
Setelah sampai di rumah, Silvi segera menemui Ayahnya dan menceritakan semua kejadian dari awal dia tiba di lelang sampai pulang ke rumah. Kecuali ciuman kening yang berhasil menyisakan dendam di hati Silvi.
Silvi terkejut karena Brian menanggapi ceritanya dengan santai. Tanpa menunjukkan wajah terkejut sama sekali, seolah Brian telah mengetahui berita ini.
"Ayah."
"Anggap kau tidak pernah melihatnya."
"Ayah." sekali lagi Silvi tidak percaya dengan respon ayahnya.
"Makanlah, lalu tidur. Jangan pikirkan hal yang tidak perlu kau pikirkan."
"Apa ayah takut pada organisasi Singa Ganas?"
"Apa kau pernah melihat ayahmu takut?"
Silvi menggeleng.
"Jangan ceritakan ini pada siapapun."
"Kenapa ayah?"
"Karena Lukisan itu ada pada tempat yang aman. Kau cukup percaya pada ayah. Belum waktunya kau tahu rahasia dunia pengawal." Brian berbicara dengan sangat lembut. Dia mengecup puncak kepala putrinya.
Mendapatkan perlakuan lembut ayahnya, Silvi tidak sanggup untuk membantah. Apalagi pembahasan yang dibahas menyangkut kepercayaan. "Aku percaya pada ayah."
Silvi bertekad untuk pura-pura melupakan kejadian ini sampai ayahnya menganggap Silvi pantas mengetahui semua rahasia organisasi. Barulah Silvi menindaklanjuti sekaligus membalas si pencuri lukisan lelang.
***
Silvi membuka pelan matanya. Rasanya Silvi belum siap bangun dari ranjangnya jika bukan untuk bersekolah.
"Ini semua karena si brengsek Alan." Silvi menggerutu mengingat kembali yang dipikirkan semalam.
Silvi memikirkan cara membalas sikap kurang ajar Alando padanya. Sudah begadang semalam namun tidak ada solusi yang didapat.
Silvi menghembuskan nafasnya kasar dan dengan terpaksa bangkit dari ranjangnya lalu bersiap ke sekolah karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 7 pm.
***
Silvi menuruni tangga rumahnya dengan sedikit terburu-buru. Wajah tanpa polesan, rambut yang belum disisir dan sepatu serta 2 buah buku tebal di kedua tangannya.
Silvi memang tidak suka berdandan seperti Lania, hanya saja gadis itu tidak pernah lupa memakai sedikit krim wajah serta lip blam.
__ADS_1
Dengan kerepotan, Silvi meminum habis susunya yang sudah tersedia di meja makan dan membawa beberapa lembar roti. Silvi langsung menuju ke mobil tanpa berpikir dimana ayahnya yang untuk pertama kalinya tidak menghadiri sarapan bersama.
Sesibuk apapun Brian, dia selalu sarapan bersama Silvi. Mengingat Brian kadang terlalu sibuk hingga tidak bertemu putrinya sehari penuh.
"Langsung jalan pak." Ucap Silvi pada supirnya ketika dirinya telah duduk di kursi belakang mobil.
Silvi mulai menyantap roti yang dibawanya sambil menyisir rambutnya. Setelah sarapannya habis, Silvi mulai memolesi wajahnya kemudian memakai sepatunya.
"Nona, pelayan yang memberesi barang-barang nona dari pulau Senja, menemukan jaket kulit yang bau rokok. Aroma parfum yang melekat pada jaket tersebut juga bukan parfum nona. Itu seperti aroma parfum pri..."
"Hentikan!" Silvi memotong ucapan Rabella yang kini duduk di sebalah supirnya. "Apa ayah sudah tahu?"
"Ya nona" ucap Rabella.
Rabella adalah pengawal pribadi Silvi. Dia seorang perempuan. Hanya saja tampilannya sangat tomboi dan sekilas terlihat seperti pria.
Silvi menghembuskan nafasnya kasar
"Kenapa jaket itu ikut bersamaku sampai di rumah?"
Mobil sudah berhenti di depan gerbang SMA Candrawan. Silvi turun dan mendapati gerbang sekolahnya sudah dikunci.
Melihat Silvi yang datang, Satpam sekolah berlari kecil membuka gerbang untuk Silvi.
"Tumben sekali nona Silvi terlambat." Batin Satpam sekolah. "Silahkan nona." pak Satpam mempersilahkan Silvi masuk. Siswa yang melihat tindakan pak Satpam yang begitu hormat pada Silvi merasa kesal.
"Murid pintar memang selalu diutamakan."
