Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
Minta Maaf


__ADS_3

Alando mengerang merasakan bibir Silvi yang mengecup kulit lehernya. Bibir itu perlahan terbuka dan Alando bisa merasakan gigi-gigi Silvi menyentuh kulit lehernya. Rasanya sangat nikmat. Alando tahu gigi-gigi ini ingin menggigit lehernya, namun Alando tidak rela melepaskan dekapannya pada tubuh Silvi.


Tidak menunggu lama, gigi Silvi berhasil menggigit leher Alando. Alando tertawa kecil menanggapi gigitan itu. Alando tahu jelas, gigitan ini tidak menyerang urat nadinya.


Gigitan Silvi semakin erat. Alando terpaksa melepaskan dekapannya pada Silvi. Jika tidak, maka kulit lehernya akan koyak.


Plak


Tamparan Silvi mendarat pada pipi Alando.


Silvi melangkah keluar dari ruangan VVIP Hans dengan wajah yang menunjukkan kemarahan. Loli dan Hans tertawa kecil sambil menggeleng kepala. Begitu pula Alando, senyum yang begitu lebar kini menghiasi bibirnya.


"Aku sangat merindukannya."


***


Pip


Bunyi klakson mobil membuat Silvi dan Rihana mengarahkan pandangan mereka pada mobil tersebut.


Alando keluar dengan celana robek-robek dan kaus oblongnya menuju ke arah Silvi dan Rihana.


Rihana tercengang melihat wajah Alando, lalu berbisik pelan ke telinga Silvi.


"Dia pria itu."


Silvi menatap Rihana, meminta penjelasan lebih detail. Ya, walau sebenarnya Silvi cukup paham maksud Rihana.


"Dia pria yang menembak Aldric." Rihana berbicara dengan wajah yang cukup panik.


Silvi hanya terdiam, wajahnya menunjukkan ketenangan. Entah, apa yang dipikirkan Silvi.


"Apa yang harus kita lakukan? Lari darinya atau harus mengucapkan terima kasih?" Rihana semakin panik melihat Alando yang tinggal beberapa langkah lagi untuk tiba di hadapan dirinya dan Silvi.


Akhirnya, Rihana hanya dapat menahan nafas melihat Alando yang sudah tiba di hadapannya dan Silvi. Silvi pun hanya menatap Alando dengan tatapan yang tidak bersahabat.


"Aku ingin bicara denganmu. Jam berapa kau punya waktu kosong?" ucap Alando pada Silvi.


"Aku sangat sibuk hari ini. Dan jika aku punya waktu kosong, tidak akan aku habiskan denganmu."


Silvi menggandeng lengan Rihana dan beranjak meninggalkan Alando. Namun langkahnya dengan cepat ditahan oleh Alando.


"Kau harus tahu, aku tidak bermaksud membuatmu menungguku selama ini."


"Aku tidak pernah menunggumu."


"Baiklah. Mari kita perjelas semua ini. Aku sedang cuti 1 minggu. Sebelum cutiku berakhir, aku ingin memperkenalkanmu pada ibuku."


"Aku ingin ibuku mengenal menantunya."


"Hah. Lucu sekali." Silvi tertawa hambar. "Kau pikir siapa kau? Apa kita pernah memiliki kesepakatan tentang hubungan kita sebelumnya?"

__ADS_1


"Almil bersamamu. Perlu kesepakatan apalagi untuk membuktikan hubungan kita?"


Silvi melirik jari manisnya, tempat Almil bertengger. "Apa aku harus memutuskan jari manisku agar kau mengerti?"


"Ayolah, Silvi. Kau membuat semuanya menjadi rumit."


"Pergilah. Cincin ini hadiah untuk 13 kali kemenanganku bertanding. Bukan untuk mengikatku."


Silvi melangkah pergi meninggalkan Alando.


Rihana yang seakan baru sadar setelah Silvi melangkah beberapa langkah, segera berlari menyusul Silvi.


***


Setelah membaca bukunya. Silvi melepas kacamatanya dan beralih untuk tidur. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam. Rihana akan pulang jam 1 pagi. Malam ini, Silvi memutuskan untuk tidak bekerja di club Loli. Silvi hanya malas untuk bertemu Alando.


Rihana memiliki kunci kamar mereka, jadi Silvi bisa langsung tidur sekarang.


Dengan cepat, alam mimpi menyambut Silvi. Beberapa saat kemudian, sebuah tangan melingkar erat pada pinggangnya. Lalu sebuah kecupan mendarat pada pipi kirinya karena posisi tidur Silvi menghadap arah kanan.


Tengkuknya menghangat. "Maafkan aku membuatmu menunggu." suara itu bicara tepat pada tengkuknya.


Sontak Silvi membuka matanya dan menyikut si pelaku. Silvi memukul dengan mambabi buta.


"Aw, wo wo wo." si pelaku meraih tangan Silvi dan berhasil mengunci Silvi dalam pelukannya.


Silvi menatap si pelaku dan wajah Alando tersenyum kecil di sana.


