Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
Rumah Sakit


__ADS_3

"Luar biasa. Aku melakukan banyak hal untukmu dan kau hanya mentraktirku kopi." Alando berdecak kesal.


Kini keduanya sedang duduk di kafe kantor organisasi Ranita. Alando jelas paham, Silvi sengaja hanya mentraktirnya secangkir kopi agar bisa cepat pulang dan memperlihatkan sabuk hitamnya pada ayahnya.


Alando sudah memintanya untuk mentraktirnya lain kali saja, setelah memperlihatkan sabuk hitamnya pada Brian. Namun Silvi menolak, dia memaksa mentraktir Alando secangkir kopi atas kemenangan yang membawanya mendapatkan sabuk hitam. Alando akhirnya tidak membantah, selain malas berdebat dengan si keras kepala Silvi, Alando juga senang mendapat secangkir kopi dari Silvi.


"Hei. Kopi ini didukung oleh cuaca. Lihat hujan pertama di tahun ini akhirnya turun juga." Silvi tersenyum memandangi hujan.


Alandopun ikut tersenyum. Namun bukan karena hujan, melainkan karena senyum Silvi yang begitu manis, yang selalu cepat menular padanya.


"Hm. Kau terlihat menyukai hujan."


Silvi tersenyum singkat. "Aku selalu punya kenangan yang indah setiap kali hujan pertama turun."


"Kau juga akan punya kenangan yang indah untuk hujan pertama kali ini."


Pernyataan Alando membuat Silvi mengalihakan pandangannya dari hujan. Silvi menatap Alando dengan senyum mengejek.


"Tidak lagi. Tuhan akan mengambil ayahku. Tidak akan ada kenangan indah lagi." Batin Silvi.


"Ini untukmu." Alando menyodorkan sebuah kotak kecil di hadapan Silvi.


"Apa ini?"


"Itu untuk kelulusanmu dan untuk kemenanganmu."


"Ini tidak adil. Aku memenangkan pertandingan 12 kali. Ah, tidak. 13 kali. Dan hanya mendapatkan 1 hadiah. Bahkan ini juga termasuk hadiah kelulusanku. Kau sangat pelit pelatih."


"Baiklah. Aku berhutang 13 hadiah padamu. Kau puas."


"Hahaha. Tidak perlu."


Silvi membuka kotak tersebut dan isinya adalah sebuah cincin tanpa berlian atau hiasan apapun. Dari bentuknya Silvi tahu ini adalah emas putih. Setelah Silvi menelitinya, cincin itu ternyata memiliki tulisan yang bertuliskan 'Almil'.


"Almil?" Silvi menatap Alando meminta penjelasan pada tulisan di cincin tersebut.

__ADS_1


"Alando Miller."


"Apa maksudnya? Apa ini cincin pertunangan?"


"Hm."


"Hm. Berarti 'iya'?"


Ponsel Alando berdering membuat tatapan Alando teralihkan. Alando ingin mematikan panggilan tersebut, namun nama yang tertera di ponselnya membuatnya harus mengangkatnya.


Alando membuat jarak agar percakapannya tidak dicuri dengar oleh yang lain. Beberapa menit kemudian, Alando melangkah ke arah Silvi dengan wajah yang terlihat cemas. Ini pertama kalinya Silvi melihat kecemasan pada wajah Alando.


"Ada apa?" Silvi tidak bisa untuk tidak bertanya.


"Aku harus pergi. Ini cukup lama, tapi aku akan kembali." Alando mengecup bibir Silvi dan Silvi menerimanya tanpa membalas ciuman itu.


Setelah itu, Alando meninggalkan Silvi menuju mobilnya. Silvi masih ingin menayakan banyak hal. Tentang ciuman tadi, tentang cincin ini dan tentang Alando yang akan kembali. Apakah itu artinya Silvi harus menunggu? Tapi hubungan apa yang mereka punya sampai Silvi harus menunggu Alando kembali.


***


Silvi pulang ke rumahnya dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, Silvi sedang berbunga-bunga siap memperlihatkan sabuk hitam kebanggannya untuk ayahnya dan di sisi lain, Alando membuatnya bingung dengan cincin yang sekarang Silvi sematkan di jari manisnya.


