
"Ini gaji kalian untuk malam ini." Loli memberikan amplop coklat pada Silvi dan Rihana.
"Terima kasih." Rihana membungkuk hormat pada Loli.
"Aku ingin bicara dengan Silvi. Pergilah Rihana."
"Baik. Aku tunggu kau di pintu masuk." Rihana menyikut lengan silvi dan tersenyum lembut. Kemudian menghilang dari pandangan Silvi maupun Loli.
"Katakan, bagaimana Hans bisa begitu puas dengan pelayananmu?"
"Anda bisa menanyakan itu padanya." Jawab Silvi dengan wajah datarnya.
"Kau tahu, kau bukan tipe Hans. Dia menyukai gadis molek yang seksi. Aku selalu mengirimkan gadis kecil padanya agar dia bosan pada gadis itu dan minuman yang dibawa gadis itu. Biasanya, aku selalu mendapatkan amukan Hans. Tapi kali ini berbeda..."
Kali ini, Pelayan bolak-balik ruangan Hans hanya sekadar untuk mengantarkan minuman. Hans menghabiskan 5 botol anggur dengan Silvi yang menuangkannya padanya. Silvi bingung harus bersikap bagaimana. Dia sama sekali tidak tahu ukuran minum orang-orang di kota ini. Mungkin saja, hal yang menurutnya berlebihan, justru sangat biasa.
Loli kemudian menceritakan bahwa Hans meminta Silvi untuk menjadi pelayan tetap Hans ketika Hans datang di klub ini. Loli sudah menyanggupinya dan mau tidak mau, Silvi hanya menurut. Lagipula, pekerjaan menuangkan minuman sangat mudah. Yang berat hanyalah menonton live adegan 21+ di dalam sana.
"Nona sepertinya tidak suka jika tuan Hans meminum banyak minum?"
"Tentu. Dia sahabat masa kecilku. Dia menjadi seperti ini karena seorang gadis."
Loli menatap Silvi lekat. "Aku akan sangat berterima kasih jika kau bisa membantu mengurangi kadar minum Hans."
"Aku tidak bisa berjanji."
Loli menggenggam erat tangan Silvi. "Kau sangat manis. Kau membuatku mengingat seseorang. Kau bisa memanggilku kak Loli."
"Tapi..." Ucapan Silvi terhenti ketika Loli malah tertawa kecil.
"Ini perintah. Jika kau menolak maka aku akan marah." Loli kemudian pergi meninggalkan Silvi.
Silvipun keluar dan disambut hangat oleh Rihana.
"Bagaimana? Kau suka pekerjaan barumu?" tanya Rihana.
"Hm." Jawab Silvi singkat.
"Hei. Aku punya pekerjaan lain. Pekarjaan ini ku lakukan hanya pada hari minggu. Pekerjaannya sangat mudah. Kau..."
"Hentikan." Silvi memotong ucapan Rihana. "Aku tidak ingin pekerjaan lagi."
"Hahaha. Baiklah."
Keduanya kembali ke asrama mereka dalam pembicaran panjang. Lebih tepatnya pembicaan Rihana dan Silvi hanyalah pendengar.
***
Silvi berjalan beriringan dengan Rihana. Mereka akan berpisah jika mereka memasuki kelas masing-masing.
Silvi dan Rihana berada di jurusan berbeda. Namun ketika kelas berakhir, Rihana akan mencari Silvi dan mengekori Silvi kemanapun Silvi pergi. Seperti sekarang, Rihana menempel pada Silvi yang membaca buku di perpustakaan.
Awalnya Rihana tidak berniat membaca buku. Tapi karena terus diabaikan oleh Silvi, Rihana mau tidak mau menjadikan buku sebagai pelariannya.
Tak terasa, keduanya menjadi akrab. Karena ala biasa yang menjadikan mereka bisa menjadi begitu layaknya saudara. Mereka makan bersama, tidur bersama, belajar bersama. Ya, belajar di waktu yang sama dengan materi pembelajaran yang berbeda. Sesekali olahraga bersama dan pergi bekerja paruh waktu bersama, di tempat yang sama dan pulang bersama.
