Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
Brian Sakit


__ADS_3

"Kau datang untuk latihan atau apa?"


Melihat penampilan Silvi yang hanya memakai hotpants dengan kaos yang dilapisi blazer, membuat Alando harus bertanya karena gadis itu juga hanya diam menunggu Alando untuk lebih dulu menyapanya.


Silvi maju hingga jaraknya dan Alando sangat dekat. Silvi bahkan ikut berjongkok karena Alando yang sedang melakukan push-up.


"Aku ingin meminjam kartu hijaumu." ucap Silvi setengah berbisik.


"Aku pikir kau akan memiliki kartumu sendiri."


"Ayahku tidak memberikannya untukku."


"Hahahaha. Lalu untuk apa kau berkenalan dengan lantai 12. Semua orang yang ke sana pasti akan membawa pulang kartu hijau."


"Kau mau meminjamkan kartumu atau tidak?" ucap Silvi kesal.


"Aku bisa memberikannya."


Silvi menadahkan tangannya. Alando melirik tangan Silvi yang menengadah tersebut dan menatap Silvi dengan kedua alis terangkat.


"Kau bilang akan memberiku kartumu."


"Aku akan memberikannya jika kau bekerja dulu untukku."


"Apa?"


"Mau tidak?"


"Apa yang harus aku kerjakan."


"Aku akan menjelaskannya ketika tiba di apartemenku."


"Hahaha. Kau pikir aku sobodoh itu. Lupakan, aku akan melakukan pekerjaanku di sini."


"Baiklah. Dapur kantor juga bisa."


Alando menarik lengan Silvi membawanya menuju dapur kantor. Silvi tidak membantah, sehingga Alando dapat membawanya dengan mudah.


Setelah tiba di sana, Alando meminta waktu berdua dengan Silvi pada koki dan pelayan dapur. Tentu saja, dengan senang hati koki dan pelayan memberi mereka ruang dan waktu.


"Masaklah apa yang bisa kau masak." Ucap Alando


"A..apa? Memasak?"


"Kenapa? Kau tidak bisa?"


"Tentu aku bisa. Duduklah dan tunggu aku dalam 5 menit semuanya akan beres." Silvi mengedipkan sebelah matanya yang sukses membuat Alando tertawa.


"Kau ingin menggodaku?"


"Aku memberimu tanda agar kau percaya padaku bodoh."

__ADS_1


"Hahaha, aku melihatnya seperti godaan."


"Itu karena otakmu yang brengsek."


"Kau akan merindukanku jika aku menghilang." Alando memilih salah satu kursi bar untuk didudukinya.


"Kau mau pergi? Aku akan mengantarmu dengan melambaikan kedua tanganku."


"Tidak perlu repot-repot, kau cukup menempelkan bibirmu saja pada bibirku dan sisanya biar aku yang selesaikan."


"Oh ya. Aku pikir, aku hanya perlu menatapmu dan mengikuti arahanmu."


"Hahaha." Alando melirik selangkangnya yang mulai menunjukkan reaksi. "Shit Silvi. Adikku kecilku bahkan dengan cepat merespon perkataanmu."


"Berhenti tertawa dan makanlah." Silvi menyajikan masakan buatannya di depan Alando.


Alando menatap hasil masakan Silvi dan beralih ke wajah Silvi. Alisnya terangkat seolah mempertanyakan 'serius, hanya ini yang bisa kau buat'.


"Hm. Kenapa? Kau tidak meminta aku harus memasak apa? Jadi kulakukan yang paling mudah untukku."


"Baiklah. Sekarang aku ingin kau membuat na.."


Silvi menempelkan jari telunjuknya pada bibir Alando.


"Kau tidak punya kesempatan kedua. Makanlah, atau aku akan memberikannya pada yang lain."


"Hahaha. Kau bersikap seolah telur mata sapi ini sangat istimewa."


"Ya. Ini istimewa karena terbuat dari tanganku."


"Keterlaluan. Kau bahkan tidak memberinya garam?" Komentar Alando.


"Hahaha. Aku melupakannya. Baiklah, aku akan mentraktirmu nanti pelatih. Sekarang berikan aku kartumu."


"Aku melupakannya di ruang olahraga."


Kini giliran Silvi yang menarik lengan Alando. Keduanya berjalan menuju ruang olahraga. Alando tertawa kecil melihat Silvi tanpa canggung mengeggam tangannya.


