Anna Holand : The Oliheim Witch

Anna Holand : The Oliheim Witch
Chapter 22 : Kebenaran Yang Mengejutkan


__ADS_3

Aku, Sarah dan Marick mengunjungi ruang bawah tanah kembali untuk menemukan petunjuk, tidak ada alasan tertentu kenapa kami pergi ke sini semuanya bergantung pada rasa penasaranku saja.


Para tubuh tengkorak yang ditemukan di sini telah dipindahkan dan nyaris semuanya tanpa jejak sedikit pun.


"Bukannya pelaku pembunuhannya telah ditemukan, seharusnya kita tidak melakukan ini lagi."


"Apa kamu yakin bahwa gadis itu satu-satunya pelakunya, coba bayangkan bagaimana dia tahu tentang ruang bawah tanah dan darah kutukan, jika tidak ada yang memberitahukannya."


"Lupakan saja Anna, Marick hanya berfikir dengan perutnya."


"Apa-apaan itu?"


Aku mulai mengitari dinding selagi meraba-raba tahu-tahu bisa menemukan jalan pintu rahasia, Sarah dan Marick juga melakukan hal sama walau demikian kami tidak bisa menemukan apapun.


Aku beralih ke arah kolam dan menemukan sebuah pintu di dasarnya. Airnya sendiri keluar dari dinding dinding.


Sarah meletakan tangannya di dagu selagi berkata.


"Pantas saja sulit untuk menemukannya."


"Membuat pintu di bawah air memang akan sulit ditemukan."


"Kalian berdua mundurlah."


Aku mengeluarkan tongkat putih lalu mengirim bola api yang menguapkan air tersebut. Ada sedikit jeda sebelum kolam ini tertutup kembali air. Sebelum itu terjadi kami telah turun ke bawah.

__ADS_1


Ini mirip seperti sebuah jalan rahasia berupa lorong kecil.


"Apa menurut kalian jalan ini akan membawa kita kemana?"


"Mungkin jauh ke luar akademi."


Aku juga sepakat dengan pemikiran Sarah, tempat ini terlalu panjang. Ada sebuah kereta yang digunakan sebagai tempat menambang, walau tidak digunakan lagi jelas itu masih berfungsi ketika kami menaikinya dan meluncur dengan cepat.


Sarah dan Marick berteriak ketakutan sementara aku tertawa.


"Haha ini menyenangkan."


"Apanya yang menyenangkan?" teriak keduanya serempak.


Perjalanan ditempuh selama 30 menit dan akhirnya kami tiba di ujungnya yang merupakan tangga untuk naik ke atas.


"Anna, apa kamu memikirkan apa yang aku pikirkan?"


"Tentu saja," jawabku pada Sarah.


Ini adalah kamar yang digunakan Sarah saat dia terkena racun lebih tepatnya di bawah tempat tidur. Benar, ini kediaman pria tua penjual tongkat.


Ketika dia muncul aku mengarahkan tongkat padanya, Sarah dan Marick juga melakukan hal sama.


"Ada apa ini?"

__ADS_1


"Jangan bodoh, kamu dalang dari pembunuhan yang terjadi di akademi dan juga orang yang mempengaruhi gadis itu."


"Pantas saja kau tahu bagaimana cara mengobati racunnya, kenapa kamu masih mau menyelamatkanku padahal kami yang menghancurkan rencanamu."


Pria itu tertawa.


"Lebih tepatnya rencana semua orang, aku berubah pikiran karena melihat Anna."


"Apa maksudmu?"


Marick mengirimkan pertanyaan tersebut.


"Anna memiliki darah kutukan tapi dia bukan vampir atau serigala, lalu sebenarnya siapa dia?"


"Tolong jangan berbelit-belit, langsung ke intinya," balas Sarah.


"Yang aku katakan adalah Anna Holand adalah Merlim Ratmir itu sendiri."


Mendengar hal itu kami semua terkejut.


Aku segera menyangkalnya.


"Itu mustahil, dia sudah mati.. mana mungkin itu aku, jelas kau berbohong terlebih aku masih 15 tahun."


"Karena itulah kalian semua tidak tahu apapun, Merlim Ratmir yang asli memiliki tubuh setinggimu.. dia bukan wanita dewasa atau tua, dia hanya seorang gadis seumuranmu, soal mayatnya semuanya belum pernah melihatnya sendiri."

__ADS_1


Aku lebih tercengang dan Sarah maju ke depan.


"Jangan dengarkan dia Anna, mari kita serahkan pada aliansi penyihir saja."


__ADS_2