Mereka hanya berpisah di hari minggu. Karena Rihana melakukan pekerjaan paruh waktunya yang lain sebagai penjaga wanita lansia di suatu rumah kaya di kota Cambridge.
Sementara Silvi latihan bela diri untuk memanfaatkan waktu berpisahnya dengan Rihana. Silvi tidak ingin tubuhnya menjadi kaku ketika dibutuhkan karena tidak biasa berlatih. Walau bagaimanapun, Silvi sama sekali tidak bisa menjamin keamanannya. Apalagi dirinya setiap malam keluar bolak-balik klub yang menjadi tempat perbuatan dosa dan peluang kejahatan sangat besar di tempat tersebut.
__ADS_1
***
Sore harinya Rihana telah kembali dari tempat kerja paruh waktu mingguannya dan seperti biasa, dia dan Silvi akan berangkat menuju klub pada malam hari.
Ketika keduanya memasuki klub. Loli menyambut Silvi secepat yang dia bisa. Memberi Silvi pakaian ganti dan menuntunnya menuju ruang ganti.
"Kenapa ponselmu tidak aktif. Hans sudah menunggumu dari tadi."
Silvi memutar malas matanya. "Aku hanya seorang pelayan, kenapa harus menungguku hanya untuk menuangkan anggurnya." batin Silvi
Silvi berganti pakaian secepat yang dia bisa dan segera membawa anggur yang biasa diminum Hans ke dalam ruangan VVIP.
"Darimana kau? Aku sudah menunggumu dari tadi." ucap Hans dengan wajah kesal ketika melihat Silvi memasuki ruangannya.
"Kenapa harus menungguku?" ucap Silvi dengan wajah datar.
"Lihat ekspresimu. Wajah tanpa rasa bersalah. Kau bahkan tidak minta maaf. Aku adalah pelanggan di sini." Hans menengadahkan gelasnya pada Silvi
"Apa anda ingin mendengar aku minta maaf?" Silvi menuangkan minuman pada gelas Hans.
"Hm."
"Aku tidak merasa melakukan kesalahan. Jam kerjaku memang seperti ini."
"Hahaha." Hans tertawa. Tertawa tanpa akting. "Kau mempermainkanku. Jika tidak ingin minta maaf, kenapa menanyakan keinginanku mendengar maafmu atau tidak?"
"Aku hanya ingin menjelaskan bahwa maaf itu disebut ketika kita melakukan kesalahan."
"Baiklah. Kau menang." Hans mengalah.
Silvi mengedarkan pandangannya. Ruangan ini hanya ada dirinya dan Hans. Kemana wanita ****** yang selalu mengisi tempat ini.
Hans yang melihat mata Silvi penuh dengan pencarian terkekeh.
"Tidak ada."
"Malam ini, aku tidak ingin wanita. Tuangkan aku anggur lagi."
Silvi mulai menyadari, selama sebulan dia tidak pernah berusaha memenuhi permintaan Loli soal menyuruh Hans mengurangi kadar minum anggurnya.
Silvi sebenarnya tidak peduli jika Hans minum sampai tidak sadarkan diri. Permintaan Loli juga bukan suatu hal yang perlu Silvi turuti. Sebab permintaan Loli bukan termasuk tugasnya sebagai pelayan.
Namun, rasanya Silvi ingin mencobanya sekarang. Entah, dorongan dari mana. Silvi hanya ingin mencobanya.
"Silvi. Kau melamun? Tuangkan aku anggurku." Hans menyadarkan lamunan Silvi.
"Kenapa kau minum anggur sebanyak ini?" Silvi kembali menuangkan anggur pada gelas Hans.
"Karena aku suka."
"Kau suka rasanya atau suka caranya memabukkanmu?"
"Dua-duanya." Hans meneguk habis minumannya.
"Kenapa kau suka menjadi mabuk?"
"Kenapa kau peduli?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin tahu alasan seseorang suka menjadi mabuk."
