Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
Rumah Utama


__ADS_3

"Kau ingin membawaku pergi dengan motor?" Silvi mengernyitkan dahinya menatap Alando yang mengajaknya pergi dengan motor.


"Ada apa? Kau takut?"


"Aku belum pernah naik motor sebelumnya."


"Haha. Sensasinya lebih menyenangkan daripada mobil, percayalah."


"Hm." Silvi tersenyum kecut.


Alando memakaikan helm di kepala Silvi dan mengecup bibir Silvi sekilas. Lalu tanpa merasa bersalah dengan tatapan terkejut Silvi, Alando menyalakan mesin motornya dan mengarahkan Silvi untuk naik di belakangnya. Alando tersenyum lebar melihat Silvi yang menurut tanpa mendebatnya.


Alando meraih kedua tangan Silvi dan melingkarkannya pada pinggangnya.


"Jangan salah paham, ini untuk keamananmu."


Senyum Alando semakin lebar melihat Silvi yang lagi-lagi menurut. Silvi memeluk pinggang Alando dengan erat ketika Alando mulai melajukan motornya.


Perjalanan keduanya berjalan dengan hening. Mereka menikmati kebersamaan ini tanpa kata. Hingga motor Alando berhenti pada sebuah lapangan luas. Sebuah helikopter menunggu keduanya di sana.


Silvi turun dan disusul Alando.


"Apa yang kau rencanakan?" tanya Silvi telak.


"Kita akan pergi ke suatu tempat."


Alando menggenggam tangan Silvi dan membantunya naik di helikopter.


Mata Silvi membulat melihat Alando duduk di kursi kemudi. Terlebih lagi, hanya ada dirinya dan Alando dalam helikopter ini.


"Kau bisa membawa ini?"


Alando terkekeh mendengar nada khawatir Silvi.


"Aku bisa membawa apapun. Termasuk membawamu ke pelaminan."


Silvi membalas ucapan Alando dengan berdecih.


Setelah melewati perjalanan yang menegangkan, bagi Silvi. Akhirnya Helikopter yang membawa mereka berhenti di atas atap sebuah gedung.


Alando menggenggam tangan Silvi dan berjalan menuruni tangga.


"Dimana ini?" tanya Silvi pada Alando.


"Rumahku."


Silvi menatap Alando penuh tanda tanya namun langkahnya terus mengikuti langkah Alando hingga keduanya tiba di ruang yang Silvi pikir adalah ruang keluarga.


Beberapa pelayan terkejut melihat Alando hingga seorang pelayan tua datang menghadap pada Alando.


"Selamat datang tuan muda." pelayan itu menunduk dan diikuti pelayan-pelayan yang berada di belakangnya.


"Dimana ibuku, pak Radeks?" Tanya Alando pada kepala pelayan itu.


"Mereka sedang mengunjungi nyonya besar di kota Turin."


Alando menghembuskan nafasnya kasar.


"Baiklah, bawa Silvi untuk beristirahat."


Pak Radeks kemudian melirik 2 pelayan wanita di belakangnya. Kedua pelayan itu pun menuntun Silvi untuk menuju kamar tamu.

__ADS_1


Silvi menurut dan sesampainya di dalam kamar, Silvi menahan kedua pelayan itu untuk menjawab rasa penasarannya.


"Kenapa kalian terkejut melihat kedatangan Alando?" tanya Silvi.


"Maafkan kami nona." keduanya kompak menjawab.


"Aku ingin jawaban."


Kedua pelayan itu terlihat ketakutan.


"Kami bersalah nona." salah satu pelayan berlutut di kaki Silvi. Pelayan yang lain pun ikut menyusul.


Silvi mundur beberapa langkah hingga jaraknya cukup jauh dengan kedua pelayan itu.


"Jawab saja pertanyaanku dengan jujur. Aku berjanji, jawaban kalian hanya sampai dan berhenti padaku."


Keduanya menatap Silvi, masih dengan wajah ketakutan.


"Cepat. Aku bukan orang yang cukup sabar." ucap Silvi frustasi.


Kedua pelayan itu berpikir, merasa tidak punya pilihan. Menjawab dan tidak menjawab, keduanya sama saja dalam masalah. Mereka hanya berharap, Silvi menepati perkataannya.


"Baiklah nona." ucap salah satu pelayan dan mendapat anggukan dari pelayan di sampingnya.


"Jadi, kenapa kalian terkejut melihat Alando?"


"Tuan muda Alando meninggalkan rumah utama selama 9 tahun dan ini pertama kali kedatangannya setelah kepergiannya."


"Kenapa Alando pergi selama itu?"


"Terjadi pertengkaran hebat antara tuan muda Alando dan Tuan Abraham. Hingga tuan muda Alando memutuskan meninggalkan rumah. Saat itu nyonya menangis menahan tuan muda Alando, namun tuan muda tetap kokoh dengan pendiriannya."


"Baiklah. Aku rasa cukup. Tolong tunjukkan aku kamar Alando." ucap Silvi datar.


Silvi mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan keberadaan Alando. Namun bunyi shower kamar mandi membuatnya yakin Alando berada di dalam sana. Silvi kemudian menunggu di sofa kamar.


Beberapa menit kemudian Alando keluar dengan handuk yang dililitkan pada pinggangnya. Bibirnya tersenyum lebar melihat Silvi yang tertidur di sofa.


Alando kemudian mendekat dan mengecup bibir Silvi. Bibir basah Alando yang sehabis mandi membuat Silvi sontak terkejut dan refleks bangun lalu duduk bersila pada sofa.


"Jerk sialan. Kau kembali memanfaatkan kesempatan." Silvi menghapus ciuman basah Alando pada bibirnya.


