
****Sorry guys, lama. Aku lagi nggak punya kesempatan buat nulis.
Alando_Silvi comeback. Semoga masih ada yang mau baca yaa**.
_ _ _
Silvi kembali ke rumah sakit dengan segera setelah mengompres mata bengkaknya. Dia juga telah memoles matanya agar telihat fresh. Tentu saja, Silvi tidak ingin Alando melihat mata bengkaknya dan mengatainya cengeng.
Silvi membuka pintu kamar Alando dan melihat Alando yang kini dengan posisi setengah berbaring, bersandar pada bantal yang disusun di kepala ranjang. Rupanya, Silvi terlambat. Alando sudah sadar.
"Dari mana kau?" ucap Alando dengan tatapan tajam pada Silvi.
"Aku dari rumah." jawab Silvi singkat.
"Kenapa lama sekali? Rangga bilang kau pergi dari jm 11 dan lihat_" Alando melirik pergelangan tangan kiri Silvi yang bertengger jam tangan di sana. "Kau kembali ketika hari gelap. Apa yang kau lakukan selama itu di rumah?"
"Hei. Kau itu pasien yang baru siuman. Kenapa kau banyak mengomel?"
Silvi berjalan menyimpan tasnya di sofa. Di sana ada Rangga yang sedang memperhatikan keduanya. Merasa keberadaannya tidak dianggap, Rangga berinisiatif untuk keluar.
"Ehm. Sebaiknya aku pergi saja." ucap Rangga yang dengan cepat keluar dari kamar Alando.
Silvi dan Alando tidak menahan Rangga. Mereka menatap punggung Rangga yang kini telah menghilang dengan pintu yang telah ditutupnya dari luar.
"Kemarilah! Duduk di sini." ucap Alando masih dengan wajah kesalnya.
Silvi pun menurut. Dia duduk di tempat yang Alando maksud, yaitu sisi ranjang Alando.
"Apa yang kau lakukan di rumah?" kali ini Alando mencoba menahan rasa kesalnya. Dia berbicara sedikit lebih lembut.
"Aku mandi."
"Kau mandi selama itu?" nada suara Alando kembali sedikit meninggi. Rupanya kekesalannya belum hilang.
"Ya, memangnya kenapa? Ada apa denganmu? Kenapa kau mempermasalahkan aku lama di rumah?"
"Tentu saja itu masalah buatku. Aku siuman dan mendapati wajah Rangga. Dimana gadis yang menyuruhku bangun? Yang katanya merindukan senyumku, merindukan tatapan mesumku, yang_ Hmpp."
Silvi menutup mulut Alando dengan tangannya. "Kau mendengarnya?" ucap Silvi dengan mata melotot.
"Atau kak Rangga yang mendengarnya dan memberitahumu?" tanya Silvi lagi.
__ADS_1
Alando melepaskan tangan Silvi dari mulutnya, "aku mendengar semua hal yang kau katakan. Kau juga bilang aku mengatakan cinta dan tertidur begitu lama. Seharusnya aku mengatakannya lalu menci..." mulut Alando kembali ditutup paksa oleh tangan Silvi.
"Kau terlalu banyak bermimpi. Aku tidak pernah mengatakan hal itu." ucap Silvi dengan senyum canggung.
"Jadi jam berapa kau sadar? Apa kau sudah makan?" Silvi mencoba mengalihkan pembahasan.
"Jam 1 dan aku tadi makan sedikit. Makanan rumah sakit tidak enak. Kau tidak sedang memberi ku kejutan kan? Kau lama di rumah karena kau memasakkan sesuatu untukku kan? Ah, sebaiknya kau keluarkan saja masakanmu itu. Aku akan memakannya tanpa komentar."
Ucapan menggebu-gebu Alando hanya mendapat tatapan datar Silvi.
"Pasien baru siuman sepertimu hanya boleh makan bubur. Rumah sakit memberimu bubur, jadi untuk apa aku masak bubur lagi. Sudahlah, kau terlalu banyak mengomel. Lebih baik kau istirahat saja lagi."
Silvi merapikan bantal Alando, Alando mengikuti arahan Silvi hingga ia berada di posisi berbaring. Silvi menarik selimut untuk menutupi tubuh Alando, lalu melangkah menuju sofa yang menjadi tempat tidurnya sebulan ini, namun Alando menahan tangannya.
"Tidurlah di sampingku."
"Tidak. Aku tidur di sofa saja."
"Kau sangat keras kepala, tidurlah di sini."
