Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
Extra part ~ Bakso


__ADS_3

"Aku ingin makan bakso."


"Dimana kita mendapatkan bakso di tempat ini."


Pasukan yang Alando pimpin sedang menjaga perbatasan wilayah yang cukup jauh dari desa. Di sana bahkan mereka hidup dengan tenda dan sebulan sekali Alando baru akan pergi bersama kawannya ke desa untuk mendapatkan jaringan, mengirim laporannya.


Sebagai dokter tentara, tentu saja Silvi harus stay di sini. Ini sudah bulan ketiga Silvi di sini dan untuk pertama kalinya Silvi merengek meminta bakso pada Alando, suaminya.


"Pokoknya aku ingin bakso sekarang. Dapatkan bakso untukku atau aku akan membencimu. Aku tidak mau melihatmu lagi."


"Kau ini kenapa? Baiklah besok kita akan pergi mencari bakso."


"Apa aku bilang besok? Aku ingin sekarang."


"Sayang. Matahari sudah terbenam. Besok saja ya?"


"Tidak." Silvi bersidekap. Ia memandang ke arah lain, tidak mau melihat Alando.


"Kenapa kau jadi tidak realistis seperti ini?"


Silvi hanya diam. Wajahnya cemberut. Alando mengusap kepalanya. Silvi dengan cepat menepisnya.


"Hei, istriku sayang. Kau kenapa?"


Alando memeluk Silvi erat. Silvi sekuat tenaga melepaskan pelukan Alando. Namun Alando tetaplah Alando, pria yang tidak bisa Silvi kalahkan jika berisikeras. Tiba-tiba cairan bening membasahi lengan Alando. Alando segera meregangkan pelukannya dan mengarahkan wajah Silvi ke arahnya.


"Aku minta maaf. Jangan menangis. Apa kau sungguh ingin makan bakso?"


Silvi mengangguk


"Baiklah. Aku siapkan mobil dan kita akan pergi mencari bakso itu hingga ketemu."


"Aku tidak igin kemanapun. Kau saja yang pergi."


"Baiklah. Aku saja yang pergi. Jangan menangis lagi."


Alando mengecup kedua pipi Silvi, lalu bergegas mencari bakso.


Hampir tengah malam, Alando baru kembali. Ia bergegas memanasi bakso yang dibawanya. Setelah itu, ia masuk ke dalam tenda khusus untuknya dan Silvi.


Silvi sedang berbaring, terlihat sudah tidur. Alando mengusap rambutnya dengan sayang lalu membangunkannya. Silvi membuka matanya dan mendapati senyum Alando.


"Baksonya sudah datang. Sekarang makanlah."


Silvi bangun dan duduk. Setelah melihat bakso di tangan Alando, rasa mual langsung melandanya. Ia turun dari ranjang dan mulai muntah. Alando segera ikut berjongkok. Ia mengusap tengkuk Silvi, memberinya air mineral. Silvi pun meneguknya.


Alando kembali menyodorkan bakso yang dicarinya susah payah. Ia harus sampai ke kota dulu dan memaksa serta membayar mahal tukang bakso untuk bakso ini. Jadi ia berharap akan melihat Silvi melahap bakso ini dengan bahagia.


"Buang bakso itu. Aromanya membuatku ingin muntah."

__ADS_1


Alando terkesiap. Dengan berat hati ia membawa bakso itu keluar dan melahapnya sendiri. Setelah selesai, ia kembali masuk.


"Apa kau sudah makan malam?"


Huek


Silvi kembali mual. "Kenapa aroma mulutmu sama seperti bakso?"


Alando segera menutup mulutnya dan bergegas ke kamar mandi untuk menggosok gigi.


"Kau sudah makan malam?"


Silvi menggeleng


"Aku buatkan makan malam ya."


"Aku ingin mie ayam."


"Sayang. Jangan minta sesuatu yang sulit dicari. Lebih baik kau makan bubur."


"Tidak mau."


"Baiklah. Kau ingin makan apa? Makanan yang bisa dibuat di dapur kita."


"Apa saja yang bisa dibuat di dapur kita?"


Alando menggendong Silvi, membawanya di dapur. Ia mendudukkan Silvi di sebuah kursi. Lalu memperlihatkan bahan yang ada serta menjelaskan ini itu yang dapat dibuatnya.


Alando menurut. Ia segera menyajikannya untuk Silvi dan syukurlah, Silvi memakannya dengan tenang.


"Sekarang pergilah gosok gigimu dan kembali tidur"


"Besok saja, aku malas mengosok gigi malam ini."


"Hei, kau itu seorang dokter. Bagaimana bisa kau mengabaikan sikat gigi."


"Aku tidak mau sikat gigi."


"Jangan malas!"


Alando menggendong Silvi dan membawanya ke kamar mandi. Silvi malah menangis di gendongan Alando.


"Kau menangis lagi? Baiklah. Besok saja gosok giginya."


Alando membawa Silvi kembali ke ranjang. "Tidurlah."


"Aku ingin dipeluk sepanjang malam."


"Hm baiklah."

__ADS_1


"Aku ingin kau bernyanyi untukku."


"Kau ingin lagu apa?"


"Bintang kecil."


"Bintang kecil? Lagu apa itu?"


Silvi mencotohkan beberapa bait. "Lanjutkan?"


"Aku tidak tahu."


Silvi menatapnya dengan marah. Ia melepaskan pelukannya dari Alando. "Keluar! Aku ingin tidur sendiri."


"Tapi---"


"Keluar!"


"Bukankah kau ingin dipeluk?"


"Aku sudah tidak mau. Kaluar sekarang!"


Alando belum beranjak.


"Keluar atau aku yang keluar."


"Baiklah."


Mau tidak mau, malam ini Alando harus tidur tanpa hangatnya tubuh Silvi. Bahkan dengan hangat selimutpun tidak.


***


"Sayang, kau sudah bangun?"


Alando masuk ke dalam tenda dan mendapati Silvi tersenyum dengan begitu lebar menatap Alando.


"Kemarilah. Duduk di sini!" Silvi menepuk sisi ranjang di sampingnya.


Alando menurut. "Ada apa?"


Silvi memberikan tespack di tangannya pada Alando. Mata Alando membulat, lalu tersenyum dengan sangat lebar. Ia memeluk Silvi dan menghujani wajah Silvi dengan kecupan.


"Aku mencintaimu."


Alando tidak tahu bagaimana cara menghadapi wanita hamil dengan mudah. karena itu ia akan membeli semua bahan makanan yang kemungkinan Silvi ingin memakannya. Ia juga akan mempelajari lagu anak-anak untuk berjaga-jaga, jika Silvi memintanya untuk menyanyikan salah satu.


***


Hai. Baca cerita baru aku yah

__ADS_1


'Love Many Versions'


__ADS_2