
Beberapa menit kemudian, Silvi baru bisa menghembuskan nafas lega. Mereka akhirnya sampai di rumah. Akhirnya Silvi terlepas dari lirikan supir taksi yang berhasil membuatnya malu setengah mati karena Alando yang sialnya sudah menjadi suaminya itu, sungguh memanfaatkan janji Silvi dengan baik.
Setelah membayar, Silvi membuka pintu rumahnya.
"Selamat pulang ke rumah, ahh." ucapan Silvi terhenti ketika Alando menggendongnya ala bridal style menuju kamar mereka.
"Hei, kau baru pulang dari rumah sakit. Apa kau tidak lapar? Kau boleh minta ku buatkan apapun."
"Ya, aku sangat lapar. Aku ingin memakanmu. Kau cukup membuat ku puas."
Alando membaringkan Silvi di ranjang mereka dan menyerang bibir Silvi. Keduanya berciuman dengan penuh kerinduan. Alando melakukan semuanya dengan sangat ahli. Hingga akhirnya mereka menyatu dan Silvi mengerutkan keningnya sedangkan Alando hanya menikmati aktivitasnya.
Setelah ronde pertama berakhir, Silvi menarik selimut dan menutupi tubuhnya, ia menatap Alando dengan tatapan bingung.
Melihat kebingungan Silvi, Alando ikut mengenyit. "Ada apa?"
"Tadi itu yang pertama. Tapi dimana selaputnya?"
"Selaput apa?"
"Virgin."
Alando terbahak, "Hahahaha. Hei, kau memikirkan itu dari tadi?"
"Kau tertawa? Itu tandanya kau bukan pria pertama untukku."
Silvi terdiam sesaat lalu mengacak rambutnya frustasi, "kenapa bisa begini? Kapan aku melakukannya? Apa aku melakukannya saat mabuk? Tapi dimana? Akh, aku hampir gila memikirkannya."
"Hei, hei tenanglah." Alando memeluk Silvi, "bukankah Rangga telah mengatakan padamu jika aku yang menolongmu saat di pulau senja?"
"Ya. Aku ini sedang pusing memikirkan dimana aku kehilangan keperawananku dan kau membahas sesuatu yang tidak berhubungan dengan in? Lalu kenapa jika kau menolongku? Kau menyelamatkan istrimu. Jadi jangan bahas itu. Setidaknya jangan sekarang." nada Silvi meninggi.
"Apa Rangga tidak mengatakan semuanya?"
"Alando, berhenti membicarakan itu."
"Tapi di sana aku menolongmu."
"Ya, lalu kenapa? Kau ingin bayaran?"
"Diamlah. Biarkan aku bicara sampai selesai."
Silvi yang kesal membanting kepalanya di bantal. Alando ikut barbaring di sampingnya.
"Aku yang mengambil title gadismu."
Silvi menatap Alando bingung.
"Saat itu tubuhmu dingin dan kau hanya bisa diselamatkan dengan berhubungan intim. Jadi aku melakukannya. Aku tidak hanya menolongmu keluar dari air laut. Tapi juga, menolongmu dengan melakukan hal itu."
"Apa?"
__ADS_1
"Hei, aku menolongmu. Kenapa kau melotot padaku?"
"Jika memang itu sebuah pertolongan, lalu kenapa kau menyembunyikannya? Kenapa kalian semua menyembunyikannya dariku? Kau pikir jika aku menikah dengan pria selain dirimu, apa yang akan suamiku katakan padaku?"
Ucap Silvi dengan nada yang semakin meninggi.
"Yang penting kan aku yang menjadi suamimu sekarang."
"Dasar kau brengsek."
Silvi memukul-mukul dada Alando hingga Alando terbatuk. Melihat Silvi yang tidak sama sekali berniat berhenti memukulnya, Alando yang tadinya hanya pasrah mendapat pukulun istrinya akhirnya menggenggam paksa tangan Silvi.
Silvi yang terkunci tangannya, kini menggunakan kakinya untuk menendang Alando. Alando akhirnya harus mengunci kaki Silvi juga. Kini Silvi benar-banar tidak bisa mengerakkan tubuhnya.
"Kendalikan dirimu." ucap Alando.
"Tidak mau, aku benci padamu."
