Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
17. Pelatih Bela Diri


__ADS_3

2 minggu kemudian, Silvi telah selesai mengikuti ujian akhir sekolahnya. Hari-hari yang dilalui Silvi selama dua minggu ini sangat membosankan. Suasana canggung antara dirinya dan ayahnya tak kunjung membaik. Dan kini Silvi dihadapkan dengan situasi yang paling berat dilakukan oleh tubuhnya.


Silvi kini berdiri dihadapan pelatih yang akan melatihnya ilmu bela diri di gedung lantai dua kantor organisasi Ranita. Lantai dua kantor organisasi Ranita adalah tempat latihan pemula seperti Silvi. Tempat itu dilengkapi alat-alat Fitness. Silvi dilatih di ruangan VIP, dimana terdapat 10 orang yang akan dilatih dalam ruangan itu dengan memiliki 1 pelatih masing-masing.


Pelatih Silvi adalah orang kepercayaan Brian yang memiliki ruangan di lantai 10. Dia biasa disebut guru Azuna. Azuna Himaru adalah pelatih terbaik dan terkuat di bela diri Taekwondo. Wanita ini sebenarnya adalah pelatih sabuk Merah menuju sabuk Hitam khusus kelas VIP. Karena permintaan Brianlah hingga ia bersedia menginjakkan kakinya di lantai dua. Brian memilihnya, karena merasa Taekwondo adalah bela diri yang paling tepat untuk Silvi.


Baru beberapa gerakan Silvi mengikuti arahan guru Azuna, Silvi sudah menyerah. Dia kemudian duduk bersila di salah satu tiang ruangan latihan. Silvi mengembungkan pipinya. "Aku tidak suka melakukannya. Dan sampai kapanpun aku hanya akan melakukannya secara terpaksa. Apa yang bisa dihasilkan dengan ini. Ini akan sia-sia." Silvi memejamkan matanya.


Guru Azuna yang biasanya tegas, kini hanya dapat pasrah. Karena tahu Silvi adalah putri Brian, pelatih itu hanya mencoba bersabar.


Hal yang sama terus di lakukan Silvi selama 1 minggu pengajaran. Tidak ada satu gerakanpun yang berhasil dilakukan Silvi dengan baik. Guru Azuna akhirnya memundurkan diri dengan sopan pada Brian.


***


Hari itu, Silvi kembali siap untuk latihan. Tentu saja, Siap yang hanya dari tampilan. Karena jiwa dan fisik Silvi tidak pernah sekalipun ingin melakukannya.


Guru Azura yang biasa melatihnya secara khusus tidak terlihat. Padahal jam sudah mununjukkan waktunya latihan. Silvi duduk di sebuah kursi dan mengotak-atik ponselnya untuk membunuh kebosanan.


Silvi melihat foto Lania yang berlibur di Hawai dan Tono yang berfoto dengan model Fashion Show dari desainer ternama di London.


"Hawainya sangat indah tapi wajahmu berubah menjadi jelek. Kau hitam. Kau harusnya malu memposting foto ini."


"Modelnya sangat cantik dan kau terlihat seperti kacung di sampingnya."


Beberapa saat kemudian, Silvi mendapat balasan pada komentarnya.


"Kau hanya iri padaku (dilengkapi emotikon tertawa)."


Sedetik kemudian pesan serupa didapat dari Tono. Silvi yang kesal ingin kembali membalas ledekan sahabat-sahabatnya. Sebelum Silvi berhasil mengetik satu katapun, seseorang berhasil merebut ponselnya. Sontak Silvi mengangkat wajahnya untuk melihat pelaku tersebut.


"Kau! Lancang sekali."


"Hai. Sudah seminggu kita tidak bertemu." Sapa Alando.


"Jadi itu caramu menyapa?" Silvi mencibirkan bibirnya. "Kembalikan ponselku."


"Tidak. Sebelum jam latihan selesai." Alando menarik lengan Silvi untuk mengikuti langkahnya dan Silvi yang ingin protes harus mengikuti langkahnya untuk tetap menjaga keseimbangannya.


Mereka kini tiba di tempat olahraga dengan peralatan fitness. "Sekarang lakukan pemanasan, setelah itu kau larilah."


"Kenapa aku harus melakukannya?" Ucap Silvi malas.

