Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
Giliran Berjaga


__ADS_3

Siap yaa. Aku bakal ngegas nih😄🤪


***


Ini adalah malam kedua Rihana menjaga Silvi. Dengan bahu yang dibalut gips, tidak menghentikan Rihana untuk menjaga Silvi.


Rihana menoleh, melihat Hans yang tertidur pulas di atas sofa. Seperti malam kemarin, Hans selalu saja dengan mudah untuk tertidur. Ya, Rihana memang berjaga malam bersama Hans dan pada Siang hari Loli lah yang mendapat giliran jaga.


Rihana yang menempati posisi kursi di samping ranjang Silvi berbaring, dengan mudah menatap wajah Silvi. Air matanya kembali membasahi pipinya. Rihana sudah menganggap Silvi seperti saudaranya sendiri. Sekarang, Silvi terluka karena menolongnya. Rasa bersalah teramat sangat dirasakan Rihana.


"Maafkan aku." Lirih Rihana.


"Selalu seperti ini. Tubuhmu juga butuh istirahat." Rihana tersentak mendengar suara Hans. Rihana menoleh dan mendapati Hans yang sedang menatapnya dengan tangan yang dilipat di depan dada.


"Aku hanya ingin menjaga Silvi."


"Aku tahu kau mengkhawatirkan Silvi, tapi kau juga harus memikirkan kesehatanmu."


"Hm. Terima kasih sudah memberiku saran."


"Tidurlah di sini. Di sana kau tidak bisa meluruskan kakimu." Hans menatap Rihana yang hanya diam membisu.


"Terima kasih. Tapi, aku di sini saja." ucap Rihana dengan kepala yang tertunduk. Rihana sebenarnya malu. Ini kali pertama, ada seorang pria yang memberinya perhatian.


"Kau ini rupanya keras kepala juga. Kau mau ke sini dengan kakimu atau dengan kakiku?"


Rihana menatap bingung Hans. Apa maksudnya ke sana dengan kakimu?


Hans yang mulai geram berjalan ke arah Rihana dan menggendongnya ala Bridal style ke arah sofa.


"A..apa yang kau lakukan?" pipi Rihana mulai memerah. Rihana menyembunyikannya dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


Hans meletakkan Rihana pada sofa. "Tidurlah di sini. Aku akan menjaga Silvi di sana." Hans menunjuk kursi yang biasa dipakai Rihana.


Rihana hanya dapat tersenyum malu memandangi punggung Hans yang berjalan ke kursi di samping ranjang Silvi.


Melihat Hans yang menjaga Silvi, Rihana kembali tersadar dari lamunannya. Rihana segera menepis perasaan yang mulai menginginkan Hans.


"Aku tidak seharusnya tertarik pada Hans. Dia ada di sini untuk Silvi. Jika aku yang berada di posisi Silvi, maka ruangan ini tidak akan pernah dikunjungi Hans."


***


Pagi harinya, Loli datang dengan sarapan yang biasa di bawanya.

__ADS_1


"Ayo makan dan kembali pada aktivitas kalian seperti biasanya." ucap Loli pada Hans dan Rihana.


Hans menyambut sarapan yang di bawa Loli dengan lahap. Sementara, Rihana yang masih saja canggung sejak hari pertama Loli membawa sarapan untuknya dan Hans. Jujur saja, Rihana merasa tidak pantas. Loli adalah bosnya. Rihana hanya menatap sarapan yang di bawa Loli.


"Kau ini, Rihana. Aku ingin memaki setiap melihat kau yang terus malu seperti ini. Makanlah." Loli meletakkan Hamburger yang di bawanya pada tangan Rihana.


"Dan ini susu untukmu. Habiskan atau aku tidak hanya akan memakimu, tapi juga menendangmu hingga kau jadi pasien seperti Silvi." Loli memberikan gelas yang berisi susu pada Rihana.


Rihana menyambutnya kikuk. "Maafkan aku."


"Hm. Bisakah kau bersikap biasa saja?"


"I...iya bos."


"Kau boleh memanggilku Loli sekarang."


"Ba.. Baik bos. Eh, ba..baik Loli."


Loli menggeleng menanggapi Rihana yang terbata-bata. Hans hanya tertawa kecil menanggapi kedua wanita yang ada di depannya.


