
Silvi dan Alando dibuat waspada dengan Lobi kantor yang berantakan dan beberapa orang tewas tergeletak di sana. Diantaranya tewas karena tembakan dan sisanya karena tusukan pisau yang tepat mengenai jantung. Bukan hanya anggota organisasi Ranita saja yang menjadi korban, namun ada juga beberapa orang dengan seragam Singa Ganas.
"Singa Ganas menyerang Ranita?" ucap Silvi dengan kening berkerut.
"Ada kekuatan lain di belakang mereka. Tetap di sisiku."
Sesaat setelah Alando berucap demikian, sebuah peluru nyaris mengenai kepala Silvi. Untung saja Alando dengan cekat menarik Silvi dan membawanya bersembunyi di balik dinding.
"Tunggu di sini dan tetap siaga."
Alando kemudian berguling untuk meraih pistol yang ada pada anggota Singa Ganas yang sudah tewas, yang tak jauh darinya. Dalam sekali tarikan, peluru Alando menembus jantung pria yang menembak keduanya dari lantai 2.
Alando kembali ke tempat Silvi yang masih bersembunyi, "pulanglah. Tunggu aku di rumah."
"Tapi..." ucapan Silvi terhenti karena Alando mengecup bibirnya.
"Pulanglah." mata Alando menunjukkan permohonan.
Silvi yang merasa tidak terbiasa dengan kondisi bunuh membunuh memilih mengikuti permintaan Alando. Kemungkinan besar, dia hanya akan menjadi beban. Silvi pun bergegas keluar dari lantai satu menuju mobil.
Alando mengikuti Silvi hingga Silvi berhasil mengendarai mobilnya ke luar dari parkiran kantor organisasi Ranita.
Alando kembali masuk dengan dua pistol korban yang berada di kedua tangannya. Alando memilih menggunakan tangga darurat untuk menyusuri setiap lantai kantor. Di lantai dua ternyata tidak jauh berbeda dengan lantai satu. Hanya saja korbannya lebih sedikit di bandingkan di lantai satu. Tidak ada manusia yang bernyawa di sini. Alando pun melanjutkan langkahnya menuju lantai tiga.
Alando baru berhenti di lantai tujuh setelah melewati lantai 3, 4, 5 dan 6 yang kondisinya sama dengan lantai 1 dan 2. Di lantai tujuh sedang terjadi adegan saling pukul dan adu pisau. Sepertinya pistol yang mereka bawa telah habis pelurunya. Alando menembak beberapa anggota Singa ganas dan menggunakan tinjunya setelah pelurunya habis.
Dalam sekali pukulan, Alando dapat membuat anggota Singa Ganas jatuh tak sadarkan diri. Alando meraih pisau korbannya dan membunuh menggunakan pisau. Dalam sekejap, beberapa anggota Singa Ganas telah mati di tangannya. Alando mendapati wajah anggota Singa Ganas yang dibunuhnya sedikit berbeda dengan wajah orang Indonesia. Apa mereka merekrut anggota dari luar Negeri? Pikir Alando.
Seorang pria menarik Alando dari belakang. Sesenti lagi pisau Alando menyentuh leher pria itu.
"Aku Femas yang dulu mengawal Tono dan Silvi ke club Sowedisa." ucap pria itu dengan satu tarikan nafas.
Untung saja, ada nama Silvi di dalam kalimatnya. Jika tidak, Alando tidak akan peduli dengan apa pun yang diucapkannya.
"Kenapa menarikku?" tanya Alando datar.
"Naiklah ke lantai 12. Mereka sudah di sana." Bagi anggota yang tidak pernah berkunjung ke lantai 12, hanya tahu lantai 12 itu terletak di atas.
"Kau tahu siapa mereka?"
"Aku hanya tahu komunitas Singa Ganas."
"Hm, baiklah." Alando dengan cepat berlari menaiki lift menuju lantai 12. Beruntung, kartu hijau masih stay di dompetnya.
Sesampainya di sana, Alando disambut dengan suasana hening. Tidak ada saling pukul atau sekedar saling menodong senjata. Di sana terlihat Rabella dan 11 dewan organisasi Ranita sedang duduk dengan wajah tegang. Mereka duduk berhadapan dengan 5 pemuka komunitas Singa Ganas yang Alando kenal. Di sekeliling mereka terdapat sekitar 20 orang pengawal dengan seragam Singa Ganas, tapi wajah mereka seperti orang Thailand.
Semua mata menatap Alando dengan wajah terkejut. Rabella bahkan menggeleng kan kepalanya pelan pada Alando seolah mengatakan semua sudah selesai, tidak ada harapan lagi.
__ADS_1
"Alando." seorang pria paruh baya yang dulu mendapatkan lukisan lelang palsu tersenyum kecut pada Alando.
Alando ikut tersenyum kecil, lalu senyum itu hilang menyisakan tetapan tajam pada pemuka komunitas Singa Ganas. "kalian sungguh bernyali menginjakkan kaki di tempat ini."
Alando mengangkat kedua tangannya yang memegang pisau kecil, namun dengan cepat Rabella menurunkan tangannya.
"Kau tidak bisa membuat bunyi yang keras di sini, karena itu dapat memicu ledakan bom." Rabella menunjuk sebuah kotak persegi dengan dagunya.
Alando mengenali bom itu. Bom yang tidak bisa disentuh ketika aktif. Bom ini sangat sensitif. Bom ini bisa saja meledak karena bunyi yang keras. Satu-satunya cara selamat dari bom ini adalah pergi darinya dan membiarkan lantai 12 hancur atau mematikannya dengan remot yang terhubung dengannya.
