Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
15. Titik Terang


__ADS_3

Setelah membuka matanya, Silvi menyadari tempatnya berada sekarang bukan tempat yang biasanya dia terbangun. Silvi pikir, Rabella akan kembali mencarinya dan dia bisa bangun dari ranjangnya sendiri seperti 5 tahun silam.


Silvi mengedarkan pandangannya, ruangan tempatnya berada ini cukup luas tanpa perabotan, kecuali 1 meja panjang yang di kelilingi 2 sofa pendek dan 2 sofa panjang yang dipakai Silvi berbaring sekarang.


Silvi mencoba mencari jalan keluar dari ruangan dengan pencahayaan remang-remang. Silvi mencoba mengingat bagaimana dia bisa berada di tempat ini. ingatannya membawanya pada kejadian semalam dan itu membuat Silvi frustasi. Bagaimana bisa dia tertidur di hutan dan dalam kondisi berdua dengan si brengsek Alando.


Mengingat Alando, Silvi sontak saja memeriksa tubuhnya untuk memastikan keperawanannya. Setelah beberapa kali mengecek, Silvi akhirnya bisa bernafas lega.


"Dimna aku? Tempat apa ini?" Silvi mengeluarkan suara frustasinya.


"Ini adalah lantai 12 kantor organisasi Ranita". Jawab sebuah suara.


Silvi menajamkan matanya untuk melihat siapa yang berbicara. Dari suaranya, Silvi tahu itu adalah suara seorang wanita dewasa. Namun nihil, Silvi tidak menemukan siapapun.


Tiba-tiba sebuah pintu terbuka dan muncul cahaya terang dari ruangan yang terbuka tersebut. Seorang pria dengan tubuh gagah muncul. Silvi tidak dapat melihat pria itu karena cahaya yang menyilaukan dari belakang pria tersebut.


"Kau sudah bangun rupanya". Pria itu menekan tombol. Seketika cahaya ruangan itu menjadi terang.


Silvi bisa melihat Alando yang tersenyum padanya dengan lilitan handuk pada bahunya. Tubuh bagian atasnya terbuka dan hanya mengenakan celana jins robek lutut. Celana yang di pakainya semalam.


"Kau! Pakai bajumu brengsek"


"Aku sedang malas memakai baju. Kenapa? Aku membuatmu ngiler?"


Silvi mencibirkan bibirnya. "Kau pikir kau seleraku?" Ucapan Silvi terhenti karena mendengar suara yang ikut menjawab pertanyaan Alando yang hampir bersamaannya dengan suaranya.


"Kau mendengarnyakan? Dia mengatakan TIDAK." Silvi menatap Alando curiga.


"Ya. Aku mendengarnya". Jawab suara wanita yang tidak bisa di lihat Silvi.


Silvi membulatkan matanya dan Alando hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Siapa yang mengaktifkannya?" Alando seikit frustasi.


"Brian Selvig."


Silvi membulatkan kembali matanya. Bahkan Silvi menutup mulutnya tidak percaya mendengar nama ayahnya disebut.


Alando masuk ke suatu ruangan kaca yang di tutupi tirai dari dalam dan dengan cepat menutup kembali pintu ruangan kaca tersebut agar Silvi tidak dapat mengintip.


Tidak lama kemudian, Alando sudah kembali dan mengunci pintu ruangan itu kembali.


"Siapa yang kau sembunyikan di dalam sana?" Ucap Silvi dengan mata memincing.


"Lupakan dia"


"Kau pikir baik mengurung seorang wanita?"


"Hei. Dia bukan wanita"


"Kau pikir aku bodoh. Aku bisa mendengar suaranya dengan jelas". Silvi mendekati ruangan kaca tersebut dan ingin membuka pintu ruangan itu. Namun pintu ruangan itu membutuhkan sidik jari dan jari Silvi tidak bisa membukanya.


"Hm kau licik sekali. Kenapa kau mengurungnya? Siapa dia?"


Alando tertawa kecil. "Kau ini sangat pencemburu."


"Ini bukan cemburu bodoh. Aku ingin dia mendapatkan kebebasan"


"Dia tidak akan kemana-mana. Dia tahanan"


"Kenapa? Apa salahnya?"


"Dia bersalah karena membuat hati seseorang yang dingin kembali menghangat".

__ADS_1


"Aku kasihan melihat cara menunjukkan rasa cintamu." Silvi mencibirkan bibirnya.


Alando tersenyum dengan sangat lebar "Beginikah jika wanita angkuh cemburu? Sangat menarik." Batin Alando bersorak.


"Kenapa tidak dengan menikahinya? Aku pikir itu akan lebih baik untukmu dan tentu saja dirinya."


"Mungkin." Alando menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kau! Kau sungguh ingin menikahinya?"


"Hahahahaha" Alando tertawa terbahak-bahak


"Kau tidak bisa menikahinya. Kau mengurungnya. Kau mengambil kebebasannya. Aku yakin dia tidak akan mau."


"Ada apa denganmu? Kau yang menyarankan aku menikahinya tadi." Ucap Alando tanpa mengholangkan sisa-sisa tawanya.


"Itu... Itu karena wanita harus melindungi wanita lain yang tertindas."


"Kenapa kau tidak jujur saja."


"Jujur apa?"


Alando berjalan ke arah Silvi dan mengunci pergerakan Silvi pada ruangan kaca.


"Jujur kalau sebenarnya kau sedang cemburu pada sesuatu di dalam ruangan kaca itu". Alando berbicara tepat di wajah Silvi.


