Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
Andolo


__ADS_3

Kini Alando dan Silvi sedang menaiki perahu kecil yang akan membawa keduanya ke kota. Setelah berpamitan dan diantar seluruh warga desa dengan tangis haru untuk kepergian keduanya. Begitu banyak oleh-oleh buatan tangan warga yang dibawa pulang Silvi.


Mereka akhirnya tiba di kota setelah melewati perjalanan hampir 2 jam. Silvi memesan taksi dan taksi itu membawa keduanya menuju sebuah hotel.


"Kau mau ke mana?" ucap Alando memecah keheningan.


Sejak semalam, setelah berdansa dengan Silvi. Silvi tidak berbicara padanya. Bahkan saat mengganti perban pada lukanya tadi pagi, Silvi terus saja diam. Alando tahu, Silvi sedang marah padanya.


"Kau marah padaku?"


"Ayolah, semalam itu adalah saran kepala desa. Maafkan aku."


"Hm."


"Bicaralah lebih banyak, Silvi."


"Hm."


Alando menggaruk kepalanya frustasi. Silvi terus saja diam. Matanya menatap kosong ke arah jendela. Alando tidak tahu, Di kepala Silvi sebenarnya memikirkan perpisahannya dengan Alando. Pikirannya kacau juga hatinya. Apa seberat ini memiliki suami seorang prajurit.


Setelah hampir sejam, mereka tiba di hotel yang mereka tuju. Setelah chek in, mereka masuk ke dalam kamar hotel. Silvi kemudian membuka ponselnya untuk memesan tiket pesawat.


Silvi melirik Alando yang sedang berbaring nyaman di atas ranjang.


"Apa agendamu selanjutnya?" tanya Silvi.


Alando mengangkat kepalanya untuk melirik Silvi dan menemukan mata Silvi yang menatapnya serius dari sofa kamar. "Kemarilah, duduk di sini." Alando menepuk sisi ranjang yang kosong di sampingnya.


Silvi pun menurut dan duduk di samping Alando.


"Apa kau akan meninggalkan ku?" ucap Silvi menatap Alando yang kini telah berganti posisi menjadi duduk seperti Silvi.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Berapa banyak misi yang kau punya?"


"Satu tumbuh seribu."


"Kau akan ke mana lagi? Kita baru saja menikah. Minta lah cuti." ucap Silvi malu-malu.


Alando terkekeh lalu menangkup wajah Silvi dan mengecup sekilas kening Silvi. "Hei, aku tahu. Berikan hakku, maka aku akan mengikutimu."


Mata Silvi mendelik, "Kau selalu membicarakan hakmu. Itu saja yang ada di pikiranmu. Aku ingin kau sembuh terlebih dahulu."

__ADS_1


"Percayalah, aku sudah sembuh. Aku ini prajurit. Luka ini hanya sebuah goresan kecil untukku. Kau saja yang terlalu berlebihan."


"Benarkah? Apa ini tidak sakit lagi?" Silvi sedikit menekan jari telunjuknya pada luka Alando."


Alando sedikit menggeram lalu tersenyum jahil pada Silvi, "Tidak akan sakit kalau sambil ciuman."


"Dasar mesum." Silvi membuang pandangannya dari Alando.


"Mesum?" Alando melebarkan matanya, tak percaya Silvi menyebutnya mesum. "Aku sedang menggoda istriku. Kenapa itu mesum? Kau harus belajar menempatkan kata dengan benar."


"Kenapa kau menggoda istri yang akan kau tinggalkan?"


"Aku kan sudah bilang akan mengikutimu."


"Bukankah misimu satu tumbuh seribu?"


"Ya."


"Lalu kenapa bilang akan mengikutiku?"


"Aku memang akan mengikutimu."


"Kau!!!" Silvi meninju dada bidang Alando, "berhenti mempermainkan ku."


Melihat tawa Alando, Silvi merasa memang benar Alando mempermainkannya. Dengan cemberut, Silvi melangkah menjauhi Alando dan duduk di sofa tempatnya duduk tadi.


Alando mengikuti Silvi dan membaringkan kepalanya di pangkuan Silvi. Matanya menatap Silvi dengan intens. "Misiku sekarang adalah membuat jagoan-jagoan kecil bersamamu."


Ucapan Alando sekilas membuat kedua sudut bibir Silvi tertarik. "Jangan membual, aku ingin jawaban yang serius. Kau tahu, aku harus kembali menyelesaikan studi ku. Aku tidak bisa ikut bersamamu. Jika pun aku sudah menyelesaikan studiku, apa di sana ada anggota yang membawa istrinya?"


