
"Nona, maaf aku terlambat mengetahui kabar nona."
Ucap Rabella dengan wajah tertunduk menghadap ke arah ranjang rumah sakit Silvi dirawat. Ada rasa penyesalan di dalam dadanya ketika melihat kondisi kritis Alando dan wajah nonanya yang begitu bersih, kini memiliki memar biru bekas telapak tangan di sana. Mata nonanya juga membengkak. Ini kondisi terburuk nonanya yang pernah Rabella lihat.
"Kami mengurusi segala sesuatu setelah kantor organisasi Ranita meledak. Maafkan aku. Alando menghilang begitu saja saat aku keluar dari bangunan yang meledak." lanjut Rabella.
"Apa duplikat ibuku tidak dapat diselamatkan?" ucap Silvi.
Rabella menggeleng dengan mata yang terus menunduk. Tidak berani menatap mata Silvi.
Silvi tersenyum kecut. Padahal, ia ingin bercerita banyak hal dengan duplikat ibunya.
"Rabella." ucap Silvi membuat Rabella mengangkat wajahnya menatap Silvi sesaat lalu menunduk kembali.
"Duduklah di sini." Silvi menepuk sisi ranjangnya.
Rabella menurut.
"Rabella, bisa kau tolong peluk aku?" lirih Silvi.
Rabella mengangkat wajahnya dan mendapati wajah Silvi yang terlihat rapuh. Matanya berkaca-kaca. Rabella lalu memeluk Silvi dan Silvi membalas pelukan Rabella. Silvi juga menyandarkan kepalanya di bahu Rabella.
"Rabella. Kemarin aku menjadi pembunuh juga menjadi seorang dokter. Kemarin adalah hal paling menakutkan dalam hidupku. Tubuhku tak henti-hentinya gemetar. Aku tidak pernah merasa segemetar kemarin. Aku takut. Aku pikir, aku akan kehilangan pria yang mencintaiku. Pria itu, hiks. Aku tidak pernah melihat wajahnya sepucat kemarin. Aku tidak pernah melihat air mata keluar dari pelupuk matanya. Tapi kemarin dia begitu pucat, dia menangis. Semua karena aku. Hikss."
"Rabella, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Tidak! Aku mungkin tidak akan bisa hidup lagi jika terjadi apa-apa dengannya. Aku mencintainya, Rabella. Aku merindukannya jika ia jauh dariku. Aku sangat-sangat mencintainya. Hiks." lanjut Silvi dengan isak tangis yang memenuhi kamar rawatnya.
Rabella tercengang. Air matanya juga ikut menetes mendengar penuturan Silvi. Nonanya ini adalah gadis paling kuat yang pernah ia temui di dunia ini. Hari ini wanita ini begitu rapuh.
Dengan perlahan, Silvi melepaskan pelukannya pada Rabella. Silvi menatap Rabella dengan senyum kecilnya.
"Terima kasih telah mendengar ceritaku, Rabella. Aku sebenarnya ingin pergi bercerita pada duplikat ibuku. Tapi dia juga telah pergi. Aku sudah kehilangan semua yang ku sayangi. Aku berdoa pada tuhan, untuk menjaga Alandoku. Bahkan jika hari ini adalah hari kematiannya yang telah Tuhan tetapkan, aku ingin mati menggantikannya dan melihatnya tetap hidup dari alam yang berbeda."
"Nona." Rabella kembali memeluk tubuh Silvi, "Nona bisa menceritakan apapun padaku. Aku akan mendengarkan dengan baik. Aku akan melakukan apapun untuk nona." ucap Rabella bersungguh-sungguh.
__ADS_1
"Terima kasih Rabella. Kau telah menjadi saudaraku selama masa sekolahku. Aku menikmati masa remajaku hingga dewasa bersamamu. Kau menjagaku dengan sangat baik. Kau juga menjaga organisasi Ranita dengan sangat baik."
Silvi melepaskan pelukannya pada Rabella dan menatap Rabella dengan wajah serius. "Organisasi Ranita telah hancur sekarang. Maka aku membebaskanmu. Kau harus mulai hidup dengan normal. Tidak perlu menjadi pengawal atau mengurusi hidup pengawal. Hiduplah dengan baik, menikahlah lalu hidup bahagia dengan keluarga kecilmu."
"Tapi nona, Ranita masih bisa kita selamatkan. Kita bisa menyerang komunitas Singa Ganas dan mendapatkan dana untuk membangun kantor Ranita. Sebenarnya harta organisasi Ranita cukup bahkan lebih untuk membangun kantor kembali, tapi komunitas Singa Ganas yang harus bertanggung jawab dengan hancurnya kantor organisasi Ranita."
"Tidak Rabella. Tidak perlu ada penyerangan. Aku tidak ingin melihat korban lebih banyak lagi. Aku ingin menutup organisasi Ranita. Bagikan harta tersisa yang Ranita miliki untuk semua pengawal kita, terutama untuk keluarga korban yang tewas karena serangan atau ledakan di kantor. Dan tolong sampaikan permohonan maafku."
"Tapi nona, Tuan Brian membangun ini dengan penuh cintanya..."
"Ayahku akan setuju dengan keputusanku. Dia dan cintanya telah bersatu dan lambang cinta mereka bukanlah organisasi Ranita. Tapi aku lambang cinta itu."
