Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
Alando Come Back


__ADS_3

Lanjut yaa 😊


***


Sore harinya, Rihana tiba di ruang rawat Sivi. Rihana sedikit terkejut melihat Silvi, namun kebahagian menyelimuti hatinya. Silvi sedang bersandar dan menatap prihatin tangan Rihana yang dibalut gips.


"Aku senang melihatmu sudah sadar. Bos, eh Loli, kenapa kau tidak mengabariku? Kalau tahu Silvi sudah sadar, aku akan datang lebih cepat." Rihana menatap Loli yang duduk enteng pada sofa.


"Aku sengaja melakukannya."


Tatapan Rihana menjadi tidak bersahabat pada Loli. Namun, wajahnya kembali tersenyum ketika melihat Silvi. Rihana memeluk Silvi dengan tangan kanannya.


"Aku rindu melihat matamu terbuka." Rihana menatap Silvi dengan senyum yang tak pernah pudar.


"Memangnya berapa lama aku tidak sadarkan diri?"


"2 hari 2 malam."


"Kau seharusnya bilang HANYA 2 hari 2 malam."


"2 hari 2 malam itu terasa lama bagiku." Rihana mengembungkan pipinya.


"Rihana, apa kau melihat wajah pria yang menyelamatkan kita?" tanya Silvi dengan mata serius.


"Iya. Aku bahkan mengingat wajahnya. Tapi aku tidak bisa menjelaskan apapun. Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Jika aku melihatnya lagi, aku pasti akan mengenalnya."


"Sudah ku bilang jangan penasaran dengan pria itu." Loli menimpali pembicaraan Rihana. Loli kini sedang asik mengotak-atik ponselnya.


"Hm."


Pikiran Silvi masih terus mengingat pria itu. Bukan tanpa alasan, dari postur tubuh pria itu mirip dengan Alando. Jika saja, penglihatan Silvi tidak buram saat itu, Silvi pasti tidak perlu penasaran seperti ini. Rasanya Silvi ingin menunjukkan foto Alando pada Rihana dan menanyakan 'apakah pria ini sama dengan pria yang menolong kita'. Namun Silvi tidak memiliki foto Alando sama sekali.


"Lupakan soal pria itu. Kau tahu, Philips Raichar membiayai pengobatan kita. Dia bahkan menutup..."


"Hm." Silvi menutup mulut Rihana dengan tangannya. "Aku sudah mendengarnya dari Loli."


"Hahaha. Kau sangat lucu, Rihana." Loli tertawa dari posisi nyamannya. Gadis itu bahkan sudah berganti posisi. Bukan lagi duduk, melainkan berbaring nyaman pada sofa.


Hans masuk dengan wajah lelah. Terlihat baru pulang dari kantor dan langsung ke ruang rawat Silvi. Tidak seperti biasanya, pria itu biasanya mandi dulu dan mengenakan pakaian santai.


Sontak Hans menghentikan langkahnya ketika melihat Silvi yang dalam posisi bersandar.


"Kau sudah sadar?" Hans mengalihakan tatapnnya pada Loli dan Rihana. "Kalian berdua! Beraninya tidak memberitahuku." Ucap Hans dengan wajah geram.


"Pfft, Hahaha. Coba lihat wajahmu Hans, kau seperti pria yang dihianati." ucap Loli dengan terbahak-bahak.


"Ya. Karena kau mengkhianatiku." Hans berjalan ke arah Loli dan memukulnya dengan bantal sofa secara brutal.


"Hans, hentikan. Apa kau sudah tidak waras?" teriak Loli. Namun Hans tetap saja, tidak menghentikan pukulannya.


"Hans, Hentikan." Rihana menarik bantal yang di pegang Hans. "Ini rumah sakit. Kau mau kita diusir dari sini."

__ADS_1


"Kau juga sama saja." Hans maju ke arah Rihana. Hans mencubit kedua pipi Rihana. "Semua yang mengkhianatiku harus mendapat hukuman." Hans lalu melenggang ke arah Silvi.


"Ini tidak adil, Hans. Kau memukulku dengan brutal dan hanya mencubit pipi Rihana." Protes Loli.


"Diamlah, Loli. Kita sungguh akan diusir dari sini jika kau bicara lagi." Hans duduk pada kursi di samping ranjang Silvi.


"Senang melihat tatapan datarmu lagi." Hans mengusap rambut Silvi dan tersenyum lembut.


Rihana yang melihat itu, hanya bisa memalingkan wajahnya. Baru saja, rasanya baru saja Rihana terbang akibat cubitan lembut Hans pada pipinya. Namun kenyataan menyadarkannya sekali lagi. Silvilah alasan Hans melakukan ini padanya.


***


Sebulan kemudian, keadaan Silvi semakin membaik bahkan dapat dikatakan pulih sepenuhnya. Begitu pula dengan Rihana, bahunya kembali bisa digerakkan seperti sebelumnya.


Hari ini adalah hari pertama Silvi dan Rihana kembali bekerja pada Loli. Keduanya sangat merindukan untuk bekerja lagi. Terutama, Rihana. Gadis itu kelihatan membutuhkan uang karena tabungannya yang kembali menipis sebulan terakhir ini.


Perjalanan hari ini cukup berbeda. Hujan pertama di tahun ini turun membawa kenangan-kenangan yang hampir Silvi lupakan. Silvi dan Rihana yang sedang duduk berdampingan pada bus terdiam memandangi hujan. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.


