
Alando mempercepat langkahnya dan dalam sekali tarikan, Silvi berada di dalam dekapannya. Alando mengulum bibir Silvi dengan memuntut. tangannya menekan tengkuk Silvi untuk memperdalam ciumannya. Alando menghentikan ciuman panasnya ketika Silvi memukul dada bidangnya, pertanda Silvi sedang kehabisan oksigan. Sementara Silvi sedang menghirup rakus oksigen, ciuman Alando turun ke leher Silvi dan tangan kirinya berusaha membuka kancing kemeja Silvi, sedangkan tangan kanannya masih setia merangkul posesif pinggang Silvi. namun sebelum kancing kemeja Silvi lepas, ucapan Silvi menghentikan aksinya.
"Aku akan bunuh diri jika kau berani melakukannya."
"Kenapa? Aku akan menikahimu." ucap Alando dengan tangannya yang masih setia merangkul pinggang Silvi.
"Kau pikir ini lelucon. Aku sedang dalam masa subur. Jika kita melakukannya sekarang, kemungkinan besar aku akan hamil. Masa cutimu akan habis dan kau akan pergi menghadapi musuh. Kau bisa mati kapanpun, aku akan hamil di luar pernikahan. Hidupku hancur dan anak kita juga akan hancur. Kau ingin hal seperti itu terjadi?"
Keduanya bergulat dengan tatapan mata yang saling mengunci. "Jangan mengikatku." ucap Silvi lagi.
Alando melepaskan lengannya yang melingkar posesif pada pinggang Silvi.
"Hm. Aku akan mandi dan setelahnya kita akan kembali ke asramamu." Alando kemudian meninggalkan Silvi menuju kamar mandi.
***
Perjalanan keduanya menuju asrama Silvi penuh keheningan. Keduanya sama-sama berpikir. Hingga kini, Silvi turun dari motor Alando dan memberikan helm yang dipakainya pada Alando. Alando menerimanya.
Alando tersenyum kecil lalu berkata tanpa menatap mata Silvi. "Kau boleh mencintai pria lain."
Sungguh, Alando sudah memikirkannya berjam-jam yang lalu. Dia bisa mati kapan pun. Hidupnya hanya untuk negara. Alando tidak memiliki hak untuk dirinya lagi, apalagi hidup di samping Silvi. Silvi memiliki masa depan yang cerah. Tidak seharusnya Alando mengikatnya.
"Almil tetaplah bersamamu. Itu hadiah kemenangan 13 kalimu." Alando lalu membawa motornya pergi meninggalkan Silvi.
Silvi menatap punggung Alando hingga menghilang dari pandangannya. Matanya berkaca-kaca, tapi air mata tidak sampai membasahi pipinya. Hatinya teriris, namun tidak sampai tubuhnya ikut mengeluarkan reaksi. Silvi adalah gadis yang terlatih menahan hati yang teriris. Bukankah, Silvi ikut andil mengantar hari-hari terakhir ayahnya dengan tegar. Sungguh, itu sangat menyakitkan bagi Silvi.
***
Silvi menjalani hari-hari kuliahnya seperti biasanya. Kecerdasannya tidak pernah mengikis sedikitpun, walaupun hatinya pecah berkeping-keping.
Sekilas, Silvi melihat Alando yang menatapnya dari jauh lalu pergi tanpa menyapa atau pun tersenyum padanya. Setiap hari terus seperti itu. Hingga akhirnya hari terakhir Alando cuti tiba.
Alando sudah siap di bandara untuk kembali ke tempat asalnya. Tempatnya para prajurit berjuang melindungi negaranya. Bibirnya tersenyum kecil melihat Hans, Loli dan juga Rihana di sana.
"Jaga dirimu Al." Loli memeluk Alando.
"Datanglah ke pernikahanku." Hans memukul pelan bahu Alando.
"Kau bahkan tidak punya mempelai wanita." ucap Loli
__ADS_1
"Aku akan memilikinya." Hans tertawa kecil.
Alando kemudian menatap Rihana. Rihana tersenyum kecil. "Terima kasih sudah menyelamatkan aku dan Silvi tempo hari. Maaf aku baru berani mengatakannya sekarang."
"Tolong hibur Silvi." Alando berbalik dan meninggalkan ketiganya.
Langkah Alando terhenti ketika sebuah sepatu mendarat tepat di kepala belakangnya. Alando melihat sepatu itu dan tertawa kecil. Sepatu dengan ukuran seperti ini. Alando mengambil sepatu itu dan berbalik. Dia menemukan wajah yang ingin diciumnya. Wajah itu menatapnya dengan tatapan marah.
"Berjanjilah untuk tetap hidup." ucap Silvi.
Alando terkekeh. Panggilan pesawat kembali memperingati penumpangnya. Alando hanya tersenyum dan berbalik meninggalkan ruang tunggu.
"Hei Jerk. Mau kau bawa kemana sepatuku?"
Alando menoleh sekilas dan tersenyum. Lalu meneriakkan "Aku akan membawanya kembali atau kau yang harus datang mengambilnya."
