
Lanjut lagi yaa. Masih kuat kan?😘
'Aku mulai dari Alando yang meninggalkan Silvi di kantor organisasi Ranita.'
***
Alando melajukan mobilnya dan berhenti di bandara kota Andolo. Seorang pria lima puluhan menghampirinya dengan seragam prajurit yang di banggakannya.
Melihat Alado yang tidak memberi hormat, pria itu tersenyum tipis.
"Kau tidak memberi hormat kapten?" tanya pria itu.
"Aku bukan prajurit lagi, anda seharusnya tidak memanggilku kapten." ucap Alando dengan wajah datar.
"Aku datang untuk menjemputmu."
Alando mengernyitkan dahinya.
"Kau sudah terbebas dari masa hukuman. Sekarang kembalilah ke duniamu yang sesungguhnya."
"Hah, setelah membuangku."
"Nak. Kau juga bersalah karena menembak ketuamu."
'Nak'. Panggilan yang sangat Alando rindukan. Pria ini sudah seperti ayah untuknya. Harun Derco. Dia adalah sepupu jauh ayah Alando 'Abraham Miller'. Satu-satunya anggota keluarga yang mendukung keinginan Alado untuk terjun ke dunia militer. Ayah Alando menginginkan Alando sebagai putra sulungnya untuk meneruskan perusahaannya.
Namun, Alando yang berisi keras dengan bantuan Harun Derco, berhasil menjadi seorang militer. Ibu Alando 'Sintia Miller' sebenarnya mendukung keinginan putranya. Namun, karena ayah Alando yang begitu dominan, Sintia hanya bisa mendukung putranya secara sembunyi-sembunyi.
"Kembalilah nak. Negara membutuhkanmu."
Seketika jantung Alando berpacu kuat. Sumpah bela negara yang pernah diucapkannya kembali menghiasi ingatannya.
Harun merangkul Alando dan menuntunnya ke helikopter yang akan membawa pergi mereka. Langkah Alando terhenti, membuat Harun juga menghentikan langkahnya.
"Ada apa?"
"Apa aku bisa bertemu seseorang sebelum meninggalkan kota ini. Beri aku waktu 1 jam saja."
__ADS_1
"Tidak nak. Kita tidak punya waktu lagi."
Alando hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Keduanya menaiki helikopter. Saat Alando teringat untuk menelfon Silvi, Alando baru tersadar bahwa ponselnya ia lupakan di mobil yang membawanya ke bandara.
Saat itu Alando sangat kacau. Dia pikir hanya perlu menemani ketua sekaligus ayah angkatnya di dunia militer menikmati masa cuti yang hanya memakan waktu 1 minggu.
Ternyata Harun membohonginya tentang masa cuti. Dia hanya beralasan, karena Alando tidak akan mau menemuinya jika mengetahui alasan yang sebenarnya.
Kini Alando hanya bisa berjanji untuk tetap hidup untuk menepati janjinya pada Silvi yang dimintanya menunggu.
***
5 bulan kemudian, setelah melewati beberapa perang dan sisanya menjaga wilayah yang mendapat ancaman di jajah. Alando mendapatkan tugas menangkap kepala teoris yang berlindung di balik kepopulerannya di dunia bisnis.
Alando yang merupakan prajurit telatih mendapatkan tugas ini seorang diri. Alando menerima tugas itu dan terbang ke kota Cambridge.
Dengan kecerdasan dan dilengkapi dengan alat-alat canggih yang bersamanya serta waktu 3 hari mengamati situasi, Alando memasuki gedung 15 lantai Raichar Official Models (ROM).
Alando merangkak pada dinding-dinding ROM yang terbuat dari kaca tebal. Alando melubangi dinding kaca itu dengan mudah.
Philips Raichar kaget melihat seseorang menerobos masuk ke dalam ruangannya.
"Ah sial." Alando kesal menyadari ruangan yang harus dimasukinya ternyata di sebelah ruangan ini.
Alando keluar melalui lubang yang di buatnya tadi tanpa menjawab pertanyaan Philips.
Philips mengintip melalui lubang yang di buat Alando karena rasa penasarannya terhadap Alando yang datang dan pergi tanpa melakukan apapun.
Mata Philips terkejut melihat Alando melubangi kaca pada ruangan di sebelah ruangannya. Philips segera berlari keluar ruangannya dan meminta semua pengawal di ROM menuju ruangan putra sulungnya 'Geord Raichar'.
Philips mempercepat langkahnya ketika mendengar 3 kali bunyi tembakan. Mata Philips serasa ingin melompat keluar dari tempatnya melihat 2 orang pengawal dan putra sulungnya 'Geord Raichar' terbujur kaku di lantai dengan peluru yang tepat mengenai jantung ketiganya.
Alando mengarahkan pistolnya pada kepala philips dengan jarak 1 meter. Pengawal yang berada di belakang Philips meletakkan senjata mereka.
Alando maju dan mengeluarkan sebuah map dari tas punggungnya. Alando menyodorkannya pada Philips dan dengan tangan gemetar Philpis membuka dan membaca map tersebut.
