Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
Selamat Bergabung Nona Selvig


__ADS_3

Malam di kantor organisasi Ranita sangat ramai. Semua anggota organisasi Ranita hadir di sana tanpa terkecuali Alando yang sedang asik menikmati vodkanya. Ya, Alando sangat menyukai jenis alkohol yang satu ini.


Beberapa saat kemudian, suasana menjadi hening. Resepsionis kantor yang kini menjadi Mc membuka acara dengan beberapa sapaan hangat. Acara yang bertema "Selamat bergabung Nona Selvig".


Ya. Ini adalah saat yang tepat untuk Brian memperkenalkan Silvi pada semua anggotanya dan orang-orang yang mengenal Brian akan mengetahui putri yang disembunyikannya selama ini.


Brian memberikan beberapa kata sambutan untuk menyambut putrinya. Lalu mempersilahkan putrinya keluar untuk memperkenalkan diri pada anggota organisasi Ranita.


Semua mata terpana dengan gadis Dress biru langit. Silvi mengenakan dress sebatas lutut dengan lengan seperempat dan high hilss 10 cm yang berwarna silver. Make up tipis menghiasi wajahnya yang bersih dan Lipstik pink menambah kesan manisnya.


Silvi mulai memperkenalkan dirinya dan mendapat tepuk tangan. Silvi mengedarkan pandangannya dan matanya tertuju pada seseorang yang dicarinya. Keduanya tersenyum tipis.


Brian sedang bergabung bersama 10 dewan organisasi Ranita. Sementara Silvi memilih meja yang bersebelahan dengan meja Alando. Silvi menelan soft drinknya.


Seorang anggota Ranita yang memiliki suara merdu kini menyumbangkan lagu.


Silvi dan Alando saling mencuri pandang, Silvi melihat Alando dengan wajah datarnya dan dibalas senyum kecil oleh Alando.


Alando kemudian melangkah dan duduk di samping Silvi.


"Kau cantik sekali malam ini." Puji Alando.


"Aku memang selalu cantik."


"Hahaha. Ya, itu benar."


"Dan selamat atas kelulusanmu." Alando menjulurkan tangannya.


Silvi menatap tangan Alando dan mengerucutkan bibirnya. "Kau harusnya membawa hadiah pelatih." Silvi menjabat tangan Alando.


"Apa yang bisa ku lakukan, muridku bolos berlatih hari ini. Dan sekarang aku melupakan hadiah untukmu."


"Aku harus melihat hadiahku besok."


"Hm. Aku bisa memberi hadiah lain jika kau mau." Alando melihat bibir Silvi penuh minat.


Silvi tersenyum mengejek. Tentu saja, Silvi mengerti yang dimaksudkan Alando. " Aku akan memutuskan lidahmu jika kau berani melakukannya."


"Haha, Baiklah. Kau menang."


"Kau di sini rupanya. Baiklah, ayo lihat wanita ayah sekarang." ucap Brian yang muncul di tengah candakrama keduanya.


"Ayah bilang dia hanya karyawan rahasia."


"Stt. Pelankan suaramu." Brian melirik Alando sekilas. Apa kau ingin ikut Alando?"


"Tidak. Sepertinya kau harus menjelaskannya sendiri."


"Dasar brengsek."


Brian kemudian menggenggam tangan putrinya dan berjalan ke arah lift. Sesampainya di dalam, Brian mengeluarkan kartu berwarna hijau dan menscannya pada alat scan di dalam lift. Lampu yang bertuliskan 12 menyala. Lift lalu mengangkat keduanya dan ketika lampu 11 menyala, lampu pada tombol mati dan lift membawa keduanya turun. Lift berhenti bergarak dan pintunya terbuka. Brian turun bersama Silvi.


"Apa ini lantai bawah tanah?"


"Sudah ayah duga, kau pasti menyadarinya."


Brian kembali menscan kartu hijaunya, lalu pintu yang akan mereka masuki memunculkan layar berupa angka.


"Kenapa warna hijau?"

__ADS_1


"Karena ini warna kesukaan ibumu." ucap Brian sambil menekan angka-angka yang menjadi pasword pintu.


"Ku pikir paswordnya ulang tahun ibu."


"Ayah lebih suka ulang tahunmu."


Setelah masuk, Brian memperkenalkan isi ruangan lantai 12 pada Silvi. Dalam ruangan besar itu, terdapat 12 ruangan. Ruangan paling besar adalah ruangan senjata lengkap. 11 ruangan yang tersisa adalah ruangan milik dewan. Isinya adalah perlengkapan senjata mereka dan beberapa kitab ilmu.


Yang terakhir adalah ruangan kaca yang merupalan ruangan yang membuat Silvi penasaran. Brian membuka tirainya dan dari sana Silvi bisa melihat hanya ada 2 kursi dengan dinding serta meja berteknologi canggih. Brian membuka ruangan itu dengan sidik jarinya.