"Hei, hei, hahahaha. Kau ini sangat lucu. Bagaimana kau menjadi tidak realistis seperti ini. Aku itu menolongmu. MENOLONGMU"
Alando sengaja menekan kata menolongmu. Tapi Silvi tetap saja menatapnya dengan tatapan tajam. Alando tertawa sambil mengecupi seluruh wajah Silvi. Kecupan-kecupan kecilnya kini mengarah ke area sensitif Silvi hingga berakhir dengan mereka melakukan ronde lagi. Malam itu mereka melakukan banyak ronde.
***
Keesokan paginya, Silvi bangun dengan wajah bantalnya. Kamarnya sudah rapi, Alando juga tidak ada di sana. Silvi lalu melangkah membersihkan dirinya di kamar mandi. Setelah selesai mandi, Silvi keluar menuju dapur.
Langkahnya terhenti melihat Alando sedang mengaduk susu di gelas. Alando tersenyum melihatnya.
"Kau sudah bangun? Kemarilah! Habiskan roti dan susumu."
Setelah sarapannya habis, Silvi melangkah dan duduk di depan tv. Alando pun menyusulnya dan duduk di sampingnya.
"Kau suka Spongebob?"
Pertanyaan Alando tidak dijawab. Silvi menanggapinya dengan mengganti channel tv. Saat Alando mulai tertarik pada sebuah channel, Silvi menggantinya dan terus seperti itu.
"Hei, matikan saja tv nya." Alando mulai kesal.
Silvi malah memperbesar volume tv.
Alando menjadi tambah kesal. Ia bangkit dan mencabut colokan tv. Silvi malah melempar remot tv padanya, untung saja Alando dengan cepat menangkap remot itu.
Alando menggeleng lalu tertawa, "Kau menjadi semakin manis jika kesal seperti itu."
Alando lalu membaringkan kepalanya pada pangkuan Silvi. Tangannya mengusap pipi Silvi yang tidak mau menatapnya.
"Kau masih marah karena aku merampas title gadismu? Baiklah kau bisa menghukumku jika mau."
Silvi menatap Alando dengan wajah cemberut, "kau juga terus menggodaku semalam hingga kita menghabiskan banyak ronde, padahal aku masih marah padamu."
"Hahaha, itu karena kau sangat mudah tergoda."
__ADS_1
"Jelas saja aku tergoda, aku normal."
"Hm. Itu karena kita sama-sama menginginkannya"
"Tidak, aku tidak menginginkannya."
"Baiklah, hukum saja suamimu ini."
"Hm. Tentu saja. Sebentar malam kau tidak mendapatkan jatahmu."
"Tidak, itu hak batin. Kau tidak bisa melakukan ini padaku."
"Aku bisa, karena kau melakukannya bersamaku."
"Tentu saja karena kau istriku."
"Pokoknya kau tidak mendapatkan jatah sebentar malam."
"Lalu bagaimana jika kau yang tergoda?"
"Aku tidak akan tergoda."
"Kau yakin?"
"Tentu saja."
"Hm, baiklah." Alando tersenyum senang.
"Hm, Aku juga ingin kita bertemu keluargamu."
"Tentu, kau harus bertemu ibuku. Tapi sebelum itu, kita bisa ke kota Turin untuk bertemu nenekku."
"Baiklah, besok kita akan ke kota Turin."
"Di sini lebih menyenangkan. Di sana ada nenekku dan pelayan nenek. Jangan besok. Bagaimana jika pekan depan?"
Tentu saja Alando tidak ingin buru-buru pergi meninggalkan rumah ini yang penghuninya hanya dirinya dan Silvi, karena di sini dia lebih bebas. Silvi juga tidak malu-malu di sini. Alando tidak bisa bayangkan Silvi akan semalu apa jika dipeluk Alando di depan neneknya. Sedangkan dipeluk di dalam taksi saja bisa membuatnya malu setengah mati karena lirikan supir taksi.
"Kita akan pergi besok."
"Hm baiklah, sayang."
"Sayang? Hm. Aku suka panggilan itu."
"Sayang."
Alando tersenyum dengan sangat lebar lalu ******* bibir istrinya yang juga ikut tersenyum dalam ciuman keduanya.
***
**Tadinya ini part 21+
__ADS_1
Tapi aku cut beberapa bagian biar nggak mendetail soalnya ini ramadhan😂
Semoga puasanya lancar yaa**