
Sore itu, Silvi sudah duduk pada salah satu kursi dalam ruangan rapat. Di sampingnya ada Robert Candrawan dan 6 siswa lain bersama pendampingnya masing-masing. Di sana mereka duduk berdiskusi dengan 2 orang utusan negara.
"Silahkan laporkan apa yang kalian ketahui."
Ucap salah satu perwakilan negara.
Seorang siswa pria mulai bercerita berbagai hal tentang barang lelang. Penjelasannya cukup mendetail tentang 3 barang lelang tersebut dan penjelasannya berhenti pada lukisan lelang yang berhasil dicuri.
Silvi melihat wajah kedua perwakilan negara tidak sama sekali terkejut, menandakan mereka sudah mengetahui lukisan lelang tersebut dicuri. Terlebih lagi, semua penjelasan mendetail yang sudah dijelaskan tidak sama sekali menarik perhatian keduanya. Sampai akhirnya Silvi mengerti yang dicari 2 perwakilan negara tersebut melalui pertanyaan yang mereka ajukan.
"Siapa yang membeli barang lelang tersebut?"
Semua narasumber terdiam. Tidak ada yang tahu siapa yang membeli barang lelang tersebut. Jadi itu inti yang harus diketahui para perwakilan sekolah. Kenapa tidak disebutkan dari awal.
"1 pertanyaan lagi. Apa kalian mengenal seseorang di tempat lelang?"
"Ah. Sudahlah. Tidak ada yang kalian ketahui. Apalagi jika aku menanyakan orang yang mencuri lukisan. Itu tidak akan sampai pada pikiran siswa SMA." Utusan negara yang lain ikut menimpali.
Silvi menarik kesimpulan informasi yang diinginkan perwakilan negara. Silvi bisa melihat tidak ada keseriusan untuk pertanyaan yang mereka ajukan.
"Apa mereka menanyakan ini untuk menunjukkan jika lelang yang di lakukan tidak dapat di deteksi pihak luar? Apa mereka mengutus kami untuk memastikan hal itu?"
kedua perwakilan negara meninggalkan pertemuan. Para kepala sekolah mulai berbincang 1 sama lain dan beberapa siswa mulai berkenalan, Kecuali Silvi yang hanya terdiam.
"Ayah bilang, lukisan itu ada di tagan yang aman. Namun aman yang dimaksud ayah sepertinya bukan di tangan negara." Silvi bergulat dengan pikirannya sendiri hingga seseorang mengajaknya berkenalan.
"Hai. Namaku Ronald Miller. Kau bisa memanggilku Ronald. Aku dari kota Turin."
Silvi mengingat pria ini yang menjelaskan 3 benda lelang dengan mendetail. Jika Silvi yang diberi kesempatan untuk menjelaskan. Maka Silvi akan jatuh pada penjelasan lukisan lelang.
"Silvi Selvig dari SMA Candrawan." Ucap Silvi dengan wajah datar.
"Aku mengingatmu. Aku melihatmu di acara lelang. Kau memakai gaun merah dengan atasan blazer hitam. Aku saat itu yakin kau siswa SMA." Ronald tersenyum lembut.
Silvi hanya menanggapi dengan senyum tipis di bibirnya.
Menyadari ketidak tertarikan Silvi untuk mengobrol, Ronald merasa malu.
"Ini pertama kalinya ada orang yang tidak tertarik bicara denganku." Senyum lembut Ronald berganti menjadi senyum kecut.
"Hai. Aku Andita Reihand. Aku dari kota Kilomb. Tadi itu penjelasanmu sangat mendetail dan itu keren." Seorang gadis cantik ikut bergabung dengan Silvi dan Ronald.
"Aku Ronald. Ronald Miller." ucap Ronald.
Silvi meninggalkan 2 orang yang mulai bercakap tersebut. Silvi kemudian meminta izin pada Robert untuk pulang lebih dulu dan Robert mengizinkannya karena pertemuan ini juga diadakan di kota Andolo. Jadi, Robert tidak perlu mengkhawatirkan keamanan Silvi.
__ADS_1
Silvi keluar dari hotel dan Rabella langsung mengarahkan Silvi menuju mobil.
"Mau ke mana nona?" Tanya pak supir.
"Dimana ayahku?"
"Di kantor Organisasi Ranita." Jawab Rabella.
"Kita ke sana."
"Baik nona."
Mobil pun melaju menuju kantor Organisasi Ranita.
***
Silvi memasuki gedung organisasi Ranita. Ini memang bukan pertama kalinya Silvi memasuki gedung ini. Anggota organisasi Ranita mengenalnya sebagai salah satu putri klien mereka. Identitas Silvi cukup tertutup hingga yang mengetahui status aslinya hanyalah para Dewan organisasi Ranita dan Rabella yang menjadi pengawal yang selalu mengawasinya 24 jam.