Alando akhirnya ikut duduk di salah satu kursi kosong. "Jadi apa yang kalian inginkan?"
"Tentu saja organisasi ini." ucap salah satu pemuka komunitas Singa Ganas.
"Dan peta lukisan lelang." sambung rekannya.
"Peta?" Alando pun teringat dengan John Meriqwe si mafia Bangkok. "Ah, Jadi dia kekuatan dibalik nyali besar kalian."
Alando menatap tajam para pengawal mafia Bangkok yang menyamar menjadi anggota Singa Ganas membuat mereka menelan berat saliva mereka. Mereka teringat cara Alando membunuh di club mereka di Bangkok.
"Peta itu tidak ada di sini. Dan jika kalian menginginkan organisasi Ranita, maka kalian harusnya tidak membawa bom untuk menghancurkannya." lanjut Alando.
"Kau benar. Hanya perlu satu tanda tangan nona Rabella, maka bomnya akan mati. Jika tidak, biarkan saja kantor ini hancur." ucap salah satu pemuka komunitas Singa Ganas diikuti dengan tawa rekan-rekannya.
"Apa yang kau tunggu Rabella? Berikan tanda tanganmu sekarang."
Rabella membulatkan matanya, menatap tidak percaya. Bagaimana Alando mengatakan ini dengan mudah. Alando mengangguk, seolah mengatakan percayalah padaku.
"Sekarang matikan bomnya." ucap Alando.
"Tentu saja." Pria paruh baya yang merupakan pemimpin komunitas Singa Ganas meraih ponselnya dan terlihat menelpon seseorang. "Matikan bomnya."
"Dimana petaku?"
"Peta itu tidak ada di sini. Tapi Alando ada di sini dan sebentar lagi petanya akan menjadi milikmu."
"Aku ingin tahu letak petanya."
"Dimana kau menyimpan petanya, Alando?" Pemimpin komunitas Singa Ganas menatap Alando dengan ponsel yang masih berada di telinganya.
"Matikan dulu bomnya." ucap Alando
"Katakan dimana petanya terlebih dahulu."
"10 menit lagi bomnya akan meledak." ucap pengawal mafia yang bertugas menjaga bom. Wajahnya pucat, ada rasa khawatir di sana.
"John. Matikan bomnya sekarang." pemimpin komunitas Singa Ganas kembali fokus dengan sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Aku ingin petaku terlebih dahulu."
"John, kau bisa menghancurkan kantor ini. Ingat! Aku telah mendapatkan Ranita. Ranita telah menjadi milikku. Kau tidak bisa menghancurkannya. Aku akan membantumu mendapatkan peta itu. Aku berjanji. Sekarang matikan bomnya."
"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin petaku."
Wajah pemimpin komunitas Singa Ganas menjadi ketakutan. "Tinggalkan tempat ini." serunya dengan lantang.
Mereka pun bergerak keluar dari lantai 12. Namun tak ada satupun dari mereka yang berhasil keluar dari pintu lantai 12.
"Kau tidak bisa datang dan pergi seenakmu. Ini bukan kandangmu." ucap Alando sinis.
Mereka pun berbalik menatap Alando. Mereka sadar, pintu lantai 12 hanya bisa di buka dengan kartu hijau yang hanya dimiliki oleh Alando dan 12 dewan organisasi Ranita yang menatap Alando, seolah meminta Alando membuat keputusan dengan situasi ini.
Pemimpin komunitas Singa Ganas mendekat pada Alando. "Buka pintunya! Jika tidak, kita semua akan mati di tempat ini."
"Atau kau bisa memberitahu dimna petanya berada pada John." lanjutnya.
"Berikan surat penyerahan kekuasaan itu." ucap Alando dengan mata tajamnya.
Pemimpin komunitas Singa Ganas terlihat menolak memberikan surat kuasa yang berada di tangannya. Beberapa detik berlalu, namun tidak ada tanda-tanda ia akan memberikan surat kuasa kepemilikan organisasi Ranita pada Alando.
"Cepatlah. 7 menit lagi." teriak pengawal penjaga bom.
Dengan cepat pemimpin komunitas Singa Ganas memberikan surat kuasanya pada Alando. Alando pun merobek surat itu dan membuangnya pada tong sampah. "Sambungkan panggilan dengan John, aku akan bicara."
Dengan cepat pemimpin Singa Ganas menyambungkan panggilan dengan John dan memberikannya pada Alando.
"Hai Al. Lama tak berjumpa."
"Matikan bomnya jika kau masih menginginkan peta itu." ucap Alando yang mendapatkan tarikan nafas lega dari semua orang di dalam lantai 12.
"Peta memang tujuan utamaku, dan tujuan keduaku adalah menghancurkan organisasi Ranita dan Singa Ganas. Aku benci punya saingan."
"Jika gedung ini meledak, maka kau tidak akan mendapatkan peta itu. Ingat! Aku satu-satunya orang yang tahu letak peta itu."
"Kau benar. Tapi kau akan mengatakannya di sisa-sisa menit terakhirmu."
Bagaimana John bisa berpikir seperti ini? Apa dia memiliki kelemahanku? Alando mengernyitkan dahinya dan wajah semua orang di sana menjadi pucat.
"Kau penasaran siapa yang ku miliki? Bicaralah dengannya."
"*Ayo bicara."
PLAKK
"Dasar wanita keras kepala. Bicaralah atau aku akan memperkosamu."
__ADS_1
"Dasar ******** pengecut." umpat gadis itu*.
Seketika Alando menegang. Wajahnya terlihat merah. Rasa marah dan khawatir bercampur menjadi satu. Tangan Alando terkepal kuat. "Lepaskan Silvi atau aku akan membunuhmu."