
Keesokan harinya Silvi tetap datang untuk berlatih. Silvi tidak menemukan Alando di tempat fitness umum. Gadis itu kemudian memasuki tempat fitness khusus yang terdapat dalam ruangan VIP. Matanya menemukan Alando yang sedang melakukan pemanasan.
Tanpa arahan dari Alando, Silvi melakukan pemanasan dan melanjutkannya dengan mengangkat Barbel. Walau sedikit kesulitan, Silvi tidak sama sekali menyerah hingga ia terbiasa dengan barbel 2 kilogram itu.
Alando menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Alando kebingungan untuk memulai pembicaraan.
Tiba-tiba, seorang gadis muncul dan tersenyum pada Alando. "Sudah ku duga, kau di sini."
Silvi menatap sinis gadis itu. Silvi mengingat dengan jelas, dia adalah wanita kemarin yang terus mengekori Alando yang berolahraga.
"Hm. Namaku Jessi." gadis itu mengulurkan tangannya pada Alando.
"Aku Alan." Alando menerima uluran tangan itu dan Silvi memutar bola matanya malas.
Alando tersenyum melihat ketidaksenangan Silvi akan kehadiran Jessi. Alando seperti mendapat hidayah.
"Jessi. Apa yang kau lakukan di sini?" Ucap Alando.
"Aku ingin berolahraga. Sepertinya kak Alan tidak suka dengan istri pemalas. Jadi ku pikir..." Jessi menggantung kalimatnya.
Alando dan Silvi mengerti arah pembicaran Jessi. Alando tersenyum puas. Rencanya akan berhasil karena situasi yang berpihak padanya.
"Aku akan mengangkat Barbel." Jessi menghampiri Barbel di hadapannya dan mulai mengangkatnya.
"Wah. Kau pasti sangat rajin berolahraga." ucap Alando.
"Iya. Aku suka berolahraga. Bahkan jika aku hamil nanti aku akan tetap berolahraga."
Alando berusaha tersenyum walau sebenarnya ia merasa ngeri dengan ucapan Jessi yang jelas-jelas menyindir Silvi. Jujur saja, Jessi membuat Alando kehilangan kenyamanannya.
Silvi menghentikan latihannya. Gadis itu memilih berbaring di matras dan memainkan ponselnya.
"Aku akan mengajarimu."
"Tanganmu harus seperti ini."
"Apa kau lelah?"
Alando memberi Jessi perhatian tapi matanya terus mengarah pada Silvi.
Silvi menghentikan aktivas bersama ponselnya. Gadis itu kemudian menatap bengis Alando.
"Hei Jerk. Apa kau masih pelatihku?"
"Tentu. Kemari dan lanjutkan latihanmu."
__ADS_1
"Aku ingin berhenti mengangkat beban. Kau bisa melatihku dasar Taekwondo sekarang."
"Hm. Tidak masalah. Kemari biar ku ajarkan padamu."
"Apa aku boleh ikut kak Alan?" Jessi menatap Alando dengan wajah yang dibuat seimut mungkin.
"Tentu. Kau boleh ikut latihan selama yang kau mau. Setelah itu, tentu pelatih ingin melihat siapa muridnya yang paling berbakat bukan?" ucap Silvi tanpa mengalihkan tatapannya dari Jessi.
Alando jelas paham apa yang diinginkan Silvi. Gadis itu sedang terbakar api cemburu. Sepertinya tidak buruk. Jessi juga akan menjadi motivasi untuk Silvi. Alando kemudian bersedia melatih Taekwondo dasar pada Silvi dan Jessi.
Selama latihan, Alando hanya fokus pada gerakan Silvi dan menaggapi malas Jessi yang terus bertanya padanya untuk mendapat perhatian Alando. Alando bisa melihat kesungguhan Silvi dalam berlatih.
Hari berganti minggu hingga tepat 1 bulan kemudian. Silvi menantang Jessi untuk beradu kemampuan. Alando yang mengerti apa yang sedang direncanakan Silvi ingin menghentikan Jessi untuk menerima tawaran Silvi. Alando paham betul, Silvi pasti akan keluar sebagai pemenang. Hanya saja, Alando khawatir Jessi akan berakhir di rumah sakit.
"Apa hadiahku jika aku menang?" Tanya Jessi.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Silvi.
"Kau ceraikan kak Alan."
Silvi tertawa mengejek. "Tentu. Aku bahkan akan menggugurkan bayiku dan memaksanya menikahimu."
"Sungguh?" Jessi tidak dapat mempercayai ucapan Silvi.
"Kau bisa merekam suaraku dan menuntutku jika aku ingkar janji."
"Tidak ada. Aku hanya ingin bertanding denganmu saja."
"A..apa?" Jessi masih tidak dapat percaya.
