
Silvi dan Rihana berjalan bergandengan, lebih tepatnya Rihana yang menggandeng lengan Silvi. Seperti biasa, Keduanya melewati jalan yang sunyi dengan berjalan kaki sejauh 5 meter untuk tiba di Halte bus. Rihana berjalan dengan bernyanyi-nyanyi kecil dan sesekali Silvi ikut bernyanyi bersama Rihana pada part favoritenya.
Langkah keduanya terhenti ketika sebuah mobil sedan berhenti di depan, menutup jalan keduanya untuk lewat. Seorang pria keluar dengan tatapan jahilnya, menatap Silvi dan Rihana.
Silvi tentu saja mengenali pria ini. Dia adalah Aldric yang menempati ruangan yang sama dengan Hans tadi.
"Masuklah, aku akan mengantar kalian pulang." ucap Aldric dengan suara lembut. Hanya saja, Silvi bisa melihat wajahnya yang penuh dengan siasat.
"Tidak. Aku dan Rihana akan pulang dengan cara seperti biasanya." Tolak Silvi.
Rihana menatap Silvi kesal. Mereka bisa mengirit ongkos jika pulang diantarkan Aldric.
"Kita ikut pulang saja bersamanya. Lumayan, pengiritan ongkos." bisik Rihana pada telinga Silvi.
Silvi menatap Rihana dengan tatapan tidak suka. Rihana akhirnya memilih menurut. Lagipula, pria di hadapan mereka adalah kenalan Silvi. Jadi Rihana berpikir, Silvi lebih pantas untuk memutuskan.
Aldric tersenyum melihat Rihana yang sepertinya tergiur pada tawarannya.
"Ayolah, aku hanya bermaksud baik."
"Kau bisa melakukan itu pada yang lain." Silvi menarik lengan Rihana untuk ikut berjalan bersamanya.
Langkah keduanya terhenti ketika Aldric berdiri menghadang jalan keduanya dengan tubuhnya.
Silvi menatap berang Aldric. Dan Aldric tertawa lebar.
"Tatapanmu membuatku semakin bergairah."
Ucapannya membuat Rihana sedikit tersentak. Rihana baru menyadari, pria di hadapan mereka ternyata memiliki maksud jahat.
Sebelum Silvi mengeluarkan tendangannya. Rihana sudah melempar kepala Aldric dengan batu. Seketika Aldric menggeram kesakitan dengan memegang kepalanya yang mengeluarkan darah. Rihana memanfaatkan kesakitan Aldric dangan berlari dengan lengan Silvi yang ditariknya.
***
"Untung saja ada batu di sekitar kita. Jika tidak, aku tidak tahu bagaimana harus melumpuhkan pria kekar itu." Rihana baru bisa bernafas lega ketika dirinya dan Silvi sudah aman di dalam kamar mereka.
"Bagaimana jika dia geger otak? Batu tadi cukup besar."
"Kau mengkhawatirkannya? Dia berniat jahat pada kita."
__ADS_1
"Bukan itu. Aku hanya berfikir, dia akan mungkin mengambil tindakan hukum."
Ucapan Silvi sukses membuat Rihana murung. Gadis itu, berpikir dan wajahnya mulai menunjukkan kekhawatiran. Silvi yang menyadari kekhawatiran Rihana tak tahu harus berkata apa. Mereka harus siap terhadap kemungkinan terburuk atas kejadian tadi.
Rihana kemudian melangkah menuju ranjang dan mulai memejamkan mata. Silvi tahu Rihana tidak akan tertidur secepat ini, dia pasti sedang berfikir keras. Silvi ingin mengurangi beban pikiran Rihana, tapi rasanya Silvi tidak dapat mengatakan hal apapun yang bisa mengurangi beban Rihana. Silvi akhirnya ikut berbaring di sisi Rihana.
***
Kini keduanya sedang berjalan kaki ke arah kampus dengan Rihana yang menggandeng lengan Silvi seperti biasanya. Yang kurang dari biasanya adalah Rihana tidak bercerita panjang lebar. Gadis yang tidak pernah kehabisan stok pembahasan kini hanya terdiam.
"Jangan terlalu dipikirkan." ucap Silvi.
"Aku harusnya berpikir sebelum melemparnya. Tapi aku tidak menyesal. Aku akan lebih menyesal jika pria itu berhasil menodaimu."
Silvi tertegun. Matanya menatap Rihana dengan tatapan takjub. Rihana memikirkan dirinya hingga mengeyampingkan dirinya sendiri.
Kembali, Silvi tidak bisa berkata banyak hal untuk Rihana. Silvi hanya menggenggam tangan Rihana dalam perjalanan menuju kampus keduanya.
Langkah keduanya terhenti karena mobil yang sama yang menghentikan langkah keduanya semalam sekarang melakukan hal serupa. Aldric keluar dari mobilnya dengan pelipis yang diperban. Kali ini Aldric tidak keluar sendirian. Melainkan dengan seorang pria lima puluhan yang rapi dengan setelannya.
