Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
Nenek


__ADS_3

Di sinilah Silvi yang digenggam tangannya oleh Alando. Ditatap setajam itu membuat Silvi salah tingkah. Biasanya, Silvi sangat pandai membalas tatapan tajam yang di tujukan padanya. Tapi kali ini berbada. Tatapan kali ini berhasil membuat nyalinya mencuit.


Tatapan dari ujung kepala turun ke kakinya, lalu naik lagi sampai ke ujung kepalanya itu dilakukan berkali-kali bahkan yang Silvi rasakan sekarang seolah waktu telah berhenti dan mempersilahkan dirinya di tatap setajam itu selama-lamanya.


Sebenarnya apa yang salah denganku, kenapa nenek Alando menatapku seperti ini? Silvi mengecek pakaiannya dan mendapati pakaiannya sangat sopan kali ini. Silvi memakai rok sebetis dan baju kaos lengan panjang. Jelas ini pakaian yang sopan. Lalu apa yang salah darinya.


"Nenek, ayolah." Alando akhirnya bersuara setelah sekian lama.


"Kenapa kau baru bicara? Harusnya kau bicara dari tadi." batin Silvi.


Silvi tersenyum pada nenek Alando tapi senyum itu tidak sama sekali mendapat balasan apa-apa. Hanya ada tatapan wajah datar di wajah wanita 80-an itu.


"Nenek, aku dan Silvi baru sampai. Kita butuh istirahat. Apa nenek tidak mau mempersilahkan kita masuk?"


"Tentu saja, kau masuklah cucukku. Nenek ingin mengobrol dengan cucu menantu."


"Nenek, Silvi juga butuh istirahat."


"Tidak apa-apa, aku dan nenek memang perlu mengobrol. Kita harus saling mengenal bukan? Kau istirahat saja duluan."


Ucap Silvi setengah hati. Silvi sangat tahu diri, dia bukan tipe orang yang mudah akrab dengan orang lain. Apalagi dengan nenek Alando yang menatapnya sedingin kutub es utara.


"Hm, baiklah." Alando mencium bibir Silvi.


Silvi menahan nafas melihat ekspresi nenek Alando yang membulatkan mata. Silvi pun memukul dada Alando agar melepaskan ciumannya.


Dengan santai Alando mencium kening Silvi dan melangkah ke arah neneknya.


"Jangan terlalu lama mengobrol dengannya nek. Aku lebih membutuhkannya." Alando mencium ubun-ubun neneknya lalu melangkah membawa barang-barangnya dan Silvi masuk ke dalam rumah.


Melihat nenek Alando yang kini telah duduk di kursi taman, Silvi pun ikut melangkah dan duduk di samping nenek Alando.


Ya Tuhan, bagaimana caranya aku memulai pembicaraan. Ayolah Silvi, kau bisa menanyakan apa saja. Batin dewi hati Silvi.


"Bagaimana kabar nenek? Apa nenek sehat?"


Pertanyaan apa ini Silvi, kau pasti sudah gila. Silvi merutuki pertanyaan yang dipilihnya.


"Apa rumahku terlihat seperti rumah sakit?"


Jawaban telak nenek Alando hanya membuat Silvi menahan nafas sedetik lalu tersenyum canggung.


"Ekhm. Maaf kan aku. Nenek ingin mengobrol apa denganku?"


Ya. Pertanyaan ini jauh lebih baik, Silvi.


"Bagaimana bisa kau dan Alando menikah?"


Kenapa harus aku yang menjawab pertanyaan ini. Kenapa Alando harus meninggalkanku dan aku yang harus menjelaskan pernikahan kita.


"A_aku dan Alando menikah di sebuah desa X. Di pulau terpencil kota Sulawesi."


"Ya, bagaimana hingga Alando mau menikahimu?"

__ADS_1


"A_ku dan Alando terjebak situasi hingga para warga mengira_"


"Sudah ku duga. Kalian pasti di tangkap basah warga desa." potong nenek Alando.


Ucapan telak nenek Alando membuat Silvi hanya terdiam.


"Kau tahu, laki-laki itu tidak akan menyentuh wanita apalagi melakukan hal lebih jika si wanita tidak mengizinkan."


"Nenek, aku dan Alando tidak melakukannya sebelum menikah. Ah, pernah sekali tapi_"


"Sekali saja cukup menjelaskan semuanya."


Lagi-lagi nenek Alando memotong ucapan Silvi.


"Alan adalah cucu kesayanganku. Dia bukan pria yang gampang tergoda dengan wanita. Hari ini, dia membawa seorang wanita yang dinikahinya tanpa diketahui banyak orang bahkan keluarganya dan dinikahi seperti itu telah menunjukkan siapa dirimu. Kau wanita hebat, karena berhasil menggoda cucuku."


Setelah mengatakankan demikian, nenek Alando pergi meninggalkan Silvi yang masih mematung di kursi taman.


***


Demi Alando, Silvi memasuki rumah nenek Alando. Rumah dengan gaya tradisional yang begitu luas. Silvi mengedarkan pandangannya, mencari kamarnya dan Alando. Anehnya, rumah ini sangat sepi. Dimana pelayan rumah ini? Tidak mungkin kan jika nenek Alando tinggal sendiri di rumah yang seluas ini. Lagi pula, orang tua Alamdo pasti tidak akan membiarkannya.


Silvi Lalu melangkah menyusuri lantai dua dan langkahnya terhenti di sebuah pintu yang bertuliskan 'Alando Miller'. Setiap pintu kamar rumah ini memiliki nama pada pintunya. Dengan yakin Silvi memasuki kamar di depannya dan mendapati Alando sedang shirtles. Pria itu baru saja selesai mandi, masih dengan handuk yang melilit di pinggannya.


