Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
8. Restoran Angsa Zambrud


__ADS_3

"Lania, Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Tono geram melihat Lania senyum-senyum tanpa sebab.


Silvi yang fokus pada bukunya, mengangkat wajahnya dan ikut menatap Lania, meminta penjelasan dari senyum Lania.


"Bicara kau, siluman" Tono memukul pundak Lania yang tak menghiraukan pertanyaan Tono.


"Sakiiiit. Silvi, Tono jahat" Lania menjerit di buat-buat. Tentu saja pukulan Tono itu bisa di katakan hanya menyentuh tanpa ada tekanan berarti. "Dia menyebutku siluman" Lania meraih lengan Silvi.


"Hei. Kau siluman. Berani sekali kau memprovokasi Silvi" Tono memasang kuda-kuda untuk menyerang.


"Dasar kau roh jahat. Aku akan membunuhmu" Lania ikut memasang kuda-kuda menyerang.


"Ah. Hentikan" Silvi menarik telinga Lania dan Tono dan menuntun mereka untuk duduk. "Katakan. Berita bahagia apa yang kau punya?"


"Aku sama kak Rangga sudah buat janji makan malam di restoran Angsa Zambrud" Lania tersenyum bahagia dengan tangan yang masih mengelusi telinganya yang baru saja di lepaskan Silvi.


"Bagaimana bisa kalian membuat janji makan malam? Kau bahkan tidak punya nomor ponsel kak Rangga." Tono menunjukkan ekspresi tidak percaya. Tono berpikir bahwa Lania hanya mengada-ngada.


"Jodoh itu akan di pertemukan walaupun yang satunya di selatan dan satunya lagi di utara. Jadi...Aku kemarin menjenguk Ilham". Silvi dan Tono mengerutkan kening secara bersamaan.


"Ilham anaknya om Robert". Silvi dan Tono mengangguk.


"Ternyata dokternya Ilham itu adalah kak Rangga. Aku dan kak Rangga tukaran nomor ponselnya dan dalam semalam aku berhasil membuat janji makan malam bersama." Lania diam beberapa detik dan melanjutkan ucapannya.


"Tapi makan malam ini akan terjadi jika kalian berdua ikut" Lania cemberut seketika.


"Kenapa?" Ucap Silvi


"Karena alasan di balik makan malam ini adalah reuni pulau Senja. Aku sebenarnya ingin sedikit menipu kalian untuk makan malam tanpa kak Rangga" Lania cengingiran.


Tono menaggapi ucapan Lania dengan tawa kecil. Namun tidak untuk Silvi. Jika itu reuni pulau Senja, maka si brengsek Alan akan ada di sana. Membayangkan wajahnya saja suasana hati Silvi menjadi buruk.


"Aku tidak ikut" Ucap Silvi malas


"Lakukan ini untukku" Lania memeluk Silvi yang duduk di sampingnya.


"Aku tahu kau membenci kak Al. Tapi, kau bisa menganggapnya tidak ada. Tolonglah Silviku"


Silvi kembali berpikir bahwa ide Lania tidak buruk. "Ini kesempatan membalas sikap kurang ajar si brengsek Alan"


"Baiklah. Aku ikut".


Lania mengeratkan pelukannya pada Silvi menyalurkan rasa bahagianya. Tono memukul tangan Lania yang memeluk Silvi Karena guru mata pelajan telah memasuki ruangan kelas.


***


Silvi, Lania dan Tono kini telah memasuki restoran Angsa Zambrud yang merupakan salah 1 restoran bintang lima di kota Andolo. Seorang pelayan mengarahkan ketiganya menuju ruang VIP dan duduk di tempat yang telah di pesan Rangga.


Tak lama kemudian, Rangga datang dari toilet dan tersenyum ramah pada semuanya. Mereka mulai berbincang sambari menunggu pesanan mereka di antarkan.


"Kenapa kak Al tidak ikut?" Tono bertanya


"Dia sangat sibuk" Jawab Rangga


Silvi menghembuskan nafas kesal. Matanya mengarah pada Rabella yang duduk di meja sudut ruangan VIP. "Padahal Rabella bisa memberinya beberapa pukulan"


Hembusan nafas kesal Silvi mengundang mata tiga orang yang 1 meja dengannya.