__ADS_1


"Hm. Akan ku perkenalkan diriku agar kau mengerti posisi kita sekarang."


Silvi menatap Alando seakan mempersilahkan Alando melanjutkan ucapannya.


"Mulai hari ini sampai seterusnya, Aku akan melatihmu sampai bisa bela diri dasar. Sampai kau mendapatkan sabuk kuning. Jadi, Aku adalah orang yang dipilih ayahmu yang hampir menyerah karena 1 minggu latihanmu tidak menunjukkan perkembangan apapun."


Silvi menghembuskan nafas lelah.


"Katakan pada ayahku, aku tidak mau berlatih denganmu."


"Kau ungin berlatih dengan nyonya Azura?"


Silvi mengangguk


"Dia tidak mau melatihmu lagi. Sekarang kau pilih, berlatih denganku atau tidak berlatih selamanya dan hubunganmu dengan ayahmu tidak akan pernah membaik."


"Kau! Dari mana...?"


"Aku tahu semua hal tentangmu."


"Kau. Dasar penguntit."


Silvi mulai menurut. Dia melakukan pemanasan dengan sangat baik.


"Syukurlah nyonya Azura berhasil membuatmu melakukan pemanasan dengan baik."


Silvi hanya membalas ucapan Alando dengan mencibirkan bibirnya dengan mata yang diputar malas.


"Sekarang larilah." Alando menunjuk treadmill gym yang tak jauh dari keduanya.


"Hubungan bela diri dengan olahraga apa ya?"


"Kau gadis pemalas. Kau tidak pernah olahraga selama hidupmu. Bahkan nilai pelajaran olahragamu saja hanya sampai kkm (kriteria kelulusan minimal). Itu juga karena kau unggul di teori. Ck ck ck. Bagaimana bisa kau jadi putri ketua organisasi Ranita?"


"Hei. Kau sekarang seperti pelatih sungguhan ya. Dengar. Itu urusanku dan kau tidak berhak ikut campur. Lagipula, tanpa olahraga dan latihan bela diripun, aku mampu menjatuhkan lelaki dewasa dengan 1 kali tendangan."


"Oh ya. Dasar tukang bual. Sekarang coba jatuhkan aku."


Silvi yang merasa ditantang mengarahkan kakinya untuk menendang Alando. Dengan mudah, Alando menahan serangan Silvi dan mengunci gerakan Silvi.


"Akh. Kau ingin mematahkan tanganku? Itu sakit."

__ADS_1


"Kau ingin menendang dengan kaki selemah itu?"


"Lepaskan tanganku." Silvi yang merasa kesakitan berusaha memborantak tapi tak membuahkan hasil.


"Berlatihlah sesuai arahanku."


"Iya."


"Buat aku yakin dengan 'iya'mu itu."


"Iya. Aku berjanji. Berjanji atas nama ibuku. Kau puas?"


Alando melepaskan tangan Silvi dengan senyum kemenangan.


"Sekarang berlarilah setengah jam."


"Aku lelah. Bisa beri aku waktu 1 jam untuk istirahat."


"Kau pikir pemanasan dilakukan untuk istirahat satu jam?"


"Aku..."


Sebelum Silvi kembali mengeluh, Alando sudah mendorong Silvi untuk menaiki treadmill gym. Kembali dengan keterpaksaan, Silvi berlari selama setengah jam.


Silvi kini berbaring terlentang di matras dengan nafas terputus-putus. Alando hanya menggelengkan kepalanya melihat Silvi yang ngos-ngosan hanya kerena olahraga yang tidak cukup satu jam. Alando kemudian melangkah dan duduk di sisi kiri kaki Silvi.


"Selama seminggu, ini dulu yang harus kau lakukan."


"Satu minggu?"


Alando mengangguk


"Satu minggu aku hanya pemanasan dan berlari?"


"Hm."


"Kau itu pelatih ilmu bela diri. Bukan pelatih olahraga. Kenapa aku harus mebuang-buang waktu untuk lari?"


"Fisikmu itu seperti fisik anak paud. Kau pikir orang yang bisa bela diri memiliki fisik lemah sepertimu?"


Silvi membuang pandangannya kearah lain dengan wajah cemberut. Energinya tidak benyak untuk berdebat. Walaupun hatinya tidak terima disebut memiliki fisik seperti anak paud.

__ADS_1


__ADS_2