Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
Bertemu lagi


__ADS_3

Ada lagi ini. Hehehe 😘😘😘


***


Kini Alando sudah berada di kota Cambridge setelah sebulan mengurusi misinya yang lain. Ternyata tidak mudah mendapatkan cuti. Hanya orang yang mencintai pekerjaannya yang tidak mengeluh terhadap semua misi yang didapatkannya.


Kali ini Alando mendapatkan cuti selama seminggu. Kota ini bukan kota asing untuknya. Alando lulus Senior High School dari kota ini. Namun, karena kedatangannya setelah sekian lama kemarin untuk menjalankan misi, maka Alando baru akan bernostalgia dengan kota masa-masa Senior High Schoolnya dalam seminggu ini.


Namun yang menjadi prioritasnya adalah mencari Silvi. Dengan mudah, Alando mendapatkan data Silvi sebagai seorang mahasiswa di kota ini. Maklum, Alando menggunakan kuasanya dengan memanfaatkan hacker militer internasional.


Alando melajukan mobilnya menuju asrama Yard. Alando menghentikan mobilnya ketika menyadari ini bukan waktu berkunjung. Malam sudah menunjukkan pukul 10 lewat. Silvi mungkin akan menendangnya jika berkunjung pada waktu seperti ini.


Alando memutar mobilnya kembali dan berhenti pada klub milik Loli sahabatnya. Ya, Alando dan Loli serta Hans adalah sahabat akrab sewaktu di Senior High School.


Alando memilih duduk di kursi bar dan memesan sebotol vodka. Sudah 6 bulan Alando tidak mencicipi vodka. Menyegarkan. Itulah rasa vodka yang sedikit dirindukannya.


"Alan." Terdengar suara teriakan sumbang di tengah-tengah musik klub yang begitu keras.


Alando menoleh untuk melihat sang pemiliki suara. Loli melompat dan memeluk Alando erat.


"Aku sangat merindukanmu. Sudah lama sekali. 10 tahun kita tidak bertemu."


"Aku juga."


Loli melepaskan pelukannya pada Alando dan menatap Alando dengan wajah sedikit kesal. "Aku juga apa?"


"Aku juga merasakan hal yang sama seperti yang kau rasakan." ucap Alando datar.


"Sulit sekali yaa untuk mengatakan 'aku juga merindukanmu'?" Loli memukul dada bidang Alando.


"Auh, apa tadi yang ku pukul?" Loli meringis kesakitan menatap tangannya yang memukul Alando tadi.


"Kau memukul dadaku."


"Dada macam apa yang kau punya. Aku seperti habis memukul besi." Tentu saja, Loli hanya bercanda. Memang dada Alando sedikit keras. Tapi tidak seperti besi.


Alando tidak menanggapi Loli. Dia hanya menikmati vodkanya kembali.


"Ayo ikut denganku." Loli menarik tangan Alando namun Alando bahkan tidak berdiri dari tempat duduknya.


"Kemana?"


"Bertemu Hans."


Alando akhirnya menurut dan membiarkan Loli menuntunnya menuju tempat Hans berada. Loli dan Alando masuk ruangan VVIP Hans tanpa mengetuk. Hans sedikit terkejut melihat kedatangan Alando.


"Alando Miller? Sungguh, kau kah itu?"


Alando hanya tersenyum mengejek menanggapi pertanyaan bodoh Hans.


"Tentu saja." Loli mendudukkan bokongnya pada sofa.

__ADS_1


"Lihat Alan, dia menyewa tempat ini untuk seumur hidupnya."


Alando mengedarkan pandangannya dengan wajah datar. Kemudian memilih duduk di samping Hans.


"Hei. Kau semakin kekar saja. Apa kegiatan militer sekeras itu?" Hans meninju bahu Alando.


"Dari Senior High Shcool tubuhnya memang sudah atletis. Apa kau lupa Hans? Kau bahkan terinspirasi untuk membentuk tubuhmu karena Alan."


"Hm. Apa Emeli tidak memarahimu melakukan hal ini, Hans?" Alando menatap Hans dengan alis yang dinaikan di atas.


Bukan tanpa alasan Alando menanyakan hal ini. Hans dan Emili sedang memilih hari pernikahan saat Alando meninggalkan Cambridge untuk melakukan pelatihan militer.


"Pernikahan itu tidak pernah terjadi, Alan. Emili akhirnya menikahi pria pilihan kakeknya." Loli memilih menjawab karena Hans yang terlihat membisu.


"Dan kau menjadi terpuruk seperti ini? Tapi wajahmu tidak terlihat seperti orang yang terpuruk." ucap Alando.


"Tentu saja. Karena seorang gadis kecil telah menarikku dari keterpurukan."


"Gadis kecil?"


"Iya." Hans melirik jam tangannya kemudian menatap Loli. "Dia sudah terlambat. Kau bos yang tidak becus. Hubungi dia sekarang."


"Ya, baiklah." Loli mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya dan melakukan panggilan.


"Apa yang kalian lakukan? Kalian sudah terlambat." ucap Loli.


"-"


Loli memutuskan panggilan.


"Bersabarlah, mereka sedang berteduh di halte dekat sini." ucap Loli pada Hans.


