
"Bagaimana kau tahu margaku? Aku tidak pernah memperkenalkan diriku dengan margaku padamu?"
"Aku tahu semua hal tentangmu. Tanpa kau menceritakan kisah hidupmu tadi, aku sudah tahu semuanya dan aku senang kau mau menceritakan semua itu padaku secara suka rela."
"Aku menanyakannya pada Loli." Hanya itu yang bisa Hans katakan pada Silvi.
***
"Cepat selesaikan itu, Aldric. Gadis kecilku akan datang. Aku tidak mau dia melihat kegiatan tak senonoh seperti ini."
Hans membuang tatapannya dari 2 orang yang yang sedang asik melakukan **** di ruangan VVIP yang menjadi tempat Hans. Rasa bosan sungguh memenuhi kepala Hans. Sudah satu jam, Hans menunggu gadis kecilnya.
Seperti biasa, Hans tidak mau minum anggur dari tuangan gadis lain selain Silvi. Tidak bisa minum anggur dan main wanita membuat Hans rasanya menggila. Entah, apa yang membuat Hans rasanya tidak ingin dimanjakan oleh ******.
Muka Hans menjadi kesal karena Aldric menikmati permainannya sendiri dan tidak menghiraukan ocehan Hans.
Pintu ruangan terbuka dan Silvi muncul dengan nampan anggur untuk Hans. Kekesalan Hans sektika sirna. Melihat dua orang yang ditegurnya tadi masih belum berhenti melakukan kegiatan panas, Dengan cepat Hans berlari menuju arah Silvi dan memeluk tubuh Silvi membelakangi 2 orang yang terlalu asik dengan kegiatannya tanpa terganggu bahwa ada orang lain di sini.
"Tetaplah seperti ini. Aku akan memaksa mereka menyelesaikan aktivitasnya dalam 3 menit." ucap Hans.
Silvi paham maksud Hans. Sebelum Hans memeluknya, Silvi sempat melihat sekilas 2 orang yang dimaksud Hans.
"Ada apa dengannya? Aku pernah melihatnya melakukan ini beberapa kali. Ya walaupun sebulan terakhir, aku tidak pernah melihatnya melakukannya lagi di depan mataku."
"Lepaskan aku. Aku biasa saja melihat hal seperti ini."
"Eh. Tidak boleh. Aku bersalah karena mengizinkanmu melihatku melakukan hal tak senonoh seperti ini sebelumnya. Tapi tidak lagi. Aku akan membantu menjaga matamu mulai sekarang." Tegas Hans.
Hans kemudian menolehkan kepalanya ke samping dan berbicara dengan keras.
__ADS_1
"Jika sampai hitungan ke 10, kau belum menyelesaikan kegiatan tak senonohmu itu. Aku akan menendangmu dari sini, Aldric."
Hans mulai berhitung dan sampai hitungan ke 7, Aldric sudah menyelesaikan aksinya. Dengan cepat Aldric dan jalangnya kembali memakai pakaian mereka.
Hans melepaskan pelukannya pada Silvi. Hans tersenyum kecil pada Silvi, tapi gadis itu hanya menatapnya dengan wajah datar.
"Tuangkan aku anggur. Kau selalu membuatku menunggu." Hans menadahkan gelasnya ke arah Silvi.
Dengan cekatan Silvi menuangkan Hans anggur. Aldric mengarahkan gelas yang kosong pada Silvi dan meminta hal serupa yang dilakukan Silvi pada Hans.
Silvi yang tidak keberatan hendak menuangkan Aldric anggur. Namun, dengan cepat gelas Aldric jatuh dan pecah di lantai akibat pukulan Hans pada gelas tidak bersalah itu.
"Jangan menuangkan anggur padanya. Kau itu pelayanku. Hanya pelayanku." ucap Hans pada Silvi.
****** yang berada dalam pelukan Aldric segera mengambil botol anggur lain dan menuangkannya pada Aldric.
"Ada apa dengannya? Apa memang dia orang yang posesif? Bahkan kepada pelayannya." batin Silvi.
"Kau! Sudah ku katakan jangan berlaku tidak senonoh di depannya." Hans menjadi geram.
"Tenanglah Hans. Sudah lama tidak melihatmu menjadi posesif seperti ini." ucap Aldric santai dengan tawa jahilnya.
Silvi yang kebingungan hanya bisa terdiam. Dia akhirnya menuangkan anggur pada gelas Hans ketika Hans memintanya lagi.
Panggilan telepon membuat Hans harus pergi. Sebelum pergi, Hans membawa Silvi keluar dari ruangan yang masih bersisakan Aldric dan wanita ****** yang masih duduk manja di pangkuan Aldric.
"Pulanglah." ucap Hans pada Silvi.
Sebelum keluar dari ruangan VVIP-nya, Hans sempat menarik lengan Silvi untuk ikut melangkah keluar bersamanya. Kini keduanya sedang berada di lantai dansa yang dipenuhi pasangan-pasangan berdansa dengan gaya beraneka ragam.
__ADS_1
"Aku bahkan baru beberapa menit di sini."
"Kau mau melayani siapa? Aku akan segera pulang."
"Masih banyak tamu di tempat ini."
"Kau tidak tau. Kau itu pelayanku. Hanya pelayanku saja. Jadi jangan melayani yang lain." ucap Hans lembut.
"Aku tidak tahu. Aku tidak pernah menandatangani surat dengan perjanjian seperti itu. Loli juga tidak pernah bilang hal ini padaku."
Memang selama Silvi bekerja, dia selalu melayani Hans dan bisa dihitung dengan jari tamu lain yang Silvi tuangkan minuman selain Hans. Hanya saja, 2 bulan terakhir. Hans satu-satunya yang Silvi layani.
"Hm baiklah. Loli kemarilah." Hans berteriak ditengah bunyi musik yang tak kalah keras. Loli yang melihat lambaian tangan Hans segera menuju ke arah Hans dan Silvi.
"Ada apa?" Tanya Loli.
"Katakan padanya bahwa dia hanya boleh melayaniku saja."
"Hm. Kau dengar itu Silvi. Lakuakan apa katanya." ucap Loli tenang.
"Katakan juga, dia harus pulang karena aku akan pulang."
"Kau dengar Silvi? Pulanglah."
"Tapi, bagaimana dengan Rihana jika aku pulang sekarang?"
"Hans, Rihana diluar kuasamu." Loli menatap Hans.
"Biarkan Rihana juga pulang. Aku akan mengganti rugi." ucap Hans masa bodoh.
__ADS_1
"Hm baiklah. Silvi. Kau pulanglah bersama Rihana."
Silvi yang kebingungan hanya mengangguk dan mengajak Rihana untuk pulang. Tentu saja, Rihana pulang dengan wajah penuh kebahagiaan. Menerima gaji seperti biasa tanpa harus bekerja dengan jam yang panjang.