"Hanya Ayah dan Alando yang bisa memasuki ruangan ini. Setelah hari ini, kau akan menentukan apakah kau bisa mengakses ruangan ini atau tidak."


Brian mempersilahkan Silvi duduk dan dirinya mengisi salah satu kursi lainnya. Brian mengaktifkan sesuatu sehingga sebuah robot transparan muncul dan mengucapkan selamat datang kepada Brian.


"Ibu." Silvi bergumam pelan. Matanya berkaca-kaca. Silvi seolah melihat ibunya kembali pada sisinya.


"Hai Ranita. Perkenalkan dia adalah Silvi Selvig. Anggota baru organisasi Ranita."


"Catat." Robot Ranita menscan mata dan detak jantung Silvi. "Aku akan memberimu beberapa pertanyaan."


"Siapa yang kau pilih antara ayah dan ibumu?"


Silvi menatap ayahnya dan Brian mengangguk seolah mengatakan jawablah sesuai hatimu.


"Aku memilih ayah."


"Kenapa?"


"Karena ayahku sangat mencintai ibuku. Yang berarti, jika aku memilih ayahku maka itu berarti aku juga mencintai ibuku sedalam ayahku mencintai ibuku."


"Catat."


"Aku akan mengorbankan dia yang memintaku mengorbankan salah satu dari orang tuaku."


"Catat."


"Pertanyaan terakhir. Katakan 1 rahasiamu."


"Aku mulai menyukai pria lain selain ayahku."


"Silvi Selvig tercatat sebagai anggota dengan kejujuran luar biasa. Mata serta detak jantungnya bahkan tidak dapat ditolak oleh sistem tanpa harus menjawab pertanyaan ujian. Silahkan pegang tanganku Silvi."


Silvi menempelkan tangannya pada tangan Robot ibunya. Jari-jarinya terscan dan berhasil menjadi orang yang dipilih robot Ranita.


"Robot ini sangat canggih. Dia akan menjawab semua hal yang kau tanyakan."


"Hm. Dimana Lania sekarang?"


"Di restoran Angsa Zambrud."


"Dengan siapa?"


"Dengan Ringgo Adrian."


"Ringgo Adrian? Siapa dia?"


"Dia adalah anggota dari organisasi Ranita yang bertugas mengawali Tono Renald."


"Hahaha. Kena kau Lania. Kau ganti tipe rupanya. Pantas saja, fotoku yang mengangkat Barbel bisa sampai pada Lania."

__ADS_1


"Dimana Tono?"


"Di rumah kediaman Renald."


Silvi kemudian mengingat nenek Tono yang suka melakukan perayaan sederhana. 'Pasti sedang merayakan kelulusan Tono', pikir Silvi.


"Hm. Aku tanya apa ya." Silvi menatap ayahnya penuh selidik. "Apa Ayahku pernah berselingkuh dari ibuku."


"Tidak pernah."


"Wah. Ayahku pria sejati yang sangat setia."


Brian tersenyum bangga dan dibalas kekehan kecil oleh Silvi.


"Sedalam apa cinta ayahku pada ibuku?"


"Sedalam samudra."


"Seluas apa?"


"Seluas galaksi."


"Hahaha. Apa ayah yang menyetelnya?"


"Bukan." Jawab robot Ranita.


"Siapa yang menyetelmu?"


"Ordox Veridox."


"Siapa itu?"


"Pembuatku. Dia memberiku tingkat deteksi luar biasa."


"Hm." Silvi terdiam sesat karena Brian yang kini berbatuk keras.


"Apa ayahku sakit."


"Ya."


"Apa itu parah?"


Robot Ranita tidak bisa menjawab ucapan Silvi karena Brian denga cekatan mematikan tombol off-nya.


"Ayah. Kenapa kau mematikannya?"


"Kau bisa bertanya pada ayah saja. Lagipula ayah sudah memberitahumu parah atau tidaknya penyakit ayah."


"Tapi..."


"Kemari. Waktumu sudah habis di sini. Kau harus menyapa yang lain. Ini adalah acaramu."


Brian menarik lengan Silvi dan membawa putrinya keluar dari ruangan lantai 12 menuju ke arah pesta.


Silvi bahkan tidak bisa tersenyum. Pikirannya sudah terhenti pada lantai 12 bersama robot Ranita. Silvi tahu, ayahnya sedang menyembunyikan kenyataan tentang penyakit yang diderita ayahnya.


Melihat Silvi yang tidak semangat, Brian membawa pulang putrinya dan menyuruh Silvi untuk istirahat di kamarnya saja.


Malam itu, Silvi hanya dapat mikirkan cara untuk mendapatkan informasi akurat tentang penyakit ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2