"Dasar brengsek. Bagaimana kau bisa masuk ke kamarku." ucap Silvi geram.


"Apa?" Silvi mengumpat Rihana dalam hati. "Lepaskan aku."


"Ya. Setelah mendengar penjelasanku."


"Tidak mau. Lepaskan aku. Atau aku akan berteriak."


Tanpa jeda Silvi membuka mulutnya untuk berteriak. Alando segera membungkam Silvi dengan bibirnya. Dengan kekuatan Alando, dengan mudah Alando mengubah posisi duduk keduanya menjadi dirinya menindih tubuh Silvi. Tangan Silvi ditahannya dengan satu tangan ke atas.


Perlahan Alando melepaskan ciumannya dan berbicara tepat di bibir Silvi. "Aku sungguh akan melakukannya, jika kau berteriak." Alando menekan miliknya yang tepat mengenai paha Silvi. Silvi melolotot menatap Alando dengan marah.


Namun, tidak ada yang bisa dilakukan Silvi. Alando bukan saingannya.


Alando menceritakan semua hal yang terjadi padanya tanpa persetujuan Silvi dan Silvi hanya diam mendengarkan.


"Maaf membuatmu menunggu." Alando mengakhiri ceritanya.


"Maaf tidak ada saat ayahmu pergi." ucap Alando kembali.


Silvi terkekeh kecil. "Padahal saat itu aku sedikit membutuhkanmu." ucapnya dengan wajah yang berpaling, tak mau menatap Alando.


"Aku tahu. Maafkan aku." Alando melepas tangan Silvi namun tidak pada posisinya.

__ADS_1


Tidak terasa air mata Silvi jatuh. Silvi merapatkan kedua matanya dan berdoa dalam hati. Alando menatap wajah itu. Wajah tenang Silvi membuatnya terasa sangat damai.


Alando kemudian menghapus air mata Silvi dan memeluk tubuh Silvi. Tangisan Silvi mengeluarkan sedikit isakan. Alando memeluknya erat sambil mengelus kepala Silvi. Tanpa kata yang bisa diucapkan Alando, hanya rasa bersalah yang ada dalam hatinya.


Beberapa menit berlalu. Silvi kembali dapat mengontrol dirinya.


"Lepaskan aku." ucap Silvi dengan suara serak.


"Sial." Suara Silvi terdengar sangat seksi di telinga Alando. Sontak adik kecil Alando kembali memberi tekanan pada paha Silvi.


Alando mengangkat wajahnya dan menatap Silvi dengan mata penuh gairah.


"Apa? Turun dari atasku sekarang." ucap Silvi tegas.


"Hei. 6 bulan adikku puasa. Bisa kau berikan dia makanan berbuka?" ucap Alando dengan wajah memelas dan itu terlihat lucu di mata Silvi.


"Kau ingin memperkosaku? Murahan sekali." Silvi menatap Alando dengan senyum yang ditahannya.


"Oh. Ayolah. Sekali saja." ucap Alando memohon.


"Tidak."


"Ayolah, aku akan mengeluarkannya di luar."


"Turun sekarang atau aku tidak mau melihatmu lagi."


"Baiklah. Kau gadis keras kepala." Alando turun dan beralih ke kamar mandi yang berada di dalam kamar Silvi.


Dengan cepat Silvi menahan Alando. "Kau ingin apa? Pintu keluar ada di sana?" tunjuk Silvi pada pintu kamarnya.


"Minggirlah. Aku harus melakukan sesuatu di kamar mandimu." Alando mencoba menyingkirkan Silvi, namun Silvi yang sudah tersingkir beberapa langkah kembali pada posisinya menghadang Alando.


"Jangan kurang ajar kau. Ini kamar mandi perempuan. Kau tidak bisa masuk ke dalam tanpa izinku."


"Kau ini. Aku sedang tersiksa."


Alando berhasil menyingkirkan Silvi dan sebelum Silvi kembali menghadangnya, Alando segera masuk ke dalam kamar mandi.


Alando diam membisu melihat gantungan kamar mandi yang penuh dengan kelelawar dan segitiga bermuda.


Silvi menarik paksa Alando dan menutup pintu kamar mandi dari dalam. Beberapa menit kemudian, Silvi keluar dengan tatapan kesal pada Alando.


"Anggap kau tidak pernah melihatnya."


"Bagaimana ini, aku sudah melihatnya." Alando tertawa kecil.


"Maka kau harus melupakannya."


"Tidak bisa. Tadi itu sangat berkesan."


"Keluar dari kamarku. Dasar kau Jerk." Silvi kembali memukul Alando dengan tinjunya.

__ADS_1


"Ow aw ow. Hentikan! Aku bahkan kesulitan berjalan sekarang. Baikalah, aku akan melupakannya. Apa aku boleh masuk sekarang?"


Silvi mencibirkan bibirnya sebelum mengangguk dan Alando segera masuk ke dalam kamar mandi.


__ADS_2