
Tiga hari di kota Turin terasa sangat lama dirasakan Silvi. Lama karena nenek Alando yang tak kunjung bersahabat dengannya. Silvi juga tidak bisa mengatakannya pada Alando kerena dirinya akan dianggap tukang adu dan membuat nenek Alando semakin tidak suka padanya.
3 hari tidaklah cukup untuk memperbaiki hubungan yang dari awal memang tidak membaik dengan nenek Alando. Silvi dan Alando kini terbang menuju kota Cambridge untuk menyelesaikan studi Silvi.
2 hari di sana, Alando kembali di jemput komandannya untuk menjalankan misi lain. Alando berjanji bahwa ini adalah misi terakhirnya. Setelah ini, Alando tidak akan menerima misi lagi. Silvi hanya bisa pasrah dan tersenyum mengantar Alando di bandara.
Hari pelulusan Silvi kini tiba. Dia menjadi mahasiswa terbaik tahun ini. Silvi memberi pidato singkatnya dengan perasaan campur aduk. Dia bahagia tapi juga sedih. Kelulusan terakhirnya, dia masih punya Ayahnya. Tapi kini, dia tak punya siapapun. Satu-satu orang yang diharapkannya hanyalah Alando. Tapi nyatanya, Alando bahkan tidak datang atau sekedar mengucapkan selamat padanya melalui ponsel.
Silvi hanya tersenyum kecil menerima ucapan selamat dari beberapa mahasiswa dan dosen padanya. Untung saja, di kota ini masih ada Rihana, Loli dan Hans. Mereka bertiga membawa hadiah dan bunga untuknya. Lalu Hans mengajak ketiganya untuk merayakan kelulusan Silvi di club Loli. Ya, hanya Silvi. Karena Rihana masih belum bisa menyelesaikan studinya secepat Silvi menyelesaikan studinya.
Sekilas sebelum mobil Hans meninggalkan lapangan wisudawan, Silvi melihat nenek Alando di sana. Ingatan Silvi kembali pada adik Alando yang pasti juga wisudah hari ini. Jika nenek Alando di sana, nenek Alando pasti menyaksikan pidato mahasiswa terbaik. Silvi berharap, nenek Alando bisa berpikir sedikit lebih baik terhadapnya setelah melihat pencapaiannya.
***
Silvi akhirnya kembali ke rumah yang Alando sebut sebagai rumah utama. Dulu, Silvi datang di rumah ini bersama Alando dan tak ada sambutan, bahkan Silvi tidak sempat bertemu tuan rumah.
Kini, rumah ini begitu ramai. Banyak tamu di sini hingga Silvi tidak dapat melihat tuan rumah. Silvi datang seorang diri, tanpa Alando. Silvi datang atas undangan Ronald Miller yang tidak pernah Silvi sadari adalah teman satu jurusan dengannya. Secuek itukah Silvi. Ya, tapi itulah Silvi.
Silvi memasuki pesta dengan undangan di tangannya. Ia pun duduk di salah satu kursi kosong dan menerima tawaran minuman bersoda oleh pelayan. Seorang pria datang dan duduk di sampingnya.
"Hei, aku tidak menyangka mahasiswa terbaik akan datang ke pestaku." ucap pria itu.
Silvi menatap pemuda itu
"Aku Ronald. Oh, ayolah. Berapa kali aku harus memperkenalkan diriku."
"Berapa kali?" ucap Silvi bingung.
"Kau selalu datang 1 menit setelah profesor memasuki kelas dan keluar mengekor pada profesor saat jam selesai. Aku berusaha mengejarmu untuk sekedar menyapa, tapi kau selalu sibuk dan beberapa kali menatapku datar ketika aku mengajakmu bicara saat kelas dimulai sampai aku malu sendiri. Aku pernah menulis namaku pada kertas dan memberikannya padamu saat itu."
Silvi tersenyum canggung, "beberapa kali ada mahasiswa pria juga wanita memberiku kertas yang entah apa isinya. Aku tidak pernah membacanya."
"Hm," Ronald kini menertawai dirinya sendiri
"Hei, tapi kita pernah berkenalan sewaktu SMA."
Silvi menautkan alisnya, Silvi bingung.
"Kau ingat, pertemuan dengan 2 perwakilan negara di kota Andolo. Pembahasan tentang lelang. Kita berkenalan saat itu."
Ronald yang menjelaskan dengan menggebu-gebu kini tersenyum lebar karena anggukan Silvi.
"Ya, aku ingat pertemuan itu. Apa kau siswa yang menjelaskan tentang benda lelang?"
"Ya, itu aku. Kau ingat kita berkenalan saat itu."
Silvi menggeleng
"Wah, aku sungguh tidak berkesan yaa." Ronald kembali menertawakan dirinya.
__ADS_1
"Baiklah, kita akan berkenalan dan kau tidak boleh melupakanku lagi. Namaku Ronald, Ronald Miller." lanjutnya.
"Silvi_Silvi Selvig."
Ingin rasanya, Silvi menyebut namanya 'Silvi Miller' tapi tidak mungkin memakai nama belakang itu di depan pemilik nama itu sendiri. Sementara menjadi istri Alando, tidak tiketahui keluarga Miller, bahkan mereka tidak memiliki buku nikah untuk di tunjukkannya.
"Biar ku kenalkan pada ayahku. Dia sangat terkesan melihatmu berdiri di podium mahasiswa terbaik kemarin. Dia memaksa untuk aku mengenalkannya padamu."
