Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
Operasi


__ADS_3

"Larilah. Selamatkan dirimu." ucap Alando dengan wajah pucatnya.


Silvi menggeleng dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.


Satu tembakan kembali mengenai punggung Alando. Rupanya John telah mengambil pistol lain dan mengarahkannya ke punggung Alando. "Mata kananku mungkin akan buta. Tapi mata kiriku akan membantuku menikmati kematianmu. Mari lihat, peluru ke berapa yang berhasil merenggut nyawamu."


Silvi yang matanya memburam karena air mata, melihat pistol yang tak jauh dari arahnya. Dengan tubuhnya ditutupi tubuh Alando, Silvi mengambil pistol itu tanpa disadari John.


Tanpa menunggu lebih lama, dengan tangan gemetar Silvi berdiri dan satu pelurunya menembus dada John. John yang terkejut mengarahkan pistolnya ke arah Silvi. Untung saja, Alando dengan cepat menarik Silvi hingga terduduk kembali.


"Tembak dia dengan aku sebagai bentengmu." lirih Alando.


Satu tembakan kembali mengenai punggung Alando. Tanpa rasa takut lagi, Silvi menembakkan seluruh peluru di pistolnya pada dada John. Peluru yang tepat mengenai jantung John berkali-kali. John tewas dengan mata kirinya yang melebar.


Silvi menghela nafas lega dengan tangan dan tubuhnya yang tak berhenti gemetar. Untuk pertama kalinya, Silvi membunuh seseorang.


Alando menangkup wajah Silvi yang tak kalah pucat dari wajahnya, "Dia memang pantas mati. Jangan takut." Alando memeluk tubuh gemetar Silvi.


Silvi balas memeluk Alando. Tangannya menyentuh darah di punggung Alando. Silvi pun tersadar, bukan saatnya ia gemetar ketakutan. Silvi melepas pelukan Alando dan membopong Alando untuk berjalan menuju mobil. "Bertahanlah."


Alando tersenyum kecil melihat kegigihan Silvi. Tubuh kecil Silvi kini sedang berusaha membopong tubuh kekarnya.


Silvi membantu Alando tengkurap di mobil penumpang bagian belakang. "Aku mohon bertahanlah, hiks." isakan Silvi yang dari tadi berusaha dibungkamnya dengan menggigit bibirnya, kini keluar begitu saja. Silvi hendak menutup pintu mobil. Namun tangannya ditahan oleh Alando.


"Lepaskan tanganku. Kita harus ke rumah sakit." ucap Silvi menghapus air matanya. Dia ingin terlihat kuat di mata Alando.


"Aku... Aku.."


"Berhentilah bicara, Alando."


Alando malah tersenyum dengan wajah pucatnya.


"Aku... Aku hanya ingin kau tahu." Alando menghirup oksigen yang seolah hilang di sekitarnya. Atau mungkin dia saja, yang kini mulai kehilangan kemampuan menghirup oksigen. "Aku mencintaimu Silvi Miller."


Setelah berucap demikian, Alando lalu menutup matanya dan setetes cairan bening keluar dari sudut matanya. Mungkinkah ini akhir dari kisahnya bersama Silvi. Ada sedikit penyesalan untuk tidak mengatakan cintanya lebih awal. Walau mereka berdua sebenarnya saling mencintai tanpa perlu mengungkapkan cinta itu. Cinta mereka saling mengikat dan mereka merasakannya. Namun tetap saja, ungkapan cinta perlu untuk diungkapkan.

__ADS_1


Silvi menangis sejadi-jadinya sambil memeriksa alat vital Alando. Lalu dengan cepat menyetir mobil menuju rumah sakit terdekat. Sepanjang jalan ke rumah sakit, Silvi terus menghapus air matanya yang menghalangi pandangannya. Isak tangisnya dibiarkan keluar memenuhi mobil.


Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di rumah sakit. Silvi ikut mendorong brankar Alando menuju ruang operasi.


"Maaf nona, cukup sampai di sini. Sepertinya nona juga terluka, silahkan ke UGD." Ucap salah satu suster ketika barankar Alando tiba di ruang operasi.


Pintu ruang operasi pun ditutup. Silvi terduduk di samping pintu itu. Kakinya sangat lemas, air matanya menetes tiada henti. Rambutnya berantakan, pipinya membiru bekas tamparan dan pukulan, ada bekas darah di bawah bibirnya, serta baju dan tangannya penuh dengan darah Alando.


Pintu ruang operasi terbuka membuat Silvi berdiri dari duduknya. Silvi menatap Suster dengan wajah bertanya.


"Maaf nona, sepertinya pasien harus dipindahkan ke rumah sakit lain." ucap Suster.


