
Alando asyik menikmati wajah serius Silvi yang memeriksa warga desa. Rambutnya digulung ke atas dan diikat dengan ikat rambut hello kitty, memperlihatkan leher jenjang Silvi. Silvi terlihat 100 kali lebih seksi saat ini. Ucapan Silvi semalam tentang mencintai pria lain kembali teringat di benak Alando. Bibir Alando tersenyum semakin lebar sambil menggeleng kepalanya pelan.
Wajah datar yang sedang memeriksa warga desa itu, tidak akan ada satu pria yang mampu menerobos kerasnya hatinya. Gadisku itu terlalu angkuh untuk sekedar tertarik dengan orang lain. Tentu saja, dengan pengecualian Alando Miller. Alando tanpa sadar mengeluarkan tawanya.
"Ekhm." deheman kepala desa menyadarkan Alando dari lamunannya dan berhasil mengalihkan perhatian Alando dari wajah Silvi.
"Tuan prajurit sepertinya menyukai nona dokter."
"Dari mana bapak tahu?"
"Tatapan tuan prajurit seperti tatapan saya pada istri saya, dan itu adalah tatapan cinta."
Alando tersenyum kecil, "cintaku lebih besar daripada cinta bapak."
"Tidak, cinta kita sama besarnya."
"Bapak tidak akan tahu sebesar apa aku mencintai gadis itu." tunjuk Alando pada Silvi.
"Tidak, aku tahu. Cinta tuan prajurit sama besarnya dengan cinta saya pada istri saya."
"Cintaku lebih besar."
"Bagaimana jika kita membuktikannya secara jantan."
"Apa maksud bapak?"
"Aku menantangmu minum sebentar malam, yang kalah harus mengakui cintanya lebih kecil daripada yang menang."
"Hahaha. Itu konyol, tapi aku tidak keberatan."
"Ikutlah denganku. Kita akan menyiapkan tempat bertanding dan arak untuk diminum."
Alando mengangguk dan keduanya pun pergi ke tempat yang dimaksud pak desa.
***
Hari mulai sore, warga desa yang Silvi periksa telah habis. Bu desa sudah kembali lebih awal karena tidak melihat keberadaan suaminya.
Silvi yang telah selesai bersiap, segera ingin kembali ke rumah kepala desa. Langkahnya terhenti ketika seorang lelaki dengan kedua kaki pincang menghampirinya.
"Kau dokter? Bisa kau berikan aku obat?" ucap pria itu.
"Aku belum menjadi dokter, tapi itulah panggilanku di desa ini. Biar ku lihat kakimu. Duduklah."
Silvi memeriksa kedua kaki pria itu. Ada dua lubang peluru di kedua betis pria itu.
__ADS_1
"Siapa yang mengeluarkan pelurunya?" tanya Silvi.
"Aku sendiri."
"Aku harus mencuci lukamu dahulu. Ini bisa infeksi."
"Hm."
Dengan cekatan Silvi mencuci lukanya dan menutup luka itu dengan perban.
"Sudah selesai. Besok datanglah lagi, aku akan mengganti perbannya."
"Kenapa aku harus datang besok? Kalau kau bisa merawatku di tempatku."
Belum sempat Silvi bereaksi dengan ucapan pria itu, Silvi sudah tidak sadarkan diri dengan obat bius. Diakhir kesadarannya, Silvi masih sempat berpikir, "bagaimana dirinya yang seorang tenaga medis tidak punya obat bius dan pria yang baru saja bisa disebut pasiennya ini mememiliki obat bius."
***
Alando kembali menghabiskan gelas ke tujuhnya. Matanya mulai buram, rasa pening mulai menjalar di kepalanya dan sialnya kepala desa masih tegap dengan posisi duduknya, seolah tujuh gelas dan sekarang memasuki gelas ke delapan tidak sama sekali berpengaruh padanya.
Shit. Alando mengumpat di dalam hatinya. Kenapa bukan vodka di depannya? dan kenapa harus arak? Dari semua jenis alkohol, Alando paling benci rasa arak.
Alando kini mengangkat tangan kanannya yang memegang gelas ke delapan. Alando rasanya ingin menyerah saja, tapi ego prianya tentu saja mengharamkan kata menyerah.
Di sana terdapat beberapa warga bapak-bapak yang menonton pertandingan. Itulah yang memperkuat alasan Alando mati-matian tidak ingin menyerah.
"Pak Joko benar." ucap kepala desa.
"Aku akan menganggap cinta kita sama besarnya, tapi tuan prajurit harus menerima hukuman dari desa ini."