"Tidak. Aku akan tidur di sofa."
Silvi mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Alando. Namun, Alando seakan sengaja menggenggam tangan dengan erat.
"Kalau kau tidur di sofa, maka aku akan ikut pindah tidur di sofa bersamamu."
"Kau!"
Silvi akhirnya mengalah dan tidur di samping Alando, di ranjang Alando. Silvi juga mengalah ketika Alando memaksa menjadikan lengannya bantal kepala oleh Silvi. Alando memeluk Silvi yang menghadap ke arahnya. Lalu tangannya naik mengusap bawah mata Silvi.
"Maaf membuatmu menjadi gadis super cengeng."
Silvi tersenyum kecil lalu mendesah pelan, "kau mendengar segalanya."
"Aku mendengar apa yang tidak ku ketahui dari Rangga juga. Kau yang melakukan operasiku. Kau sangat hebat. Aku bangga padamu." Alando mengecup singkat kening Silvi.
"Kau alasan aku menjadi hebat."
Alando tidak tahan mendengar penuturan Silvi dan mata Silvi yang menatapnya hangat. Ia pun mengecup bibir Silvi.
"Rabella tadi sempat kemari." ucap Alando
__ADS_1
"Dan dia mengatakan segalanya." lanjut Alando.
Alando memeluk Silvi erat, "sekarang kau tidak akan takut lagi. Kau tidak perlu membunuh siapa pun lagi. Ini semua salahku. Aku yang menyuruhmu untuk pulang ke rumah dan kau mendapati bahaya yang lebih besar daripada di kantor organisasi Ranita."
Silvi menggeleng dalam pelukan Alando. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi Alando kembali bersuara, hingga Silvi diam sebagai pendengar.
"Aku akan menjagamu dengan baik. Aku akan selalu ada di sisimu dan menghadang semua bahaya. Hingga tidak akan ada bahaya apapun lagi yang membuatmu terluka, gemetar atau pun takut. Kau juga tidak boleh bilang akan menggantikan nyawamu dengan nyawaku. Kau pikir bagaimana aku akan hidup? Aku akan melindungimu. Melindungimu selamanya."
Alando melepaskan pelukannya pada Silvi. Ia menatap manik mata Silvi yang berkaca-kaca. "Aku mencintaimu Silvi Miller."
Alando lalu ******* bibir Silvi. Tangannya bergerak kesana-kemari mencari kesenangannya. Hingga Silvi tersadar, lalu melepaskan tangan Alando.
"Kau baru siuman. Keluarlah dari rumah sakit dan kita lakukan semuanya di rumah."
Alando hanya terkekeh dan menghujani wajah Silvi dengan ciuman.
***
Silvi melirik Alando yang kini duduk di sampingnya. Mereka sedang berada di taksi, perjalanan dari rumah sakit ke rumah. Hari ini adalah sebuah kabar baik, karena setelah 1 bulan dirawat di rumah sakit, Alando akhirnya diperboleh kan pulang.
Alando setelah siuman sangatlah manja. Selama di rumah sakit, harus Silvi yang menyuapinya. Tidak mau ke kamar mandi jika bukan Silvi yang mengantarnya. Ganti pakaian saja, harus Silvi yang membantunya. Tidur pun tidak mau jika tidak bersama Silvi. Semua hal harus dengan Silvi di sampingnya.
Sekarang saja, Alando sedang menyandarkan kepalanya pada pundak Silvi dengan kedua tangannya yang melingkar di pinggang Silvi.
"Hei, bisa menyingkir dariku? Supir taksi terus menatap kita?" Jujur saja, Silvi merasa resah dilirik secara terus menerus oleh supir taksi.
"Biarkan saja. Dia hanya iri." Alando mempererat pelukannya pada pinggang Silvi dan sesekeli mengendus leher Silvi.
"Alando."
"Hm."
"Jangan begini, aku malu."
"Aku tidak mau. Kau sudah berjanji akan menurutiku jika aku bisa tahan tidak melahapmu di rumah sakit."
"Iya, tapi apa kau tidak malu dilihat seperti itu oleh supir taxsi?"
"Aku tidak peduli."
Tangan Alando kini masuk dan penyentuh punggung Silvi. Tangannya bergerak naik turun mengusap punggung Silvi.
__ADS_1
"Hentikan!"
Alando tersenyum kecil. Ia mengeluarkan tangannya dan kembali memeluk posesif pinggang Silvi, "Kau sangat mudah tergoda."