"Nenek sungguh mendengar ucapanku." Alando memeluk pinggang Silvi lalu hendak mencium bibir Silvi namun Silvi menahannya.


"Apa yang kau katakan pada nenek?"


"Aku bilang jangan terlalu lama mengobrol denganmu." Alando mengecup pipi kanan Silvi. "Aku merindukanmu." Alando mengecup pipi kiri Silvi.


"Jelas saja aku merindukanmu. Semalam kau mengunci dirimu di kamar mendiang ayah dan ibu. Pagi harinya, kau juga tidak mau ku sentuh. Bahkan aku baru mencium bibirmu di depan nenek untuk pertama kali untuk hari ini."


Alando mencium bibir Silvi, namun Silvi melepaskan ciuman itu dengan cepat. "Kau sudah mandi dan aku juga harus mandi kan?"


"Hm, apa tidak sekalian saja sebentar."


Ucap Alando dengan tangannya yang masih setia melingkar posesif di pinggang Silvi.


"Aku hampir lupa. Apa yang kalian bicarakan tadi?"


"Nenek menayakan bagaimana bisa kita menikah."


"Apa jawabanmu?"


"Aku menceritakan intinya. Aku mengatakan yang sebenarnya."


"Hm, lalu apa yang nenek katakakan?"


"Nenek bilang kau cucu kesayangannya."


"Itu memang benar." Alando tersenyum, "dan kau akan menjadi cucu menantu kesanyangannya."


"Hm." Silvi memaksakan senyumnya.

__ADS_1


"Aku menginginkanmu." Alando mulai mencium Silvi hingga berakhir dengan mereka yang melakukan beberapa ronde.


***


Silvi yang kecapean karena ulah Alando, baru bisa keluar kamar setelah tidur sejam dan beberapa menit untuk mandi. Saat keluar, ia mendapati Alando sedang mengobrol dengan neneknya dan sesekali tertawa.


Lebih baik aku tidak mengganggu. Silvi berniat kembali ke dalam kamar tapi Alando terlanjur melihatnya.


"Hei sayang. Kemarilah."


Mau tidak mau Silvi melangkah dan duduk di samping Alando. Alando langsung merangkul pundak Silvi dan mengecup kening Silvi. Alando memang tidak pernah bosan dengan istrinya. Alando sangat gemas dengan Silvi dan dia tidak tenang untuk tidak menyentuh dan mencium istrinya.


Silvi melirik nenek Alando dan benar saja. Tapapan itu lagi. Sama seperti saat Alando menciumnya pertama kali di depan nenek Alando.


"Eh, Alando." Silvi mendorong dada Alando lalu menggeser duduknya untuk sedikit lebih berjarak dengan suaminya.


Alando malah terkekeh dan kembali merapatkan duduknya dengan Silvi. Ia tahu, istri pemalunya pasti sedang gugup karena ada nenek yang melihat mereka. Alando melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Silvi. "Kau malu pada nenek?"


Silvi hanya ternyum canggung. Apa kau buta, coba lihat ekspresi nenekmu. Dia tidak suka padaku.


"Alan, apa yang kau suka darinya?" tanya nenek.


Silvi menatap nenek Alando dengan tidak percaya. Sepertinya nenek Alando akan mengatakan rasa tidak sukanya padaku pada Alando. Baiklah, persiapkan dirimu Silvi.


"Yang ku suka dari istriku?" Alando menatap lekat wajah Silvi. "Aku suka matanya, hidungnya, bibirnya, lehernya, semuanya." ucap Alando dengan mendaratkan kecupan di setiap anggota tubuh Silvi yang disebutkannya.


Nenek Alando mencibirkan bibirnya, "tentu saja, sudah ku duga kau cuma suka tubuhnya."


"Aku memang sangat menyukai tubuhnya. Tapi aku juga menyukai sifatnya, aku menyukai semua hal yang ada pada dirinya. Aku mencintainya, nenek."


"Kau tidak tahu cinta itu apa. Kau hanya anak ingusan."


"Hahaha, iya. Nenek yang paling tahu cinta itu apa."


"Tentu saja. Lalu kapan kau akan pulang? Ayahmu_"


"Aku akan pulang, aku akan memperkenalkan istiriku pada ibu dan semua orang."


"2 hari lagi kita akan kembali ke Cambridge. Silvi harus menyelesaikan studinya dan kita akan ke rumah. Nenek pergilah juga ke rumah utama." lanjut Alando.


"Tentu, nenek akan ke sana. Seminggu lagi adalah ujian akhir Ronald dan setelah itu akan ada pesta di sana."


"Benarkah? Adikku itu mengambil jurusan apa?"


"Kedokteran."


"Kedokteran? Sayang kau mengenalnya?" Alando menatap Silvi.


"Tidak."


"Hm, apa kau sungguh kuliah? Kembali nenek Alando berucap sinis pada Silvi.


"Nenek, istriku adalah jenius. Jelas saja dia tidak mengenal Ronald karena Ronald bukan orang yang perlu dikenalnya. Dia wanita bergengsi."

__ADS_1


Nenek Alando hanya tersenyum kecut. Pembicaraan malam itu terus berlanjut dengan nenek Alando yang selalu melmparkan ucapan sinis pada Silvi dan Alando yang tidak peka selalu melontarkan pembelaan pada Silvi dengan senyum pada neneknya. Sedangkan Silvi, hanya bisa terdiam dan mengangguk serta tersenyum kecut malam itu.


__ADS_2