"Tidak perlu. Aku tidak akan menyerah."
Alando mengangkat kembali gelas yang sudah jatuh di meja dan hendak melahap habis arak di dalamnya. Namun sebelum gelas itu menyentuh bibirnya, gelas itu sudah melayang dan jatuh ke tanah.
Bu desa dengan 2 orang ibu-ibu di belakangnya terlihat geram. Bu desa menjewer telinga suaminya.
"Kalian masih melakukan hal ini. Bukankah aku dan ibu-ibu desa sudah menutup tempat ini? Kau mencuri kuncinya dariku."
"Aku mencarimu dari sore tadi. Ayo pulang."
"Dan kau tuan prajurit!!!" bu desa menatap sengit Alando.
"Kau seorang prajurit yang payah dengan aturan negara. Jangan pulang ke rumahku."
Bu desa masih dengan sisa-sisa emosinya tambah menjadi emosi melihat putri 12 tahunnya yang memasuki ruangan terkutuk di desa ini.
__ADS_1
"Kau!! Kenapa kau menginjakkan kakimu di tempat ini. Berapa kali ibu memperingatimu, kau..."
"Nona dokter belum pulang hingga sekarang." ucap putri kepala desa dalam sekali tarikan nafas, lalu kembali melepas nafas ngos-ngosannya.
Semua orang di tempat itu terdiam. Mereka yang telah mendengar kabar tentang buronan yang ada di pulau mereka menjadi berpikir bahwa Silvi diculik buronan itu. Tak terkecuali Alando, matanya yang sudah merah karena mabuk menjadi semakin merah menahan amarah. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Alando segera berlari keluar ruangan dan berlari ke arah hutan dan diikuti kepala desa dan semua warga laki-laki di ruangan itu. Sementara bu desa dan ibu-ibu desa mencari Silvi di dalam desa.
***
Silvi membuka matanya pelan. Matanya berusaha mencari cahaya dalam kegelapan ini. Hanya suara jangkrik yang begitu mengganggu pendengarannya.
"Di mana aku, kenapa gelap sekali." Silvi mencoba mengucek matanya, mungkin saja matanya buram atau bagaimana. Namun yang didapatinya malah tangannya tidak bisa digerakkan.
"Apa-apaan ini? Tanganku diikat dan kakiku? Seluruh tubuhku diikat. Sial, aku sungguh diculik."
Sebuah korek api menyala dan membakar potongan kayu yang sudah disusun untuk menjadi api unggun. Silvi akhirnya bisa melihat sebuah cahaya dan wajah pria yang tadi diobatinya.
"Kau sudah sadar rupanya. Jangan membuat suara keras." ucap pria itu.
"Kenapa menculikku? Aku bisa mengobatimu tanpa harus kau culik."
"Aku tidak suka kembali di desa itu. Terlebih lagi, aku harus menunggumu sendiri dan menunggu membuatku lelah."
Buronan ini. Silvi harus keluar dari sini, bagaimanapun caranya.
"Lepaskan aku, kita akan membuat jadwal khusus untuk pengobatanmu."
"Jangan coba membodohiku gadis dokter."
"Kenapa kau berpikir aku membodohimu? Aku serius."
"Kau sangat pintar menyembunyikan perasaanmu ya. Aku tahu, kau sadar jika kau sudah ketahuan ingin membodohiku. Aku melihat keberanian yang besar di dalam matamu. Kau bukan tipe gadis penurut dan aku tidak suka gadis keras kepala. Ikuti saja arahanku." pria itu menatap tajam Silvi.
Pria itu sedikit terkejut melihat Silvi yang balas menatapnya tak kalah tajam. Biasanya, lawan yang ditatapnya akan mencuit seketika. Tapi Silvi sangat berbeda.
"Baiklah. Tapi kau harus ingat, aku tidak bisa mengobatimu dengan tangan terikat."
"Tentu saja bisa. Aku hanya perlu arahanmu dan sisanya akan ku lakukan sendiri."
"Bagaimana jika aku memberimu arahan yang salah?"
"Ya, kau punya alasan yang kuat untuk melakukannya. Jika saja di pulau ini terdapat jaringan ponsel, aku tidak membutuhkanmu. Kau harus tahu, jika aku merasa ada yang tidak beres dengan arahnmu, aku akan membuatmu hancur." pria itu memandangi tubuh Silvi seolah menelanjanginya. Mata Silvi menatap berang pria itu.
"Bagus, kau sangat cepat mengerti."
__ADS_1