Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
Cambridge


__ADS_3

"Maafkan nona. Aku sudah berusaha sekeras yang aku bisa untuk mencari pendonor yang cocok untuk tuan. Tapi..."


Rabella tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Air mata menunjukkan penyesalan serta kesedihannya. Ditambah lagi, ekspresi Silvi yang hanya tersenyum sekilas menggapi ucapannya. Rabella ingin menyalahkan seseorang. Tapi ini bukan salah siapapun.


Rabella menceritakan segalanya. Awal dari Brian mulai merasakan sakit serta alasan Brian menutupi hal ini dari Silvi. Alasannya cuti begitu lama, sebenarnya hanyalah alasan untuk mencari pendonor untuk Brian.


Silvi hanya menaggapinya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Sungguh, Silvi sudah menangis berjuta-juta kali saat mendengarkan hal yang sama dari robot Ranita. Rasanya, semua air matanya tak bisa lagi turun. Kematian Brian membuat cita-citanya menjadi seorang dokter semakin bertambah kuat.


Silvi pulang ke rumahnya. Silvi mengemasi barang-barang ayahnya dan menyumbangkannya pada yang membutuhkan. Hal yang sama pernah terjadi, saat ia dan ayahnya mengemasi barang-barang ibunya dan pergi menyumbangkan barang-barang tersebut pada orang yang membutuhkan.


3 bulan kemudian, Silvi menuliskan surat kuasanya kepada Rabella. Surat yang menyatakan tanggungjawab organisasi Ranita kini diserahkannya pada Rabella.


Tentu saja Rabella berusaha menolak sebisanya. Tapi mendengar kalimat pertama yang Silvi ucapkan selama 3 bulan tak bicara, membuat hati Rabella luluh seketika.


"Aku mohon." ucap Silvi.


Seumur hidupnya, Rabella tidak pernah mendengar Silvi memohon. Bahkan pada Brian sekalipun. Rabella akhirnya menerima penyerahan wewenang tersebut atas persetujuan para dewan organisasi Ranita.


***


"Nona. Kau akan pergi ke Cambridge? Bawalah aku bersamamu." ucap Rabella memohon.


"Aku ke sana untuk berkuliah. Kau tidak perlu melindungiku. Aku akan baik-baik saja. Tugasmu di sini lebih banyak."


"Tapi nona..."


Tatapan Silvi menghentikan permohonan Rabella. Apa yang bisa Rabella lakukan jika Silvi telah memutuskan. Silvi bukan orang yang bisa ia bantah.


Rabella akhirnya hanya bisa menatap pesawat yang membawa nonanya pergi. Nona yang dilayaninya hampir 8 tahun. Nona angkuh yang kini tetap hidup setelah kehilangan semangat hidupnya. Hidup tanpa senyuman.


***


Silvi memasuki asrama Harvard Yard yang terletak tak jauh dari kampusnya atau bisa dikatakan Silvi tinggal di dalam kampus. Semua mahasiswa di tahun pertama seperti Silvi tinggal di tempat ini.


"Hai?" sapa seorang gadis pada Silvi. Gadis itu menempati kamar yang sama dengan Silvi.


"Kau baru tiba?" Gadis itu kembali berbicara.


"Ya."


"Kau sudah makan siang? Ibuku memasak banyak. Dia menyuruhku membawa semua hasil masakannya. Kau mau?"


"Tidak. Aku sudah makan."


"Oh. Oke. Mungkin lain kali kau bisa mencoba masakan ibuku. Rasanya sangat enak."


Silvi tidak menanggapi gadis itu. Silvi meletakkan barang-barangnya, menatanya dan berdoa beberapa detik ketika meletakkan foto ayah dan ibunya pada meja belajarnya.


"Tadi itu... Apa kau sedang berdoa?"


"Ya."


"Orang tua memang seperti Tuhan."


Gadis itu mulai bercerita. Ia menceritakan banyak hal tentang ibunya yang bekerja sebagai pedagang buah. Dengan hasil dagangan yang tak seberapa dan kerja paruhnya, hingga ia bisa membayar kebutuhan hidup. Bisa berkuliah karena beasiswa bukan berarti kebutuhan hidupmu juga ditanggung oleh kampus.


"Aku hanya memiliki seorang ibu dan itu sudah lebih dari cukup." Gadis itu menutup ceritanya.

__ADS_1


Silvi sedikit terhenyak mendengar cerita teman sekamarnya itu.


"Kenapa kau menceritakan ini padaku?" Tanya Silvi dengan wajah datarnya.


"Aku hanya merasa kau satu-satunya yang paling sederhana di sini. Jadi, aku pikir kita bisa berteman. Lagipula kita ini teman kamar. Kau ditakdirkan menjadi temanku. Jika tebakanku benar, kau pasti bisa kuliah dengan beasiswa sepertiku dan kau harus menabung dengan keras sepertiku untuk biaya hidup."


Silvi melirik penampilannya. Ya. Penampilannya sangat sederhana. Padahal di kota Andolo, dia bisa dikatakan memiliki fashion yang baik. Tapi Silvi bingung dengan maksud teman sekamarnya ini. Semua orang di sini juga berpakaian santai. semua terlihat sederhana. Namun, Silvi malas untuk menanggapi gadis dihadapannya. Jika diamnya Silvi saja masih membuatnya bercerita panjang lebar, bagaimana jadinya jika Silvi ikut menanggapi ucapannya.


"Tebakanmu benar." Ucap Silvi asal.


Gadis itu tersenyum bangga karena merasa tebakan tepat sasaran.


"Oh. Kita belum berkenalan. Namaku Rihana. Rihana Dominic. dan kau?"