Silvi melangkahkan kakinya dan meminta bertemu dengan Brian pada resepsionis.
"Maaf nona. Ketua sedang berada di lantai 12 dan tidak dapat diganggu." kata resepsionis wanita itu dengan sopan.
Wanita itu berusia sekitar 25-29 tahun dengan wajah cantik dan tubuh yang ideal. Wanita ini feminim dan memiliki suara yang lembut. Dibalik semua tentang dirinya, wanita ini memiliki kemampuan bela diri yang cukup untuk melindungi dirinya. Hanya saja itu akan digunakannya bila diperlukan.
"Katakan, Silvi ingin bertemu. Darurat!"
Tidak lama kemudian. Resepsionis itu maju dan mengarahkan Silvi menuju ruangan Brian. Rabella maju dan menggantikan resepsionis tersebut setelah keduanya memasuki lift.
Tidak lama, lift berhenti pada angka 10. Silvi keluar dengan diikuti Rabella menuju ruangan Brian. Sepertinya Brian baru saja tiba di ruangannya karena ketiganya bertemu di depan pintu ruangan Brian.
'Kapan aku bisa melihat lantai 12?" Silvi kesal karena ayahnya tidak mengajaknya bertemu di lantai 12, tapi mengajaknya bertemu di ruangan Brian yang terletak di lantai 10.
Brian menuntun putrinya untuk memasuki ruangannya dan Rabella menunggu di luar pintu ruangan Brian.
Kini hanya ada Silvi dan Brian di ruangan Brian. Silvi mulai menceritakan pertemuan dengan perwakilan negara dan menutup ceritanya dengan kesimpulan yang berhasil ditariknya. Brian tersenyum dan menggapi cerita Silvi degan santai.
"Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan itu."
"Ayah. Aku ingin tahu yang ayah ketahui. Sudah saatnya ayah percaya padaku."
"Kapan kau ujian?"
"Kenapa ayah mengubah topik pembicaraan?"
"Karena ayah akan membawamu ke dunia pengawal jika kau sudah lulus sekolah."
__ADS_1
"Hm. Ayah janji?"
"Tentu."
"Hm. Baiklah. Aku akan pulang sekarang."
Silvi mencium punggung tangan ayahnya dan melangkah keluar. Namun langkahnya terhenti sebelum berhasil meraih handle pintu.
"Siapa pemilik jaket itu?"
Silvi gugup. Dia berbalik badan dan mendapati ayahnya menatapnya dengan dingin.
"Jaket apa yang ayah maksud?"
"Kau tahu dan jangan buat ayah menjelaskan sesuatu yang sudah kau ketahui."
"Itu..." Silvi bungkam
"Apa itu milik kekasihmu?"
"Heh? Bukan. Bukan ayah"
"Ini pertama kalinya kau gugup di depan ayah. Kau tidak ingin mengatakan yang sejujurnya?"
"Itu. Aku tidak tahu itu punya siapa."
Brian tersenyum. "Bagaimana bisa kau pacaran tanpa sepengetahuan ayah?"
"Aku tidak pacaran. Rabella selalu bersamaku setiap saat. Bagaimana aku bisa pacaran diam-diam."
"Apa kau punya ponsel lain?" Brian mulai berpikir ponsel Silvi telah disadapnya. Silvi mungkin punya ponsel lain untuk menghubungi kekasihnya.
"Tidak ayah. Aku sungguh tidak mengenal pemilik jaket itu. Aku juga tidak tahu kenapa ada jaket itu di dalam barang-barangku." Bohong Silvi.
"Hm. Kau tidak akan jujur pada ayah. Pulanglah. Ayah akan tahu siapa pria itu tanpa kau beri tahu"
"Ayah, benarkah ayah bisa menemukan orang hanya dari jaketnya?" Silvi bertanya dengan mata tidak percaya.
"Ya"
"Jika kau menemukannya. Tolong beri tahu aku. Aku juga ingin memukulnya."
"Apa pria itu menghianati putri ayah. Siapa dia? Berani sekali?"
"Heh. Ayah ini. Aku pulang saja."
__ADS_1
Silvi keluar dari ruangan Brian. Sementara Brian larut dalam pikirannya. Dia mengepalkan tangannya geram. Akan sulit menemukan pria itu jika Silvi tidak mau mengungkapkan identitasnya. Apalagi sepertinya Silvi pun tidak tahu keberadaan pria tersebut. Jika bukan dari Silvi, bagaimana Brian bisa menemukan pria ini.
"Berani sekali dia mengkhianati putriku."