Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
13. Klub Sowedisa


__ADS_3

Silvi menyimpan buku kisi-kisi ujian nasional pada meja belajarnya. Silvi mulai berbaring, mencoba untuk tidur karena jam sudah menunjukkan hampir pukul 12. Tiba-tiba suara dering ponsel Silvi berbunyi begitu keras. Dengan malas Silvi mengambil ponselnya dan mendapati nama Jerk pada layar ponselnya. Silvi menolak panggilan tersebut. Tidak lama kemudian, ponsel itu berbunyi kembali dan Silvi kembali menolak panggilan dari orang yang sama.


Silvi tersenyum puas melihat ponselnya tidak berdering lagi. Silvi memejamkan matanya dan mulai memasuki alam mimpi.


Sekitar 15 menit berlalu, Silvi dikagetkan kembali dengan bunyi dering panggilan masuk ponselnya. Silvi mengumpat dalam hati karena mulutnya masih enggan untuk dibukanya. Silvi menyesal tidak menonaktifkan ponselnya.


"Apa?" Ucap Silvi sedikit kasar.


"Sil. Aku tunggu depan Rumah kamu sekarang."


Silvi melirik ponselnya untuk memastikan suara yang dikenalinya dengan baik yang bukan merupakan suara orang yang ingin dikasarinya. Nama yang tertera di ponselnya adalah Tono.


"Aku turun sekarang.". Silvi mematikan sambungan telepon.


Silvi turun dengan diikuti Rabella. Silvi melihat Tono langsung membuka pintu mobilnya agar Silvi segera masuk. Silvi mengendarkan pandangannya dan mendapati Tono dengan seorang pengawal dari Organisasi Ranita yang duduk di kursi kemudi. Silvi masuk dengan penuh tanda tanya. Rabella juga ikut masuk dan duduk di depan tepat di samping pengawal Tono.


"Lania ada di klub Sowedisa." Tono menjelaskan tempat tujuan dan alasannya menjemput Silvi.


"Dengan jam sekarang?"


"Ya. Dengan cara seperti biasa ketika ingin kencan dengan pacarnya."


Lania berhasil kabur dengan cara seolah sedang tidur di kamarnya. Pengawal yang biasa mengkawali Lania kemana-mana melepas tanggung jawab ketika jam 11 tiba dan sisanya diurus penjaga cctv. Para pengawal keluarga Candrawan baru bertindak setelah mendapat laporan darurat dari penjaga cctv di atas jam 11. Begitu pun dengan keluarga Renald. Berbeda dengan Silvi yang di jaga 24 jam oleh Rabella.


"Apa dia menelfonmu?"


"Bukan. Kak Rangga yang menghubungiku"


"Lania berkencan dengan kak Rangga?"


"Aku tidak tahu dia bersama siapa. Kak Rangga menghubungiku. Katanya, Kak Alan melihat Lania di sana."

__ADS_1


Silvi mengangguk tanda mengerti. Ada sedikit kekecewaan pada dirinya sendiri. Alando mungkin meneleponnya berkali-kali untuk memberitahu keberadaan Lania. Tapi Silvi malah mengabaikannya.


"Sil!" Tono kembali bersuara setelah mereka terdiam beberapa saat.


"Apa?"


"Kau serius pakai baju tidur ke sana?"


"Apa itu masalah? Aku tadinya memang sudah tidur."


"Maaf mengganggu tidurmu."


"Aku lebih terganggu jika kau tidak mengajakku memukul Lania."


Keduanya tersenyum.


Kini Mobil yang mereka tumpangi segera parkir di depan klub Sowedisa. Silvi dan Tono turun di ikuti kedua pengawal mereka. Mereka berempat mengedarkan pandangannya dan mendapati Silvi sedang duduk di salah satu sofa yang terletak di sudut klub.


Silvi dan Tono beserta pengawal keduanya melangkah mendekati Lania.


"Lan. Ayo pulang?" Tino ikut menarik tangan Lania


Lagi-lagi Lania menghempaskan setiap tangan yang ingin membawanya pergi.


"Silvi. Lakukan sesuatu." Tono mulai kebingungan.


