
Pesawat yang ditumpangi Alando mendarat dengan sempurna di Bandara udara internasional Don Mueang, Bangkok. Seorang pria seumurannya tersenyum dan mengangkat sebuah papan nama yang bertuliskan Alando. Alando menghampiri pria itu dengan sebuah lukisan ukuran 50x50 yang di bungkus rapi. Keduanya memasuki mobil dan meluncur menuju sebuah klub di kota bangkok.
Setibanya di sana, Alando dijemput oleh banyak wanita cantik dan seksi. Wanita-wanita itu mulai menempel pada Alando, menyentuh tubuh alando dan bahkan beberapa dari mereka sudah memeluk erat Alando.
"Hufh. Hentikan!! Beri aku vodka. Aku lebih membutuhkannya dari pada mereka." Keluhan Alando membuat para wanita membuat jarak dengannya dan ada beberapa wanita dengan cekatan membawa vodka pada Alando.
"Hei. Kau bisa mencoba mereka dengan meneguk vodkamu. Aku menyewa klub ini malam ini khusus untukmu. Nikmati sepuasmu." Jawab seorang pria 40 tahunan yang di kenal Alando.
Dia adalah John Meriqwe yang merupakan kepala geng mafia terbesar kota ini. Dialah orang yang menawarkan diri untuk membeli lukisan lelang dengan harga 100 milyar rupiah. Itu adalah lukisan lelang yang sama dengan yang dicuri Alando.
Ini adalah lukisan lelang yang asli. Dan yang di berikan Alando pada pria paruh baya yang merupakan ketua organisasi Singa Ganas adalah Lukisan yang palsu. Semuanya telah Alando dan Brian atur sebaik mungkin. Mereka memanipulasi keadaan. Mengatur agar Alando bisa menjadi pencuri yang di bayar ketua organisasi Singa Ganas.
Oraganisasi Ranita tak sungkan sama sekali melakukan hal ini, Mengingat anggota organisasi Singa Ganas banyak terlibat di pemerintahan negara.
Organisasi Singa ganas mengadakan lelang, membiarkan klien tertarik pada barang yang di lelang. Setelah uang masuk ke kantong oraganisasi Singa Ganas, mereka mengatur pencurian Lukisan yang menjadi simbol lelang yang sesungguhnya. Mereka memang tidak berniat sama sekali untuk melelang lukisan tersebut.
"Aku tidak tertarik." Alando mengambil uluran vodka dari tangan seorang wanita. "Aku ingin transaksinya di lakukan malam ini."
"Kenapa kau begitu terburu-buru?"
"Aku ingin kembali besok di negaraku."
"Kau punya alasan pulang sekarang? Aku ikut bahagia." John tertawa kecil.
John dan Alando sudah sering melakukan transaksi barang unik. Karena itu, John sedikit mengenal kebiasaan Alando yang suka berlama-lama dengan banyak wanita. Bahkan Alando baru kembali ke negaranya seminggu setelah bersenang-senang.
John kemudian memberi kode agar anak buahnya membawa koper berisi uang. "Ini uangmu."
"Aku tidak ingin menerima uang tunai. Itu akan merepotkanku membawanya kembali."
"Apa maksudmu?"
"Aku ingin uang itu masuk pada nomor rekening ini." Alando memberikan catatan berisi nomor rekening.
__ADS_1
"Ini cukup berbeda dari transaksi biasanya."
"Karena ini adalah barang mahal." Alando tersenyum smirk.
"Baiklah. Orangku akan mengurusnya besok. Kau pasti tahu, tidak ada bank yang buka tengah malam sperti ini."
"Apa sekarang pegawai bank bisa membatasi langkahmu?"
John tertawa. "Tentu tidak. Tapi itu tidak dibutuhkan."
"Hahaha, kau ingin lukisan tanpa bayaran?"
"Kau sangat cerdas. Berikan lukisannya dan bersenang-senanglah sepuasmu." John tertawa lalu wajahnya kembali dingin. "Lalu kau bisa membawa pulang nyawamu kembali dan menemui alasan yang membuatmu terburu-buru pulang."
Alando tersenyum smirk. "Tentu, aku tidak akan memberontak dalam kandangmu. Ambilah!" Alando melempar lukisan di tangannya dan ditangkap John dengan sumringah. "Aku ingin seorang wanita."
John tersenyum puas. John meminta seorang wanita tercantik dan terseksi di tempatnya untuk membawa Alando di kamar yang telah di siapkan untuk Alando. "Dia sangat laris di sini. Jangan bunuh dia".
Alando kembali tersenyum smirk dan merangkul pinggang wanita itu. Keduanya melangkah meninggalkan tempat yang ramai menuju kamar Alando.
"Ah, Aku punya. Hanya kamarku terlalu sempit"
"Tepat sekali. Bawa aku di kamarmu saja. Aku suka tempat yang sempit"
Wanita itu tertawa dan mulai memutar arah menuju kamarnya.
***
Kini keduanya sudah berada di dalam kamar wanita itu. Alando mengunci pintu kamar dan menyimpan kunci tersebut di dalam jaketnya.
"Aku akan menghilangkan penat anda tuan." wanita itu bicara dengan suara manja yang dibuat-buat.
"Tentu saja".
__ADS_1
Alando bukanlah pria naif. Dia butuh seseorang untuk menghilangkan penatnya. Sudah cukup lama alando tidak bermain wanita. Terakhir kali dia melakukannya sewaktu di pulau senja.
Wanita itu mendekati Alando dengan gaya terseksinya. Dia mulai melepaskan pakaiannya hingga tak tersisa sehelai benangpun. Alando hanya menanggapi dengan senyum tipis yang membuat wanita itu semakin tertantang.
"Aku hanya ingin blow job".
Wanita itu sedikit terkejut. Namun tidak membantah. Ya seperti itulah Alando. Dia hanya menginginkan blow job pada wanita manapun yang menawarkan diri untuknya. Sebenarnya, bukan hanya Alando yang menjadi pria pertama untuk Silvi, namun Silvi juga adalah wanita pertama untuk Alando.
Blow job yang di lakukan gadis mahir seperti wanita ini sangat memuaskan Alando. Alando menaikkan kembali pakaian bawahnya dan memerintahkan wanita itu memakai kembali pakaiannya.
Tidak lama setelah itu. Suara gaduh menyebar di seluruh gedung klub. Alando sudah menduga bahkan ini adalah rencananya. John akan kalang kabut jika menyadari sesuatu yang kurang pada lukisan yang di berikan Alando. Terlebih lagi, Alando tidak berada di kamar yang telah disiapkan John. Alando tersenyum dan meraih ponselnya dan menelepon seseorang.
*Alando :
"Kau ingin lukisan yang asli?"
John :
"Jerk. Jangan main-main denganku"
Alando :
Klubmu ini akan hangus di tanganku jika aku berhenti bermain.
John :
Kau mengajak bermain pada orang yang salah.
Alando :
"Hah. Kau membuatku takut" Alando tertawa kecil dan matikan panggilan telepon*.
"Cari Alando dan bawa dia di hadapanku. Cukup nafasnya dan mulutnya saja. Selain itu, kalian boleh memotongnya." Ucap John dengan nada tegas dan dingin.
__ADS_1
Seketika anak buah John mulai berpencar dan mencari Alando dengan berbagai senjata tajam yang dibawa masing-masing mereka.