Aldric menghampiri keduanya dan tersenyum mengejek. Rihana mempererat genggaman pada tangan Silvi. Silvi bisa merasakan kekhawatiran Rihana.
"Saya Weiston, kuasa hukun tuan Aldric." Weiston memperkenalkan dirinya.
"Kami ingin menuntut nona Rihana akibat penyerangan yang dilakukan nona Rihana semalam. Kalian bisa melihat, bagaimana kondisi kepala tuan Aldric."
Sontak Rihana melepaskan genggaman pada tangan Silvi dan berlutut pada kaki Aldric. Sungguh Rihana tidak bisa terjerat hukum. Ibunya dan uangnya tidak bisa membantu. Dia hanya seorang gadis miskin yang hidup dengan kerja keras dan beruntung mendapatkan beasiswa di Harvard university. Matanya memerah, air matanya mulai muluncur keluar.
"Aku mohon maafkan aku." ucap Rihan lirih.
"Rihana." Silvi mencoba membangunkan Rihana dari posisi berlututnya. Namun, usahanya gagal. Rihana berisi keras untuk berlutut.
Orang-orang di sekitar mereka mulai memperhatikan mereka. Silvi yang menatap Aldric dengan mata merah menahan amarah. Aldric hanya membalas tatapannya dengan tertawa kecil. Tertawa meremehkan.
"Kau ingin mengambil jalur hukum. Terserah saja. Kami tidak menyerangmu. Kami hanya membela diri." Ucap Silvi.
Rihana menggenggam tangan Silvi dan menggeleng keras. Rihana tahu, tidak semudah itu berhadapan dengan orang kaya di depan hukum.
"Kau ini terlalu angkuh. Untung saja temanmu cukup pintar." Aldric melirik Rihana yang masih menangis bersujud di kakinya.
__ADS_1
"Aku bisa menarik tuntutanku. Hanya dengan satu syarat."
"Apa itu Tuan. Katakan aku akan melakukannya." ucap Rihana antusias.
Aldric tersenyum penuh kemenangan. "Kalian berdua, bekerjalah untukku."
Silvi dan Rihana mengerutkan dahi mereka secara bersamaan.
"Kau jadi modelku." Tunjuk Aldric pada Silvi dan kau jadi asistennya." Tunjuk Aldric pada Rihana.
Aldric sudah memikirkan semua ini semalaman. Meminta Silvi melayani seksnya tidak akan berhasil dengan mudah. Karena itu, dia memilih mengikat keduanya untuk bekerja padanya dan dia bisa dengan mudah menggoda Silvi lalu mendapatkan keinginannya.
Aldric sebenarnya tidak terlalu suka dengan gadis kecil seperti Silvi. Tapi, melihat Hans yang posesif pada Silvi membuat Aldric ingin merasakan Silvi.
Kebetulan sekali perusahaan Aldric sedang mencari model untuk ukuran remaja. Tubuh Silvi dan wajahnya sangat mendukung menjadi model remaja tersebut.
Rihana menatap Silvi mempertanyakan keputusan Silvi. Jujur saja, Rihana pasti setuju dengan syarat yang diajukan Aldric. Tapi, Silvi memiliki hak yang sama untuk memutuskan setuju atau tidaknya dengan syarat Aldric.
"Baiklah. Aku setuju." Silvi membantu Rihana untuk bangun dari posisi berlututnya.
Senyum kemenangan tercetak jelas pada bibir Aldric. Weiston mengeluarkan surat perjanjian dan memperlihatkannya pada Silvi dan Rihana.
"Hah. Kau mempersiapkannya dengan baik." ejek Silvi.
Silvi menandatangani perjanjian yang menurutnya cukup masuk akal dan diikuti oleh Rihana. Rihana tentu senang, karena bukan hanya bekerja cuma-cuma. Namun keduanya juga mendapatkan gaji.
Rihana mengucapkan terima kasih kepada Aldric dan Aldric berlenggang pergi bersama kuasa hukumnya. Mobil Aldric membawa pergi keduanya dari pandangan Silvi dan Rihana.
"Jangan berlutut seperti tadi." ucap Silvi datar. Mereka melanjutkan langkah menuju kampus yang sudah terlihat.
"Aku tidak punya pilihan lain."
"Kau bisa tetap berdiri jika kau mau dan itu adalah pilihan lain selain berlutut."
"Tidak masalah aku berlutut padanya. Dia jadi memberikan keringanan."
Rihana ini polos, naif atau apa. Tadi itu sangat terlihat Aldric memang tidak berniat menyeretnya ke pengadilan. Namun rasanya mengatai Rihana seperti ini tidak pantas. Rihana bahkan mengenyampingkan harga dirinya untuk hal ini.
"Tetap saja. Dia bukan Tuhan, ayah atau Ibumu."
__ADS_1