__ADS_1


"Kau terlihat kecewa, Silvi?" Rangga lebih dulu bertanya dengan senyum kecil di bibirnya.


"Aku bukan menanggapi ketidak datangnya orang yang kalian bicarakan. Aku..." Silvi kebingungan memikirkan alasan yang harus di pilihnya.


Rangga, Lania, dan Tono menatap Silvi dengan senyum kecil membuat Silvi merasa terpojok. Silvipun meminta izin ke toilet untuk menghindari tatapan yang berhasil membuatnya salah tingkah.


Silvi melangkah dan memasuki toilet. Silvi mengedarkan pandangannya dan mendapati toilet yang dia masuki kosong tak ada siapapun. Silvi melangkah maju menuju wastafel dan langkahnya terhenti. Silvi tersadar jika yang dimasukinya bukan toilet wanita. Tak menunggu lama, Silvi hendak keluar dan kepalanya menubruk dada seseorang. Silvi mengangkat wajahnya dan mendapati Alando di depannya.


Alando menyadari situasi yang terjadi sangat menguntungkan untuknya kembali menggoda Silvi. Dengan cepat tangan Alando mengunci pintu toilet dari dalam.


Silvi yang melihat gerakan tangan Alando menjadi geram. "Kau!"


"Hai" Alando tersenyun hangat.


"Minggir. Aku mau keluar" Silvi mendorong dada Alando. Namun Alando tak bergeser sedikitpun dari tempatnya berdiri.


"Kau memasuki toilet pria. Apa kau mencari pria?"


"Tutup mulutmu!" Silvi sedikit membentak


"Hei. Tenanglah. Bagaimana kabarmu?"


"Apa kita sedekat itu untuk menanyakan kabar?"


"Tentu saja. Peluk aku. Maka kita akan menjadi sangat dekat".


"Dasar tidak tahu malu. Minggir, jangan halangi jalanku"


"Peluk aku. Maka aku akan membiarkanmu keluar dari sini"


Silvi tersenyum mengejek. "Tanpa aku bergerakpun, Rabella akan datang menghancurkan pintu ini"


"Apa Rabella seterkenal itu? aku tidak tahu dia terkenal sampai di telinga pengawal ****** Ganas"


"Lupakan Rabella. Peluk aku sebelum Rabella datang"


"Tentu saja"


Silvi menedang lutut Alando dan hendak berlari memasuki salah satu kamar mandi. Namun Alando menahannya dan memeluknya dari belakang.


"Aku merindukanmu" Bisik Alando pada telinga Silvi


Silvi memberontak, namun alando tetap berhasil membekap Silvi dalam pelukannya. Alando membuka pengait pintu. Dan melepaskan Silvi. Sedetik kemudian pintu toilet terbuka dan Rabella sudah berdiri di depan pintu.


"Jaga dia baik-baik" Ucap Alando pada Rabella dan melenggang pergi meninggalkan Silvi yang diam menunggu tindakan Rabella.


"Kenapa kau tidak menangkapnya?" Ucap Silvi yang melihat Rabella hanya terdiam.


"Hah" Rabella terlihat linglung


"Tangkap dia untukku"


"Hah"


"Hei. Kenapa kau jadi lemot. Tangkap dia Rabella" Silvi geram


"Anu nona. Kenpa... Kenapa aku harus menangkapnya?"

__ADS_1


Silvi semakin kesal karena Alando tidak bisa di lihatnya lagi. Silvi menendang kaki Rabella.


"Kau. Sejak kapan kau mempertanyakan permintaanku? Kau bahkan tidak melaksanakannya setelah ku ulangi permintaanku sebanyak 3 kali"


"Maaf nona" Rabella hanya menunduk namun tak menyesali perbuatannya.


"Kau. Kalau bukan karena kau telah menjagaku selama 6 tahun. Aku akan mengadukanmu pada ayah"


"Maaf nona. Maafkan aku" Rabella menunduk.


Silvi melangkah pergi. Dia sungguh kesal dengan tingkah Rabella sekarang.


