Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
Hari Kelulusan


__ADS_3

"Ayah." Silvi menjulurkan kepalanya untuk mengintip Brian di dalam kamar Brian.


"Hm." Jawab Brian Singkat.


Silvi menatap ayahnya kecewa. Ini bukan sifat Brian. Brian biasanya memyambutnya dengan tatapan hangat dengan bibir yang memperlihatkan deretan giginya yang putih. Namun sekarang berbeda.


"Boleh aku masuk?"


"Kau ingin bilang apa?"


Silvi akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar Brian walaupun Brian belum mengizinkannya.


"Apa salahku? Hanya karena aku menolak untuk latihan bela diri ayah tidak sayang padaku lagi? Aku sudah melakukannya dengan baik. Ayah lihat, aku sekarang memiliki sabuk kuning." Silvi menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca sambil menunjukkan sabuk yang didapatkannya dari Alando.


Brian yang melihat Silvi hampir menangis, langsung saja memeluk putrinya. Seketika air mata Silvi membasahi pipinya. Brian dengan cepat menghapus air mata Silvi.


"Hei. Jangan menangis." Brian cukup terpukul melihat air mata Silvi yang tidak pernah dilihatnya lagi selama 10 tahun.


Terakhir kali Silvi menangis karena ibunya meninggal dan sejak saat itu Silvi berjanji pada Brian tidak akan menangisi ibunya lagi. Karena ibunya juga akan menangis jika menjadi alasan Silvi menangis.


"Ayah tidak marah padamu. Ayah hanya ingin kau bisa melindungi dirimu sendiri. Dan Ayah senang kau bisa mendapatkan sabuk kuning dalam waktu yang cukup singkat."


"Kau jangan sedih. Ayah sangat menyayangimu. Ayah menyayangimu lebih dari apapun. Uhukkkk."


Batuk keras Brian itu melepaskan pelukan Silvi padanya. Brian batuk berkali-kali dan cukup lama, hingga Brian memilih meninggalkan Silvi ke kamar mandi.


Silvi menatap pintu kamar mandi yang tertutup. Rasa khawatir mulai merajalela di dalam dirinya.


Beberapa menit kemudian, Brian baru keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sengaja dibuatnya basah.


Silvi menghampiri ayahnya.


"Apa ayah sakit? Kita harus periksa ke dokter."


"Iya. Kau lihat. Ayahmu yang kekar sekarang sakit. Jadi kau harus melindungi ayahkan." Brian tersenyum kecil.


"Ayah, apa ini alasan ayah memintaku berlatih?"


"Ya. Tentu saja."


"Apa sakit ayah parah?" kristal bening kembali membasahi pipi Silvi.


"Hei." Brian menghapus air mata Silvi. "Tidak parah. Dokter bilang, ayah harus istirahat. Itu saja."


"Ayah berbohong."


"Hei. Berhentilah menangis." Brian memeluk Silvi. "Dokter bilang, Ayah tidak boleh berkelahi lagi. Itu saja. Kau senangkan. Sekarang ayahmu akan menjadi pria baik."


"Sungguh? Hanya itu?" Silvi mulai percaya, karena yang diucapkan Brian cukup logis dengan alasan memaksa Silvi berlatih bela diri.

__ADS_1


"Ya. Sungguh." ucap Brian sambil mengecup kening putrinya.


"Kau harus berlatih lebih baik lagi. Ayah ingin melihatmu mendapat sabuk hitam."


Brian terkekeh melihat tatapan kekesalan Silvi.


"Hm. Aku akan melakukannya untuk ayah."


"Itu baru putri ayah. Oh iya, besok adalah pengumuman kelulusanmu. Apa kau siap?"


"Siap apa? Lulus dengan nilai tertinggi dan mendapatkan tawaran beasiswa?" Silvi terkekeh dan dibalas serupa oleh ayahnya.


"Hei. Coba lihat Ranita, sifat siapa ini?" Brian mamandang foto mendiang istrinya yang ada di dinding kamarnya.


"Ini sifat ayahkan bu." Silvi ikut memandangi foto ibunya.


"Tidak. Itu sifat ibumu."


"Ayah berani menyalahkan ibuku?"


"Hei Brian. Kau berani menyalahkan istriku?" Ucap Brian dengan mata melotot.


Keduanya tertawa bahagia. Silvi mengangkat tangannya dan memejamkan matanya, lalu mulai merapalkan doa dalam hatinya. Brian tersenyum mengelus kepala putrinya. Brian tahu Silvi sedang merindukan ibunya.


Setelah berdoa, Silvi memeluk ayahnya. "Ayah tidak merindukan ibu."