Tak terasa air mata Silvi jatuh membasahi pipinya. Air mata yang telah lama mengering, kembali turun ketika mengingat setiap kenangan bersama ayah dan ibunya. Silvi memejamkan matanya dan merapalkan doa. Sudah lama sekali, Silvi tidak merindukan ayah dan ibunya.


Hari-hari kuliah yang menyibukkan, ditambah masalah Aldric yang berhasil membuat dirinya dan Rihana kesusahan. Untung saja, biaya rumah sakit di tanggung keluarga Aldric.


Masih di dalam bus, tak sengaja Silvi melihat sepasang kekasih yang sedang menikmati kopi di tangan mereka. Ingatan Silvi kembali pada Alando. Silvi tersenyum mengejek yang ditujukan untuk dirinya sendiri karena masih saja mengingat Alando.


Mata Silvi kemudian mengarah pada jari manisnya. Di sana masih bertengger cincin pemberian Alando. Cincin yang sudah dengan berbagai cara Silvi lakukan untuk melepaskannya. Namun cincin itu sepertinya memang sengaja mengikatnya.


Silvi teringat Hans yang pernah mempertanyakan cincin ini.


*


Saat itu adalah hari Silvi keluar dari rumah sakit. Hans mengantarnya pulang. Mereka hanya berdua karena Rihana sedang kuliah dan Loli sedang mengurus transaksi anggurnya.


Silvi menatap Hans dengan wajah tak paham dengan pertanyaan Hans.


"Pria yang mengikat cincin itu di jari manismu?" Hans melirik sekilas jari manis Silvi membuat Silvi mengikuti arah pandang Hans.


Silvi terdiam, tak ingin membahas cincin pemberian Alando.


"Aku tahu, kau belum bertunangan ataupun menikah."


Ucapan Hans membuat Silvi menatapnya tidak suka. "Kau terlalu jauh mengurus hidupku."


"Aku hanya ingin melindungimu karena itu aku mencari tahu segala hal tentangmu."


"Aku bisa melindungi diriku sendiri."


Hans menepikan mobilnya. Hans menatap Silvi lekat.


"Aku akan melindungimu. Ini keputusanku."


Silvi tak merespon ucapan Hans, matanya menatap lurus ke depan.

__ADS_1


"Aku membaca tulisan di cincin itu. 'Almil' mau kah kau jelaskan itu padaku?"


"Tidak." Jawab Silvi tegas.


"Apa kau sangat mencintai pria itu?"


"Aku tidak berkewajiban menjelaskan hal ini padamu."


"Baiklah. Terserah saja*."


*


Silvi dikejutkan oleh Rihana yang memukul bahunya pelan.


"Kita sudah sampai. Ayo turun."


Silvi mengangguk dan mengikuti langkah Rihana untuk turun dari bus. Keduanya segera berteduh pada halte karena hujan tak mereda sedikitpun dan keduanya tidak membawa payung.


Tak sampai 1 jam, ponsel Silvi berdering dengan nama 'kak Loli' tertera di layar ponselnya. Silvi segera mengangkatnya.


"Apa yang kalian lakukan? Kalian sudah terlambat." ucap Loli di seberang sana.


"Kami sedang berteduh di halte bus. Kami tidak membawa payung."


"Baiklah. Aku kirim supirku untuk menjemput kalian."


Panggilan terputus


"Loli atau Hans?" tanya Rihana.


Mereka semua menjadi sangat akrab 1 bulan terakhir ini, hingga Rihana tidak canggung lagi menggunakan panggilan santai pada Loli dan Hans. Silvi apalagi, hanya saja Loli berisi keras meminta Silvi untuk memanggilnya 'kak Loli' dan Silvi juga tidak ingin berdebat hanya karena masalah panggilan.


"Loli." ucap Silvi. Ya, Silvi hanya memanggil Loli dengan sebutan 'kak Loli' ketika di depan Loli saja.


"Mungkin sekarang Hans sedang mengamuk. Dia ingin minum anggur dan si penuangnya tidak ada." Rihana tersenyum.


Namun senyumnya tidak seperti senyumnya yang selalu sampai di matanya. Senyum Rihana selalu berbeda setiap kali membahas Hans. Hanya saja, Silvi tidak memperhatikannya dengan jelas.


"Silvi." Rihana menatap Silvi lekat.


Silvi yang mendengar namanya disebut menoleh. Melihat tatapan Rihana, Silvi tahu bahwa Rihana ingin membicarakan sesuatu yang serius.


"Apa kau mencintai Hans?"


Silvi ingin menjawab, namun bel mobil berbunyi dengan nyaring diikuti lampu sorot mobil yang begitu menyilaukan. Silvi dan Rihana menoleh. Supir Loli turun dan membawa 2 payung di tangannya. Keduanya menyambut payung itu dan menaiki mobil.


Rihana ingin menanyakan kembali pertanyaannya, namun kehadiran orang ketiga membuatnya mengurung niatnya.


Setibanya di klub milik Loli. Rihana dan Silvi menjalankan tugasnya masing-masing. Silvi memasuki ruangan VVIP Hans dengan nampan anggur yang yang berada di tangannya.


Langkah Silvi terhenti dan tubuhnya kaku seketika. Matanya beradu dengan mata pria yang pernah memintanya menunggu. Wajah yang sama, dengan tubuh yang lebih kekar dari sebelumnya. Silvi menatap wajah yang juga menatapnya dengan penuh kerinduan. Alando, pria yang ditunggunya selama berbulan-bulan, sekarang duduk di samping Hans dengan vodka di tangannya.

__ADS_1


***


Kasi Lope-lope dulu dong buat Alando💜


__ADS_2