__ADS_1
"Kau hanya gadis kecil yang belum merasakan kehidupan yang mempermainkan hidupmu. Rasanya sangat berat dan melupakannya sejenak mungkin akan sedikit membantumu."
Silvi tersenyum mengejek membuat Hans mengerutkan dahinya. Matanya menatap Silvi dengan penuh selidik.
"Kau menertawakanku?"
"Kau harusnya tidak bicara begitu padaku. Apa itu tadi? Kau bilang, merasakan kehidupan yang mempermainkan hidupmu? Aku belum merasakannya? Hah." Silvi menatap kosong di depan. Bibirnya tersenyum mengejek.
"Kau pernah merasakannya?" Tanya Hans dengan mata yang menunjukkan keibaan.
"Jika aku menceritakan inti yang pernah ku rasakan. Apa kau akan mengurangi kadar minummu?"
"Itu tergantung kisahmu."
"Baiklah. Lupakan saja." Silvi kembali mengisi anggur pada gelas Hans yang sudah kembali kosong.
"Baiklah. Kau menang. Aku akan mengurangi 1 botol anggur." ucap Hans menyerah.
Entah mengapa, rasanya mengalah pada Silvi membuat Hans senang.
Silvi manatap Hasn, meneliti keseriusan pada wajah Hans. Hans yang mengerti maksud Silvi, terkekeh pelan.
"Aku berjanji padamu."
"Hm baiklah. Ayah dan ibuku adalah anak tunggal. Nenek dan kekekku dari ayah maupun ibu meninggal karena kecelakaan pesawat menuju kota tempatku tinggal, tepat 1 hari setelah kelahiranku. Ibuku meninggal saat hari ulang tahunku yang ke 7 karena kecelakaan, dan ayahku meninggal saat usiaku 17 tahun karena gagal paru-paru."
Silvi berbicara dengan sangat lancar seolah semua ini terekam sangat baik diingatannya. Matanya bahkan tidak mengeluarkan air mata bahkan menanak sungaipun tidak.
Hans menatap Silvi dengan perasaan campur aduk. Rasa iba dan kagum. Bagaimana gadis kecil ini tidak menangis mengatakan itu semua. Hans sekaligus malu karena dirinya bahkan harus mabuk-mabukkan hanya untuk mencoba melupakan wanitanya yang meniggalkannya untuk menikahi jodoh pilihan orang tua wanitanya.
Silvi menyadari tatapan kaaihan Hans.
"Jangan menatapku seperti itu?"
"Bagaimana kau sekuat ini? Kau tidak membohongikukan?" Hans mencoba menghibur Silvi dengan mengajak Silvi membicarakan hal lain.
"Aku sudah menagis berjuta-juta kali dan rasanya air mataku sudah mengering. Jika kau tidak percaya padaku, terserah saja. Aku tidak peduli."
"Jangan kesal seperti itu. Aku akan minum 3 gelas saja selama kau yang menuangkanku anggur."
Silvi menatap Hans tidak percaya. Bagaimana mungkin 5 botol menjadi 3 gelas. Apa Hans mencoba mempermainkannya.
"Ya, di depanku kau minum 3 gelas dan di belakangku kau menghabiskan 5 botol anggurmu."
"Hahaha. Kau seperti ibuku sekarang. Tenanglah, aku tidak pernah minum di luar tempat ini."
Silvi menatap mata Hans dan mendapat kejujuran pada mata itu.
"Baiklah. Hari ini, hari terakhir. Kau bisa minum 1 botol dan hari berikutnya cukup 3 gelas."
"Aku tidak bisa berjanji."
"Apa?" kekesalan mulai terlihat di wajah Silvi.
"Hari berikutnya dan selamanya aku hanya akan minum 3 gelas jika Silvi Selvig yang menuangkan anggur pada gelasku."
"Bagaimana kau tahu margaku? Aku tidak pernah memperkenalkan diriku dengan margaku padamu?"
***
__ADS_1
Author Note :
Ada yang setuju tidak kalau Silvi sama Hans aja? 😂