Silvi mengernyitkan dahinya


"Kami tidak memiliki dokter bedah. Kami memiliki 3 dokter bedah. 1 sedang cuti ke luar negeri, 1 sedang sakit dan 1 tidak dapat dihubungi." Lanjut Suster itu.


"Suster. Alandoku tidak akan bisa bertahan lebih lama. Dia harus segera dioperasi. Memindahkannya ke rumah sakit lain akan memakan waktu terlalu lama. Panggil dokter dari rumah sakit lain saja ke sini."


"Tidak bisa nona. Itu melanggar aturan rumah sakit."


"Nona, anda tidak bisa mengatur rumah sakit. Rumah sakit yang mengatur pasiennya." bentak Suster itu tak kalah keras dari suara Silvi.


"Pasien kritis, jantungnya lemah." ucap Suster lain yang baru keluar dari ruang operasi Alando.


Mendengar itu, Silvi segera masuk ke dalam ruang operasi. Cara masuknya yang terburu-buru membuat 2 suster di hadapannya jatuh ke lantai.


Silvi mencuci tangannya dengan cepat.


2 Suster yang terjatuh tadi sudah bangkit dan berusaha membawa Silvi keluar dari ruang operasi. Silvi menatap keduanya dengan tajam.


"Aku Silvi Miller, mahasiswa tingkat akhir dari Harvad University jurusan kedokteran. Aku memang belum sah menjadi seorang dokter. Tapi aku akan melakukan operasi ini." ucap Silvi tegas.


"Tidak peduli anda dari universitas mana nona, tapi anda berada di rumah sakit yang mewajibkan anda mengikuti aturan rumah sakit ini."


"Persetan dengan aturan yang kau bicarakan. Cepat pakaikan aku kaos tangannya." teriak Silvi.

__ADS_1


"Nona..."


"Biarkan dia melakukan operasi itu." ucap dokter umum yang berada di ruang operasi Alando, memotong ucapan sang Suster.


Dokter ini hanya bertugas memeriksa alat vital Alando sampai dokter bedah datang. Pria itu kagum melihat kegigihan Silvi yang berhasil membangkitkan jiwa kedokterannya. Jika mahasiswa kedokteran saja punya semangat serta keberanian seperti yang Silvi tunjukkan, apalagi dengan dirinya yang telah mengucapkan sumpah dokter.


"Tapi dokter..."


"Aku yang akan bertanggung jawab." tegas dokter pria itu membuat Suster pun menuruti perintahnya.


Kini Silvi dihadapkan dengan tubuh tengkurap Alando. Air matanya menetes dan dengan cepat Silvi menghapusnya. Silvi menarik dan menghembuskan nafasnya berkali-kali lalu siap melakukan operasi.


Hampir 2 jam berlalu, akhirnya Silvi selesai mengoperasi Alando. Silvi terduduk dan tersenyum dengan air mata yang terus mengalir disertai isak tangisnya. Matanya terus menatap monitor jantung Alando yang kembali stabil setelah operasi yang begitu menguras energinya. Alando sungguh menjadi pasien pertamanya.


"Kau jenius." ucap pria dokter umum yang masuk setelah pintu ruang operasi terbuka.


Silvi masih terus menangis. Entah apa yang membuatnya terus menangis. Semua rasa bercampur menjadi satu dalam dadanya. Melihat Silvi tidak menghiraukan kehadirannya, Pria dokter itu hanya menarik nafas lega melihat keadaan Alando dan keluar meninggalkan Silvi.


"Silvi." ucap seorang pria yang muncul beberapa saat setelah kepergian pria dokter umum. Silvi berbalik melihat pria itu.


"A..Alando." ucap pria itu lagi dengan wajah terkejut.


"Maafkan aku. Ponselku di curi dan aku terjebak macet." ucap pria itu lagi.


"Kau... Rangga, dokter Rangga yang menyelamatkanku di pulau senja?" ucap Silvi.


"Ya. Tolong maafkan aku. Aku dokter yang harusnya mengoperasi Alando."


Silvi mengangguk lalu matanya kembali menatap monitor jantung Alando.


"Silvi, kau juga butuh perawatan. Pergilah ke UGD. Aku akan memanggil Suster untuk membantumu." ucap Rangga yang merasa bersalah bercampur prihatin melihat wajah Silvi.


"Tidak perlu, aku akan pergi sendiri. Tolong jaga Alandoku."


"Alandoku? hubungan apa yang telah terbangun, bukankah mereka telah berpisah. Alando bahkan tidak datang di hari kematian ayah Silvi." Rangga menatap punggung Silvi yang kini mulai menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


__ADS_2