Silvi tersenyum melihat Brian yang sedang sibuk di dapur. Bau masakan favorit Silvi mulai mengisi dapur. Silvi mendekati ayahnya dan memeluk pinggang ayahnya.


"Selamat. Maaf ayah tidak pernah menonton pertandinganmu." Ucap Brian tanpa mengalihakan fokusnya pada masakannya.


Bukan tidak sengaja untuk tidak menonton pertandingan Silvi. Brian sengaja melakukannya karena Brian tidak tega melihat tangan halus putrinya memukul orang lain. Terutama, Brian tidak siap dan tidak akan pernah siap serta rela melihat Silvi mendapat serangan dari lawan tanding Silvi.


"Siapa mata-mata itu?"


"Hei, semua orang di sana adalah mata ayah."


Brian menuntun Silvi untuk duduk di kursi makan. Brian mulai menyajikan hasil karya yang selalu dibanggakannya karena selalu mendapat pujian dari putri semata wayangnya itu.


Silvi menerima masakan ayahnya dengan air mata yang berusaha ditahannya. "Apa ini masakan yang terakhir?"

__ADS_1


"Ini sangat enak. Aku sangat menyukainya." ucap Silvi tanpa berani memandang Brian.


"Hm. Makanlah. Uhukkk." Batuk Brian kembali mengisi ruangan dapur hingga Silvi menghentikan makannya dan mengelus bahu ayahnya.


Batuk Brian tak kunjung mereda setelah beberapa menit. Darah segarpun keluar tanpa bisa Brian cegah. Brian ingin berlari ke kamar mandi untuk menyembunyikan kelemahannya di depan Silvi. Namun, kaki gemetarnya tak mampu untuk berdiri apalagi berlari. Hingga akhirnya Brian tidak sadarkan diri.


Silvi bersama supir Brian membawa Brian ke rumah sakit. Air mata Silvi kini tidak bisa ditahannya lagi. Rasa takut kini menggelegar di dalam tubuhnya. Silvi begitu takut hingga tak mampu mengucapkan sepatah katapun termasuk hanya memanggil ayah.


***


Brian membuka matanya dan wajah Silvi yang menatapnya dengan mata lembab namun bibir Silvi terlihat memaksakan senyum.


Silvi berusaha terlihat kuat di depan Brian. Dia tidak ingin ayahnya semakin bersedih melihat air matanya.


Brian merentangkan tangannya meminta Silvi memeluknya. Tanpa berpikir, Silvi segera memeluk ayahnya.


"Maaf ayah sekarang menjadi lemah. Ayah tidak bisa melindungimu lagi."


Silvi menggeleng dalam pelukan ayahnya. Bibirnya kelu, bahkan tak sanggup hanya untuk mengatakan kata 'tidak' karena Silvi berusaha keras menahan isakannya. Tak terasa, air mata Brian juga ikut menetes karena baju rumah sakit yang dikenakannya terasa basah oleh air mata Silvi.


"Kita harus ke Hawai. Ayah sudah mengurus segalanya. Ini adalah hadiah kemenangan 13 kalimu."


Silvi kembali menggeleng. Silvi bangkit dari pelukan ayahnya. Ia membuang pandangannya dari Brian dan menghapus air matanya yang sama sekali tidak bisa dikontrolnya lagi.


"Ini impianmu. Ayah belum mengabulkannya. Padahal kau memintanya setelah kelulusan sekolah menengahmu."


"Ayah. Aku sudah tidak menginginkannya lagi." Silvi menghapus air matanya kembali. Namun seperti mata air, air matanya tidak sama sekali berkurang walaupun kerah baju Silvi kini ikut basah.


Silvi tidak percaya, ayahnya masih mikirkan hadiah untuknya disaat dokter mengatakan kematian Brian bisa sejam, sehari, dan paling lama seminggu kemudian.


"Kenapa?" Brian terkekeh pelan. "Karena ayah sakit." Brian menertawakan dirinya sendiri.


Silvi segera menggeleng dengan keras. "Ku mohon jangan begini."


"Mari kabulkan impianmu yang sekaligus permintaan terakhir ayah."

__ADS_1


Silvi menatap ayahnya dengan air matanya yang sudah lelah tangannya untuk menghapusnya. Lalu mengagguk dengan perlahan.


Brian menghapus air mata putrinya dan tersenyum lembut.


__ADS_2