"Silvi Selvig."


"Hai Silvi. Senang berkenalan denganmu."


Silvi hanya menanggapi Rihana dengan senyum kecil yang hampir terlihat bukan seperti senyuman. Sungguh, bibirnya sangat kaku untuk kembali tersenyum selama 3 bulan tak pernah melakukannya lagi.


"Apa kau tidak ingin menceritakan tentang dirimu. Kau punya siapa di rumah, apa pekerjaan orang tuamu. Sesuatu yang seperti itu. Bicaralah."


"Tidak ada yang menungguku di rumah. Aku yatim piatu."


Rihana tersentak. Ternyata kehidupan Silvi jauh lebih berat darinya.


"Maafkan aku. Jadi, bagaimana kau membanyar apartemen dan makanmu sehari-hari?"


Silvi hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Rihana.


"Hei. Kau bisa ikut denganku. Kerja paruh waktu di tempatku, gajinya sangat lumayan."


"Sudahlah, tidak usah sungkan padaku. Kau hanya perlu bersiap sebentar malam."


Silvi menggeleng menanggapi perkataan Rihana.


***


"Klub?" Silvi menatap Rihana tak percaya. Gadis itu bekerja di klub.


Silvi terpaksa mengikuti Rihana karena gadis itu memaksa Silvi dengan ocehan yang rasanya gendang telinga Silvi ingin meledak.


"Tenang saja. Kau aman. Aku berjanji akan menjaga keamananmu. Dan tentu saja..."


Rihana menatap Silvi dari ujung kaki sampai kepala. "Apa kau masih perawan?"


"Itu tidak penting. Kita hanya sebagai Waiter kan?"


"Ya."


Rihana kemudian membawa Silvi masuk ke dalam klub. Memperkenalkan Silvi pada pemilik klub dan Silvi kini memakai pakaian pelayan klub.


Silvi tersenyum kecil melihat pantulan dirinya di cermin. Brian mungkin akan memukulnya jika melihat Silvi melakukan ini.


"Keluarlah, Silvi. Kau terlalu lama di dalam sana."


Rihana sedikit kesal melihat Silvi yang begitu lama di ruang ganti. Silvi akhirnya keluar dan Rihana mengangkat kedua jempolnya menandakan pakaian yang dikenakan Silvi sangat pas pada tubuhnya.

__ADS_1


"Kau sangat manis dengan pakaian itu."


Silvi mendelikkan matanya dan Rihana tertawa lebar.


"Ini pekerjaan pertamamu. Bawa ini di ruang VVIP."


"Bukankah ini terlalu cepat? Aku anak baru dan disuruh melayani ruang VVIP?"


"Ya. Nona Loli ingin gadis yang manis yang menuangkan anggur pada tuan Hans."


"Dan aku gadis manis yang paling tepat menuangkan minuman padanya."


"Ya. Kemari. Biar ku tunjukkan ruangannya."


Rihana membawa Silvi untuk memasuki ruangan yang bertuliskan VVIP. Tanpa ragu, Silvi melangkah dan memasuki ruangan tersebut.


Matanya sedikit melebar, melihat seorang pria yang sedang asik menikmati Blow-Job dari seorang wanita. Wanita itu tak memakai sehelai benangpun pada tubuhnya. Dengan cepat, Silvi mengalihkan pandangannya dengan cepat.


"Duduklah. 5 menit lagi ini akan selesai." Ucap pria itu.


Silvi menurut. Dia menduduki salah satu sofa di ruangan itu dengan nampan yang dipangkunya.


5 menit kemudian, pria itu sudah berpakaian lengkap kembali. Wanita yang melayaninya disuruhnya duduk di pangkuannya tanpa perlu memakai pakaian.


Pria itu kemudian meminta Silvi menuangkannya anggur istimewa yang dibawa Silvi. Silvi dengan cekatan menuangkan anggur itu dan menyerahkannya pada pria tersebut.


"Loli sangat tahu seleraku. Dia membawakan yang manis seperti anak SMP." Pria itu tersenyum mengejek.


Dengan tinggi Silvi yang tidak cukup 160 cm, membuatnya terlihat sangat pendek di kota ini, yang dimana wanita-wanita di sini sangat tinggi-tinggi.


Terlebih lagi, wajah Silvi yang imut dan manis. Membuat orang-orang ragu jika dia sudah lulus SMA. Sebenarnya, ini wajar untuk Silvi, mengingat usianya yang baru menginjak 18 tahun.


"Bagaimana kau bisa masuk klub dengan usia di bawah umur?" Pria itu kembali bertanya.


"Aku seorang mahasiswa dan mahasiswa bisa memasuki tempat ini dengan mudah." Ucap Silvi datar.


"Mahasiswa? Aku kagum dengan pencapaianmu."


"Terima kasih."


"Aku suka ekspresimu." Wajah datar Silvi sungguh menarik di matanya. Tidak ada pelayan yang bahkan tidak tersenyum padanya.


"Siapa namamu?" Tanya pria itu penasaran.


"Silvi."


"Silvi? Apa kau dari Indonesia?"


"Ya."


"Aku punya teman dari sana. Dia persis sepertimu. Wajahnya datar. Apa orang Indonesia seperti itu semua."


"Apa 2 orang bisa mewakili sifat 200 juta lebih jiwa?"


"Hahahaha. Kau gadis cerdas. Kau pelayanku malam ini."


"Kau akan memakainya?" Ucap gadis yang ada di pangkuan pria itu.

__ADS_1


"Aku masih waras untuk menyentuh gadis dibawah umur."


__ADS_2