
"Kalian pikir bisa pergi begitu saja." Ucap salah satu anggota Singa Ganas.
"Jangan harap. Tangkap mereka." Ucap anggota Singa Ganas yang lain.
Ketika kelimanya hendak menyerang. Alando dan Rabella datang dan menyambut pukulan kelimanya. Mereka bertarung beberapa menit dan masih berimbang.
Rabella menatap Alando jengkel. Rabella tahu Alando tidak bertarung secara maksimal seperti di dalam klub. Alando sepertinya ingin menunjukkan dirinya hanya sekuat Rabella. Rabella akan menanyakan alasan Alando melakukan ini nanti. Rabella kini yang harus berusaha sekuat tenaga karena ulah Alando.
"Sepertinya kita harus melindungi masing-masing 1 orang. Kita harus berpencar untuk memecah mereka." Ucap Rabella yang mulai kewalahan.
"Kau harusnya mengatakannya dari tadi." Alando menarik tangan Silvi dan berlari menuju arah utara.
Pengawal Tono yang sudah menggendong Lania segera berlari ke area parkiran. Rabella mengajak Tono berlari ke arah selatan.
10 pengawal Singa Ganas telah berkumpul. 2 orang mengikuti Lania yang digendong pengawal Tono, 2 orang mengikuti Rabella dan Tono dan 6 orang yang terisisa mengikuti Silvi dan Alando.
Alando sangat terkenal di organisasi Singa Ganas dengan kemampuan bela dirinya. Dia yang berhasil mencuri lukisan lelang seorang diri bukan lah orang yang bisa kau remehkan. Itulah kesan Alando di kepala para anggota Singa Ganas.
Pengawal Tono menurunkan Lania yang mabuk dan dengan kesusahan mengimbangi 2 anggota Singa Ganas. Seorang anggota Singa ganas mengeluarkan pisau dan berhasil menggores perut pengawal Tono. Pengawal Tono yang kesakitan, memencet kunci mobil yang ada di saku celananya dan mobil yang dibawanya di klub mulai menyala. Dengan kekuatan terkhir, dia memukul kedua anggota Singa Ganas dan menggendong Lania degan cepat memasuki mobil.
Pengawal Tono berusaha membawa mobil untuk keluar meninggalkan klub walaupun mobil yang mereka naiki mendapat lemparan sana-sini membuat kaca mobil pecah dan beberapa pecahan kaca mengenai punggung pengawal Tono ketika hendak melindungi Lania.
Anggota Singa Ganas berhenti mengejar mobil yang dinaiki Lania dan pengawal Tono karena mereka sadar anggota Singa Ganas telah keluar semuanya dan tidak menyisakan seorang pun untuk menjaga klub. Mereka kemudian kembali untuk menjaga klub.
Sementara itu, Rabella dengan mudah mengalahkan 2 anggota Singa Ganas dan berhasil kabur. Mereka berlari hingga taksi online yang dipesan Tono datang dan membawa keduanya pergi.
Disisi lain, Alando dan Silvi sudah cukup letih berlari. Mereka memutuskan untuk bersembunyi. Mereka bersembunyi dibalik pohon Beringin yang besar. Tentu saja, Alando sebenarnya bisa dengan mudah mengalahkan 6 orang yang mengejar mereka. Namun Alando hanya ingin menghabiskan waktu berlama-lama dengan Silvi.
Anggota Singa Ganas berhenti di depan persembunyian mereka. Alando menarik Silvi untuk mendekat ke arahnya hingga Silvi jatuh dalam pelukannya.
Silvi menatapnya dengan penuh kebencian dan Alando membalasnya dengan senyum kecil. Rasanya Silvi ingin mendorong Alando dengan sekuat tenaganya. Hanya saja, Silvi masih waras untuk melakukannya di situasi sekarang.
Tiba-tiba salah satu anggota Anjing Ganas berdiri di belakang Alando. Pria itu maju dan ingin menikam Alando dengan pisaunya. Alando menyadarinya dan hendak berbalik menendang pria tersebut. Namun Silvi yang jelas melihat pria itu dari balik punggung Alando, dengan cepat menggeser tubuhnya dan menendang tangan pria tersebut hingga pisau di tangan pria itu terjatuh.