"Kau yang menggodaku." Alando duduk di samping Silvi. "Aku memberimu kamar lain, tapi sepertinya kau ingin tidur bersamaku." goda Alando pada Silvi.


"Tidak seperti itu, mesum. Aku ingin bicara. Kau mandi begitu lama hingga aku ketiduran."


"Anggaplah aku percaya."


"Pakai bajumu baru kita bicara."


"Aku tidak bawa baju ganti. Bajuku belum dicuci pelayan."


"Jangan berbohong. Ini rumahmu, tidak mungkin kau tidak punya baju di sini."


"Saat pergi, aku membawa semua bajuku."


"Benarkah?" Silvi melangkah memasuki walk in closet dan keluar dengan baju di tangannya. Silvi melemparnya tepat pada wajah Alando.


"Pakai itu brengsek. Bajumu bahkan lebih banyak daripada bajuku di rumah." ucap Silvi geram dan dibalas kekehan oleh Alando.


Alando memakainya dan menepuk kursi kosong di sisinya.

__ADS_1


Silvi maju dan duduk pada ujung sofa agar jaraknya jauh dari Alando.


"Kenapa kau membawaku di rumah ini?" ucap Silvi datar.


"Aku ingin memperkenalkanmu pada ibuku."


"Kau pulang untuk pertama kalinya dan mengajakku. Kau seharusnya memperbaiki hubunganmu dengan ayahmu terlebih dahulu. Untung saja, mereka tidak di sini. Jika tidak aky pun akan kena imbasnya."


"Kau sudah tahu banyak rupanya. Aku dan ayahku tidak bertengkar, kami hanya berbeda pendapat. Dia akan menyambutku dengan baik jika kau bersamaku."


"Sinting. Aku tidak mengerti cara berpikirmu. Aku ingin kembali di asramaku."


"Baiklah. Besok pagi, aku akan membawamu kembali."


"Hm." Silvi melangkah keluar dari kamar Alando, namun tangannya ditahan oleh Alando.


"Kau tidak bisa datang dan pergi begitu saja." ucap Alando dengan sengaja menggoda Silvi.


Silvi menendang selangkang Alando hingga Alando melepaskan genggaman pada tangannya. Alando menunduk kesakitan.


"Tidak lagi jerk. Kesempatan tidak sedang berpihak padamu." Silvi melangkah meninggalkan Alando.


***


"Bangun kau sialan. Sudah semenit aku di sini hanya untuk membangunkanmu." ucap Silvi dengan nada kesal. Kekesalannya semakin bertambah melihat Alando yang masih saja tidak bergeming.


Silvi kemudian menarik selimut yang menutupi tubuh Alando dan sedetik kemudian, Silvi berteriak histeris lalu keluar dari kamar Alando.


"Ah, Jerk sialan. Mata suciku ternodai." Silvi menutup matanya sambil berjalan lebih jauh dari kamar Alando hingga tubuhnya menabrak seseorang.


Silvi mengangkat wajahnya dan mendapati pak Radeks tersenyum kikuk dan menunduk memberi hormat.


"Maafkan saya nona." ucap pak Radeks sopan.


"Hm." Silvi melanjutkan langkahnya dan berhenti ketika teringat sesuatu. Silvi pun meminta pak Radeks untuk membangunkan Alando.


"Maaf nona. Saya tidak berani. Tuan muda Alando bukan tipe orang yang bisa diatur." pak Radeks kemudian meninggalkan Silvi.


Silvi dengan cepat menahan pak Radeks. "Jika dia pakai celana saja, aku akan kembali dan menendangnya. Ayolah pak."


Melihat wajah pak Radeks yang tidak bergeming untuk membantunya, Silvi menghembuskan nafasnya kasar.


"Baiklah. Katakan pada Alando, jika Silvi terjatuh dari tangga dan hampir mati sekarang." ucapan Silvi mendapat tatapan tidak percaya pak Radeks.


"Apa? Tidak mau? Karena itu berarti bapak berbohong. Baiklah. Aku akan menjatuhkan diriku sendiri dari tangga sekarang." Silvi melangkah mendekati tangga.


"Tolong nona, jangan lakukan itu. Aku akan pergi memberitahu tuan muda sekarang."


Pak Radeks melangkah memasuki kamar Alando dan itu membuat Silvi tersenyum karena ancamannya berhasil. Mana mungkin aku melakukan hal konyol seperti itu. Batin Silvi.


Tak lama setelah pak Radeks yang memasuki kamar Alando. Alando keluar dari kamarnya hanya dengan boxsernya. Matanya kemudian terkejut melihat Silvi yang menatapnya tak jauh dari pintu kamarnya dengan tangan bersedekap dada.


"Ini memang rumahmu. Tapi di sini banyak pelayan wanita, bahkan ada gadis suci dan polos di sini. Dan lihat kelakuanmu, kau tidak tahu cara berpakaian yang sopan."


"Kau ini. Berani sekali mengerjaiku." Alando menarik Silvi untuk memasuki kamarnya. Lalu dengan cepat Alando mengunci kamarnya dan menggantung kunci kamarnya di gantungan yang Alando yakini tidak akan bisa dijangkau Silvi.


"Hei jerk. Kau membuat pak Radeks berpikir negatif tentang kita."


"Dia tidak salah. Pikirannya akan menjadi kenyataan." Alando melangkah mendekat ke arah Silvi dan Silvi masih saja tenang pada posisinya.


Alando terkekeh, "rupanya kau juga menginginkannya."

__ADS_1


"Hm."


Alando mempercepat langkahnya dan dalam sekali tarikan, Silvi berada di dalam dekapannya.


__ADS_2