***


Kini Rihana sadang duduk di kursi penumpang di sisi kursi kemudi. Rihana yang gugup, sesekali melirik Hans yang fokus membawa mobilnya membelah jalanan.


Akhirnya mobil Hans berhenti di depan asrama Yard. Jujur saja, ada kelegaan di dalam hati Rihana setelah melalui perjalanan yang hening.


Rihana mengucapkan terima kasih dan Hans mengangguk lalu pergi. Rihana menatap mobil Hans hingga menghilang lalu mencubit pipinya sendiri dengan keras.


"Apa yang kau pikirkan Rihana. Ingat posisimu dan Hans itu menyukai Silvi." Rihana melangkah menuju kamarnya.


***


Silvi membuka matanya dan mendapati wajah Loli yang tersenyum ke arahnya.


"Kau sudah sadar? Aku sangat deg-degan melihat jari telunjukmu bergerak. Tunggu sebentar, dokter akan segera kesini." Loli sangat bersemangat melihat Silvi yang telah siuman.


Dokter tiba dan memeriksa Silvi. Senyum dokter membuat senyum Loli semakin lebar.


"Keadaannya sudah membaik. Dia bisa pulang seminggu lagi." ucap dokter.


"Terima kasih dokter."


Dokter kemudian keluar meninggalkan Silvi dan Loli. Loli mengecup kening Silvi dan dibalas Silvi dengan kerutan di dahinya.

__ADS_1


"Hehe. Itu sudah menjadi ritual baruku." ucap Loli ketika menyadari kebingungan Silvi terhadap ciuman yang di daratkannya pada kening Silvi.


"Terima kasih sudah menjagaku." ucap Silvi dengan wajah datarnya.


Silvi sama sekali tidak keberatan terhadap ritual baru Loli. Jadi, Silvi tak ingin membahasnya lebih lanjut.


"Aku menjaga adikku. Jadi, simpan kata terima kasihmu itu."


"Hm. Bagaimana keadaan Rihana?"


"Dia baik-baik saja. Ya, walaupun sekarang dia tidak bisa menggerakkan tangan kirinya."


Silvi menghembuskan nafasnya berat.


"Jangan pikirkan dia. Dia akan sembuh. Dokter bilang dia akan baik-baik saja."


"Aku ingin melihatnya."


"Iya, dia akan datang setelah ujiannya selesai."


"Ujian?"


"Ya. Profesornya mengadakan ujian hari ini, jadi dia harus datang kan."


"Aku pikir dia di rawat di rumah sakit ini."


"Dia mendapat rawat jalan. Dia dan Hans bertugas menjagamu pada malam hari. Kau tahu, aku mengurusi klubku hingga tidak bisa ikut andil pada malam hari dan Hans harus mengurus perusahaannya pada siang hari."


Silvi terdiam beberapa saat. Pikirannya kembali pada pria yang menyelamatkannya dan Rihana.


"Hm, kak Loli. Apa kau tahu siapa pria yang menyelamatkan aku dan Rihana?"


"Entahlah. Tidak ada yang tahu siapa pria itu. Keluarga Raichar menutupi kasusnya. Semua media dan masyarakat tentunya bingung, padahal pria yang sama telah membunuh kedua putranya. Philips bahkam membiayai biaya pengobatan kau dan Rihana."


Silvi memikirkan kejanggalan yang dilakukan Philips Raichar. Namun, buram. Silvi tidak memiliki gambaran apapun.


"Kau bisa menanyakannya pada Rihana. Dia melihat jelas wajah pria itu."


Melihat Silvi yang masih terlihat berpikir, Loli menjadi khawatir.


"Tidak usah pikirkan pria itu. Jika kau bertanya pada Rihana pun, maka kau akan mendapatkan hasil yang buram. Sama saja dengan tidak bertanya. Lupakan pria itu dan makanlah. Ini makanan rumah sakit. Kau harus makan ini walaupun kau tidak suka. Dokter melarangku membelikanmu makanan lain."


Loli menyuapi Silvi makanan rumah sakit yang ada di tangannya dan Silvi menerima suapan itu tanpa banyak mengeluh.

__ADS_1


__ADS_2