Silvi hanya mengikuti langkah Ronald yang begitu bersemangat menuntunnya menuju ayah mertuanya. Sebenarnya, Silvi juga sangat antusias dan inilah tujuan utamanya datang ke pesta Ronald. Untuk bertemu dengan keluarga Alando.
Abraham Miller-ayah Alando dan Ronald itu sangat senang bertemu dengan Silvi. Ia menawari Silvi untuk bekerja di rumah sakitnya yang ada di kota Turin dan Silvi mengatakan akan memikirkannya dulu.
Mengobrol beberapa saat dengan Abraham Miller begitu menyenangkan. Persis seperti Brian Selvig-ayahya. Sangar di luar tapi sangat humble dan penyayang di dalam. Sayangnya, pesta itu tidak mengantarkan Silvi untuk bertemu dengan ibu dan nenek Alando.
***
Setelah urusannya selesai di kampus, Silvi memutuskan untuk kembali ke kota kelahirannya. Kota Andolo. Saat turun dari bandara, Silvi mendapati papan bertuliskan 'selamat' untuknya yang begitu besar dan di pegang beberapa orang pria dewasa.
Seorang pria muncul dari balik tulisan itu. Pria yang begitu ia rindukan. Alandonya ada di kota ini. Bagaimana bisa? Apa yang dilakukannya di sini?
Silvi yang duduk di dalam mobil di samping kursi kemudi menatap tajam Alando dan Alando hanya terkekeh menanggapi tatapan tajam Silvi.
"Akan aku jelaskan. Jangan menatapku sekejam itu."
"Jelaskan sekarang."
"Apa?"
"Ya, dan aku baru menyelesaikannya kemarin."
"Baiklah. Lalu kenapa tidak membalas pesanku."
"Aku hanya ingin memberimu kejutan."
"Aku tidak terkejut. Kau justru membuatku kesal."
Alando hanya tesenyum dan mengusap rambut Silvi, namun Silvi menghempaskan tangan Alando. Silvi sepertinya sangat kesal, Alando dari tadi tidak berhasil menyentuhnya.
Alando memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Silvi membulatkan matanya.
"Apa-apaan ini? Kenapa rumah seramai ini? Kau buat pesta kelulusanku? Hei, aku tidak bisa turun dengan pakaian kasual ini."
"Sejak kapan kau peduli dengan pakaian. Kau selalu cantik."
Alando turun dan membuka pintu mobil Silvi. Tangannya ia julurkan untuk menyambut Silvi turun dari mobil. Namun Silvi hanya diam. Enggan untuk turun dari mobil.
"Kau ingin turun sendiri atau ingin ku gendong?" ucap Alando.
Silvi menatap Alando lama. Saat Alando hendak menggendongnya, barulah ia tersadar dari kebimbangannya.
__ADS_1
"Aku akan turun sendiri."
Dengan tangan yang di gandeng Alando, Silvi melewati karpet merah menuju panggung. Banyak tamu yang tersenyum melihatnya dan Alando. Tamu-tamu dengan pakaian formal. Bahkan pelayan saja menggunakan kemeja putih dan rok span serta sepatu berhak.
"Sialan kau jerk, ini pesta mewah dan aku terlihat lebih buruk dari pelayan." ucap Silvi geram setengah berbisik di telinga Alando.
Alando hanya terkekeh. "Kau yang paling cantik di sini."
Tak jauh dari panggung, mata Silvi menemukan Abraham Miller, Ronald Miller, nenek Alando dan seorang wanita yang Silvi terka adalah ibu Alando.
"Kau mengenal mereka?" dengan mata, Alando menunjuk keluarganya yang tersenyum hangat pada Silvi dan dirinya.
Silvi tersenyum membalas senyuman keluarga Alando. Hatinya menghangat. Melihat mereka, seperti melihat keluarga yang tidak pernah ia dapatkan.
"Ayah dan ibuku sangat menyukaimu." bisik Alando.
"Ronald bahkan hampir mencintaimu." lanjutnya
Silvi terkekeh, "dan nenek?"
"Dia hanya mempermainkanmu saat di rumahnya. Dia justru berterima kasih karena cucu kesayangannya akhirnya mendapatkan wanita yang di cintainya."
Sedetik setelah Alando berkata demikian, nenek Alando mengedipkan sebelah matanya pada Silvi dan tersenyum begitu tulus.
Alando meminta izin kepada tamu undangan untuk menyulap bidadarinya menjadi bidadari di mata semua orang. Mereka berdua pun masuk dan di dandani menjadi pengantin.
Hampir 1 jam, pengantin pria dan wanita keluar dan duduk di kursi pengantin. Semua mata terpana akan kecocokan pasangan ini. Mereka menerima banyak ucapan selamat. Pernikahan ini akhirnya diresmikan.
***
Setelah resepsi pernihan itu, Alando dan Silvi tidak pernah lagi berpisah. Alando tidak berhenti menjadi seorang tentara. Ia menjaga perbatasan negara dan Silvi menemaninya di sana sebagai dokter tentara. Mereka hidup bahagia dan membuat para tentara serta dokter tentara merasa iri melihat mereka.
-
*****huftt. Akhirnya cerita ini selesai juga.
Benar-benar end loh guys.
Komen dong, bagaimana perasaan kalian baca Alando Silvi?
Aku mau ngucapin terima kasih buat kalian semua
terutama sama mbak @Lusia Rita.
makasih loh atas dukungannya.
makasih untuk kalian yang udah mau baca cerita ini.
Luv💜💜💜💜***
__ADS_1