"Selalu. Setiap saat, ayah merindukan ibumu."


"Tentu saja tidak."


"Ayah lupa kata ibu. Ketika..."


"Hentikan. Ayah tidak pernah melupakan pesan ibumu. Doa ayah selalu bersama ibumu."


"Hm. Ayah. Apa yang Rabella lakukan?"


"Eh? Kau merindukannya?"


"Hm. Sedikit. Silvi menunjukkan jari kelingkingnya. "Aku pikir, masa cutinya sudah berakhir."


"Rabella sedang mengurus sesuatu. Ayah tidak tahu kapan dia akan kembali."


***


Keesokan harinya, di SMA Candrawan telah berdiri semua siswa menunggu pengumuman kelulusan dibacakan. Disana bahkan sudah dihadiri para wali siswa.


Robert Candrawan mengumumkan kelulusan 100% untuk tahun ini. Setelah mengucapkan selamat kepada seluruh siswa kelas 3, Kepala Sekolah mengumumkan siswa terbaik tahun ini. Justin di peringkat ketiga, Tono di peringkat kedua dan Silvi menduduki peringkat utama.


Setelah pemberian Piala dan Medali untuk ketiganya. Silvi dipersilahkan untuk mengucapkan terima kasihnya sebagai siswa nomor 1 tahun ini.

__ADS_1


"Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena memberiku kedudukan sebagai siswa terbaik diakhir statusku sebagai siswa. Terima kasih untuk Silvi Selvig yang telah berusaha sekeras ini dan selamat karena kau berhasil."


Silvi tersenyum kecil dan mendapat senyuman yang sama dari semua hadirin.


"Terima kasih untuk ibuku, Ranita Selvig yang menjadi motivasi terbesarku."


Silvi terdiam sesaat dengan mata terpejam. Brian, Lania dan Tono tahu bahwa Silvi sedang merindukan ibunya. Kemudian Silvi membuka matanya dan melanjutkan ucapan terima kasihnya.


"Terima kasih untuk ayahku, Brian Selvig untuk semua kasih sayang, menjadi ayah sekaligus ibu super untukku. Sahabatku, Lania Candrawan dan Tono Renald. SMA Candrawan, Kepala sekolah, Guru serta Staf dan teman-teman semua. Terima kasih."


Tepuk tangan keras mengakhiri ucapan terima kasih Silvi. Silvi turun dari mimbar dan menuju arah ayahnya dan memeluk Brian erat. Silvi mendapat beberapa ucapan selamat dan hadiah dari guru-guru yang menyayanginya.


"Hei sang juara. Jadi, kemana kau akan kuliah?" Ucap Lania.


Lania, Tono dan Silvi kini sedang duduk di kelas mereka, pada bangku masing-masing untuk terakhir kalinya. Disaat semua siswa sedang asik merayakan kelulusan mereka, ketiganya malah menikmati suasana sunyi di dalam kelas. Ini adalah ide Lania.


"Aku penasaran beasiswa mana yang kau pilih?" Sambung Tono. Berhubung Silvi mendapatkan banyak tawaran beasiswa dalam negeri.


"Apa kau lupa? Silvi ingin kuliah di L.A." Ucapan Lania membuat Tono tersadar.


"Aku masih punya 1 misi sebelum kuliah."


"Kau ingin menjadi ahli Taekwondo. Apa kau waras?" Tono sedikit berteriak.


"Sangat waras. Itu adalah permintaan pertama ayahku."


Ketiganya terdiam.


"Oke. Lupakan aku. Bagaimana dengan kalian?"


"Aku akan kuliah di Bandung. Aku tidak sepandai kalian untuk bersaing di luar negeri." Ucap Lania bersemangat.


"Kau ini. Tidak boleh menyerah sebelum bertarung." Tono menyemangati.


"Haha. Jangan pedulikan aku. Aku memang lebih suka dan nyaman kuliah dalam negeri."


Silvi dan Tono bisa melihat kesungguhan di mata Lania.


"Lalu kau Ton. Universitas mana yang kau pilih?" Ucap Lania penasaran.


"Aku akan ke London. Waktu liburan, aku mendapat kampus yang sesuai seleraku."


"Jangan lupa jadikan aku modelmu jika kau sudah sukses menjadi desainer."


"Tenang. Kalian berdua akan menjadi model Tono Renald nantinya."


"Hei. Aku tidak. Jangan melibatkanku dalam dunia model."


"Hahaha. Baiklah. Untuk Silviku, aku akan membuat gaun pengantin teristimewa untukmu nanti."

__ADS_1


"Ya. Aku lebih suka yang itu. Kau harus bekerja keras. Seleraku berbeda dengan yang lain."


__ADS_2