"Sinting. Simpan saja untukmu. Aku akan beli yang baru." Silvi berteriak tak kalah nyaring.
***
Hari, bulan dan tahun berganti begitu cepat. Sekarang tiba saatnya Silvi untuk melakukan penelitian. Penelitian untuk studi akhirnya. Silvi memilih pulang ke negaranya untuk melakukan penelitian.
Seluruh warga menyambutnya dengan mempersembahkan beberapa tarian dan keanekaragaman makanan seafood yang mereka olah ala desa tersebut. Silvi menikmati sambutan itu dan hampir mencicipi semua hidangan karena seafood merupakan masakan kesukaan Silvi.
Beberapa jam kemudian, ibu desa mengajak Silvi untuk beristirahat. Mereka memberikan kamar terbaik yang mereka punya di desa ini. Silvi yang tidak tahu apa-apa hanya tersenyum ramah dan beristirahat dengan nyaman. Seperti biasa, alam mimpi selalu lebih cepat menyambut Silvi yang mudah tidur. Entah, ini baik atau buruk. Tapi inilah kebiasaan dari kecil yang tidak bisa diubahnya.
Keesokan harinya, Silvi mulai memeriksa keadaan penduduk desa dari selesai sarapan pagi hingga matahari terbenam. Silvi hanya beristirahat untuk makan siang. Jika Silvi bekerja keras seperti ini, maka dalam 3 hari Silvi bisa berhasil menyelesaikan penelitiannya.
Setelah makan malam, Silvi berbincang-bincang dengan kepala desa. Karena Silvi bukanlah tipe orang yang banyak mengobrol, pembicaraan keduanya berakhir begitu cepat. Silvi kembali ke kamarnya dan tidur dengan mudahnya.
Tiba-tiba ketukan keras di pintu kamarnya diikuti suara teriakan bu desa yang memanggilnya, membuatnya terbangun.
Silvi membuka matanya dan mengucek matanya yang masih buram.
"Nona dokter, ada prajurit yang tertikam di perutnya. Lukanya sangat lebar, begitu banyak darah yang keluar." ucap bu desa dengan panik.
Ucapan bu desa menyadarkan Silvi dari kantuknya. Ia segera meminta bu desa untuk membawanya menemui orang yang dimaksud bu desa.
Sesampainya di sana, Silvi segera mengambil kain dan menutup luka pada perut prajurit tersebut. Silvi segera meminta bu desa untuk mengambil tas ransel kecilnya yang ada di kamarnya.
__ADS_1
Prajurit yang kesakitan itu memandangi wajah Silvi dengan senyum kecil. Mata Silvi terus mengarah pada luka si prajurit, Silvi bahkan tidak sempat melihat wajah si prajurit.
Setelah tasnya tiba, Silvi memeriksa alat yang di bawanya lalu menghembuskan nafas berat.
"Tidak ada obat bius. Tapi tidak masalah karena kau seorang prajurit maka kau pasti bisa menahan rasa sakitnya." Silvi mengangkat wajahnya untuk melihat si prajurit.
Alando mengangguk mengiakan ucapan Silvi. Bibirnya tersenyum semakin lebar melihat mata terkejut Silvi.
"Bagaimana kau bisa di sini?" Silvi menatap Alando dengan tatapan menyelidik.
"Aku mengikuti seorang buronan. Dia sedang bersembunyi di pulau ini." ucap Alando tenang.
"Bu...buronan?" wajah kepala desa terlihat panik.
"Aku tadi berhasil menembak kedua kakinya, kalian tidak perlu khawatir. Kalian hanya perlu waspada sedikit." Alando terkekeh kecil.
"Aku harus memberitahu wargaku. Aku permisi nona dokter." ucap kepala desa lalu meninggalkan ruangan dan diikuti istrinya, hingga menyisakan Alando dan Silvi.
"Ekhm, nona dokter. Jadi kapan kau akan menjahit lukaku." ucap Alando.
"Dasar jerk sialan. Berani sekali kau menjadi pasien pertamaku. Aku belum pernah menjahit luka sebelumnya."
Silvi mengeluarkan alkohol dan mulai mencuci luka Alando. Lalu tangannya mulai menusuk kulit perut Alando.
"Jangan bergerak." ucap Silvi memperingati.
"Kau sengaja menusuknya dengan keras kan?"
"Ya, aku sengaja. Kau percaya aku akan menjahitnya dengan benar. Aku ini masih pemula dan..."
"Bila aku mati di taganmu, maka itu akan lebih menyenangkan."
"Jerk sinting."
Silvi kembali menjahit perut Alando dengan serius sedangkan Alando terus tersenyum memandangi wajah serius Silvi.
Beberapa menit kemudian, Silvi sudah selesai menutup luka Alando dengan perban.
"Kau tahu, kita bertemu kembali karena takdir. Setidaknya cium aku untuk menyambut pertemuan pertama kita selama beberapa tahun." Ucap Alando yang memandangi Silvi intens.
__ADS_1
Silvi sedang merapikan barang-barangnya. "Kau pikir aku masih sama seperti saat kau tinggalkan? Bagaimana jika aku sudah mencintai pria lain?"