
Hans mengerutkan dahinya ketika mendengar laporan Loli yang mengatakan Silvi dan Rihana mengambil cuti selama 2 bulan karena keduanya telah menandatangani kontrak selama 2 bulan untuk bekerja pada seseorang. Yang membuat Hans kesal karena Silvi dan Rihana merahasiakan siapa orang membuat kontrak kerja dengan keduanya.
"Apa kau mau aku kirimkan gadis baru?" tanya Loli pada Hans.
"Tidak. Aku akan libur dari klubmu selama dua bulan."
"Karena Silvi cuti dua bulan dari sini?"
"Tentu. Karena aku harus mengurus kontrak yang Silvi buat ini. Bagaimana bisa dia menandatangani kontrak pekerjaan tanpa memberitahuku."
"Hans. Kau pikir siapa dirimu bisa mengatur Silvi." ucap Loli kebingungan.
"Silvi itu orang yang harus ku lindungi. Dia tidak boleh bekerja pada orang yang salah. Aku harus memastikan keamanannya. Aku sudah bersumpah pada ayah, ibu, kedua kakeknya dan kedua neneknya untuk melingdunginya."
"Hans. Kau mengenal keluarga Silvi? Bukankah kalian baru bertemu 2 bulan yang lalu. Dan bagaimana... Bagaimana caranya kau membuat sumpah pada keluarga Silvi?" ucap Loli dengan mata tak percaya.
"Aku bersumpah pada arwah mereka. Aku bersumpah sebulan lalu, ketika Silvi menceritakan kematian keluarganya. Kau tahu, itulah alasan yang membuatku hanya minum anggur 3 gelas sehari. Aku harus tetap sadar untuk melindungi Silvi."
Loli mengangguk paham. "Kalu begitu kau harus menepati janjimu. Jika kau butuh bantuanku, jangan sungkan untuk memberitahuku. Silvi itu sudah seperti..."
"Ya, aku tahu. Sikapnya mirip dengan Lorine. Karena itu kau menyayanginya dan aku ingin melindunginya."
***
"Wah. Kau sangat cocok dengan pakaian ini. Kau terlihat jauh lebih imut dari pada sebelumnya." Loli menatap kagum Silvi yang sudah siap dengan seragam anak SMP.
Hari ini, sesuai dengan kesepakatan. Silvi dan Rihana mulai bekerja. Pemotretan pertama mereka akan segera dilakukan, jadi Silvi sebagai model sudah siap dengan pakaian yang akan diendorsenya.
Rihana mendadani Silvi dengan make up tipis ala remaja. Awalnya, Silvi ingin mendandani dirinya sendiri. Tapi, Rihana berisi keras agar dia yang melakukannya. Setidaknya kehadiran Rihana akan sedikit berguna dengan memake up Silvi.
Silvi dan Rihana kemudian melangkah menuju tempat pemotretan yang sudah dihadiri Aldric dan kameramennya serta asisten kemeramen.
Melihat kedatangan Silvi dan Rihana, Aldric tersenyum kecil. Dia menatap Silvi dari ujung kaki sampai kepala.
Silvi kemudian mengambil tempat sesuai arahan asisten kameramen. Silvi berpose dengan wajah yang datar. Mungkin karena kemanisannya, wajah imut alami itu berhasil membuat kameramen handal Aldric puas dengan hasil jepretannya.
Silvi kembali dengan pakaian remaja yang lain dan mulai berpose. "Bagaimana bisa ada mahasiswa dengan wajah dan tubuh seperti remaja. Ini sangat menggemaskan." Aldric tersenyum.
Kameramen mengatakan pemotretan hari ini 'berakhir' dengan senyum puas.
"Rihana, kau rapikan barang-barang Silvi dan kau Silvi, ayo ikut denganku." ucap Aldric
__ADS_1
Rihana menjalankan tugasnya tanpa membantah dan Silvi mengikuti langkah Aldric.
***
Silvi kini duduk di sofa ruang kerja Aldric. Aldric menekan sesuatu di bawah mejanya dan pintu ruangannya terkunci otomatis. Aldric tersenyum sekilas dan duduk di samping Silvi.
Silvi melirik Aldric sekilas dan tersenyum mengejek. Jelas saja Silvi bisa membaca apa yang coba dilakukan Aldric.
"Kau menertawakanku?" Tanya Aldric.
"Hm." Jawab Silvi singkat.
"Ke...kenapa?" Jujur saja Aldric merasa tudak bisa percaya bahwa seorang gadis kecil yang berada dalam kendalinya tertawa mengejeknya.
"Karena kau sangat licik dan murahan."
"A...apa? Kau bilang aku apa?"
"Kau tuli? Aku bilang kau licik dan murahan."