Sesampainya di sana, Alando malah melanjutkan olahraganya. Pria itu Pull-up. Silvi yang bertanya diabaikannya.


"Temani aku olahraga. Setelah itu, aku baru akan memberikannya."


Silvi membuang nafasnya kasar. Silvi memilih merebahkan dirinya pada matras sambil menyetel lagu dan memejamkan matanya.


Hawa panas mulai menghampiri Silvi. Ini bukan karena Air Conditionernya mati, melainkan Alando yang sedang asik melakukan push-up di atas tubuh Silvi.


Silvi membuka matanya dan nafasnya menjadi sesak karena wajah Alando yang begitu dekat dengan wajahnya.


Untuk beberapa detik Silvi terpesona dengan ketampanan Alando. Keringat yang membasahi tubuh serta wajahnya menambah kesan seksi di mata Silvi


"Kau suka?" Alando terkekeh karena melihat Silvi menatapnya dengan mata yang terposona.

__ADS_1


Pertanyaan Alando membuyarkan lamunan Silvi. Dengan cepat Silvi mendorong Alando dan duduk bersila.


"Berikan kartumu."


"Kau bisa mengambilnya pada dompetku." Alando menunjukkan barang-barangnya yang berada di loker.


Tanpa membuang waktu lebih lama, Silvi melangkah dan membuka dompet Alando. Silvi melihat ktp Alando. Matanya sedikit terkejut dengan apa yang dilihatnya. Silvi kemudian melihat Alando sekilas san Alando tidak mempedulikan apa yang Silvi lakukan dengan barang-barangnya. Silvi meletakkan ktp itu kembali bersama tumpukkan kartu lainnya di dalam dompet Alando.


Silvi kemudian melambaikan tangan pada Alando dan pergi menuju lantai 12.


***


Silvi menjulurkan kepalanya di depan pintu kamar ayahnya. Brian terkekeh kecil dan menyambut kedatangan putrinya dengan tangan yang siap memeluk putrinya.


Silvi melangkah dan memeluk erat ayahnya. Tanpa disadarinya, air matanya mengalir begitu saja. Silvi menghapusnya cepat sebelum Brian merasakan kehadiran kristal bening itu.


"Ada apa?" Brian mengusap sayang kepala putrinya.


Silvi menatap ayahnya lekat.


"Apa ada yang ayah inginkan?"


Brian terkekeh kecil. Dari tatapan Silvi, Brian yakin Silvi telah mengetahui tentang penyakitnya. Dalam hati Brian mengutuk sekaligus berterima kasih pada Alando. Karena satu-satunya alasan Silvi berhasil masuk di lantai 12 pasti karena kartu Alando.


"Ayah sudah bilangkan. Ayah ingin kau bisa bela diri dengan tingkat terbaik."


"Tentu. Aku akan mengusahakannya."


"Hei. Pelan-pelan saja. Kau tidak perlu sekeras itu pada dirimu sendiri."


Brian dapat merasakan pelukan Silvi yang terlampau erat seolah tak ingin melepaskan Brian. Brian hanya dapat membalas pelukan putrinya. Tak terasa air mata Brian ikut turun. Dengan cepat Brian menghapusnya.


"Apa kau ingin melakukan sesuatu bersama ayah? Ayah akan menemanimu."


"Ah. Bukankah kau ingin ke Hawai bersama ayah. Ayah akan mengurus persiapannya dan kita akan pergi berlibur ke sana." Brian kembali berbicara.


"Tidak ayah. Tidak sekarang." Silvi melepas pelukan Brian. "Kita akan pergi setelah aku mendapatkan sabuk hitam. Kita akan pergi berdua tanpa pengawal, karena aku akan melindungi ayah."


Brian tertawa kecil. "Baiklah. Ayah berharap hari itu akan tiba."


"Itu akan tiba. Aku akan berdoa pada Tuhan."


Brian mengusap lembut kepala putrinya.


"Kembalilah ke kamarmu. Kau harus istirahat untuk berlatih keras besok."


"Hm. Baiklah." Silvi keluar dari kamar Brian.


**Author note :


Hai. Terima kasih yang sudah membaca cerita ini. Walau kalian kebanyakan sider. Tapi itu tidak masalah.

__ADS_1


Semoga kalian bisa terhibur.


Luv**


__ADS_2