Alando tersenyum melihat Kecekatan Silvi dan Silvi membalas senyum Alando dengan mengerutkan dahinya. Silvi merasa aneh dengan Alando yang selalu tersenyum. Bukan memukul anggota Singa Ganas yang sedang kaget mendapat tendangan Silvi yang sama sekali tidak diprediksinya.
Anggota Singa Ganas tersebut berhasil mengambil pisaunya kembali dan berhasil memanggil 5 temannya hingga keadaan Alando dan Silvi sekarang terkepung.
Alando menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Pergilah sebelum aku berubah pikiran."
"Kami tahu kemampuanmu. Tapi kau terlalu meremehkan kami yang memegang pisau."
"Terlebih lagi, kau punya seseorang yang harus kau lindungi. Sedangkan kami hanya melindungi diri sendiri." Tambah anggota Singa Ganas yang lain.
Anggota Singa Ganas menyerang Alando. Alando menangkis serangan mereka dan melepaskan beberapa pukulan pada wajah mereka. Tendangan demi tendangan hingga akhirnya keenam anggota Singa Ganas terkapar dan tidak bisa bangkit kembali.
Alando menarik tangan Silvi dan mengajaknya berlari. Tidak perlu berlari pun keadaan mereka berdua sebenarnya sudah aman. Namun Alando sengaja ingin menggenggam tangan Silvi.
Silvi dengan pikiran bertanya-tanya berhenti berlari dan Alando pun ikut berhenti. Alando mengangkat kedua alisnya mempertanyakan alasan Silvi berhenti berlari.
"Kau bisa membuat keenam anggota Singa Ganas terkapar dalam lima menit, Kenapa harus membuatku berlari?"
"Aku hanya ingin kau olahraga malam."
"Hei Jerk. Pilihlah alasan yang logis."
__ADS_1
"Kau ingin jawaban seperti apa?"
Silvi menatap tajam Alando. "Kenapa memukul teman-temanmu hanya untuk menolong kami?" Silvi kembali mengajukan pertanyaan yang mengganggunya. Tentu saja dipikiran Silvi, Alando adalah anggota Singa Ganas.
"Ya karena aku mengenal kalian."
"Kau kenal Rabella, kalian sepertinya saling mengenal dengan baik." Silvi menatap lurus arah jalan dan duduk bersila pada aspal.
Alando ikut duduk bersila di samping Silvi. "Kau sepertinya tidak suka jika aku mengenal baik Rabella?"
"Tentu. Aku tidak suka kau dekat dengan orang-orangku."
"Hei. Kau cemburu pada Rabella atau padaku?" Alando terkekeh.
"Aku tidak menyukaimu, dan Rabella...kau pikir dia pria? Jangan tertipu dengan tampilannya."
"Aku tahu dia wanita. Dia sebenarnya wanita yang manis."
"Apa kau menyukainya?" Silvi menatap Alando dengan tatapan membunuh.
"Hei. Hahaha. Ada apa dengan tatapanmu? Kau ternyata sangat mudah cemburu."
"Jangan dekati Rabella. Dia pantas mendapatkan pria yang lebih baik darimu."
"Dia yang pantas mendapatkan pria yang lebih baik atau aku yang lebih pantas mendapatkan wanita yang lebih manis?" Alando mengedipkan sebelah matanya mencoba menggoda Silvi.
"Apa maksudmu? Tentu saja Rabella lebih pantas mentapatkan pria yang baik. Tidak sepertimu. Kau mau mendapatkan wanita seperti apapun itu bukan urusanku."
Tentu saja Alando tidak percaya terhadap ucapan Silvi. Alando bisa melihat mata Silvi yang mengada-adakan alasan walaupun terlihat sangat natural. Namun batin Alando bersorak karena merasa dirinya kini memiliki tempat di hati Silvi.
"Bukan urusanmu."
"Kau ingin ku gendong?" Alando menawarkan diri dan menatap arah jalan yang akan mereka lewati.
"Kita bisa istirahat lebih lama. Kau pikir mereka masih sanggup mengejar kita setelah kau berhasil membuat beberapa dari mereka kehilangan gigi dan retak tulang." Silvi berusaha mencari sesuatu. "Aku akan memesan taksi." Namun sesuatu yang dicarinya tidak kunjung ditemukan.
"Kau cari apa?"
"Dimana ponselku?"
"Kau bertanya padaku?" Alando mulai kesal mengingat penggilannya yang sengaja ditolak.
