
Pencarian Alando dan rombongannya belum juga membuahkan hasil, begitu pula dengan rombongan kepala desa. Alando akhirnya memilih memisahkan diri dengan yang lain untuk menyusuri hutan di pulau ini.
"Jangan pergi sendiri tuan prajurit. Pergilah dengan beberapa orang." ucap pak Joko menahan langkah Alando.
"Kalian lebih membutuhkan, aku sudah terbiasa menjalankan misi sendiri." Alando lalu berlalu meninggalkan rombongan yang mengikutinya beberapa jam yang lalu.
Pak Joko dan rombongan yang ditinggal Alando merasa cemas. Alando bahkan berjalan dengan sedikit sempoyongan. Mereka tahu pria itu sedang belum meraih kesadarannya kembali secara utuh. Namun mereka tak berpikir lebih lama, mengingat nona dokter yang mereka sanjungi sedang dalam bahaya. Mereka pun segera melanjutkan pencarian.
Langit mulai memancarkan sedikit cahanya. Alando mempercepat langkahnya ketika melihat bekas api unggun dan ikat rambut hello kitty yang tak jauh dari sana. Alando kini berlari mengikuti arah ikat rambut itu.
Alando yang sempoyongan yang telah berlari hampir satu jam akhirnya terjatuh. Pening di kepalanya tidak dapat ia tahan lagi. Matanya begitu lelah, begitu pula tubuhnya. Alando rasanya ingin tidur. Entahlah, mungkin lebih tepatnya dia hampir pingsan sekarang. Matanya yang hampir terpejam kembali terbuka lebar ketika mendengar suara umpatan Silvi.
***
"********. Kau hanya berani melawanku dengan tubuh terikat. Aku menantangmu bertarung. Lepaskan aku, lawan aku jika kau memang mampu." teriak Silvi dengan nada emosi.
Pria buronan ini baru saja menampar pipinya karena Silvi tidak mau bicara tentang pengobatan kakinya. Pria itu bahkan sudah merobek jas putih Silvi, karena itu Silvi begitu murka.
Pria itu tertawa dengan keras, namun matanya memancarkan aura predator. Pria itu lalu melangkah melepaskan semua ikatan Silvi.
"Gadis kecil sepertimu mengajakku bertarung? Kau sangat menggemaskan. Bahkan jika kedua tanganku juga ikut terluka, kau tidak akan pernah menang dariku."
Tawa pria itu semakin keras melihat Silvi memasang kuda-kuda. Tawanya semakin keras lagi melihat Silvi berlari ke arahnya.
Bugh
__ADS_1
Tawa pria itu terhenti ketika tubuhnya jatuh dan bibirnya mengeluarkan darah segar. Pria itu tidak menyangka, tendangan gadis kecil seperti Silvi bisa membuatnya tersungkur.
Pria itu bangun dan matanya kini mulai menunjukkan keseriusan. Dirinya dan Silvi kini bertukar beberapa serangan dan jelas terlihat dirinya lebih unggul sedikit dari Silvi. Namun, kondisi Silvi yang lebih prima bisa saja akan memenangkan pertarungan ini jika tidak cepat diakhiri.
Pria itu memilih cara licik, tangannya sengaja menarik baju Silvi hingga robek. Silvi mundur beberapa langkah dan menoleh melihat kondisi kemejan bagian belakangnya yang kini telah memperlihatkan punggungnya.
Mata Silvi memerah karena menahan marah. "Aku akan membunuhmu, itu sumpahku."
Silvi maju dan menyerang membabi buta. Ia bahkan menendang kedua kaki pria buronan yang terluka. Awalnya, Silvi ingin bertarung dengan cara yang tak licik. Tapi sekarang tidak lagi. Pria buronan yang merasa kesakitan dipaksa Silvi dalam posisi berlutut. Karena merasa tersudutkan, pria itu mengeluarkan pisau kecil dari sepatunya dan
Srekk
Celana bahan Silvi robek dari pangkal paha sampa mata kaki. Bahkan pahanya juga ikut tergores namun tidak dalam. Silvi yang masih kaget dengan kakinya yang mulai terekspos mencoba mundur dan
Srekk
Srekk
Kemeja Silvi ditarik dari depan, menyisakan bra pada tubuhnya. Silvi berjongkok memeluk tubuhnya dan air matanya tanpa sadar keluar begitu saja. Untuk pertama kalinya Silvi merasa begitu rendah.
"********." satu tendangan keras mendarat sempurna pada wajah pria buronan.
Alando yang baru tiba dengan kepala pening dan berjalan limblung akhirnya menemukan tempat Silvi. Melihat Silvi yang terus menangis menatap tanah membuat Alando semakin marah. Alando menyerang pria buronan itu dengan membabi buta. Setiap pukulannya mengandung tenaga yang dasyat. Alando tidak pernah mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk memukul lawannya. Namun kali ini berbeda, Alando sungguh sangat murka.
Pukulannya tidak memberi kesempatan sekecil biji kacang hijau pun untuk lawannya membalas bahkan untuk menghirup oksigen. Hingga kini bau darah terpancar dari kepala pria buronan. Wajahnya hancur bahkan isi kepalanya sudah berceceran kemana-mana. Namun Alando tetap gencar memukulinya. Alando sekarang terlihat seperti orang kesetanan.
__ADS_1
Hingga akhirnya suara isakan Silvi yang semakin keras menghentikan pukulannya. Alando seolah baru tersadar bahwa dia telah membunuh buronan yang dikejarnya dengan sadis.
Alando mendekati Silvi dan hendak memeluk Silvi yang terus terisak. Tubuhnya menjadi kaku melihat kedua tangannya yang bersimbah darah. Bahkan pakaiannya pun kini telah berubah warna menjadi merah darah.
Alando membuka jaketnya yang penuh darah itu dan untung saja kaosnya tidak terkena darah. Alando kemudian meminta Silvi membuka kaosnya karena tangannya penuh dengan darah.
Mendengar suara Alando, Silvi seolah baru tersadar dari tangisan yang berlarut. Silvi mengangkat wajahnya dan berhambur memeluk erat Alando. Air matanya mengucur dengan deras.
"Dia melecehkanku. Hiks." tangis Silvi di dada Alando.
"Tenanglah." Alando balas memeluk Silvi dengan lengannya yang tidak terkena darah.
"Dia melecehkanku. Hiks."
"Maafkan aku yang terlambat datang."
"Aku membencinya, hiks."
"Aku sudah membunuhnya."
Silvi seolah kembali tersadar dengan ucapan Alando, dia melepaskan pelukan mereka dan wajahnya menjadi pucat melihat jasad pria buronan yang melecehkannya. Dari tadi pikirannya hanya pada dirinya yang telah dilecehkan hingga begitu banyak hal yang terlewatkan di depan matanya.
"Buka bajuku dan pakailah, rombongan kepala desa akan ke sini, bau darah akan membawa mereka tiba dengan cepat karena ada seekor anjing bersama mereka."
Silvi pun menurut dan membuka kaos Alando dan saat kaos Alando sudah terbuka, rombongan kepala desa sudah sampai di tempat keduanya berada sebelum Silvi memakai kaos Alando. Alando mengurung tubuh Silvi dengan cepat dalam pelukannya dan kepala desa serta rombongannya segera membuang muka, memandang ke arah lain.
__ADS_1
"Bisa-bisanya kalian melakukan hal tak terpuji disaat seperti ini."