Alando Dan Silvi

Alando Dan Silvi
16. Perintah Brian


__ADS_3

"Apa kau tidak punya tempat lain untuk membawa Silvi?" Brian membuka percakapan.


Brian duduk di sofa lantai 12 kantor organisasi Ranita dengan ditemani Alando. Alando sudah kembali memakai kaosnya setelah kepergian Silvi.


"Aku merasa tempat ini yang paling tepat. Ruangan ini merekam segala hal yang kita lakukan."


"Tentunya selain kamar mandi." Brian menambahkan dan Alando mengangguk.


"Apa yang akan terjadi jika kau membawa Silvi di tempat yang tidak direkam?"


"Aku mungkin tidak perlu onani di kamar mandi." Alando tersenyum mengejek yang di tujukan untuk dirinya Sendiri.


"Baguslah. Kau bisa menahannya. Silvi itu masih anak SMA. Ya. Walaupun 2 minggu lagi dia akan ujian akhir dan lulus".


"Apa kau tidak akan memperkenalkan aku dan Silvi secara resmi?."


"Tentu. Setelah ujian akhir Silvi berakhir."


Alando mengerutkan dahinya menandakan ketidak puasan terhadap jawaban Brian.


"Sejak kapan kau tahu jika Silvi adalah putriku?"


"Sejak aku melihat Rabella melindunginya di Restoran."


"Hm. Tentu saja, Orang yang mengetahui posisi Rabella yang sebenarnya akan langsung tahu siapa Silvi. Bukankah aku terlalu mencolok?"


"Ya. Tanpa kau perkenalkan, penghuni lantai 10 akan tahu jika Silvi adalah putri anda."


Lantai 10 kantor organisasi Ranita adalah ruangan 11 orang berpengaruh terhadap tumbuh-kembangnya organisaai ini. Salah satu penghuni lantai 10 adalah Jonat Dominic yang merupakan Ayah Rabella dan Tentu saja Brian. Sementara Alando adalah anggota lepas yang menganggap lantai 12 sebagai ruang pribadinya.


"Kau sudah tahu Silvi adalah putriku. Jadi, tolong jaga dia untukku nanti."


"Aku yakin anda bisa menjaganya sendiri."


"Maksudku nanti. NAN.TI." Brian menekan kata NANTI pada kalimatnya. "Setelah aku tidak bisa melindunginya lagi. Begitu saja kau tidak mengerti. Aku bahkan harus mengulang kalimatku."


Alando menatap Brian cukup lama.


"Kau belum meberitahu Silvi?"


"Hm."


Keduanya menyadari arah pembicaraan ini. Brian kemudian mengganti topik pembicaraan karena merasa kurang nyaman.


"Jadi, Apa Silvi melihat isi ruangan kaca?"


"Tidak." Alando mengingat kembali isi ruangan kaca yang terus menjawab pertanyaan yang bahkan tidak di tujukan padanya. "Kenapa kau tidak mematikannya?"

__ADS_1


"Aku ingin melihat ketahanan baterainya."


"Aku sudah mematikannya."


"Aku akan mengaturnya ulang."


Keduanya terdiam dan Alando tertawa kecil.


"Kenapa kau tertawa?" Brian menatap Alando bingung.


"Silvi mengira dia adalah wanitaku. Hahaha."


"Dia wanitaku." Protes Brian.


"Tentu. Sekarang mungkin Silvi akan mengira dia adalah wanitamu."


Brian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memikirkan alasan yang harus dipilihnya untuk meyakinkan Silvi tidaklah mudah.


Keduanya kemudian membicarakan proses penjualan lukisan lelang dan peta harta karun yang akan mereka transaksikan nanti.


***


Brian memasuki rumahnya dengan wajah yang lelah. Jam sudah menunjukkan pukul 9 a.m. Setelah mandi, Brian berbaring nyaman di ranjangnya. Brian memikirkan banyak hal hingga ketukan pintu kamarnya membuyarkan lamunannya.


Silvi menjulurkan kepalanya dengan wajah cengengasan. Brian tertawa kecil menanggapi kokonyolan Silvi. Silsi sering melakukan hal ini dari pertama kali tidur terpisah dengan orang tuanya. Silvi melakukan hal ini ketika merasa mungkin dirinya akan mengganggu kesenangan ayahnya.


Silvi baru melangkah masuk setelah Brian merentangkan tangannya. Silvi memeluk ayahnya erat.


"Apa yang belum kau pahami?"


"Sedikit banyak aku cukup paham. Namun yang paling mengganggu pikiranku adalah Wanita itu. siapa dia? Dia wanita Alando atau wanita ayah?"