"Itu karena dia sahabat Lania. Ku pikir keluarga Silvi tidak ada pengaruhnya dengan kota Andolo."
"Silvi ini sangat misterius. Dia naik mobil, barang-barang yang dipakainya juga mewah, sama seperti Lania. Tapi marga Selvig tidak terkenal."
Siswa-siswa yang berbisik-bisik kembali mengunci rapat mulut mereka, ketika Silvi melewati kerumunan mereka. Silvi melangkah tanpa rasa bersalah menuju kelasnya. Guru yang mengajar mempersilahkan Silvi untuk masuk dan mengikuti pelajaran.
"Jika kita ada di posisi Silvi. Maka kita baru diizinkan masuk setelah kamar mandi sekolah bisa dipakai untuk bercermin."
"Diamlah. Orang pintar selalu mendapatkan perlakuan berbeda"
Siswa-siswa hanya bisa mengumpat dalam hati mereka namun tak ada yang berani berkomentar dengan keras. Ya, seperti itulah Silvi. Sedikit istimewa.
***
Jam istirahat tiba. Seperti biasanya Silvi, Lania dan Tono ke kantin untuk menyantap makanan. Ketiganya sudah duduk di tempat biasa yang sering mereka duduki. Meja yang mereka tempati cukup jauh dengan meja siswa-siswa yang lain. Meja itu tidak pernah atau tidak berani ada siswa yang mengisinya.
__ADS_1
"Aku pesan mie ayam Ton. Minumnya es jus jeruk". Ucap Lania pada Tono.
"Kamu pesan apa Sil?" Tono bingung dengan Silvi yang tidak antusias untuk makan kali ini.
"Aku pesan... Menu yang sama dengan punyamu saja" jawab Silvi malas.
"Ada apa Sil?" Lania menggenggam tangan Silvi.
"Hm, itu..."
"Stop! Tunggu aku pesan dulu. Setelah aku kembali barulah sesi cerita ini boleh dibuka." Tono melangkah beberapa langkah dan berbalik. "ingat! Jangan mulai tanpa aku."
Silvi dan Lania hanya menghembuskan nafas lelah namun mereka tetap menunggu Tono kembali.
"Pasti ini menyangkut lelang kan?" Tono mengeluarkan pendapatnya setelah menduduki kursi di samping Lania setelah selesai memesan. Tono pikir itu adalah hal terhangat karena kemarin Silvi mengikuti lelang. Lania mengangguk antusias.
"Bukan itu. Ini menyangkut jaket si berengsek Alan... Sekarang membuat masalah." Ucap Silvi lelah.
"Ada apa? Memangnya jaket itu ikut pulang ke rumahmu?" Ucap Lania
Silvi mengangguk
"Apa Ayahmu sudah tahu itu jaket siapa?" Ucap Tono
"Itu yang menjadi masalah. Aku harus bilang itu jaket siapa? Jaket itu bau aroma pria bercampur rokok. Mereka hanya tahu di pulau hanya ada kita bertiga."
Ketiganya terdiam memikirkan solusi masalah jaket.
"Bilang saja, memang ada yang datang dan pulang lebih dulu dari kita. Katakan jika jaketnya ketinggalan dan pengawal yang menjemput kita salah memasukan jaket tersebut ke dalam barang-barangmu."
"Kau pikir akan beres sampai di situ. Aku mengenal ayahku. Dia akan bertanya, jika barang pria itu ikut bersamaku maka aku pasti mengenal pria itu. Siapa dia?"
"Jujur saja. Apa itu masalah" Lania kini membuka suara
"Masalahnya Lan, kita tidak mengenal kak Al. Kita hanya tahu namanya Alan dan temannya dokter Rangga. Apa kita harus membawa dokter Rangga dalam masalah ini?" Tono menimpali
"Jangan! Jangan bawa kak Rangga untuk berurusan dengan Ayah Silvi"
"Hm. Sudahlah. Aku tidak akan membiarkan kak Rangga dan pengawal yang menjemput kita jadi sasaran ayah"
"Lalu bagaimana ini?" Tono masih berusaha berpikir mencari solusi dan Lania juga berpikir hingga kerut di dahinya begitu terlihat.
"Hei. Tenanglah. Itu Ayahku. Aku akan baik-baik saja. Dia menyayangiku kan." Silvi berusaha menenangkan Tono dan Lania yang mengkhawatirkannya.
__ADS_1
"Ah benar juga. Dahiku lelah berpikir" Lania tersenyum dan dibalas serupa oleh Tono.
"Dasar si brengsek Alan. Aku akan membalasmu dengan kejam." Silvi berusaha ikut tersenyum dengan Tono dan Lania.