
Hari ini Alando mengajak Silvi berlatih keluar dari ruang VIP. Mereka memasuki ruang olahraga umum. Disana, terdapat beberapa pria dan wanita. Yang paling menonjol adalah 5 orang ibu-ibu yang berusaha menurunkan berat badan mereka dengan alat Lat Pull Down. Lat pull down adalah alat yang di desain untuk membentuk postur tubuh.
Hari ini tepat satu minggu Silvi berlatih lari. Sekarang Alando mengubah cara mengajarnya dengan mengangkat beban.
Silvi mulai mencoba dengan mengangkat beban Barbel paling 2 Kilogram. Beberapa detik kemudian, Silvi menurunkan benda tersebut.
"Hei. Aku belum bilang kau boleh menurunkannya sekarang."
"Ini sudah hitungan ke-8."
"Kau menghitung pakai kecepatan cahaya. Cepat ulangi."
"Aku membencimu."
Dengan kesal, Silvi mengangkat Barbelnya kembali dan melakukannya sesuai dengan keinginan Alando.
"Kenapa aku harus angkat beban?" Protes Silvi setelah mencoba angkat beban yang ternyata lebih sulit dibandingkan berlari yang ditekuninya selama seminggu.
"Agar kau bisa dengan mudah membanting lawanmu."
"Cara berpikirmu sangat aneh."
Walau kesal, Silvi tetap melakukan yang diarahkan Alando. Sebenarnya ucapan Alando tempo hari berhasil menusuk hatinya. Silvi tidak bisa lebih lama lagi manahan situasi canggung antara dirinya dan ayahnya. Tanpa sadar, Silvi memiliki motivasi untuk berlatih labih giat.
Melihat Alando yang sedang fokus melakukan Pull-Up, Silvi memanfaatkannya dengan beristirahat.
Silvi berbaring nyaman pada matras sambil memainkan ponselnya. Grub whatsupnya sangat ramai. Lania dan Tono sepertinya sedang ingin memamerkan foto liburan mereka. Lebih parahnya lagi, entah Lania mendapat foto Silvi mengangkat beban dari mana dan memposting foto itu dalam grub mereka. Sekarang Silvi menjadi bahan ledekan Lania dan Tono.
"Hei. Lanjutkan latihanmu." Suara Alando membuyarkan kekesalan Silvi dan mengundang beberapa pasang mata melihatnya.
Tanpa mengehentikan latihannya, Alando kembali berteriak karena Silvi yang tak bergerak dari rebahannya. "Ku bilang lanjutkan latihanmu pemalas."
__ADS_1
Semua pasang mata di tempat itu seketika melihat Silvi. Dengan perasaan malu, Silvi mengangkat Barbellnya.
Sambil mengangkat Barbellnya, Silvi memikirkan cara membalas Alando. Hingga akhirnya senyum kecil muncul di bibir Silvi.
"Hei pelatih. Untuk apa aku harus berolagraga?"
Mendengar perranyaan Silvi, Alando berbalik dan melihat seorang ibu yang tak jauh darinya. "Nyonya. Bisa bantu aku beritahu si pemalas itu".
"Jika kau tidak berolahraga, bagaimana kau akan langsing." Jawab ibu itu singkat.
"Jika aku sudah langsing. Berarti aku tidak perlu berolahraga ya."
"Hei nak. Olahraga itu menyehatkan." Jawab ibu yang lain.
"Jika aku sudah sehat?" Silvi tersenyum dibuat-buat.
"Kau tetap membutuhkan olahraga agar fisikmu kuat." Ucap seorang gadis langsing di samping Alando. Gadis itu sengaja berlatih di dekat Alando. Dia terlihat ingin menarik perhatian Alando.
Sebenarnya Silvi tidak ingin bersandiwara seperti ini. Hanya saja, dia benar-benar kesal diejek 2 sahabatnya dan ditambah lagi Alando berkali-kali menyebutnya pemalas. Alhasil, Alando menjadi tempat balas dendam Silvi saat ini karena dia satu-satunya yang dapat Silvi jangkau.
Alando membulatkan matanya. Sekarang tatapan bengis ia dapatkan dari para pengunjung tempat olahraga itu.
"Kau keterlaluan." Ibu tempat Silvi melapor memukul Alando dengan handuk yang dipakainya untuk mengelap keringatnya dan berjalan mendekati Silvi. "Jangan mau diperlakukan seperti itu. Kau bisa melapor pada suamimu." Ibu itu mengusap bahu Silvi, mencoba menguatkan Silvi.
"Apa yang bisa ku lakukan. Dia adalah suamiku." Silvi mengembungkan pipinya.
Semua wanita yang pernah merasakan hamil kini menyerbu Alando. Mereka memukulnya dengan membabi buta. Alando berhasil keluar dengan susah payah. Dan sebelum kabur, Alando berhasil membawa Silvi ikut bersamanya.
"Pfftt. Hahahaha. Coba lihat, pelatihku sekarang sedikit membiru." Silvi tertawa tebahak-bahak setelah keduanya duduk di dalam mobil.
"Kau puas." Ucap Alando sambil melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Hahahaha. Ah, aku terlalu puas sampai air mataku jatuh." Silvi menghapus sisa-sisa air mata pada sudut matanya.
"Apa yang kau lakukan dengan berakting seperti tadi? Kau sungguh ingin mengandung anakku?"
Alando tersenyum melihat tawa Silvi yang terhenti. Pria itu tetap fokus menyetir.
"Cih. Mengandung anakmu? Hahaha." Silvi kembali tertawa.
"Kau tidak mau?"
"Tentu aku tidak mau."
Alando menepikan mobilnya dan matanya meneliti wajah Silvi. "Tidak peduli kau mau atau tidak. Yang terpenting aku mau."
Alando sudah berhasil mengurung Silvi dengan tubuhnya. Wajah Alando sangat dekat hingga Silvi bisa merasakan nafas berat Alando pada wajahnya. Alando kemudian memajukan wajahnya lagi dan mengecup bibir Silvi.
Silvi yang kaget seolah terhipnotis. Alando memanfaatkannya dengan ******* pelan bibir Silvi. Ciuman itu cukup lama dan terhenti ketika kesadaran Silvi kembali. Silvi lalu mendorong dada Alando dan
Plak
Plak
Plak
3 tamparan berhasil meleset pada pipi kanan Alando. Silvi turun dan menghentikan taksi, lalu taksi tersebut membawanya pergi.
Alando yang kebingungan memegang pipi kanannya yang mendapat 3 kali tamparan.
"Ada apa dengannya? Ini bukan ciuman pertama kita."
"Ah, aku lupa. Ini yang pertama kalinya dengan keadaan sadar." Senyum bahagia menghiasi bibir pria tampan itu.
__ADS_1