"Kemarilah. Aku sudah tidak sabar mempraktikan ajaran pelatih kita." ucap Silvi yang sudah berdiri di arena pertandingan.
"Apa ini yang namanya mengidam?" Jessi menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan bersiap pada posisinya.
Alando hanya pasrah melihat kegigihan Silvi dan Jessi yang begitu bodoh. Seorang senior yang berada pada sabuk merah yang menjadi wasit kali ini.
Ketiaka wasit mengatakan 'pertandingan mulai'. Keduanya mulai memasang kuda-kuda dan Silvi yang lebih dulu menyerang menggunakan kaki kananya. Jessi berusaha menahan serangan Silvi, namun dengan cekatan Silvi mengangkat kaki kirinya dan dengan gerakan berputar di udara Silvi menedang kepala Jessi lalu mendarat sempurna dengan kedua kakinya. Hidung Jessi mengeluarkan darah segar.
Walau dengan hidung berdarah, Jessi masih maju dan menyerang Silvi. Silvi menangkis pukulan Jessi dengan tangannya tanpa kesulitan berarti. Ketika mendapat celah, Silvi mononjokkan pukulannya kembali pada kepala Jessi. Pukulan itu berhasil membuat Jessi tidak sadarkan diri. Wasit mengumumkan kemenangan Silvi dan membawa Jessi pada ruang perawatan.
Silvi menatap Alando dengan tatapan tajam. "Maaf melukai target barumu jerk." Silvi kemudian melangkah keluar dari kantor organisasi Ranita.
Silvi siap mengemudikan mobilnya dan tuba-tiba Alando duduk mengisi kursi penumpang di sisi Silvi.
"Apa yang kau lakukan?" Silvi mematikan mesin mobilnya yang barus saja dinyalakannya.
__ADS_1
"Kau harus merayakan kemenanganmu bukan? Pelatihmu adalah orang yang tepat untuk ikut merayakannya."
"Hm. Aku pikir kau akan membalas kekalahan gadis incaranmu?" Silvi melajukan mobilnya.
"Aku tidak pernah mengincarnya."
"Kenapa? Kau sudah berhasil menciumnya? Jadi sekarang kau membuangnya?" mata Silvi menunjukkan kemarahan tapi pandangannya tetap fokus melajukan mobilnya.
Mendengar ucapan Silvi, Alando baru menyadari kesalahan terbesarnya karena merayu gadis lain sehari setelah mencium Silvi.
"Maafkan aku. Tapi aku tidak pernah menyukai Jessi."
"Aku tidak peduli jika kau sungguh menyukainya."
"Hei. Cemburumu itu sangat berlebihan."
"Kenapa aku harus cemburu? Aku tidak menyukaimu."
"Benarkah? Lalu kenapa kau menghajar Jessi sekeras tadi?"
"Aku tidak berkewajiban menjawab pertanyaanmu."
"Kau marah karena aku menciummu dan mendekati Jessi. Kau cemburu pada Jessi. Kau seharusnya mengatakan yang sejujurnya. Aku akan bertanggungjawab atas ciuman itu."
"Kau ingin bertanggungjawab? Apa yang akan terjadi pada bibirku? Semuanya akan kembali seperti sebelum kau cium?" Tanpa sadar, Silvi menambah kecepatan mobilnya.
"Hei. Hentikan mobilnya. Kau ingin mati bersamaku hanya gara-gara ciuman itu."
"Hentikan mobilnya atau aku akan kembali menciummu." Ancam Alando.
Ancaman Alando berhasil membuat Silvi menghentikan mobilnya.
"Kau ingin menciumku? Lagi?" Silvi menatap Alando dengan tatapan murka.
Silvi mengarahkan tinjunya pada wajah Alando dan Alando menangkap tangan Silvi tanpa kesulitan.
Seakan Djavu, kejadian yang sama terulang kembali. Alando mengunci pergerakan Silvi dan mencium lembut bibir Silvi.
Hanya kali ini ada sedikit berbeda, karena tempat duduk keduanya yang bergantian dan kali ini Silvi sengaja membuka mulutnya seolah menyambut ciuman panas Alando.
Tentu saja, Alando dengan senang hati memasukan lidahnya untuk mengeksplor mulut Silvi. Dengan cepat Silvi menggigit lidah Alando yang tepat di dalam mulutnya.
Keduanya membuang air ludah yang penuh darah. Darah dari lidah Alando.
Alando tertawa terbahak-bahak menanggapi lidahnya yang terluka. "Aku seharusnya mengerti dari awal. Hanya saja bibirmu sangat nikmat sampai aku mengabaikan pemikiran logisku."
__ADS_1
Silvi ikut tersenyum melihat keberhasilan rencananya. Keduanya bertatapan dan kembali tertawa. Tak disangka ciuman yang menyisakan luka pada lidah Alando berhasil membuat baik hubungan keduanya.