"Ya. Kenapa wajahmu jadi kesal?"
Silvi mulai mengingat-ngingat terakhir memegang ponselnya. Higga Silvi akhirnya menghembuskan nafas kasar.
"Mana ponselmu?"
"Apa yang mau kau lakukan dengan ponselku?"
"Pesan taksi online."
"Kenapa tidak pakai ponselmu?"
"Aku melupakan ponselku di rumahku."
"Kau! Ponsel itu sangat penting untuk dibawa. Untuk apa kau punya ponsel jika ditelfon tidak kau angkat dan selebihnya dimatiakan."
__ADS_1
"Hei. Kenapa kau mengomeliku? Mana ponselmu? Aku ingin pulang."
"Aku melupakan ponselku di klub."
"Lalu bagaimana kita akan pulang?"
"Sekitar 2 kilo dari sini, kita akan menemukan desa kecil."
"Aku capek berlari. Sekarang kau menyuruhku berjalan 2 kilo?"
"Jika tidak mau, aku akan menemanimu menghabiskan malam di sini."
"Kau pikir aku sudi?" Silvi mulai menguap.
"Kau mau aku gendong sampai di depan?"
"Tidak. Aku tidak mau. Kita tunggu seseorang pulang dari klub dan kita bisa menumpang di mobilnya."
"Kau pikir ini jalan yang dilewati orang? Ini sebelah utara. Di sana hanya ada desa kecil yang penuh dengan orang-orang yang serba kesulitan bertahan hidup. Kau masih berpikir mereka pergi ke Klub?"
Silvi yang menyadari situasi mulai bangun dari duduknya. Dengan berat hati dan berat langkah, Silvi melangkah menuju desa kecil degan jarak 2 kilo yang dimaksud Alando. Alando mengikutinya dengan tersenyum.
"Aku akan menggendongmu agar kita cepat sampai."
"Tidak. Pergilah! Aku bisa berjalan sendiri. Kau bisa berjalan lebih dulu."
"Baikalah." Alando berjalan meninggalkan Silvi hingga keduanya berjarak cukup jauh. Silvi merasa sedikit takut dengan dikelilingi suasana hutan.
"Hey Jerk. Apa kau tidak punya hati meninggalkan seorang gadis sendirian?"
Alando terkekeh dan kembali berjalan ke arah Silvi. Dia kemudian mengangkat Silvi seperti karung beras dan berjalan ke arah desa.
"Hey turunkan aku."
"Kau masih bisa bersikap angkuh di situasi seperti ini"
Silvi akhirnya menurut karena kakinya juga terasa tidak mampu lagi untuk berjalan.
Alando terus melangkah dan merasakan lepasan tangan Silvi yang memegang bahunya.
"Hey, apa kau tidur?"
Tidak ada jawaban.
"Kau bisa tidur dalam posisi yang tidak nyaman seperti ini?"
"Kepalamu bahkan menggantung." Alando menggelengkan kepalanya.
Alando akhirnya berhenti dan mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dan menelpon taksi online. Tentu saja, desa yang Alando bicarakan sebenarnya tidak ada. Di sudut sana hanyalah hutan rimba.
Alando menurunkan Silvi dan memangku Silvi dengan kepala Silvi yang bersandar pada dadanya. Alando mengusap wajah Silvi lembut. Menyingkirkan anak rambut Silvi yang menghalangi wajah Silvi. Alando kemudian mengecup kening Silvi. Melihat Silvi yang tidak terganggu dengan kecupannya, Alando mulai mencium pelan bibir Silvi. Alando menghentikan ciumannya ketika juniornya mulai tegang.
"Kau membuatku menginginkan kembali malam itu." Bayangan Alando kini berada pada malam yang dihabiskannya dengan Silvi di pulau Senja.
Alando memukul kepalanya untuk menyadarkan pikirannya yang liar. Namun rasanya sangat sulit untuk menghilangkannya, apalagi posisi Silvi yang sangat mudah dijangkaunya sekarang.
Bunyi mobil menghentikan niat buruk Alando. Taksi yang dipesan Alando datang. Alando terpaksa menahan gairahnya. Alando menggendong Silvi dan membawanya ke dalam taksi. Taksi pun melaju menuju tempat yang Alando tunjukkan.
__ADS_1