Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
Hari Pernikahan


__ADS_3

Alando dan Silvi diadili di balai desa setelah kembali dari hutan dengan Silvi yang memakai kaos Alando dan Alando yang shirtles. Rombongan kepala desa semua sepakat untuk meninggalkan jasad pria buronan begitu saja setelah beberapa dari mereka bahkan muntah karena Alando membunuh pria buronan itu dengan sangat mengerikan.


Semua saksi mata yang melihat Alando dan Silvi berpelukan tanpa baju atasan setuju untuk menikahkan Silvi dan Alando. Para warga akhirnya menyiapkan segala pernikahan sederhana untuk Silvi dan Alando.


Sementara Silvi dan Alando dipersilahkan mandi terlebih dahulu, mengingat tubuh Alando yang bersimbah darah dan begitu pula tubuh Silvi yang ikut bau darah karena pelukan refleks Alando untuk melindungi tubuh Silvi dari mata warga.


Bu desa memasuki kamar yang Silvi tempati, "nona dokter, maaf. Saya sebenarnya tidak ingin memaksa pernikahan ini untuk terjadi. Hanya saja, ini sudah menjadi peraturan desa."


Silvi yang mengkancing kebayanya menatap wajah bersalah bu desa dari cermin di hadapannya. Dia berbalik dan tersenyum, "jangan sungkan bu, aku 60% menyetujui pernikahan ini dengan hati yang ikhlas."


Bu desa terlihat terkejut, "tapi nona dokter, tuan prajurit itu bahkan suka minum arak. Sebelum pergi mencari nona dokter yang diculik, tuan prajurit minum hingga mabuk."


Silvi mengerutkan dahinya. Bagaimana dirinya tidak mencium bau alkohol pada tubuh Alando jika yang dikatakakan bu desa benar. Ah, tentu saja karena bau darah menutupi bau alkohol.


"Dia sebenarnya bukan pria seperti itu. Dia selalu punya alasan disetiap tindakannya."


Bu desa hanya bisa pasrah mendengar pembelaan Silvi terhadap Alando. Bu desa membantu Silvi siap-siap dan kemudian keduanya melangkah memasuki masjid, tempat ijab kabul akan dilaksanakan.


Semua mata mengarah pada Silvi, termasuk mata Alando yang tengah duduk menghadap penghulu. Alando dengan baju kokoh dan kopiah hitam di kepalanya terlihat seperti pria alim. Wajahnya tampak berseri dan bibirnya tersenyum begitu lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih.


Silvi duduk di samping Alando dan dalam sekali tarikan nafas, Silvi telah sah menurut agama sebagai istri Alando Miller. Tanpa disuruh, Alando mencium kening Silvi dan tanpa malu-malu ******* pelan bibir pengantinnya.


Warga desa yang begitu tabu dengan kemesraan yang baru saja Alando tunjukkan di depan umum, kompak memarahi Alando, terutama para ibu-ibu. Pak desa akhirnya, membawa Alando dan Silvi ke kamar yang di tempati Silvi.


"Jangan lakukan itu di tempat umum. Aku mengerti kau sudah tidak tahan. Aku akan mengunci kalian dari luar dan besok siang baru akan kembali untuk membuka pintunya." kepala desa memukul pelan bahu Alando dan mengunci pintu kamar yang hanya menyisakan Alando dan Silvi.


Alando mendekati dan memeluk Silvi dari belakang, yang sedang membuka jepit rambut di kepalanya di depan cermin.


"Kau lihat, bagaimana takdir mengatur kau menjadi milikku." Alando mengecup pipi kiri Silvi. Dagunya bertopang pada bahu Silvi.

__ADS_1


Silvi memandang tajam Alando pada cermin, "kau pemabuk, namamu sudah tercoreng di desa ini."


"Hei, itu urusan pria. Kau tidak perlu memikirkannya." Alando membalikkan badan Silvi ke arahnya. Tangannya merangkul posesif pinggang Silvi dan bibirnya mengecup singkat bibir Silvi.


"Aku menginginkanmu. Kau sudah menggodaku habis-habisan di hutan tadi. Aku tidak bisa menahannya lebih lama."


Tentu saja, tampilan Silvi di hutan tadi sangat seksi. Ditambah lagi pelukan erat Silvi yang membuat dada keduanya menempel. Alando dapat merasakan lekukan tubuh Silvi dengan jelas tadi. Jika saja, tubuhnya bersih. Maka Alando tidak akan berpikir dua kali untuk menerjang Silvi.


Adik kecil Alando kini menekan perut Silvi. Alando mulai ******* pelan bibir Silvi, tangannya bergerak menyentuh setiap inci tubuh Silvi. Disaat Silvi mulai kehabisan oksigen, Alando melepaskan ciumannya dan beralih pada leher Silvi. Tangan kanannya kini membuka kebaya Silvi dan tak menunggu lama, kebaya itu jatuh ke lantai dan menyusul bra Silvi. Alando asik memainkan dua aset Silvi dengan mulut serta tangannya. Alando yang kegerahan membuka bajunya dengan sejejap kilat.


