Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
9. Restu Brian


__ADS_3

Silvi memasuki kamarnya dan Rabella masih berdiri di depan pintu kamar Silvi. Seperti biasa, Rabella akan pergi jika Silvi sudah menutup pintu kamarnya.


Silvi tak kunjung menutup pintu kamarnya. Dia masih berdiri memandangi Rabella hingga mendapatkan keputusan atas apa yang menggagu pikirannya.


"Masuklah. Aku ingin berbicara denganmu sebentar"


Rabella menurut. Silvi mengunci pintu kamarnya dan mempersilahkan Rabella duduk di sofa kamarnya.


"Apa kau akan menangkap si brengsek itu untukku?"


Rabella kebingungan. Dia menatap Silvi tidak percaya dan kembali menunduk.


"Kau tidak mau?" Silvi mulai geram


"Bukan begitu nona. Apa si brengsek yang nona maksud adalah pria di toilet pria tadi?"


"Jangan membuatku menjawab pertanyaan yang kau sudah tahu jawabannya"


"Maaf nona"


"Berhentilah minta maaf. Kau mau membantuku atau tidak"


"Aku tak mampu menangkapnya untuk nona. Dia terlalu kuat untukku"


"Darimana kau tahu? Kau pernah bergulat dengannya?"


"Ya nona. Dan aku kalah k.o."


"Kau! Jangan menipuku" Silvi tentu saja tidak percaya. Bagaimana mungkin Rabella mengadu tinju dengan Alando. Jelas tidak mungkin karena Rabella perempuan dan Alando laki-laki. Tidak mungkin mereka di pertemukan dalam pertandingan.


"Aku berani bersumpah nona. Aku tidak berani membohongi nona"


Silvi mulai muak dengan alasan Rabella.


"Sudahlah. Aku akan meminta bantuan ayahku. Sana pergi"


Rabella keluar dari kamar Silvi dan Silvi berbaring di ranjangnya memikirkan cara membalas Alando.


"Sepertinya tidak buruk jika ku beri tahu ayah kalau Alando memang pria yang mengkhianatiku. Ayah akan membalas perbuatannya padaku."


Silvi hanya perlu membuat keduanya bertemu. Silvi memeriksa ponselnya. Dia menatap lama nomor Alando, kemudian mengetikkan sesuatu.


Silvi :


"Hey. Jerk"


**Jerk** :


"Kau merindukanku?"


"Kau merindukan pelukanku?"


Silvi :


"Sialan tidak tahu malu"

__ADS_1


"Aku ingin bertemu denganmu"


"Di hotel Clorion, besok jam 8 malam"


"Aku benci orang yang tidak tepat waktu"


**Jerk** :


"Apa yang kau pikirkan?"


"Bertemu di hotel bukan pilihan yang bijak"


Di baca


3 menit


5 menit


10 menit


Tak ada balasan


**Jerk** :


"Baiklah"


"Kau tak akan membalas pesanku"


Alando tesenyum begitu lebar.


***


Sepulang sekolah Silvi mendapati ayahnya sedang bersantai di ruang tengah. Silvi setengah kaget karena tidak biasanya Brian ada di rumah dengan jam segini apalagi ini bukan weekend. Silvi melangkah dangan semangat ke sofa tempat ayahnya duduk.


"Ada apa dengan hari ini?" Silvi duduk dan bersandar di dada ayahnya.


"Apa? Kau tidak senang melihat Ayah di rumah?"


"Bukan begitu. Selalu ada alasan hingga seseorang menyimpang dari kegiatan rutinnya".


"Hm. Ayah hanya ingin bersantai".


"Ayah, katakan yang sejujurnya"


"Kau ini. Kau ingin mengoreksi Ayah. Kau saja tidak jujur pada Ayah"


"Apa aku punya alasan untuk berbohong pada Ayah? apapun alasan yang ku miliki, Ayah adalah yang paling penting. Ayah prioritasku dan Aku orang yang selalu mementingkan prioritas."


"Hm. Sepertinya sekarang kau memiliki 2 Prioritas yang memegang 50-50 saham pikiran dan hatimu".


"Ayah ini bicara apa? Apa maksud Ayah?"


