
"Terima kasih." Silvi meletakkan kartu hijau milik Alando pada tangan Alando.
"Hm. Kau banyak berhutang padaku. Kemarin kau berjanji akan mentraktirku makan. Kau bahkan belum mentraktir pelatihmu yang berhasil membuatmu menang pertandingan. Dan sekarang kau mengembalikan kartuku tanpa secangkir kopi. Ini sangat buruk." Alando memasukkan kartu hijaunya dalam dompetnya.
"Hm. Kau juga berhutang hadiah kelulusan padaku."
Tanpa menoleh, Silvi mulai melakukan pemanasan.
"Kau ingin hadiah apa?" Alando ikut melakukan pemanasan di samping Silvi.
"Sudah ku duga, kau tidak mempersiapkan hadiah apapun untuk murid terbaikmu."
"Hahaha. Tidak ku sangka kau sangat mengharapkan hadiah dariku."
"Tidak sama sekali."
Alando tertawa kecil melihat Silvi yang mencibirkan bibirnya.
"Hei pelatih. Apa aku bisa mendapatkan sabuk hitam selama sebulan?"
"Itu sedikit mustahil."
"Ayolah. Aku akan berlatih 24 jam."
"24 jam? kau tidak akan sanggup."
"Mau membuktikannya?"
"Hm baiklah. 24 jam." Alando tertawa mengejek.
"Aku akan mengurus tempat ini menjadi tempat pribadi kita."
"Tempat pribadi kita?" Alando mengangkat kedua alisnya dengan tatapan mencoba menggoda Silvi.
"Hentikan tatapan bodohmu itu pelatih. Kau akan tinggal di sini untuk mengajariku."
"Kau sebenarnya hanya ingin berdua dengankukan?"
__ADS_1
"Iya." Silvi mengangguk asal. Dari wajahnya Alando bisa melihat, Silvi hanya malas berbicara panjang lebar. Maka dari itu dia segera menyetujuinya.
"Ayo latih aku."
Alando tidak membantah. Dia segera melatih Silvi. Alando dibuat kagum dengan kecepatan Silvi menangkap arahannya dan melakukan latihan dengan semangat menggebu-gebu.
***
"Kau harus tidur. Ini sudah jam 10."
Alando sebenarnya tidak lelah sedikitpun. Hanya saja, semangat Silvi sungguh keterlaluan. Silvi terus berlatih dari pagi jam 8 sampai sekarang. Dia hanya beristirat untuk makan dan mengatur nafasnya ketika mulai tidak teratur.
"Aku bilang berhenti. Jika kau terus seperti ini, maka kau cari pelatih lain saja."
Ancaman Alando berhasil membuat Silvi menghentikan latihannya.
"Baiklah pelatih. Aku akan berhenti."
Silvi berjalan ke arah kopernya dan membukanya. Koper ini diantarkan oleh supir Brian tadi untuknya.
Silvi kemudian melangkah meninggalkan Alando.
Beberpa menit kemudian, Silvi kembali ke dalam ruangan fitness. Silvi melihat Alando sudah memejamkan matanya di salah satu matras.
Silvi melangkah membawa matras yang lain sejauh mungkin dari Alando lalu berbaring dan memejamkan matanya. Karena rasa lelah yang sangat, alam mimpi dengan cepat menyambut Silvi.
***
Silvi merasakan sesuatu yang hangat pada perutnya dan hembusan nafas yang berada di tengkuknya.
Dengan kelopak mata yang seolah memiliki perekat, Silvi memaksa matanya untuk terbuka. Mata Silvi sedikit terkejut melihat Alando yang memeluknya dari belakang.
Dengan cepat, Silvi mendorong Alando hingga jatuh dari matras.
Alando mengucek matanya. Rambutnya yang berantakan dan mulutnya yang menguap dengan lebar.
"Aku seharusnya tidak melupakan sifat aslimu jerk."
__ADS_1
"Aku hanya memelukmu. Tidak lebih dari itu."
"Kau memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Kau sungguh tidak bermoral."
"Hei. Aku memelukmu juga karena kau menagis dalam tidurmu. Kau mengganggu tidurku."
"Menangis?" ingatan Silvi kembali pada mimpinya.
Mimpi mendapatkan sabuk hitam tanpa Brian yang ikut bangga padanya.
Silvi sejujurnya sangat gelisah. Rasanya, Silvi tidak ingin berpisah sedetikpun dari ayahnya. Hanya saja, Silvi mengenal ayahnya yang merupakan pria berharga diri berlian.
Jika Silvi mengatakan ketahuannya tentang penyakit ayahnya dan Silvi terus ingin menghabiskan waktu bersama ayahnya, itu hanya akan membuat ayahnya teepuruk dan merasa tidak berguna.
Silvi tidak ingin melukai harga diri ayahnya. Silvi akhirnya memilih mengabulkan permintaan pertama ayahnya secepat mungkin. Entahlah, permintaan pertama yang mungkin akan menjadi permintaan terakhir juga.
Melihat Silvi yang hanya diam. Alando mengusap pelan kepala Silvi dan Silvi melotot padanya membuat Alando menurunkan tangannya.
"Hei, tidak usah berlebihan. lupakan mimpimu. Aku akan mandi lebih dulu dan kau selanjutnya, lalu kita akan mulai latihannya." Alando melangkah memasuki kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Alando keluar dari kamar mandi dan mendapati Silvi yang kembali tertidur.
"Hei. Orang penuh ambisi. Bangun kau." Alando memukul-mukul kecil kaki Silvi hingga Silvi terbangun.
"Kau bilang akan berlatih jam 2 pagi. Sekarang bahkan sudah jam 5."
"Benarkah?" Silvi segera bangkit dan berlari memasuki kamar mandi.
Hari-hari Silvi dipenuhi dengan latihan Taekwondo. Alando selalu siap setiap saat menemani Silvi. Keduanya selalu makan bersama dan sesekali tidur bersama. Tidur selayaknya tidur, tidak lebih. Itupun terjadi karena Alando yang selalu mencari kesempatan dalam kesempitan. Dan Alando selalu mendapatkan pukulan keras pada dada bidangnya setiap kali itu terjadi.
Namun, pukulan Silvi sama sekali tidak membuat Alando jera. Alando kembali melakukannya. Pukulan yang didapatkannya, ia jadikan sebagai bentuk kasih sayang Silvi.
Alando lebih senang melihat Silvi kesal dibandingkan harus melihat Silvi larut dalam lamunannya. Silvi terlalu sering mimpi buruk dengan isakan yang menyertai mimpinya dan karena itu Alando selalu menemani Silvi di matrasnya. Sekedar untuk memeluk gadis itu. Itulah cara Alando menghibur Silvi.
Selama sebulan, hubungan keduanya menjadi sangat dekat. Dekat dengan cara berbicara Silvi yang tetap menunjukkan sedikit keangkuhan dan Alando yang terus berusaha menggoda iman Silvi.
Silvi akhirnya berhasil mendapatkan sabuk hitam dengan 12 kemenangan beradu tanding. Tentu saja, semua ini berkat latihan keras selama 18 jam perhari dengan didukung oleh asupan vitamin dan makanan bergizi yang selalu membuat tubuhnya tetap prima. Jangan lupakan partisipasi Alando. Tanpa Alando, Silvi mungkin tidak akan sampai di tahap ini. Silvi akhirnya siap memperlihatkan sabuk hitamnya pada Brian.
__ADS_1