"Hm. Apa kau sudah bertunangan atau menikah, Alan?" Loli menatap Alando yang masih asik dengan vodkanya.


"Aku punya seorang tunangan."


"Sungguh? Wah. Padahal aku pikir kau akan sulit menemukan gadis yang kau sukai. Apa dia sangat cantik?"


"Dia sangat angkuh." Bibir Alando tersenyum kecil mengingat keangkuhan Silvi.


Hans dan Loli saling berhadapan. Alando bukan tipe pria yang mudah tersenyum.


"Sepertinya, kau sangat mencintainya." Kini Hans yang berbicara.


"Hm." Alando berdehem. "Apa kau juga mencintai gadis kecilmu?"


"Aku melihatnya seperti Lorrine adik Loli."


Pintu ruangan terbuka, Alando mengangkat wajahnya dan matanya bertemu dengan mata Silvi. Semua terlihat masih sama, Alando begitu merindukan wajah itu.


Tanpa aba-aba, bibir Alando tersenyum. Namun, Silvi masih tetap dengan tatapan yang sama. Gadis angkuh yang bahkan untuk tersenyum saja begitu sulit dilakukannya. Matanya bahkan menunjukkan kebencian. Apa dia sangat lelah menungguku? Pikir Alando.

__ADS_1


Melihat Alando dan Silvi yang saling menatap. Tatapan membunuh Silvi yang dibalas senyuman oleh Alando. Hans dan Loli paham bahwa Alando dan Silvi saling mengenal. Melihat senyum Alando, mereka yakin tunangan yang dibicarakan Alando adalah Silvi. Mengingat cincin yang melekat di jari manis Silvi dengan bertuliskan 'Almil', Hans menjadi paham 'Almil' adalah Alando Miller.


Silvi yang berhasil mengontrol dirinya kembali, melangkah maju dan menuangkan anggur pada gelas yang dibawanya. Silvi menyodorkan gelas berisi anggur itu pada Hans dan sebelum gelas itu disambut Hans. Alando merebut gelas itu dari tangan Silvi dan menelan habis isinya.


"Akh. Aku benci anggur. Vodka lebih menyegarkan." Alando mengelap sisa-sisa anggur pada bibirnya.


"Apa kau tidak tahu malu? Aku memberikannya pada Hans?" Silvi menatap Alando degan tatapan marah.


Tentu saja, Silvi begitu marah pada Alado. Alando meninggalkannya, memintanya menunggu, tak pernah memberinya kabar, tak ada disaat Silvi membutuhkannya, dan sekarang sedang asik menikmati vodka di klub.


"Kau sekarang suka menjadi penuang anggur?" Alando menatap Silvi dengan tatapan yang tajam.


"Itu bukan urusanmu." Silvi mengambil gelas yang lain dan menuangkan anggur pada gelas tersebut.


Alando memukul gelas beserta botol anggur yang berada di tangan Silvi hingga jatuh pecah berantakan di lantai.


Silvi menatap Alando dengan tatapan membunuh dan di balas sama oleh Alando.


"Aku melarangmu melakukan ini." tegas Alando


"Kau pikir siapa dirimu? Melarangku? Hah." Silvi mengalihkan pandangannya sedetik dan kembali menatap Alando lebih tajam dari sebelumnya. "Kau tidak punya hak untuk melarangku."


"Benarkah?" Alando maju dan mendekap pinggang Silvi. Silvi memberontak kuat. Namun kekuatannya tidak berguna sama sekali pada Alando. Alando menarik tengkuk Silvi dan mencium paksa bibir Silvi. Silvi bertahan sebisanya, menutup bibirnya rapat-rapat. Namun akhirnya bibir Alando berhasil menerobos pertahanan Silvi.


Ciuman panas dengan durasi 3 menit itu baru berakhir setelah Alando merasakan nafas Silvi yang mulai terputus-putus.


Alando melepaskan ciumannya, namun tidak dengan dekapannya.


Silvi yang begitu muak melihat wajah Alando, memukulkan kepalanya pada leher Alando kerena tangan dan kakinya tidak dapat bergerak dan kepalanya hanya sampai pada leher Alando.


Alando malah terkekeh dan memeluk kepala Silvi gemas. Sekarang tubuh Silvi kaku, tak bisa digerakkan sama sekali.


"Lepaskan aku." Hanya itu cara terakhir yang bisa dilakukan Silvi untuk terlepas dari dekapan Alando.


"Kau harus berjanji untuk berhenti menuangkan minuman apapun pada orang lain, selain padaku."


Hans dan Loli tertawa.


"Tidak mau." ucap Silvi pada leher Alando.


"Kalau begitu aku tidak bisa melepaskanmu. Aku suka posisi seperti ini, sampai matipun aku tidak keberatan untuk bertahan."


***


**Gimana? Yang kangen Alando udah puas belom? 😄


Aku mungkin akan jarang up beberapa hari ini. Soalnya ada job real life yang maksa bangat buat diprioritasin.😂


Jangan ninggalin Alando yah kalo aku kelamaan libur.


Komen, like dan vote yah. Hehe**

__ADS_1


__ADS_2