Sampai di meja makanpun, Silvi sudah tidak selera. Kekesalannya sama sekali tidak berkurang. Harusnya Rabella bisa menangkap Alando dengan kemampuan bela dirinya. Setidaknya Silvi bisa menampar Alando 3 kali. Tidak, 10 kali.


"Rabella sialan"


Lania, Tono dan Rangga yang sedang menikmati makan malam mereka terkejut mendengar umpatan Silvi. Mereka sama sekali tidak tahu siapa yang Silvi maksud. Dia ke toilet sendiri dan kembali sendiri. Tentu saja mereka tidak melihat Rabella. Karena Rabella sudah kembali di meja tempatnya semula mengawasi Silvi. Tidak seperti pengawal Lania dan Tono yang berdiri tak jauh dari meja makan mereka.


"Silvi. Kau mengumpat?" Lania memastikan pendengaranya. Lania sangat jarang mendengar Silvi mengumpat.


"Anggap saja kalian tidak mendengarnya"


"Siapa Rabella?" Tono penasaran.


"Ku bilang anggap saja kau tidak mendengarku" Silvi sedikit membentak Tono. Tonopun terlihat sedikit pucat. Silvi tak pernah sekesal ini. Silvi seolah tak dapat mengontrol emosinya. Padahal Silvi adalah gadis paling tenang yang pernah Tono dan Lania kenal.


Lania diam tak ingin membantu Tono karena akibatnya mungkin Silvi akan semakin naik darah. Rangga ingin mengatakan sesuatu, namun Lania menggenggam tangan Rangga dan menggeleng keras seolah mengatakan kumohon jangan katakan apapun.


Sementara Silvi semakin emosi memikirkan Alando. 4 kali sudah pria itu bersikap kurang ajar padanya. Memaksanya memakai jaketnya, memojokkannya di laut, mencium keningnya dan 2 kali memeluknya.


"Si brengsek itu. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri"


Lania, Tono dan Rangga hanya bisa terkejut dengan Silvi yang tak tanggung-tanggung bicara. Namun, ketiganya hanya diam tak ingin mengatakan apapun.


Selera makan keempatnya musnah sudah. Tanpa rasa malu lagi, Silvi meminta nomor Alando pada Rangga. Dan Rangga memberikannya tanpa perlu Silvi mengulangi kalimatnya.


"Ah. Aku merusak segalanya. Aku akan pulang dan kalian bisa menikmati makan malam kalian kembali" Silvi meresa dirinya sudah keterlaluan hingga tiga orang yang semeja dengannya tak ada yang melanjutkan makannya.


Tanpa mengucapkan maaf. Silvi meninggalkan restoran tersebut dan pulang menuju rumahnya.


Sementara Lania dan Tono menghembuskan nafas lega.


"Maaf kak Rangga. Silvi sebenarnya merupakan orang yang selalu tenang. Hanya saja, sepertinya seseorang yang bernama Rabella sungguh menyinggung hal sensitifnya"


Rangga menanggapi dengan sumringah "dia persis seperti Alando"


"Alando itu siapa kak?"


"Alando itu Alan. Kalian memanggilnya kak Al"


"Oh" Lania dan Tono berohria sambil mangut-mangut.


"Untuk apa Silvi meminta nomor ponsel Alando? Apakah dia jatuh cinta pada Alando?"


"Bukan seperti itu kak"


Lania mulai menceritakan yang di ketahuinya dan Tono tentang jaket Alando. Mereka kini mengkhawatirkan keadaan Alando. Namun Rangga hanya dapat tersenyum.

__ADS_1


"Memangnya apa yang bisa di lakukan ayahnya Silvi?"


Lania dan Tono terdiam. Mereka hanya tersenyum canggung. Mereka menutup pembicaraan tentang Silvi dan Alando. Hingga santapan selesai dan mereka membicarakan banyak hal tentang pribadi mereka masing-masing hingga keakraban mengisi meja makan ketiganya. Sampai jam 10 malam mereka kembali pulang karena Lania dan Tono harus tiba di rumah sebelum jam 11. Itulah aturan kehidupan keluarga kaya di kota Andolo.


__ADS_2