Brian mengerti yang dimaksud Silvi adalah isi dari ruangan kaca.


"Dia adalah wanita ayah."


"Ha?"


Silvi mengangkat wajahnya dan menatap ayahnya tidak percaya. Silvi sangat tahu, ayahnya tidak akan mungkin mengkhianati ibunya, meskipun ibunya telah tiada. Melihat wajah ayahnya yang begitu serius, Silvi melepas pelukan pada ayahnya.


"Apa ayah sudah gila? Aku tidak percaya ayah melakukan ini. Apa dia lebih cantik dari ibuku?"


"Hei. Tenanglah." Brian tertawa kecil. "Jangan salah paham. Dia sebenarnya bukan wanita."


"Ayah jangan mempermainkanku." Silvi memicingkan matanya. Tatapannya mulai menajam.


"Sungguh. Ayah berani bersumpah."

__ADS_1


"Memangnya ada Pria dengan suara sefeminim itu?" Silvi membuang tatapannya. Dia tahu ayahnya sedang mempermainkannya.


"Dia juga bukan pria."


"Hentikan! Ayah pikir aku anak paud?" Silvi sedikit berteriak dan menatap ayahnya Berang.


"Jika kau tidak percaya, kau bisa berkenalan dengannya. Ayah sendiri yang akan memperkenalkan kalian."


Silvi membuang mukanya dan tak mengatakan apapun. Itu adalah salah satu tanda jika Silvi memilih mengalah. Brian tersenyum menanggapi sifat putrinya.


"Tapi sebelum itu kau harus bisa bela diri."


"Ayah sungguh mempermainkanku. Lupakan, aku tidak perlu berkenalan dengan simpanan ayah."


"Dia bukan simpanan ayah. Ayah berani bersumpah demi dirimu."


"Apa aku masih segalanya buat ayah? Aku rasa tidak."


Dulu, jika Brian bersumpah demi dirinya. Maka bisa dipastikan kesungguhan Brian. Namun sekarang Silvi menjadi ragu karena Brian sudah memiliki wanita simpanan. Bisa saja, sekarang yang menjadi segalanya untuk Brian adalah wanita itu. Pikir Silvi.


"Dia sebenarnya cuma karyawan rahasia. Ayah belum bisa mengenalkanmu padanya karena kau belum resmi menjadi bagian dari organisasi Ranita. Sungguh, percayalah."


Silvi menatap lama mata ayahnya dan dapat melihat kesungguhan pada mata itu. Silvi tersenyum lembut dan dibalas senyum lega oleh Brian.


"Ayah sudah mengatur latihanmu. Setelah ujianmu berakhir, kau harus berlatih bela diri."


"Ayah. Aku sudah bilang tidak punya bakat di bidang itu." Ucap Silvi malas.


"Kau akan belajar dan bakatmu akan tumbuh dengan sendirinya."


"Ayah ini. Aku sungguh tidak suka melakukannya. Ayah tahukan, aku tidak akan melakukan sesuatu yang tidak ku senangi."


"Kau harus melakukannya demi ayah dan mendiang ibumu."


Silvi menatap ayahnya tidak percaya. Ini pertama kalinya Brian memaksanya melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Dulu, Brian pernah menawarkan Silvi untuk latihan bela diri. Karena Silvi menolak dengan tegas, Brian tidak memaksa Silvi.


Sekarang Brian kembali membicarakan hal ini. Terlebih lag, Brian membawa mendiang istrinya yang menandakan bahwa Silvi wajib mengikuti perintah ini.


"Karena kau harus melakukannya. Suka atau tidak suka." Brian kembali menegaskan perintahnya karena Silvi yang tak menanggapi ucapannya.


"Kenapa ayah melakukan ini?"


"Karena kau harus bisa menjaga dirimu sendiri."


"Ayah. Aku punya Rabella. Aku punya Ayah. Aku akan..."


"Sampai kapan kau akan terus berlindung dari orang lain. Kau pikir ayah dan Rabella akan melindungimu selamanya?" Potong Brian dengan nada keras dan sedikit bentakan.

__ADS_1


Silvi hanya dapat menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Ini pertama kalinyal Brian membentaknya. Silvi berusaha keras untuk menahan air matanya. Perlahan Silvi mundur untuk membuat jarak dengan ayahnya lalu melangkah keluar dari kamar Brian.


"Maaf Silvi. Tapi ayah tidak bisa melindungmu selamanya." Ucap Brian ketika punggung Silvi tak terlihat lagi.


__ADS_2