"Alando. Pria pemilik jaket itu. Bagaimana kalian menjalin hubungan di belakang Ayah?"


"Alando? Siapa Alando?"

__ADS_1


Silvi bingung karena yang di ketahuinya hanyalah Alan.


"Kau masih mau berbohong pada ayah"


"Ayah itu jaketnya si brengsek Alan bukan Alan..." ucapan Silvi terhenti karena menyadari ada sedikit kesamaan antara nama Alan dan Alando.


"Kau ini bagaimana. Apa bedanya Alan dan Alando. Mereka adalah orang yang sama. Ayah sudah bertemu dengannya"


"Ayah sudah bertemu dengannya? Kapan? Tunggu" Silvi berpikir sesaat "Darimana ayah tahu jika namanya Alando? Apa Rabella mengenalnya?"


"Haha. Kau sungguh tetarik padanya rupanya" Brian tertawa sumringah. Brian sangat tahu putrinya tak pernah seantusias ini membicarakan seseorang.


Brian tidak tahu apa-apa. Silvi sadar Ayahnya tidak akan menjawab pertanyaanya. Daripada menceritakan dirinya berhasil di peluk dan di cium Alando tanpa berhasil melakukan perlawanan. Itu sangat memalukan. Silvi mulai berpikir melakukan aktingnya.


"Ya. Ayah tahu aku tertarik padanya. Aku mencintainya dengan tulus. Tapi dia mengkhianati cintaku, ayah. Dia selingkuh dengan wanita lain di belakangku. Balaskan dendam putrimu, ayah" Silvi memeluk erat Brian. Dia mulai mendalami aktingnya dengan berpura-pura sesugukan.


"Hei. Kenapa kau harus akting seperti ini?"


Silvi kaget. Dia mengangkat kepalanya dan menatap ayahnya tak percaya.


"Ayah! Apa itu terlihat jelas?" Silvi cemberut


Brian mencubit pipi putrinya gemas. "Ayah sudah tahu semuanya"


"Ayah sudah tahu semuanya?" Silvi memelototkan matanya


"Kau ini kenapa? sudah Ayah katakan dari awal jika ayah sudah berbicara dengan Alando. Dia mengatakan segalanya"


"Si brengsek Alando itu... Apa dia mengatakan semuanya? Termaksud memelukku 2 kali dan mencium keningku" Batin Silvi penuh amarah.


Wajah Silvi mulai memerah karena marah bercampur malu. Brian melihatnya seperti rona merah karena Silvi sedang jatuh cinta.


"Jangan mengajaknya bertemu di hotel. Bertemu di rumah lebih baik"


Silvi sampai menganga sepersekian detik. Ayahnya bahkan tahu tentang chat Silvi semalam. Wajah Silvi semakin merah karena malu. Brian tertawa dengan lantang melihat ekspresi putrinya. Tentu saja Brian bahagia melihat Silvi jatuh cinta untuk pertama kalinya selain pada dirinya. Di tambah lagi pria pilihan Silvi adalah Alando.


Brian menutup mulut Silvi yang tak kunjung tertutup.


"Ayah. Tentang hotel itu... aku hanya ingin memukulnya makanya aku membuat janji temu"


"Ya" Brian masih tetap saja tertawa


"Ayah. Ayah tahu semuanya tapi tidak memukulnya untukku. Aku sangat membencinya"


Brian menanggapi dengan tawanya yang tak pernah pudar.


Silvi mulai kesal. Tidak ada gunanya menjelaskan pada ayahnya sekarang. Silvi akan mencoba sebentar malam. Gadis itu melangkah meninggalkan Brian menuju kamarnya.


Sebelum Silvi menghilang dari pandangan Brian. Brian memanggil putirnya sehingga Silvi menoleh pada Brian.


"Ayah merestuimu"


Melihat ekspresi Silvi yang kebingungan, Brian malah tertawa terpingkal-pingkal.


Silvi menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil melangkah menuju kamarnya.

__ADS_1


"Ada apa dengan ayah? Putrinya di lecehkan tapi Dia malah bahagia dan bahkan memberi restu". Silvi bergumam pelan.


__ADS_2