Lania yang mendengar nama Silvi mengikuti pandangan Tono dan mulai meneliti wajah Silvi.


"Silvi. Hiks." Lania berhambur memeluk Silvi. Dia menjatuhkan dirinya pada Silvi hingga Silvi termundur satu langkah menahan tubuh Lania yang lebih tinggi dari tubuhnya. Tapi bukan itu yang membuat Silvi kesal. Namun bau anggur yang Lania keluarkan dari mulutnya yang membuat Silvi kesal segaligus geram.


"Berani sekali kau mabuk? Kau pikir kau berhasil menjadi gadis dewasa dengan make up setebal ini?" Silvi memukul kepala Lania.

__ADS_1


Tidak jauh dari sana Alando tersenyum melihat yang dilakukan Silvi. Ocehan serta tangannya bergerak dengan sangat lucu di mata Alando.


"Johan, Sil. Hiks. Aku mengikutinya sampai di sini dan dia malah memeluk dan mencium gadis lain. Hiks." Lania tidak menghiraukan ocehan serta pukulan Silvi. Selain pukulan pada kepalanya memang tidak sakit, Hatinya lebih teriris saat ini.


"Kau. Lupakan mantan bodohmu itu." Tono ikut geram.


"Aku sangat menyukainya Sil. Hiks." Lania masih menangis sambil memeluk Silvi erat. Tidak lama kemudian, Lania melepas pelukannya dan berlari ke suatu arah tepat di belakang Silvi.


Pandangan Silvi, Tono dan kedua pengawal mereka mengikuti langkah Lania. Lania berhambur memeluk seorang pria.


"Johan. Aku sangat menyukaimu."


Silvi, Tono dan kedua pengawal mendekat ke arah Lania dan Johan serta seorang wanita dua puluhan di samping Johan.


"Kau sudah tidak waras." Johan mendorong Lania hingga Lania tersungkur di lantai.


"Lania." Tono ikut berjongkok dan membantu Lania berdiri.


Silvi menatap Johan penuh amarah. Tidak menunggu lama, tangan Silvi mendarat pada pipi Johan. Johan sedikit terkejut dan begitu murka. Dia mencoba membalas tamparan Silvi namun tangannya di cekal dan di putar 45 derajat oleh seseorang. Johan berteriak meminta ampun karena rasa sakit yang di rasakannya sampai Rabella melepaskan tangan Johan dan mendorongnya hingga tersungkur di lantai.


"Hei. Berani sekali kalian membuat keributan di klub cabang milik organisasi Singa Ganas." Salah seorang pria bertubuh besar datang dengan diikuti empat orang bertubuh besar lainnya.


"Hei. Bukankah kalian dari organisasi Ranita?" pria itu kembali berbicara dengan senyum mengejek. Tentu saja karena mereka mengenali seragam yang dipakai pengawal Tono.


Pengawal Tono dan Rabella kini berdiri di depan melindungi Silvi, Tono dan Lania.


Mereka mulai mengadu jotos. Rabella dan pengawal Tono mendapat beberapa tonjokan. Tentu saja karena main keroyok. Rabella melawan 3 orang dan pengawal Tono melawan 2 orang .


Pengawal yang memimpin organisasi Singa Ganas mulai menarik tangan Silvi. Tiba-tiba seorang pria menedangnya dan membuatnya tersungkur di lantai. Menyisakan darah segar keluar dari satu sudut bibirnya. Tidak sampai di situ, Alando ikut membantu Rabella dan pengawal Tono. Kini Alando melawan 3 pengawal sekaligus, sementara Rabella melawan 2 pengawal organisasi Singa Ganas.


Dengan sigap pengawal Tono menuntun Silvi, Tono dan Lania keluar dari klub. Lania yang berjalan tunggang langgang membuat pengawal Tono harus menggendongnya. Keempatnya berlari hingga keluar klub mencari tempat yang lebih aman. Namun, 5 orang pengawal Singa Ganas yang lain keluar dan menghadang mereka.

__ADS_1


"Kalian pikir bisa pergi begitu saja". Ucap salah satu anggota Singa Ganas.


"Jangan harap. Tangkap mereka". Ucap anggota Singa Ganas yang lain.


__ADS_2