"Baik nona."
"Pergilah Rabella. Jika kita bertemu suatu saat nanti, aku ingin kau tidak memanggilku nona lagi." Silvi ternyum hangat pada Rabella dan Rabella membalasnya dengan serupa.
Rabella melangkah keluar dari kamar rawat Silvi.
"Rabella." Rabella berbalik menatap Silvi yang menatapnya, "panjangkan rambutmu."
***
Sudah 1 bulan berlalu, Alando juga belum sadarkan diri. Silvi bahkan sudah diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit satu minggu setelah dirinya dirawat. Namun, Silvi tidak pernah benar-benar keluar dari rumah sakit. Dia hanya pergi mengambil pakaiannya dan pakaian Alando lalu kembali lagi ke rumah sakit.
Setiap hari Silvi mengurusi Alando. Membersihkan tubuh Alando, mencukur bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di wajah Alando dan hal lainnya. Tapi Alando sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar.
Silvi kini duduk di sisi ranjang Alando berbaring dengan alat medis yang memenuhi tubuh Alando. Silvi meraih tangan kanan Alando dan mencium punggung tangan itu. Lalu tangan Silvi yang lai mengusap pelan wajah Alando. Tak terasa air mata Silvi kembali menetes. Air mata yang terus menetes setiap harinya. Silvi menghapus air matanya cepat.
"Kapan kau bangun? aku sudah menjadi gadis super cengeng sekarang."
"Bangunlah, kau belum melaksanakan misi yang kau katakan padaku. Kau bilang kau mencintaiku. Orang-orang biasanya mengatakan cinta lalu berciuman. Tapi kau, kau mengatakan cinta dan tertidur begitu lama."
"Alando. Bangunlah. Aku merindukanmu. Merindukan senyummu, merindukan tatapan mesummu, merindukan semua hal tentangmu. Bangunlah, aku mohon."
__ADS_1
Andai ada yang melihat Silvi saat ini. Orang itu akan mengatakan Silvi sudah gila. Dia tertawa dan menangis karena ucapnnya sendiri. Silvi lalu turun dari ranjang Alando dan melepaskan genggaman tangannya pada tangan Alando. Namun tiba-tiba, tangannya serasa digenggam oleh tangan Alando. Silvi merasakannya walaupun genggaman itu sangat pelan dan hanya sekilas. Sontak Silvi kaget, ia menatap Alando dan tersenyum. Sepertinya Alando telah melewati masa kritisnya. Dengan semangat Silvi keluar memberitahu dokter untuk memeriksa Alando.
Silvi tersenyum dengan kedua tangannya yang dikepal. Ia menatap Rangga yang memeriksa Alando dengan hati berdebar. Sesaat kemudian, Rangga menatap Silvi dan tersenyum.
"Alando akan sadar beberapa jam lagi."
Senyum Silvi semakin lebar mendengar ucapan Rangga. Dalam hatinya, Silvi bersyukur kepada Tuhan karena telah mengembalikkan Alandonya.
"Uhm, dokter Rangga. Bisakah kau menolongku?" ucap Silvi dengan wajah sungkan yang dapat dilihat jelas oleh Rangga.
"Kau tidak perlu sungkan. Aku akan membantu. Ada apa?"
"Aku ingin pulang sebentar. Aku ingin memoles mataku yang membengkak, sebentar lagi Alando akan sadar. jadi..."
"Pergilah." Rangga memotong ucapan Silvi.
"Terima kasih."
Silvi mengambil tas kecilnya dan hendak pergi. Namun langkahnya ditahan oleh Rangga. Silvi menaikkan kedua alisnya, mempertanyakan maksud dari tindakan Rangga.
"Kalian terlihat dekat. Apa kalian pacaran?" Rangga sebenarnya sangat penasaran dengan hubungan Silvi dan Alando. Ia ingin menanyakannya dari awal pertama bertemu Silvi di ruang operasi. Tapi Rangga tidak enak menanyakan ini pada Silvi yang terus menangis. Hari ini Silvi terlihat bahagia, suasana hatinya juga telah membaik. Maka Rangga pikir hari ini adalah hari yang tepat untuk bertanya.
"Aku dan Alando telah menikah. Ya, walaupun belum tercatat di KUA. Tapi kami telah sah di mata agama." Ucap Silvi yang membuat Rangga tercengang.
"Kalau tidak ada yang mau dokter tanyakan lagi, bisakah aku pergi dokter?"
"Bisakah kau berhenti memanggilku dokter? Aku adalah teman Alando dan bukankan kita sudah sepakat di restoran Angsa Zambrud saat itu? kau, Lania dan Tono harus memanggilku kak Rangga."
"Aku tidak ingat pernah membuat kesepakatan itu. Tapi tidak masalah untukku. Jadi bisakah aku pergi sekarang kak Rangga?"
"Ya." Ucap Rangga dengan senyum puas.
Silvi melangkah mendekati pintu. Saat tangannya hendak menarik handle pintu, Rangga kembali memanggil namanya. Dengan malas Silvi berbalik menatap Rangga.
__ADS_1
"Ada apa lagi?"
"Yang menolongmu di pulau Senja, sebenarnya bukan aku tapi Alando yang melakukannya."