Tangan Silvi kini menyentuh dada bidang Alando. Tanganya turun ke perut Alando dan menemukan perban di perut Alando kini basah. Silvi memaksa Alando melepaskan kedua asetnya dan melirik perut Alando.


"Apa kau sudah gila? Tadinya ku pikir ini keringat."


Silvi menarik lengan Alando dan mengajaknya duduk di ranjang. Tangannya meraih tas ranselnya dan membuka perban Alando yang berlumuran darah.


"Lukamu kembali terbuka."


Silvi memukul lengan Alando dan menarik lalu memakai kaosnya yang berada di dalam kopernya. Dia sadar, Alando tidak akan fokus jika dirinya bertelanjang dada.


"Aku akan mengobatimu."


"Ya, obati dulu adik kecilku. Aku lebih tersiksa sekarang." Alando meraih wajah Silvi dan hendak mencium Silvi, namun dengan cepat Silvi mendorong wajah Alando.


"Jangan membantahku." ucap Silvi tegas.


Alando akhirnya, menahan gairahnya dan menunggu dengan sabar Silvi selesai mengobati lukanya.


Beberapa menit kemudian, Silvi telah selesai mengobati luka Alando dan menyimpan barang-barang medisnya kembali dengan rapi. Silvi yang belum sempat berbalik sudah dipeluk Alando dari belakang. Alando kembali mencium bibirnya dan tangannya meremas aset Silvi.

__ADS_1


Silvi ikut terbakar gairah, sebenarnya dari awal Silvi sudah sangat bergairah. Tapi dia tidak bisa membiarkan Alando terluka dan kini pun dia harus bisa menahan gairahnya kembali demi luka di perut Alando tidak terbuka kembali.


Silvi mendorong dada Alando, namun Alando tetap saja tak ingin melepaskannya. Ciuman Alando kini turun di leher Silvi dan Silvi terpaksa memukul kepala Alando dengan keras. Alando yang sudah terbakar gairah dan memang oleng karena mabuk sedari tadi segera tidak sadarkan diri.


Silvi berusaha dengan sekuat tenaga membawa Alando untuk tidur di ranjang. Silvi menarik nafas lega. Dia membersihkan dirinya yang sudah basah di dalam kamar mandi.


Sejam kemudian, Silvi keluar dan tersenyum melihat Alando yang tertidur dengan damai. Silvi membaringkan kepalanya di dada Alando dan memeluk tubuh Alando.


"Percayalah, aku juga menginginkanmu."


***


Alando membuka matanya dan mendapati Silvi yang tertidur di dadanya dengan memeluk erat tubuh shitlesnya. Alando tersenyum mengingat kejadian semalam. Tawa kecil ikut menghiasi bibirnya kala mengingat pukulan Silvi pada kepalanya. Tangannya mengusap lembut kepala Silvi.


Alando sebenarnya ingin membangunkan Silvi dan melanjutkan haknya yang tertunda semalam. Namun, Silvi terlihat masih sangat pulas dalam tidurnya. Alando tidak tega untuk membangunkannya.


Hampir sejam kemudian, Silvi masih saja tidur dengan posisinya yang tak berubah. Alando yang tidak tega menjadi geram. Sampai kapan aku harus menunggumu bangun.


Tangan Alando kini mengarah pada kedua aset Silvi yang selalu sukses membuatnya bergairah. Tangannya meremas-remas gemas di sana. Silvi yang tidak mengenakan bra, terkejut dan membuka matanya lalu duduk bersila di atas ranjang.


"Ah, tanganku keram." Silvi mengibaskan tangan kirinya yang ditindisnya dari semalaman.


Alando menarik Silvi hingga terbaring kembali di dadanya. Bibirnya kemudian mencium rakus bibir Silvi.


"Aku ingin hakku." Alando berbicara tepat di bibir Silvi lalu kembali melanjutkan ciumannya.


Saat tangan Alando mengangkat kaos Silvi, Silvi segera mendorong Alando dan mundur bahkan turun dari ranjang.


"Kau tidak boleh banyak bergerak. Lukamu menjadi lebih lebar dari sebelumnya. Kau akan menerima hakmu setelah lukamu sembuh. Kau bahkan dilarang menyentuhku karena dengan menyentuhku, kau akan lebih sulit mengendalikan adik kecilmu yang nakal itu." Silvi kemudian berlalu memasuki kamar mandi.

__ADS_1


"Apa kau gila? Bunuh saja aku. Bagaimana aku bisa tahan melihat istriku yang cantik dan menggemaskan tanpa boleh ku sentuh." Alando berteriak dengan keras dan sepertinya teriakannya bisa didengar seisi rumah.


__ADS_2