"Jika pun ada, aku tidak akan membawamu ke tempat penuh bahaya itu."


Alando menggenggam tangan Silvi dan mengecup punggung tangan itu. "Untuk sementara, aku akan mengikutimu dan selanjutnya akan aku cari solusinya. Kau percaya padaku kan?"


Mata Silvi berkaca-kaca. Dalam hatinya, ia berkata "kenapa aku menjadi cengeng jika bersama Alando. Apa seperti ini rasanya memiliki seseorang lagi? Seseorang yang menyayangi dan mengayomimu lagi?"


Alando yang melihat mata berkaca-kaca Silvi, segera bangkit dan merangkul Silvi dalam pelukannya. Tangannya mengusap lembut kepala Silvi.


"Kau ingin ke mana?" ucap Alando


"Andolo. Menemui ayahku."


***

__ADS_1


Andolo, 17 April 20**


Brian Selvig bin Georgio Selvig


Lahir : 21 Mei 19**


Wafat : 27 Desember 20**


Nisan yang membuat mata Silvi kembali meneteskan air matanya. Lama sekali Silvi tidak mengunjungi ayahnya. Ayah yang selalu menyayangiku, yang tetap tersenyum di hari-hari terakhirnya. Ayah yang melatih karakterku untuk menjadi anak kuat sepertinya. Ayah garangku yang selalu merangkulku dengan pemuh cinta. Laki-laki terhebat dalam hidupku. Dia cintaku, cinta pertamaku.


"Hai, Ayah Brian." ucapan Alando membuyarkan lamunan Silvi tentang kenangan bersama ayahnya yang sedang berlari-lari di kepalanya.


"Aku sekarang adalah menantumu. Maaf aku terlambat meminta restu. Tapi bukankah, anda telah merestuiku dari beberapa tahun lalu? Dulu aku pernah bilang, aku tidak bisa memastikan apa aku mencintai putrimu atau tidak. Tapi sekarang, ah tidak. Sudah beberapa tahun lalu sebenarnya. Sudah beberapa tahun lalu aku mencintai putrimu."


Sebelum melanjutkan basa-basinya, Alando melirik Silvi karena ingin tahu reaksi Silvi ketika mendengar pernyataan cintanya. Alando tersenyum kecut melihat Silvi yang menatapnya datar dengan tangan yang terlipat di depan dada. Tidak ada rona merah di wajahnya. Rupanya pernyataan cinta tidak membawa dampak banyak pada Silvi.


"Hm, ayah. Putrimu sepertinya tidak tertarik dengan ungkapan cintaku. Oh ya, aku sebenarnya ingin menanyakan tentang cucu untukmu. Kau ingin berapa cucu? Bagaimana jika 9? Itu angka kesukaan ibu Ranita kan."


Cekikan kecil di samping Alando membuat Alando tertarik melihat wajah yang tidak mau merona dengan pernyataan cintanya.


"Apa? Kenapa menatapku? Lanjutkan saja ocehanmu." ucap Silvi di sela-sela tawanya.


"Aku sudah selesai. Sekarang giliranmu."


"Aku juga sudah selesai."


"Hei, haha. Kau curang. Mana boleh bicara dalam hati."


"Apa yang harus aku katakan? Kau sudah mewakiliku menyampaikan segalanya." Silvi berdiri, "aku pergi ayah." lalu meninggalkan Alando yang masih berjongkok di makam Brian.


"Jadi kau ingin kita punya 9 jagoan?" Alando tersemyum dengan lebar mengikuti Silvi yang sudah duduk di kursi penumpang bagian depan mobil.


"Aku ungin 9 nya laki-laki." ucap Alando ketika duduk di kursi kemudi.


Silvi menggeleng kepalanya. "Ayo jalan."


"Tentu." Alando mengecup keras bibir Silvi lalu melajukan mobilnya.


***


Mobil Alando berhenti di parkiran kantor organisasi Ranita. Tentu saja, karena Silvi ingin menemui Rabella dan bercerita banyak hal dengan duplikasi Ranita, ibunya.


Silvi menatap Alando karena bingung. Ada yang aneh dengan kantor ini. Tidak ada satpam di depan pintu masuk.

__ADS_1


"Tetaplah di sisiku." ucapan Alando membuat Silvi waspada.


__ADS_2