"Kau sudah gila. Kau pikir aku menyukaimu?" Silvi tersenyum mengejek. "Kau bukan seleraku."


"Lalu bagaimana seleramu?" Alando mengunci mata Silvi.


"Aku belum memikirkannya." Silvi mulai gugup karena jarak wajahnya yang sangat dekat dengan wajah Alando. Ditambah lagi tatapan Alando yang sangat intens.


"Aku tahu seperti apa seleramu."


"Pria tampan"


"Sixpack."


"Hm." Itu juga masuk.


"Tinggi."


"Ya. Itu sangat penting."


"Dan yang paling penting adalah dia bisa membuat jantungmu berdebar." Alando tersenyum kecil. "Seperti sekarang."


Wajah Silvi mulai memerah malu. Silvi membuang pandangannya ke arah samping.


"Sial. Apa itu terdengar jelas?"


Alando tersenyum menatap Silvi yang diam seribu bahasa. Alando mencoba menarik pinggang Silvi hingga tubuh keduanya menempel. Jantung Silvi berdetak lebih kuat.


"Kau bisa tanyakan pada jantungmu." Alando kembali menggoda Silvi.


Silvi hanya dapat menatap Alando. Untuk pertama kalinya Silvi tidak memberi perlawanan.


"Aku bisa membantumu bertanya?" Alando mencoba mendekatkan bibirnya pada bibir Silvi.


Tiba-tiba, bunyi pasword di tekan dari luar menandakan seseorang hendak memasuki ruangan. Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Alando melepaskan Silvi dan Silvi kembali tersadar dari kehanyutannya. Silvi mundur beberapa langkah dari Alando.


Brian menghentikan langkahnya ketika melihat Silvi ada di dalam lantai 12. 5 detik kemudian, Brian yang telah mengatur keterkejutannya melanjutkan langkahnya ke arah Alando dan Silvi. Brian meninju dada Alando.


"Dimana bajumu?"

__ADS_1


Alando terkekeh dan menunjuk bajunya yang ada di sofa.


"Kau ini! Kenapa tidak bilang Silvi kau bawa ke sini." Brian merangkul Silvi. "Pulanglah! Rabella sudah menunggumu di lift."


"Tapi, Aku ingin membicarakan banyak hal." Silvi akhirnya membuka suara.


"Kita akan bicara nanti. Kau harus sekolah." Brian melirik jam tangannya. "Coba lihat kau sudah terlambat pelajaran 3 jam".


"Ini sudah lewat jam 10?"


Brian mengangguk


"Oh, sial. Aku ada presentasi hari ini". Silvi berlari keluar ruangan tersebut. Lift membawanya naik dan itu membuat Silvi terkejut.


"Apa-apaan ini? Bukankah ini lantai 12? Kenapa aku naik ketika menekan lantai satu?"


Lift terbuka. Rabella dengan sigap menjemput Silvi dan mengarahkan Silvi memasuki mobilnya.


"Antar aku pulang. Aku akan mandi di rumah". Ucap Silvi ketika mobil mulai melaju.


"Baik nona"


"Apa yang terjadi ketika aku dan Alando meninggalkanmu dan yang lain?"


"Maksud nona. Kejadian semalam?"


"Hm."


Rabella mulai menceritakan kronologis yang terjadi pada kelompoknya dan kelompok pengawal Tono. Pengawal Tono sekarang harus di rawat di rumah sakit. Sementara Rabella, Tono dan Lania bisa di bilang tak lecet sedikitpun.


"Ya. Begitulah takdir seorang pengawal. Harus rela berkorban demi keselamatan kliennya." Rabella menutup ceritanya.


"Benarkah begtu. Apa aku klienmu?" Silvi menatap tajam Rabella.


"Ten... Tentu saja nona." Rabella sedikit gugup dengan tatapan tajam Silvi.


"Jam berapa kau tiba di rumah?"


"Sekitar jam 2."


"Mengapa tidak kembali mencariku?"


"Karna... Karna Nona bersama orang yang bisa memastikan keamanan nona. Karena itu aku merasa lega."


"Aku aman? Kau lega karena aku bersama Alando? Alando itu anggota ****** Ganas. Kau bilang aku aman."


"Nona. Alando bukan anggota ****** Ganas."


Silvi mengerutkan dahinya.


"Alando adalah partner kerja tuan Brian. Tuan Brian sangat percaya padanya. Dia seperti tangan kanan tuan Brian."


"Apa?"


"Ya nona. Tuan Brian bahkan tahu nona bersama Alando dan tuan tersenyum menyikapi laporanku".


Silvi mengerutkan dahinya. Silvi berpikir lama dan kembali berbicara. "Hari ini aku tidak ke sekolah."


"Tapi nona. Ujian praktek nona bagaimana?"


"Aku akan mengaturnya nanti."


"Baik nona."

__ADS_1


Silvi memasuki kamarnya setelah mobil terparkir di depan rumahnya. Silvi kemudian berendam di dalam bathtub dan memikirkan semua hal yang terjadi.


Silvi akhirnya mengerti pencurian lukisan lelang adalah rencana ayahnya dan Alando. "Jadi Alando adalah tangan kanan ayah. Karena itu Alando juga bebas mengakses lantai 12. Apa yang spesial di lantai 12 dan siapa wanita yang ada di ruangan kaca? Itu wanita Alando atau wanita ayah?


__ADS_2