Mata Philips membulat tak percaya. Bagaimana putranya menjadi buronan internasional. Air mata Philips menetes, putra kebanggannya tenyata seorang buronan. Tangan Philips terkepal kuat.
__ADS_1
"Bukankah kau hanya perlu menangkapnya. Kenapa kau harus menembaknya?"
"Karena putramu menolak dibawa pergi dengan pistolku. Dia ingin peluru pistolku yang membawanya."
Philips menatap kelompok keamanan yang berada di belakangnya. Seketika kelompok pengawal tersebut mengambil senjata mereka kembali dan mengarahkannya pada Alando.
Tidak ada satupun dari mereka yang berani menarik pelatuk senjata mereka karena Alando menjadikan Philips sebagai sandera. Alando berjalan mundur hingga berada tepat membelakangi lubang kaca yang dipakainya untuk masuk.
"Aku tidak suka membunuh orang yang tidak bersalah." Alando menjatuhkan dirinya dari lubang kaca dan tali besi berjangkar keluar dari tangannya ketika ia menekan tombol yang berada di telapak tangannya. Jangkar tali besi itu mendarat pada gedung di sebelah gedung ROM.
Alando turun dengan santai dari atas atap. Melihat dari tampilannya, gedung ini adalah apartemen. Alando menghindari lift karena penghuni apartemen yang bertemu dirinya, mungkin akan mengiranya seorang pencuri dengan pakaian hitam seperti ini.
Alando menuruni tangga dan matanya sedikit membulat melihat Silvi yang berhasil memukul mata seorang pria berotot. Silvi menarik gadis yang berada di sampingnya dan berlari menaiki lift.
Alando berlari ke arah Silvi, namun para pengawal dari gedung ROM keluar dari lift dan beberapa dari tangga darurat. Mereka mengepung Alando.
Alando akhirnya harus berolahraga malam dengan memberi beberapa pukulan pada para pengawal yang mengepungnya. Sedikit memakan waktu karena Alando harus menghindari peluru. beberapa dari para pengawal harus merenggeng nyawa karena dijadikan tameng oleh Alando untuk menghindari peluru yang tidak bisa dihindarinya.
Seorang pria keluar dari sebuah apartemen presidential suite dengan wajah lebam. Alando meliriknya sekilas, pria itu mengambil sebuah pistol para pengawal dan menuruni lift. Alando kembali terfokus pada para pengawal yang tak habis jumlahnya.
Kepala pengawal melihat sebagian anggotanya yang sudah merenggang nyawa. Jika pertarungan ini diteruskan maka anggotanya akan habis. Harusnya mereka menyerah dari awal. Prajurit internasional yang dikirim seorang diri pastilah prajurit terbaik. Kepala pengawal menjatuhkan senjatanya dan diikuti seluruh anggotanya yang tersisa.
"Kami menyerah."
Alando tidak menanggapi para pengawal. Dia segera menuruni lift mencari keberadaan Silvi. Bunyi tembakan membuat Alando berjalan ke arah tersebut. Tepat pada tempat parkir. Seorang pria yang dilihatnya keluar dari apartemen presidential suite sedang menginjak bahu gadis yang lari bersama Silvi. Gadis itu berteriak kencang di ikuti dengan bunyi retakan tulang.
Mata Alando mengarah pada Silvi yang terbaring tak jauh dari kejadian yang disaksikannya. Di sana Silvi sedang memegangi perutnya yang terluka bekas tembakan.
Pria dari apartemen presidential suite itu melangkah menuju ke arah Silvi dengan senyum puas melihat Silvi yang kesakitan. Sebelum tangannya menyentuh Silvi, Alando berlari dengan mata memancarkan kemarahan, ia menendang pria itu hingga tersungkur di lantai.
Pria itu mengambil pistolnya dan mengarahkannya pada Alando. Alando tersenyum smirk menanggapi keputusan bodoh yang dipilih pria itu. Alando berlari ke arah pria itu dan mendaratkan tendangannya pada kepala pria tersebut. Tanpa berpikir panjang, Alando mengambil pistol pria itu dan mengarahkannya pada kepala pria itu. Pria itu memohon untuk Alando mengampuninya.
Sebelum pria itu mengatakan banyak hal, Alando menembak kepala pria itu. Kepala pengawal datang bersaman dengan penghuni apartemen. Silvi, teman Silvi dan pria presidential suite itu di bawa ke rumah sakit terdekat.
Kepala pengawal yang berjalan kearah Alando hanya bisa tersenyum canggung dan menunduk hormat. Alando yang khawatir akan keadaan Silvi ingin menyusul mobil yang membawa Silvi ke rumah sakit. Namun ponselnya mengeluarkan nada panggilan darurat dan Alando diharuskan mengangkatnya.
Panggilan itu meminta Alando untuk segera kembali dan melapor serta menjalankan misi baru yang telah menunggunya. Dengan terpaksa, Alando bergegas untuk kembali. Alando pikir, dia akan meminta cuti terlebih dahulu untuk menemui Silvi sebelum menjalankan misi baru. Permintaanya pasti akan dikabulkan, mengingat keberhasilan misi yang dilakukan Alando.
__ADS_1
"Ini tidak akan lama. Bersabarlah, Silvi."