
Alando menatap Silvi yang sedang membantu warga desa ibu-ibu menyiapkan makan malam terakhir Silvi dan Alando di desa ini. Silvi telah menyelesaikan penelitiannya dan Alando pun tidak punya urusan berlama-lama di desa ini.
Wajah Alando begitu murung. Sejak dua hari yang lalu, Silvi telah resmi menjadi istrinya dan malam pertama pernikahan menjadi malam pertama dan terakhir ia menyentuh Silvi. Itu pun hanya sentuhan yang tidak tuntas. Silvi bahkan pergi tidur bersama putri kepala desa demi agar Alando tidak menyentuhnya.
"Sebenarnya untuk apa aku menikah." lirih Alando.
Jika dipikirkan lagi, mereka tidak akan menikah jika salah satu antara Silvi dan Alando menjelaskan kejadian sebenarnya. Diamnya keduanya saat diadili seolah membenarkan tuduhan para warga. Ya, mungkin saja keduanya memang menyetujui pernikahan ini dari lubuk hati yang paling dalam.
"Sabarlah, aku tahu kau tidak diberi jatah sejak hari pertama menikah." kepala desa memukul bahu Alando yang sekaligus menyadarkan Alando dari lamuannya.
Alando menatap bengis kepala desa lalu berdiri mencari tempat duduk yang jauh dengan kepala desa. Begitu memuakkan mendengar kepala desa mengejeknya. Namun kepala desa malah mengikutinya dan kembali duduk di sampingnya.
"Tenang. Aku hanya ingin memberimu saran. Aku sangat mengerti kondisimu."
Alando menatap kepala desa dengan dua alisnya yang terangkat. Alando jelas penasaran dengan saran kepala desa.
"Kau penasaran kan?" kepala desa tersenyum jahil.
Alando memutar malas matanya. Rasa tertariknya menepis begitu saja.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan memberitahumu." kepala desa berbisik pada telinga Alando dan membuat Alando menatapnya, mempertanyakan keberhasilan saran pak desa.
"Itu akan berhasil. Aku ini pria berpengalaman." kepala desa memukul pundak Alando dan melangkah pergi.
***
Malam harinya mereka menyantap makan malam bersama warga. Seorang warga menyetel lagu dansa dan beberapa pasangan mulai berdansa. Bu desa dan pak desa kini juga ikut berdansa.
Alando menatap Silvi yang masih saja asik dengan santapannya. Kedua tangannya kotor dengan bumbu makanan seafood. Tapi kecantikannya tudak sama sekali berkurang. Dia sangat cantik dan seksi dengan dress kuning selutut yang melekat pas di tubuhnya. lengannya dilapisi jaket hitam. Saran kepala desa kembali terngiang di telinga Alando. Alando akhirnya mengangguk seolah meyakinkan dirinya sendiri. Ya, tidak ada salahnya mencoba saran kepala desa. Alando pun mendekati Silvi dan mengajaknya untuk berdansa.
"Tidak. Aku bilang jangan sentuh aku sebelum lukamu sembuh." ucap Silvi datar.
"Ayolah, ini hanya berdansa. Aku tidak akan menyentuhmu lebih intens. Hanya sekedar berdansa."
Silvi pun mencuci kedua tangannya yang tadi di pakainya untuk makan kepiting, kerang, udang dan makanan seafood lainnya.
Ketika lagu kedua di setel, Alando pun menengadahkan tangannya dan Silvi menyambut tangan itu tanpa berpikir lebih lama. Keduanya kini berdansa dengan sangat intim. Alando merangkul posesif pinggang Silvi, hidungnya menempel dengan hidung Silvi. Deru nafas Alando menyentuh wajah Silvi. Tangan Alando bahkan mengusap sensual punggung Silvi dan turun pada pinggang, pinggul hingga pada belahan bokong Silvi.
"Sialan kau jerk. Kau sengaja menggodaku." ucap Silvi dengan nafas yang tak teratur.
__ADS_1
Alando tersenyum menanggapi ucapan Silvi. Ucapan kepala desa ternyata ada benarnya. Alando menghilang kan jaraknya dengan Silvi. Ia mulai menggesekkan adik kecilnya yang menegang pada perut Silvi. Silvi mencoba melepaskan diri dari kukungan Alando yang hampir membuatnya terbuai. Namun, Alando seolah menggunakan kekuatan penuh untuk menahannya.
Sial. Silvi tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Tangan Alando bahkan mulai menyentuh titik utamanya.
"Apa kau tidak malu? Bagaimana jika ada yang melihat kita?"
Silvi mengedarkan pandangannya untuk melihat sekelilingnya dan beberapa detik kemudian, ia menghembuskan nafas lega. Alando ternyata sengaja membawanya berdansa di sudut yang pencahayaannya paling minim. Tubuh Silvi hampir seluruhnya ditutupi tubuh Alando yang membelakangi keramaian. Di samping kiri dan kanan mereka tidak ada orang dan di belakang Silvi, di sana hanya ada pepohonan yang lebat.
"Aku tidak mungkin membiarkan orang lain melihat wajahmu yang bersemu menahan gairah."
Suara serak Alando berbisik tepat di telinga Silvi. Tubuh Silvi mulai keringatan. Jantungnya berdetak tak karuan. Untung saja, lagu yang mengiring dansa telah selesai. Alando melepas intimidasinya pada Silvi. Silvi terpaku beberapa saat, ia menghirup oksigen sebanyak mungkin. Tadi itu rasanya, udara di sekililingnya hilang entah ke mana.
Silvi akhirnya dapat menggerakkan kakinya yang lemas untuk berjalan ke arah kursi lalu duduk dengan sisa-sisa gemetar di kakinya.
"Aku yakin kau sudah basah." Silvi terkejut mendengar bisikkan Alando yang entah kapan duduk di sampingnya. "Mari tuntaskan ini di kamar kita." Ucap Alando lagi.
Silvi menatap berang Alando. "Tidak! Kau sungguh keterlaluan."
"Kau juga menginginkannya kan?"
__ADS_1
"Aku lebih menginginkan kau sembuh dari luka tusukmu itu." Silvi lalu melangkah untuk pindah kursi.
"Sial. Mengikuti saran kepala desa hanya membuat Silvi semakin marah." Alando mengacak rambutnya frustasi dan beralih menuju kamar mandi, menuntaskan gairahnya sendiri. Setelah menikah, sepertinya Alando selalu berurusan lebih lama dengan kamar mandi.