"Berani sekali kau mengataiku seperti itu."
"Kenapa aku harus takut?"
"Lalu?" ucap Silvi dengan menaikkan kedua alisnya. Matanya menarap Aldric tanpa rasa takut.
"Hahaaha." Aldric tertawa. "Kau ini rupanya sangat polos dan manis."
Aldric mencoba menangkup kedua pipi Silvi. Namun sebelum itu terjadi, Silvi berhasil mendorong Aldric hingga terjatuh dari sofa ke lantai.
"Wah. Kau semakin menarik saja." Aldric tersenyum dengan penuh semangat.
Aldric berdiri dan mencoba menindih tubuh Silvi yang masih duduk enteng di sofa. Sebelum itu terjadi bel darurat pintu ruangan Aldric berbunyi. Aldric sedikit kesal namun karena itu bel darurat, Aldric melangkah dan menekan tombol otomatis di bawah mejanya.
Setelah pintu terbuka, seorang pria masuk dengan tergesa-gesa dan menghantamkan pukulannya pada wajah Aldric beberapa kali.
"Berani sekali kau membawa Silvi berduan di ruanganmu." Hans masih terus memukuli Aldric yang berada di bawahnya. Kini darah mulai keluar dari mulut serta hidung Aldric.
Silvi tidak mencoba menghentikan Hans. Beberapa karyawan Aldric masuk dan menghentikan aksi Hans.
"Batalkan kontrak bodohmu itu. Jika tidak, berarti kau mencari musuh yang lebih kuat darimu." Hans keluar dan menarik lengan Silvi.
__ADS_1
Aldric membuang ludah yang penuh dengan darah lalu tersenyum mengejek. "Kau membuatku ingin melakukan apapun untuk merasakan gadis kecilmu itu."
***
"Terima kasih telah menyelamatkan Silvi." ucap Rihana tulus.
Harusnya Rihana sadar, Aldric pernah mencoba melakukan hal kurang ajar pada Silvi. Rihana merasa bersalah karena membiarkan Silvi masuk sendirian di ruangan Aldric.
"Seharusnya aku ikut bersamanya." ucap Rihana dengan wajah bersalah.
"Rihana. Itu bukan salahmu." ucap Silvi kesal.
Rihana terlalu baik. Sangat terlalu baik hingga Silvi menjadi kesal.
"Ya itu bukan salah Rihana, tapi itu salahmu. Kenapa kau mau-mau saja ikut Aldric di ruangannya." Hans menatap Silvi jengkel.
"Karena aku ingin menedangnya. Tapi kau merusak segalanya."
Melihat Silvi yang hanya terdiam, Hans kembali pikir Silvi telah menyadari kesalahannya.
"Kau sadar sekarang? Untung saja, aku melihat Rihana saat itu."
Saat itu, Hans ingin menanyakan perusahan selain perusahaan Aldric yang berada di dunia permodelan. Sebab, menurut informasi yang didapatkan anak buah Hans dari mahasiswa yang berada di asrama Yard, Silvi dan Rihana sempat berbicara dengan seseorang dan orang itu meminta Silvi untuk menjadi modelnya. Semua kejadian di depan kampus telah diketahui Hans. Dan tak disangka, pria yang dicari Hans adalah Aldric.
Rihana menceritakan sisanya yang belum diketahui Hans. Hans mengepalkan tangannya, rasanya ia ingin mematahkan tangan Aldric.
"Berhenti bekerja pada Aldric. Jika dia menuntutmu di pengadilan, maka aku akan berada di pihakmu dan membuat pria busuk itu membusuk dalam penjara."
Rihana tersenyum bahagia dan mengucapkan terima kasih berkali-kali.
Namun yang didangar Hans hanyalah 1 ucapan terima kasih dari orang yang berbeda.
"Terima kasih. Aku akan membalas budimu jika ada kesempatan." ucap Silvi pelan.
Tentu saja, Silvi harus berterima kasih kan. Hans akan melindungi dirinya dan Rihana di pengadilan. itu artinya, Silvi tidak perlu berpose lagi di depan kamera. Sungguh, Silvi tidak berbakat dalam bidang ini. Tapi bidang ini selalu saja mengikutinya sejak SMP.
"Hm. Aku akan menagih imbalanku nanti." Ucap Hans dengan sumrigah.
Rihana yang melihat bagaimana Hans menatap Silvi ikut tersenyum. Rasanya Rihana sangat menyayangi Silvi dan melihat Silvi mempunyai seseorang yang menyayanginya membuat Rihana ikut bahagia.
Author Note :
__ADS_1
Buat gambaran author yang lagi nano-nano perasaannya, 🤪 kalian kasih like dan komen ya supaya aku tau perasaan kalian baca ini tuh bagaimana.