric.


Aldric menyeka hidungnya. "Hahaha." Aldric tertawa melihat darah dari hidungnya. "Kau suka dengan cara yang kasar rupanya. Baiklah, aku akan mengabulkannya."


Aldric berdiri. Namun sebelum berdirinya tegak, Silvi kembali memberinya tendangan. Silvi mengeluarkan beberapa jurus dan tanpa kesulitan Aldric kini terbaring di lantai dengan wajah lebam dan penuh kesakitan di area selangkangnya.

__ADS_1


Silvi memanfaatkan ketidakberdayaan Aldric dengan keluar dari apartemen Aldric. Pengawal Aldric menghampiri Silvi dan menggenggam tangan Silvi erat.


"Mau kemana kau?" Pengawal Aldric mengintip ke dalam apartemen Aldric dan mendapati Aldric yang sedang kesakitan.


Karena pengawal Aldric yang sedang membagi perhatiannya, Silvi dengan mudah mendaratkan tinjunya pada mata pengawal Aldric. Pengawal Aldric sontak melepaskan tangan Silvi. Silvi menarik lengan Rihana yang masih gemetar ketakutan untuk berlari keluar gedung apartemen mewah ini.


Ketika keluar dari lift, benerapa pengawal menyerobot masuk pada lift dan sisanya memilih menaiki tangga darurat. Mereka terlihat seperti pengawal Aldric. Namun, sepertinya mereka tidak mengejar Silvi dan Rihana atau mungkin mereka tidak tahu siapa orang yang harus mereka kejar.


Silvi dan Rihana mempercepat lari mereka. Keduanya berhasil tiba di parkiran. Pengawal Aldric yang akhirnya bisa mengontrol rasa sakit pada matanya, mengejar keduanya dan tak butuh waktu lama bagi pengawal Aldric mencapai keduanya. Dikarenakan langkah pengawal Aldric lebih panjang dan cepat dibandingkan Silvi dan Rihana.


Pengawal Aldric berhasil menarik Rihana yang berada di posisi belakang. Rihana dilemparnya hingga jatuh ke lantai. Kepala Rihana yang lebih dulu mengenai lantai, mengeluarkan darah. Silvi mencoba memberikan tendangannya pada pengawal Aldric, namun tendangannya dapat ditangkis oleh pengawal Aldric dengan mudah. Keduanya bertukar beberapa jurus dan keduanya seimbang.


Silvi mundur, mengambil nafas. Pria itu mencoba menyerang Silvi kembali dan berhasil memberi pukulan kerasnya pada wajah Silvi. Di saat yang sama, Silvi juga berhasil mencolok kedua mata pengawal Aldric hingga pria itu kesakitan dan kesulitan untuk membuka matanya.


Silvi segera menghampiri Rihana dan membimbing Rihana untuk pergi. Sebelum itu terjadi, sebuah tembakan berhasil mengenai perut Silvi. Silvi berbalik dan melihat wajah Aldric tersenyum puas melihatnya yang kesakitan.


Aldric terus melangkah mendekat ke arah Silvi dan penglihatan Silvi mulai buram. "Tidak. Aku tidak boleh membiarkan Aldric menyakiti Rihana."


Degan kekuatan terakhir, Silvi bangkit dari posisi duduknya. Namun kesakitan yang amat sangat membuatnya jatuh kembali.


Aldric menikmati kesakitan yang dirasakan Silvi. Rihana dengan darah yang terus mengalir di kepalanya memeluk Silvi dengan tangisan yang diikuti isakan. Aldric menarik Rihana hingga terpisah dari Silvi. Dengan angkuhnya, ia menginjak bahu Rihana hingga bunyi retakan tulang dan diikuti teriakan Rihana menggema di ruang parkir.


Bibirnya tersenyum puas. Saat tangannya ingin menyentuh Silvi, sebuah tendangan keras menghantam kepala Aldric dan Aldric tersungkur di lantai.


Aldric berusaha bangun dengan memegang kepalanya. Aldric mengarahkan pistolnya pada pria yang menendangnya. Pria itu tersenyum smirk dan berlari ke arah Aldric. Lari pria itu lebih dulu tiba pada tangan Aldric dari pada jari telunjuk Aldric menarik pelatuk pistolnya.


Sebuah tendangan keras membuat Aldric tak sanggup untuk bangun. Pria yang menendangnya mengambil pistol Aldric dan mengarahkannya pada kepala Aldric. Seketika tubuh Aldric gemetar ketakutan.


"Tolong. Ampuni aku. Aku akan me..."


Dorr


Peluru itu mengenai kepala Aldric. Rihana membuang tatapan wajahnya ke arah lain. Tubuhnya gemetar ketakutan. Rasa mual mulai menjelajari perutnya. Semetara Silvi yang penglihatannya memburam kini mulai menggelap. Silvi kehilangan kesadarannya.


Beberapa orang pengawal yang menjaga keamanan gedung apartemen ini dan beberapa penghuni apartemen baru tiba. Namun, penghuni gedung terlihat berlari berhamburan seperti orang yang ingin menyelamatkan diri. Beberapa pengawal segera membawa Silvi, Rihana dan Aldric yang sudah kehilangan nyawa ke rumah sakit terdekat.


Kepala pengawal mendekat dan ingin menangkap pria yang menembak Aldric. Namun langkahnya terhenti ketika melihat lebih jelas wajah pria itu. Kepala pengawal tersenyum canggung dan memberi hormat.

__ADS_1


__ADS_2